Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 211 Hal yang mengejutkan.


__ADS_3

Pagi hari kembali tiba. Anisa yang berada di dalam kamarnya yang masih tertidur dengan telentang tiba-tiba membuka matanya dan di kagetkan dengan melihat seorang wanita yang sudah duduk di sampingnya yang tak lain ternyata adalah mamanya.


" Mama!" pekik Anisa yang terkejut dan langsung duduk dengan mengucek-ngucek matanya yang tidak percaya jika mamanya sudah pulang.


" Mama serius ini mama. Kapan baliknya," sahut Anisa yang kesenangan dan langsung memeluk mamanya.


" Kamu sih tidur terus sampai tidak sadar jika mama kamu sudah pulang," sahut Sarah


" Mama kenapa tidak bilang kalau sudah pulang kan Anisa bisa jemput," ucap Anisa yang sekarang sudah melepas pelukannya dari mamanya yang mana wajah bahagia Anisa yang begitu bahagianya yang menyambut ke hadiran sang mama.


" Mama memang datang nya mendadak," sahut Sarah.


" Kok mendadak, memang untuk apa?" tanya Anisa dengan heran.


" Untuk apa lagi. Jika bukan untuk kamu. Anisa mama dengar Rania itu menderita kanker rahim dan janin di dalam kandungannya juga sudah di angkat," sahut Sarah.


" Iya benar. Lalu kenapa?" tanya Anisa.


" Kamu ini kenapa mendadak bodoh. Alasan mama pulang. Karena ini. Karena kamu yang memang semakin lama semakin bodoh. Lihat saja sampai detik ini kamu bahkan belum bertindak," ucap Sarah.


" Apa maksud mama?" tanya Anisa dengan wajahnya yang penuh dengan kebingungan.


" Anisa. Rania itu menderita kanker rahim yang itu artinya dia tidak akan bisa memiliki keturunan dan ini kesempatan kamu untuk kembali masuk kedalam kehidupan Rendy yang mana kamu harus mendekati Rendy, meluluhkan hatinya kembali. Saat seperti ini Rendy akan membuka hatinya karena dia akan membutuhkan wanita yang bisa memberinya keturunan," ucap Sarah dengan menyunggingkan senyumnya.


Namun Anisa mendengarnya terlihat kaget.


" Jadi mama buru-buru pulang hanya untuk ini?" tanya Anisa untuk memastikan.


" Ya apalagi. Jika bukan untuk ini. Rania tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga ini. Dan pasti ini kesempatan untukmu untuk menikah dengan Rendy. Karena keluarga ini pasti membutuhkan keturunan,"' ucap Saras dengan rencana liciknya.


" Cukup mah!" sahut Anisa tiba-tiba.

__ADS_1


" Apa maksud kamu?" tanya Saras.


" Anisa tidak mau melakukannya. Mau mereka punya anak atau tidak pernikahannya lanjut atau tidak. Anisa tidak mau ikut campur," sahut Anisa menegaskan yang membuat Sarah langsung kaget mendengar pernyataan Anisa.


" Apa yang kamu katakan Anisa," sahut Sarah.


" Anisa memang akan menikah. Tetapi bukan dengan Rendy. Anisa akan menikah dengan pria lain," sahut Anisa yang menegaskan. Mata Sarah sampai ingin keluar mendengar pernyataan Anisa yang tidak di duga-duganya yang punya pikiran untuk menikah dengan orang lain dan bukan Rendy.


" Anisa apa yang kamu bicarakan?" tanya Sarah dengan suaranya yang menekan.


" Mah, Anisa sudah tidak mau mencampuri urusan Rendy dan juga Rania. Anisa ingin hidup normal yang mungkin memang Rendy bukan jodoh Anisa dan sudah cukup dengan apa yang Anisa lakukan selama ini dan Anisa ingin menikah dengan orang lain," ucap Anisa yang menegaskan.


" Kamu gila Anisa. Siapa yang mau kamu nikahi. Kamu jangan menikah sembarangan dengan orang lain," sahut Sarah yang langsung darah tinggi mendengar keputusan Anisa.


" Anisa akan mempertemukannya dengan mama. Sekarang Anisa mau mandi. Mama sebaiknya keluar dari kamar Anisa," ucap Anisa yang mengusir mamanya begitu saja.


