Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 179 Canggung bersama.


__ADS_3

Setelah saling terbuka dengan Rania Zahra merasa lega. Zahra menghampiri Elang yang duduk di atas pasir di pinggir pantai. Zahra berdiri di belakang Elang melihat Elang duduk dengan memakai kaca mata hitamnya yang terlihat menikmati pemandangan yang indah.


" Huhhhhhhh," hembusan napas panjang Zahra.


" Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku tidak berminat untuk ikut campur. Apa lagi harus mengatakan kepada Elang. Karena posisi Cindy juga sama dengan Elang. Mereka sama-sama berhiyanat dalam hubungan mereka. Ya Allah hanya engkau yang maha melihat engkau berikan petunjuk. Agar dapat titik terangnya semoga ada yang terbaik untuk semuanya. Semoga mendapatkan yang terbaik untuk semua masalah ini," ucap Zahra di dalam hatinya yang menatap sendu punggung Elang.


Elang menengok kebelakang setelah merasa ada bayangan di belakangnya dan ternyata memang benar ada orang di belakangnya yang tak lain adalah Zahra.


" Zahra!" tegur Elang membuat Zahra tersentak kaget, " kamu ngapain di situ?" tanya Elang.


" Oh, tidak apa-apa," sahut Zahra gugup dan membuang napasnya kedepan lalu duduk di samping Elang.


" Dari mana kamu?" tanya Elang.


" Tadi lagi cari makanan dan kebetulan Rendy membelikan sate untuk Rania dan aku di belikan," jawab Zahra menunjukkan kantung plastik yang berisi sate.


" Tadi aku tanya mau makan atau tidak jawabnya tidak. Nyatanya kamu cari sendiri," ucap Elang.


" Hanya sate saja," sahut Zahra.


" Ya sudah kamu mau makan lagi tidak biar aku carikan lagi?" tanya Elang.


" Nggak usah ini sudah cukup," jawab Zahra.


Zahra pun membuka bungkusan sate itu.


" Kamu mau?" tanya Zahra.


" Makanlah," sahut Elang menolak. Zahra mengangguk dan memakan sate itu.


" Kamu benar tidak mau?" tanya Zahra sambil mengunyah makanan itu.


" Tidak Zahra," sahut Elang menolak.


" Baiklah," sahut Zahra yang kembali menikmati sate itu. Elang membuka kacamatanya menggantungkan di kerah bajunya. Melihat ke arah Zahra yang makan dengan lahap yang mana mata Zahra fokus kedepan.


" Zahra!" tegur Elang.


" Iya," sahut Zahra melihat ke depan.

__ADS_1


" Maafkan aku ya," ucap Elang membuat Zahra melihat Elang dengan serius.


" Maaf kenapa?" tanya Zahra.


" Untuk semuanya. Aku sudah merusak kebahagianmu. Aku menghancurkan mu dan membuat mu hidup dalam kesulitan. Maafkan aku," ucap Elang dengan tulus meminta maaf.


" Jangan terus mengungkit itu Elang. Aku bahkan sudah melupakannya. Lagian itu juga masa lalu. Kalau mau mengungkit kesana yang ada jujur aku semakin sakit," sahut Zahra dengan santai makan.


" Iya aku tidak bermaksud untuk mengungkit kesana," sahut Elang. Zahra mengangguk senyum. Zahra yang makan terlihat lahap dan sedikit belepotan.


Elang melihat di ujung bibir Zahra terdapat bumbu sate yang membuat mata Elang terus menatap Zahra dan semakin lama Elang mendekatkan dirinya dengan Zahra. Tangannya dengan spontan mengusap ujung bibir Zahra dengan lembut dengan jari jempol tangannya.


Apa yang di lakukan Elang membuat Zahra terkejut di mana wajah mereka saling berdekatan dengan jarak beberapa centimeter saja. Bola mata Zahra berputar menatap bola mata Elang yang sayu itu.


Tidak tau kenapa ke-2nya sangat betah saling beradu pandang bahkan ada debaran jantung yang tidak normal di dalam sana. Elang juga beberapa kali menelan salavinanya yang matanya menatap intens Zahra.


" Ada apa denganku. Kenapa perasaanku tidak menentu seperti ini," batin Elang merasakan ada hal yang aneh dengan dirinya.


Seakan ingin menentukan perasaannya. Mata Elang berpindah pada bibir Zahra yang bergetar. Bibir indah yang ranum yang membuat wajahnya semakin dekat yang ingin meraih bibir itu. Zahra memejamkan matanya seakan membiarkan jika Elang ingin menciumnya.


