
Rania berada di dalam mobil duduk di kursi paling belakang di mana Astri asistennya yang menyetir mobil. Rania duduk di belakang dengan memegang handphone yang ternyata berbalas pesan pada Rendy yang pasti sekarang ada di rumah sakit.
Rania dan Astri memang terjebak macet. Namun karena berbalas pesan dengan suaminya membuat Rania tidak jenuh. Tiba-tiba mata Rania melihat penjual rujak di sebrang jalan yang mana berjualan menggunakan sepeda motor.
Rania Tiba-tiba menelan salavinanya yang sepertinya berniat ingin memakan mangga muda tersebut.
..." Rendy aku boleh makan mangga tidak?" tanya Rania menulis pesan pada Rendy....
Rania terbiasa dengan apa-apa meminta izin pada suaminya. Termasuk soal makanan. Bagi Rania meminta izin akan menambah-nambah paha untuknya. Makanya hal sekecil apapun dia selalu meminta izin pada Rendy. Padahal untuk orang hamil kelas mangga muda itu tidak pernah hilang.
^^^" Boleh, makanlah seperlunya," jawab Rendy.^^^
Senyum Rania mengembang yang mendapatkan izin dari suaminya.
..." Makasih,"...
..." sama-sama,"...
" Astri!" tegur Rania.
" Iya Bu ada apa?" tanya Astri melihat kebelakang.
" Hmmm, tolong belikan saya mangga di sana!" titah Rania sembari memberikan uang untuk Astri.
" Hmmm, baik Bu," sahut Astri yang langsung turun dari mobilnya. Rania beberapa kali menelan salavinanya yang tidak sabar dengan makanan itu.
Namun di tengah-tengah macet. Tiba-tiba Rania melihat Cindy berada di dalam mobil. Yang mana Cindy duduk di bagian depan dengan seorang pria yang menyetir di sampingnya. Rania dari dalam mobilnya hanya melihat Cindy biasa saja.
" Jika Elang menepati janjinya. Lalu apa alasan Elang untuk tidak bertemu dengan Cindy," batin Rania. Rania kelihatan tidak tau, jika Cindy sedang ke Jerman. Makanya dua biasa saja saat melihat Cindy tiba-tiba ada di Jakarta.
Rania sangat betah melihat Cindy. Namun tiba-tiba Rania di kagetkan dengan Pria yang di samping Cindy yang mengusap-usap pucuk kepala Cindy. Lalu Cindy meletakkan kepalanya di bahu Pria tersebut dan pria biru mencium pucuk kepala Cindy. Apa yang dilihatnya jelas membuatnya kaget dan pasti bertanya-tanya.
" Dia bukan Elang kan," batin Rania yang memastikan Pria yang duduk di kursi pengemudi tersebut. Yang mana memang benar itu bukan Elang.
" Apa Cindy dan Elang sudah putus. Makanya Cindy bisa dekat dengan Pria lain," lirih Rania menebak-nebak. Dia begitu terkejut dengan penampakan di dekatnya yang membuatnya bertanya-tanya.
Bruk. Rania di kagetkan dengan bukaan pintu mobil yang ternyata Astri sudah kembali.
" Ini Bu," ucap Astri memberikan pada Rania.
__ADS_1
" Makasih," sahut Rania mengambilnya. Namun matanya masih fokus pada Cindy dan Pria asing itu. Dia tidak tau siapa Pria itu.
" Ibu butuh sesuatu lagi?" tanya Astri.
" Oh, tidak ini sudah cukup," sahut Rania. Rania sudah tidak selera lagi dengan rujak itu. Pikirannya sudah fokus pada Cindy.
*************
Semenjak hamil Rania pulang kerumah selalu sore dan pasti Rendy akan menjemputnya kalau Rendy juga pulangnya cepat. Seperti sekarang ini Rendy menyetir dengan kecepatan santai.
" Apa mangganya tadi enak?" tanya Rendy. Rania tidak menjawab dan malah bengong.
" Rania!" tegur Rendy yang membuat Rania tersentak.
" Kamu tadi bilang apa?" tanya Rania gugup.
" Aku hanya bertanya apa mangganya enak," ucap Rendy.
" Oh, mangga, enak kok," sahut Rania.
" Lalu kamu kenapa, kok tiba-tiba murung?" tanya Rendy fokus menyetir kedepan.
