Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 157 Elang dan Zahra.


__ADS_3

Rendy mengantarkan Rania kekantor seperti biasanya. Rania membuka sabuk pengamannya begitu sampai di depan kantor.


" Aku masuk dulu, terima kasih sudah mengantarku," ucap Rania meraih tangan suaminya mencium punggung tangan suaminya, Rendy memegang kedua pipi Rania dan mencium kening Rania, pipi Rania, kiri dan kanan, suara ciuman banyak terdengar dengan Rendy yang benar-benar menciumi wajah Rania.


" Kamu hati-hati," ucap Rendy selesai menciumi wajah istrinya.


" Baik, Dokter Rendy, aku akan pasti hati-hati," sahut Rania dengan nada bercandaan.


" Ya sudah masuklah, jangan lupa makan siang tepat waktu," ucap Rendy yang masih memberikan pesan.


" Hmmm, pasti, oh iya nanti sore setelah pulang dari kantor kita ketempat papa bentar ya, aku belum menyampaikan kabar ini kepadanya," ucap Rania.


" Baiklah, sekalian aku juga mau memeriksa Willo," sahut Rendy.


" Kak Willo, kamu ini sudah di tegur juga masih di ulangi," sahut Rania.


" Iya maksudku kak Willo, aku lebih tua dari pada kak Willo. Tapi karena dia kakak dari istriku. Jadi mau tidak mau memanggilnya kakak. Walau belum biasa," sahut Rendy.


" Ya memang harus. Kalau tidak dia bisa mengamuk. Mau kamu," sahut Rania menakut-nakuti suaminya itu.


" Iya aku akan akan membiasakan semuanya," sahut Rendy.


" Hmmm, ya sudah jangan lupa ya nanti, kamu juga di rumah sakit jangan lupa makan," ucap Rania yang memberi ingat pada suaminya.


" Iya Rania, aku pasti akan makan, kamu jangan khawatir," sahut Rendy.


" Ya sudah aku masuk dulu, Bye," sahut Rania pamit Rendy mengangguk. Rania pun membuka pintu mobil. Namun Rendy menahannya membuat Rania bingung.


" Ada apa?" tanya Rania heran.


Rendy mendekatkan dirinya pada Rania menunduk pada perut Rania yang mana Rendy mengusap-usap perut ramping itu dan menciumnya dengan lembut. Rania hanya tersenyum. Walau sebenarnya sangat geli dengan Rendy yang menciumi perutnya.


" Kamu juga baik-baik di dalam," ucap Rendy yang kembali mencium perut ramping itu.

__ADS_1


" Sudah!" tanya Rania saat suaminya mengangkat kepalanya. Dan Rendy mengangguk namun mengecup bibir Rania.


" Sudah selesai," sahut Rendy. Rania tersenyum dan melanjutkan membuka pintu mobil. Saat keluar dari mobil Rania masih melambaikan tangannya.


Dia tidak akan memasuki Perusahaannya jika suaminya tercinta belum pergi dan memang Rendy pun akhirnya melakukan mobilnya dengan kecepatan santai.


Rania tersenyum melihat mobil suaminya yang semakin lama semakin jauh.


" Hmmm, perutku sudah sangat penuh pagi ini. Apa akan ada tempat lagi untuk makan siang nanti," batin Rania mengusap-usap perut rampingny.


Lalu dia memasuki Perusahaannya. Rania meski hamil memang tetap bekerja. Karena Rania juga hamilnya tidak parah-parah amat seperti Zahra yang memang begitu parah. Rania jauh lebih tenang dan mungkin bayinya tidak ingin merepotkan sang mamanya.


**********


Zahra kerumah sakit untuk menebus obat yang kemarin di berikan Dokter resepnya. Ternyata ada 1 yang ketinggalan dan Rania tidak sempat menebusnya makanya Zahra sendiri yang harus bergerak untuk menebus obat tersebut.


Zahra sudah di depan kasir untuk melakukan pembayaran obat yang di tebusnya.


" Ini mbak," ucap Zahra memberikan uang kepada kasir tersebut.


" Sama-sama," sahut Zahra yang langsung pergi.