" Tante Zahra!" Hampir jadi kalau Lulu tidak mengganggu. Dan alhasil membuat Elang dan Zahra tersentak karena kehadiran Lulu dan Elang menjauh dari Zahra.


" Kenapa Lulu?" tanya Zahra gugup dengan salah tingkah. Namun Zahra mengalihkan pandangannya pada Lulu di belakangnya yang memanggilnya Zahra.


" Oh, Rania ya," sahut Zahra yang gugup dengan kepalanya berkeliling melihat di sekitarnya, " Itu di sana?" tunjuk Zahra yang kebetulan melihat Rania bersama Rendy.


" Makasih Tante. Lulu ke sana dulu," sahut Lulu yang langsung berlari.


" Iya hati-hati," sahut Zahra yang masih salah tingkah sama dengan Elang yang tidak kalah salah tingkahnya.


Zahra dan Elang terlihat sama-sama mengatur napas sama-sama gugup dan canggung. Mungkin karena di ganggu Lulu makanya jauh lebih terlihat gugup bahkan mereka tidak berani saling melihat lagi seperti mencari kesibukan masing-masing.


" Hmmm, mau!" tanya Zahra yang mengalihkan dengan menawarkan 1 tusuk sate. Elang tampaknya linglung dan mengambilnya.


" Makasih," sahut Elang dengan suara bergetar. Zahra mengangguk yang berusaha tenang. Dia juga mengalihkan semua kegugupannya untuk makan kembali.


Elang juga akhirnya memakan sate itu tadi tidak mau sekarang jadi mau ya namanya juga sudah gugup dari pada seperti orang bodoh mending di ambil saja.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk .Tiba-tiba Zahra batuk.

__ADS_1


" Kamu mau minum?" tanya Elang panik. Zahra mengangguk yang batuk dengan menutup mulutnya.


" Ya sudah aku cari sebentar ya. Kamu tunggu sini," ucap Elang. Zahra hanya mengangguk. Elang yang terlihat panik langsung pergi berlari untuk mencari minum. Zahra menengok kebelakang melihat punggung Elang yang berjalan mencari minum. Tiba-tiba Zahra tersenyum tipis yang tidak tau apa arti dari senyuman indah itu.


" Hanya Allah yang punya kekuasaan untuk memberikan segala petunjuknya," batin Zahra yang kembali berserah pada penciptanya.


*********


Cindy dan Frans sedang jalan-jalan bersama menikmati indahnya pemandangan di pantai, berjalan-jalan dengan tangan mereka yang saling bergandengan.


" Kita cari minum dulu yuk," ucap Cindy tiba-tiba.


" Kamu haus?" tanya Frans.


" Hmmm, tenggorokan ku gatal," sahut Cundy mengusap tenggorokannya.


" Ya sudah ayo," sahut Frans Cindy mengangguk dan melanjutkan langkah mereka.


" Kamu mau air kelapa?" tanya Frans menunjuk penjual air kelapa muda.


" Boleh," sahut Cindy.


" Ya sudah aku beli sebentar kamu tunggu sini," ucap Frans. Cindy menganggu dan Frans pun pergi membeli air kelapa yang sekitar 30 meter jauhnya dari Cindy.


Ternyata Elang juga membeli di tempat yang sama dan Frans tiba di sana.


" Bil satu ya!" ucap Frans pada penjual yang sudah berdiri di samping Elang. Elang sempat menengok kearah Frans yang merasa tidak asing dengan Pria itu. Namun Frans tersenyum ketika melihat Elang melihatnya.


" Ini mas," sahut penjual memberikan pesanan Elang.


" Makasih," sahut Elang yang langsung pergi walau dia penasaran dengan Pria yang di sampingnya itu.


" Aneh sekali apakah dia mengenalku," batin Frans.


Elang pun berjalan yang ingin kembali ketempatnya. Namun Elang seketika melihat wanita berdiri yang membelakanginya yang membuat Elang menghentikan langkahnya.


" Seperti Cindy," batin Elang yang begitu mengingat Cindy.


" Tapi mana mungkin," batin Elang yang tidak percaya. Elang melangkah perlahan ingin mendekati wanita itu.

__ADS_1


" Astaga Zahra, aku sampai lupa. Dia pasti kehausan," ucapnya tiba-tiba mengingat Zahra dan langsung pergi berlari ketempat Zahra dan mengurungkan niatnya untuk melihat wanita yang memang benar Cindy.


Bersambung


__ADS_2