
Rania dan Rendy kembali jalan-jalan di sekitar pantai. Mereka ber-2 berdiri di pinggir pantai melihat keindahan pantai. Mereka kembali saling melihat dengan tersenyum manis yang keluar dari wajah masing-masing.
" Kita pulang!" ajak Rendy.
" Sekarang?" tanya Rania. Rendy mengangguk.
" Hmmm, tapi aku ingin melihat senja," sahut Rania.
" Ya sudah kalau kamu ingin melihatnya," ucap Rendy.
" Tidak apa-apa kan?" tanya Rania. Rendy menggeleng yang tidak mempermasalahkan apa yang ingin di lihat istrinya. Rendy dan Rania sama-sama tersenyum dan merekapun memutuskan untuk melihat senja bersamaan.
" Hmmm, Rania!" tegur Rendy.
" Iya kenapa?" tanya Rania.
" Kamu mau makan sesuatu aku akan belikan?" tanya Rendy.
" Boleh," jawab Rania.
" Ya sudah, aku pergi sebentar," ucap Rendy. Rania mengangguk dan akhirnya Rendy pun pergi dan tinggal Rania yang akhirnya memilih untuk duduk di atas pasir dan menunggu senja datang.
Hari sudah berubah menjadi sore dan Rania dan Rendy sedang menikmati indahnya senja. Yang sudah di tunggu-tunggu Rania sejak tadi.
Rania duduk di samping Rendy dengan wajahnya yang terus berseri-seri. Rania bahkan meletakkan kepalanya di bahu Rendy. Dan Rendy menoleh kearah Rania. Rendy tersenyum dan menggenggam tangan Rania. Jelas apa yang di lakukan Rendy membuat Rania juga mengeluarkan senyum indahnya dengan jantungnya yang tidak henti-hentinya berdetak kencang.
" Rendy!" tegur Rania.
" Kenapa?" sahut Rendy.
" Kamu pernah jatuh cinta?" tanya Rania, membuat Rendy heran mendengar pertanyaan itu.
" Iya aku pernah jatuh cinta," jawab Rendy.
" Dia pasti wanita beruntung yang di cintai olehmu," sahut Rania. Rendy menoleh ke arahnya dan melihat Rania dengan intens. Tatapan mata yang benar-benar menusuk yang bisa membuat Rania gila.
__ADS_1
" Aku tidak tau kenapa kamu bilang dia sangat beruntung, ketika aku jatuh cinta padanya," ucap Rendy.
" Ya, karena kamu orang baik. Kamu bukan hanya orang baik. Tetapi kamu sudah melebihi semuanya dan jelas. Aku mengatakan dia orang beruntung yang mendapatkan cinta dari mu," ucap Rania. Rendy hanya tersenyum mendengar ucapan Rania.
" Kamu tersenyum. Apa sekarang kamu sedang memikirkan wanita yang kamu cintai itu. Atau jangan-jangan dia cinta pertamamu," tebak Rania dengan wajahnya yang terlihat cemburu.
" Kamu benar, wanita itu adalah cinta pertama ku," jawab Rendy. Rania langsung menunjukkan ekspresi datarnya. Dia yang bertanya. Tapi dua yang panas sendiri.
" Oh," sahut Rania yang meluruskan pandangannya yang tidak melihat Rendy. Rendy melihat perubahan ekspresi itu tersenyum.
" Kamu sendiri bagaimana berapa kali kamu jatuh cinta?" tanya Rendy.
" Sudahlah jangan membahasnya. Aku malas," sahut Rania dengan wajah cemberutnya.
" Kenapa, kamu bertanya dan aku menjawabnya. Kenapa sekarang aku bertanya kamu tidak menjawabnya," ucap Rendy bingung.
" Itu, tidak penting," sahut Rania dengan santai yang sudah kehilangan mood untuk melanjutkan masalah cinta-cintaan.
" Wanita itu siapa. Sampai dia senyum-senyum hanya karena membahas cinta pertamanya itu," batin Rania yang mulai cemburu.
" Ayo!" ajak Rendy terdesak. Rania mengangguk dan ke-2nya sama-sama berdiri dan berlari untuk mencari tempat berteduh dengan tangan mereka yang saling menggenggam.
