Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 56 Fitnah.


__ADS_3

Acara pemakaman pun akhirnya selesai. Tetapi di rumah Rania masih diadakan acara tahlilan. Suasana duka masih sangat terasa. Isyak tangis masih masih ada terdengar. Mungkin Della yang pasti jauh kehilangan. Karena selama ini Della yang sangat dekat dengan mamanya.


Sesaat mamanya pergi jadi Della pasti belum bisa menerima. Walau mama Rendy Ratih selalu memberinya dukungan. Agar Della tabah dengan semua yang di alaminya.


Sementara Iren juga masih ada di sana bersama suaminya dan juga Gilang. Tetapi seperti biasa Iren akan di luar sangat tidak Sudi rasanya untuk Iren menginjakkan kaki di rumah itu. Karena masalah Rania yang membatalkan pernikahan.


Bukan hanya Iren Anisa dan mamanya Sarah juga masih di sana. Mereka duduk bersebelahan di teras rumah yang di sana ada sofa. Mereka juga tampaknya tidak nyaman berada di sana. Mungkin hanya karena tidak enak dengan keluarga Rendy. Makanya mereka ada di sana.


Oma Wati tampak keluar dengan melihat- lihat di sekitarnya yang sepertinya Oma Wati tampak mencari-cari seseorang dan ternyata benar. Mata Oma Wati langsung mengarah pada Iren yang asyik bermain ponsel dan Oma Wati langsung menghampirinya.


" Iren!" tegur Oma Wati.


" Mama," sahut Iren.


" Apa yang kamu lakukan di sini. Bukannya masuk, kamu malah di sini sibuk bermain ponsel," ucap Oma Wati tampak menegur anaknya itu.


" Ya ampun itu sama aja. Aku dari pagi di sini. Ikut kepemakaman dan sekarang masih di sini. Itu sama aja. Acara mereka tetap berlanjutkan, mayatnya juga sudah di kubur," ucap Iren tampak sinis.


" Kamu ini ya, kalau bicara suka-suka," ucap Oma Wati pelan.


" Ya mama sih, pakai ganggu segala," ucap Iren.


" Kamu juga Jaya, jadi suami bukannya menyuruh istrinya yang benar. Malah mengajari yang tidak-tidak," ucap Oma Wati menyalahkan menantunya dan Jaya harus sabar dengan hal itu.


" Aku sudah membujuknya untuk masuk, tapi dia tidak mau," sahut Jaya membela diri.


" Alasan saja. Kalian berdua sama saja," ucap Oma Wati kesal. Jaya pun hanya pasrah yang menjadi imbas atas kelakukan istrinya. Sementara Iren tetap tampak tidak peduli.


" Kalau kalian, tidak berguna di sini, mending kalian pulang," ucap Oma Wati dengan tegas dan langsung pergi.


" Ihhhh, mama apa-apaan sih pada heboh sendiri," sahut Iren sewot.


" Kamu sih aku sudah bilang kamunya malah bandal," sahut Jaya kesal.


" Jangan main salah-salahkan," ucap Iren. Jaya hanya geleng-geleng tidak menanggapi pembicaraan istrinya lagi yang adanya mereka akan bertengkar di sana.


Tiba-tiba mobil mewah memasuki parkiran orang-orang yang ada di sana. Dan Anisa, Sarah, Jaya, Iren dan Gilang melihat ke arah mobil lomusion tersebut yang tampaknya membuat mereka penasaran.


Bodyguard membukakan pintu mobil yang ternyata Dellano CEO Perusahaan Rania bekerja yang datang bersama 3 pria lainnya dan ternyata ada juga Monica. Dellano baru bisa mendatangi rumah duka karena memang sedang berada di Luar Negri dan langsung terbang ketika mendengar ibu Rania meninggal.


Dia yang memang sangat peduli pada Rania langsung menghentikan pekerjaannya dan langsung terbang ke Indonesia dan langsung Kerumah duka. Sontak pasti tindakan Dellano membuat Monica iri dengan perhatian yang sangat berlebihan itu.


" Siapa mereka ma?" tanya Anisa.


" Mana mama tau," sahut Sarah yang terus melihat orang-orang itu yang tampak penasaran.