Zahra berjalan santai dengan melihat isi kantung plastik putih yang di mana obat yang di tebus ya tadi.


" Apa sudah semua ya obatnya di beli, ini benarkan obat yang di maksud Rania," batin Zahra yang terus melihat obat-obatan itu sampai tidak memperhatikan jalannya.


Yang ternyata dari arah yang berlawanan, Elang juga berjalan dengan sibuk membuka-buka berkas yang di pegangnya yang berlapiskan papan ujian. Mungkin catatan pasien. Namun Elang juga tidak memperhatikan jalannya dengan sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


Ke-2nya sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing tidak saling menyadari, ke-2nya semakin dekat dan akhirnya terjadi tabrakan bahu.


" Auuhhh," ucap Zahra kaget yang bertabrakan dengan Elang dan hampir saja Zahra jatuh dan Elang menahan tubuhnya dengan satu tangannya memegang pinggang Zahra menahan Zahra agar tidak jatuh. Hal itu juga membuat Elang dan Zahra sangat dekat bahkan ke-2nya terlihat tanpa ada jarak.


Mata ke-2nya saling bertemu dengan hembusan napas yang sama-sama saling menerpa. Juga ada getaran jantung yang tidak normal yang tiba-tiba saja berdenyut kencang.

__ADS_1


Zahra dan Elang sama-sama masih betah dengan posisi mereka. Sama-sama masih saling menatap. Hingga akhirnya Zahra tersentak kaget dan menyadari apa yang terjadi yang membuatnya langsung menjauh dari Elang.


Dan Elang juga sadar yang akhirnya ke-2nya sama-sama saling salah tingkah.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Elang gugup.


" Tidak aku tidak apa-apa," sahut Zahra yang merapikan dirinya yang padahal tidak ada terjadi apa-apa dengannya.


" Kamu ngapain di sini?" tanya Elang dengan pelan.


" Memang kenapa jika aku disini. Aku juga tidak mengganggumu kan. Jadi apa yang salah," sahut Zahra dengan ketus.


" Bukan itu maksudku Zahra," sahut Elang.


" Ini, aku sedang menebus obat," sahut Zahra menunjukkan kantung yang masih di pegangnya sedari tadi.


" Bagaimana keadaanmu?" tanya Elang.


" Kamu menanyakan keadaanku atau penasaran dengan janin di kandunganku," sahut Zahra dengan sinis.


" Zahra aku tau kamu marah kepadaku. Tapi aku..."


" Cukup Elang," sahut Zahra memotong pembicaraan Elang, " kamu jangan sok merasa bersalah. Aku semakin membencimu yang melihatmu selalu merasa bersalah. Kamu merasa bersalah. Tetapi tidak mau bertanggung jawab aku sungguh membenci semua itu," ucap Zahra dengan sinis.


" Iya, aku menerima, aku menerima semua kebencian kamu kepadaku, memang itu resiko yang aku dapatkan. Zahra anak yang kamu kandung tetap anakku dan seperti yang aku katakan aku akan bertanggung jawab atas anak itu. Aku tidak mungkin membiarkan mu sendirian menjalani semuanya," sahut Elang.


" Kamu itu aneh Elang, aku tidak tau jalan pikiran kamu sebenarnya seperti apa. Kamu egois atau seperti apa. Aku tidak tau bagaimana pikiran kamu. Jika ingin bertanggung jawab seharusnya bertanggung jawab tanpa harus menyakiti ibu dari bayinya," tegas Zahra.


" Untung saja, Tante Ratih dan Rendy tidak bertindak yang lain-lain. Mereka masih punya akal dan kesabaran atas apa yang kamu lakukan dan aku sendiri juga bisa melakukan semuanya tanpa bantuan kamu," ucap Zahra menekankan pada Rendy.


" Sudahlah, tida ada gunanya aku bicara terlalu banyak kepadamu," sahut Zahra lagi. Zahra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu pergi dari hadapan Elang yang diam tanpa bicara apa-apa.


" Maafkan aku Zahra," batin Elang yang membalik tubuhnya dan melihat kepergian Zahra. Benar kata Zahra Elang itu sangat membingungkan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2