" Kamu mengusir mama," sahut Sarah dengan kesal.


" Aku mau mandi dan aku tidak mau mendengar kata-kata mama yang menyuruhku untuk merusak rumah tangga orang lain. Aku akan berumah tangga dan aku takut kualat," sahut Anisa yang menegaskan.


" Sudahlah mah, sebaiknya mama pergi," usir Anisa dengan paksa yang berdiri dan mendorong mamanya keluar dari kamarnya dan Anisa langsung menutup pintu kamarnya.


" Pulang-pulang hanya membuat dosa," ucap Anisa gelang-gelang. Merasa tidurnya terganggu dengan mama yang datang dan menyuruhnya yang tidak-tidak.


Sementara Sarah yang di depan kamar Anisa masih sangat terkejut dengan perilaku Anisa yang berubah 180 derajat.


" Apa yang terjadi padanya. Apa sungguh dia seperti itu. Keterlaluan apa dia tidak berpikir dulu sebelum bertindak dan siapa yang mau di nikahinya. Anak itu benar-benar," batin Saras yang penuh kebingungan.


************


Setelah pulang dari rumah sakit. Rania hanya menghabiskan hari-harinya di dalam kamar saja. Untuk memulihkan ke adaannya. Rania membuka laci di sampingnya dan mengambil 2 lembar foto kecil yang mana itu foto bayinya yang masih di rahimnya. Rania mengusap-usap foto itu dengan menatap dengan penuh kesedihan.

__ADS_1


Rania juga mengusap perutnya. Air matanya harus jatuh lagi. Saat menyadari jika di rahimnya sudah tidak ada anaknya lagi.


Rendy yang berada di kamar mandi keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya yang meneteskan air mata yang membuat Rendy menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


" Jika anak kita sudah lahir nanti, aku ingin dia memanggilku ibu," perkataan Rania membuat Rendy teringat dan juga Rendy pastinya begitu sedih.


Rendy pun langsung menghampiri istrinya dan duduk di samping istrinya dengan membawanya kedalam pelukannya untuk memberikannya ketenangan.


" Ini tidak untukku Rania dan apa lagi kamu. Aku sangat mengerti perasaanmu," ucap Rendy.


" Hiks, hiks, hiks," hanya isak tangis Rania yang terdengar, mau Rania sekuat apapun tetapi dia pasti akan sangat terguncang jika mengingat bayi di rahimnya itu.


" Jika ingin menagis. Menangislah terus. Aku akan terus mendengarkan tangismu," ucap Rendy. Rania pun memeluk suaminya erat yang memang hanya Rendy yang bisa memberinya ketenangan.


Sudah sampai 15 menit Rania menangis dengan terus memeluk Rendy yang mana Rendy bersandar di kepala ranjang dengan mengusap-usap pucuk kepala Rania.


" Apa sudah tidak ingin menangis lagi?" tanya Rendy. Rania mengangkat kepalanya dan menggelengkan kepalanya. Rendy tersenyum dengan memegang ke-2 pipi Rania dah mengusap air mata itu dan mengantarkan kening Rania untuk di ciumnya.


Rendy juga mencium pipinya dengan lembut kiri dan kanan mencium hidungnya dan mengecup bibirnya.


" Sudah jauh lebih tenang?" tanya Rendy. Rania mengangguk.


" Kita jalan-jalan yuk!" ajak Rendy.


" Mau kemana?" tanya Rania.


" Hanya keliling-keliling saja, udaranya sangat sejuk malam-malam begini. Lagian ini juga malam Minggu. Aku ingin seperti anak cabe-cabean di Sudirman yang pacar-pacaran," ucap Rendy.


" Tapi kan kita sudah berumur, mereka masih anak-anak remaja," sahut Rania.


" Ya tidak apa-apa. Memang tempat hanya untuk mereka di sana juga banyak orang yang tua-tua. Yang jualan juga tua-tua. Di sana bebas. Makanya kita haru kesana," ucap Rendy.

__ADS_1


" Ya sudah," sahut Rania Rendy tersenyum dan kembali mencium kening Rania. Dia memang ingin membawa Rania untuk menenangkan pikiran agar pikiran Rania tidak penat.


Bersambung


__ADS_2