Akhirnya Rendy dan Rania mendapat tempat berteduh di depan kedai yang juga di sana banyak orang berteduh. Rendy melihat ke arah Rania yang tampak kedinginan dengan memeluk tubuhnya dengan tangannya. Namun Rendy memperhatikan 2 Pria yang melihat Rania dengan tatapan nakal.
Yang ternyata ke-2 Pria itu memperhatikan tubuh Rania. Karena pakaian putih yang di pakai Rania yang basah dan akhirnya terceplak sehingga pakaian dalamnya terlihat.
Rendy mendekati Rania dan memeluknya dari belakang, menutup tubuh istrinya. Agar tidak terlihat oleh mata-mata yang nakal. Namun Rania bingung dengan sikap Rendy dan juga sedikit risih. Karena banyak orang di sana.
" Kita, kenapa harus seperti ini," tanya Rania pelan.
" Mereka memperhatikan mu. Karen pakaianmu terbuka," jawab Rendy dan Rania langsung melihat pakaiannya dan panik sendiri.
" Ya ampun aku tidak menyadarinya," sahut Rania.
" Ya sudah apa tidak sebaiknya kita pergi dari sini?" tanya Rendy. Dengan cepat kepala Rania mengangguk.
__ADS_1
" Iya, kita sebaiknya pergi. Kita ke mobil saja," ucap Rania memberi saran dan Rendy pun langsung dengan cepat membawa istrinya dari tempat itu sebelum semakin banyak mata-mata jahat yang menonton tubuh istrinya.
Dan dengan basah-basahan akhirnya mereka sampai mobil yang memang lumayan jauh dah dari tempat mereka. Rania dan Rendy sama-sama memasuki mobil dan menutup pintu mobil.
Huhhhhh, terlihat Rania begitu kedinginan dengan mengusap-usap lengannya dengan wajahnya yang memerah. Karena kedinginan.
Rendy terlihat mengambil sesuatu dari jok belakang yang ternyata ada handuk di sana. Rendy langsung memberikan pada Rania.
" Makasih," ucap Rania.
" Sebaiknya kita pulang," sahut Rendy.
" Nanti saja. Hujannya masih deras. Tidak baik menyetir dalam keadaan seperti ini," sahut Rania mencegah Rendy.
" Ya sudah kalau begitu," sahut Rendy. Rania menggangguk. Rania menoleh ke arah Rendy. Rendy juga basah kuyup dan dengan spontan Rania langsung melap rambut Rendy dengan handuk yang tadi di berikan Rendy kepadanya.
Rendy hanya tersenyum mendapatkan perhatian kecil Rania yang terkesan sangat manis. Sepenjang Rania melakukannya Rendy terus menatapnya dengan dalam.
Mata Rendy bahkan turun pada bibir ranum Rania yang bergetar. Ya Rendy mungkin tidak akan menghilangkan kesempatan untuk tidak meraih bibir itu. Rendy mendekatkan wajahnya pada Rania dan mengecup lembut bibir itu membuat Rania tersentak kaget yang tiba-tiba mendapat serangan. Rendy dan Rania sama-sama saling menatap dengan wajah Rania yang semakin memerah.
" Ya Allah, kenapa sih Rendy selalu saja melakukannya setengah-setengah," batin Rania yang kelihatan kecanduan dengan ciuman suaminya.
**********
Setelah menghabiskan waktu seharian di luar. Akhirnya Rania dan Rendy sampai kerumah. Mereka berdua memasuki rumah dan yang membuka pintu adalah Anisa.
" Dari mana saja mereka, Rania benar-benar sudah menguasai Rendy. Aku tidak akan biarkan hal ini berkepanjangan," batin Anisa yang terlihat marah. Namun Anisa harus memperlihatkan wajah biasanya.
" Rendy Rania, kalian sudah pulang," ucap Anisa ramah.
" Iya, kami sudah pulang. Ya sudah kami masuk dulu," ucap Rendy. Anisa mengangguk senyum dan langsung pergi melewati Anisa. Rania juga tampak acuh dan tidak peduli pada Anisa.
" Hhh, kamu bisa bersenang-senang Rania. Kamu lihat apa yang akan aku lakukan. Aku akan membuat kamu benar-benar di usir dari rumah ini," batin Anisa dengan penuh rencananya.
Bersambung
__ADS_1