" Rendy apa Cindy dan Elang putus?" tanya Rania tiba-tiba. Hal itu membuat Rendy heran yang tiba-tiba Rania mengungkit hubungan Elang dan Cindy.
" Bukannya Elang tidak akan bertemu dengan Cindy. Dan jika mereka tidak putus. Elang mana mungkin bisa tidak bertemu dengannya dalam waktu jangka panjang," ucap Rania.
" Hmmm, masalah aku tidak tau Rania. Yang jelas Elang menyetujui persyaratan mama dan pasti sebelum dia menyetujui hal itu, Elang pasti sudah memikirkan resikonya dan mungkin dia juga sudah memberikan alasan pada Cindy. Ya aku juga tidak tau itu seperti apa," ucap Rendy.
Rania hanya diam dengan wajahnya yang tampak memliki beban. Apa yang di lihatnya tadi menambah beban pikirannya saja.
" Rania kamu kenapa?" tanya Rendy yang melihat kemurungan pada istrinya itu, " Apa ada sesuatu?" tanya Rendy lagi.
" Aku tadi melihat Cindy dan Pria lain 1 mobil. Aku tidak tau siapa itu. Tetapi mereka tampak begitu dekat. Makanya aku bertanya apakah Elang dan Cindy itu sudah putus," ucap Rania menceritakan pada suaminya apa yang tadi sudah di lihatnya.
" Jadi itu yang membuat kamu tiba-tiba membahas mereka?" tanya Rendy. Rania mengangguk.
" Ya kalau mereka putus bukannya itu adalah berita baik dan dengan begitu Elang bisa fokus pada Zahra, ya mungkin saja Elang sadar, jika dia harus memilih siapa," ucap Rendy.
" Iya sih, mungkin aja seperti itu. Tapi kalau mereka tidak putus dan ternyata Cindy......" sahut Rania yang tidak berani melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
" Allah itu maha tau, maha segalanya. Kita serahkan saja kepada Allah. Biarkan hal itu menjadi urusan Elang dan Cindy. Dan Allah juga maha adil. Dia akan memberi keadilan untuk Zahra. Jika Zahra benar-benar menyesal dengan perbuatannya," ucap Rendy dengan bijak yang sedikit memberikan arahan pada istrinya.
Rania hanya mengangguk saja dan dia lumayan tidak kepikiran lagi dengan Cindy setelah mendapat arahan yang baik dari suaminya tercinta.
" Kamu masih memikirkannya?" tanya Rendy memastikan. Rania menggelengkan kepalanya. Rendy tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Rania.
********
Elang pulang dari rumah sakit yang bersamaan dengan mobil Rania dan Rendy yang juga akhirnya sampai. Mereka hanya tersenyum sekedar menyapa saja dan memasuki rumah yang mana Rendy dan Rania terlebih dahulu.
Semenjak Elang memang suka-sukanya dalam hidup. Rendy sedikit kurang respek pada Elang. Makanya Rendy juga terlihat dingin kepada Elang. Tetapi Elang menyadari semua itu karena kesalahannya sendiri.
" Assalamualaikum," ucap Rania mengucapkan salam.
" Walaikum salam," sahut Ratih dan Oma Wati yang ada di ruang tamu.
" Assalamualaikum," ucap Elang lagi yang menyusul.
" Walaikum salam," jawab semuanya dengan serentak.
" Kalian pulang bersamaan," sahut Oma Wati.
" Hanya kebetulan saja," sahut Rania.
" Nia belum pulang kuliah?" tanya Rendy
" Aku di sini," sahut Nia yang dengan lari-larian menuruni anak tangga.
" Nia pelan-pelan kamu ini, seperti anak kecil saja," sahut Oma Wati. Nia hanya tersenyum cengengesan saat sudah berada di depan semua orang.
" Kamu ini bahagia sekali. Apa ada sesuatu?" tanya Rania menebak-nebak.
" Hmmm, pasti ada," sahut Nia.
" Apa itu?" tanya Rania.
" Aku akan kasih tau nanti," sahut Nia.
" Main rahasia-rahasiaan," sahut Rendy.
__ADS_1
" Nanti aja di beri tahu," sahut Nia yang tertawa. Rendy geleng-geleng dan yang lain tertawa-tawa.
Bersambung