" Monica datang lagi," batin Gilang yang melihat ada kekasihnya di sana.


Akhirnya Dellano dan orang-orangnya pun melangkah memasuki rumah dan melewati Gilang yang duduk paling pinggir yang melewati jalan dan terlihat Monica tampak tersenyum bahkan saat berjalan masih sempatnya memegang tangan Gilang. Hal itu ternyata tertangkap Anisa dan pasti membuatnya kaget.

__ADS_1


" Aneh! kenapa Gilang dan wanita itu kelihatan tampak akrab," batin Anisa kebingungan dengan apa yang dilihatnya.


" Kamu kenapa Anisa. Kamu mengenal mereka?" tanya Sarah yang melihat putrinya tampak bingung.


" Kalau aku mengenali mereka. Aku tidak mungkin bertanya pada mama," ucap Anisa dengan santai.


" Soalnya mama perhatikan kamu seperti mengenali mereka," ucap Sarah.


" Nggak lah ma," sahut Anisa. " Sudah ma Anisa mau ketoilet dulu," ucap Anisa pamit. Sarah mengangguk dan Anisa langsung bergerak.


********


Saat Anisa selesai dari toilet Anisa melihat Gilang berjalan. Yang menuju taman belakang dan entah mengapa Anisa ingin mengikuti Gilang yang ternyata di taman belakang ada Rania yang duduk di salah satu bangku dengan menangis yang menunduk dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya dan Gilang menghampiri Rania.


" Jadi dia ke belakang karena sudah janjian dengan Rania. Jangan-jangan mereka masih punya hubungan dan Rendy. Hanya di manfaatkan," batin Anisa yang sudah penuh curiga dengan Rania dan juga Gilang.


Sementara Rania sendiri hanya menenangkan dirinya. Penyesalan yang di alaminya membuatnya frustasi dan mungkin ini adalah cobaan terberat dalam hidupnya.


" Maafin Rania ma, Rania tidak pernah bisa menjadi anak yang baik untuk mama," batin Rania dengan tangisan yang penuh penyesalan.


" Rania!" tegur Gilang. Rania kaget mendengarnya dan langsung melihat orang yang memanggilnya yang tak lain adalah Gilang yang membuatnya kaget dan refleks langsung berdiri.


" Gilang, ngapain kamu di sini?" tanya Rania melihat di sekitarnya yang tampak gelisah. Karena takut akan terjadi salah paham.


" Aku belum sempat mengucapkan turut berduka cita atas kepergian Tante Faridah," ucap Gilang.


" Iya terimakasih, terima kasih juga kamu sudah datang," sahut Rania.


" Iya makasih. Kalau begitu aku kembali kedalam dulu," ucap Rania tampak menghindar yang tidak mau berlama-lama dengan Gilang. Namun Gilang menghentikan tangannya dan membuat Rania kaget melihat ke arah Gilang.


" Aku minta maaf, soal kejadian kemari. Aku khilaf, aku tau itu membuat kamu marah. Tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk melakukan itu," ucap Gilang yang masih memegang tangan Rania dan Rania langsung melepasnya.


" Lupakan masalah itu. Aku berharap kamu tidak pernah mengganggu ku lagi. Karena aku sudah menikah. Aku adalah istri sepupumu," ucap Rania menegaskan pada Gilang.


" Iya, aku tau Rania. Aku tau statusmu. Tapi bukan berarti dengan status itu. Kita akan menjadi musuh kan," ucap Gilang.


" Aku tidak pernah menganggapmu musuh, jadi sudahlah lupakan semuanya," ucap Rania yang kembali pergi. Namun dengan cepat Gilang memeluknya membuat Rania kaget.


" Gilang apa yang kamu lakukan, lepaskan aku," berontak Rania ingin melepaskan diri.


" Sebentar saja Rania, aku tau kamu sedih. Kamu pasti butuh pelukan ini. Aku siap untuk memberikan kekuatan kepadamu," ucap Gilang yang memeluk Rania erat dan Rania terus berusaha untuk melepaskan diri.


Sementara Anisa yang melihat 2 orang itu mengambil kesempatan dengan langsung mengambil gambar.


" Dasar, sudah menikah. Tetapi masih aja peluk sana peluk sini, dia benar-benar bermain di belakang Rendy," batin Anisa geleng-geleng dengan apa yang di lihatnya yang membuatnya kesal.


" Aku harus memberi tahu Rendy secepatnya. Agar Rendy menjauhi wanita yang tidak beres itu," batinnya yang langsung pergi. Setelah berhasil mengambil gambar Rania dan juga Gilang.


" Lepas Gilang!" Rania mendorong Gilang.

__ADS_1


" Kamu dengar ya, jangan berani-beraninya kamu mendekati ku lagi. Aku sudah menikah!" tunjuk Rania tepat di wajah Gilang.


" Aku hanya ingin memelukmu Rania, aku tau kamu membutuhkan ku," ucap Gilang yang kembali memeluk Rania dan Rania kembali memberontak dengan kegilaan Gilang di malam tahlilan mamanya.


Sementara Rendy tampak berjalan dan sepertinya sedangkan mencari-cari seseorang dan Rendy berpapasan dengan Zahra.


" Zahra kamu lihat Rania?" tanya Gilang.


" Hmmm, nggak sih, tadi memang ada sama aku," jawab Zahra yang juga melihat di sekelilingnya.


" Kemana ya dia?" ucap Rendy heran.


" Mungkin di kamar kali," ucap Zahra menerka-nerka.


" Iya mungkin saja," sahut Rendy.


" Dia ada di taman belakang," sahut Anisa tiba-tiba dan Anisa pun mendekati Zahra dan Gilang.


" Sedang berduaan dengan mantan kekasihnya, saling membagi duka dengan pelukan hangat," ucap Anisa dengan kata-katanya.


" Apa maksud kamu Anisa. Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Rendy.


" Benar Anisa kamu jangan menimbulkan fitnah, apalagi dengan kata-kata seperti itu," sahut Zahra.


" Aku tidak menimbulkan fitnah. Tetapi apa yang aku katakan memang benar. Jika dia sedang berpelukan dengan Gilang di taman belakang," tegas Anisa.


" Jangan mengada-ada kamu. Mana mungkin Rania seperti itu," sahut Zahra.


" Aku tau dia temanmu. Tapi aku tidak bohong. Aku mengatakannya. Karena aku memang punya bukti," ucap Anisa.


Rendy dan Zahra saling melihat dengan wajah mereka yang pasti tidak mempercayai omongan Anisa.


" Ini," Anisa mengeluarkan ponselnya dan langsung melihatkan hasil gambar tadi. Di mana Rania dan Gilang berpelukan.


" Astagfirullah Al Azdim," lirih Rendy yang pasti kaget melihatnya dan Zahra pun sampai menutup mulutnya karena kaget dengan apa yang di lihatnya.


" Aku benarkan. Aku sudah menduga. Dia pasti masih memiliki hubungan dengan Gilang. Buktinya dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya mereka berpelukan padahal Rania sudah menikah dan malah berduaan dan sampai berpelukan dengan Pria yang bukan muhrimnya dan mungkin hal ini sering terjadi di belakang kamu Rendy," ucap Anisa yang mengkompor- kompori.


" Ini pasti hanya salah paham," sahut Zahra yang membela Rania.


" Salah paham bagaimana ini jelas terjadi dan memang itu kenyataannya. Karena bukannya memang kita sudah tau Rania bukan wanita baik-baik," ucap Anisa lagi yang malah melebar-lebarkan masalah.


" Anisa kamu tidak perlu menilai Rania. Kamu tidak punya hak," sahut Zahra.


" Aku tau Zahra dia temanmu makanya kamu membelanya seperti itu. Tetapi jangan menutup mata kalau ini adalah kenyataan!" tegas Anisa.


Rendy tampak enggan mendengarkan Anisa dan Rendy pun langsung pergi.


" Rendy mau kemana?" panggil Zahra dan langsung mengikuti Rendy yang juga Zahra malas mendengar kata-kata Anisa. Namun Anisa tersenyum miring melihat kepergian Rendy.

__ADS_1


" Kamu baru akan menyadari Rendy. Kalau kamu sangat menyesal menikahi Rania. Dan kamu akan sadar. Aku yang pantas menjadi istrimu," batin Anisa tersenyum penuh kemenangan.


Bersambung


__ADS_2