Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 64 Hal tersulit.


__ADS_3

Akhirnya Ratih, Zahra dan Nia sampai ke rumah sakit. Setelah mencari-cari di mana Rania. Akhirnya menemukan dan dengan paniknya mereka menunggu di depan ruang UGD dan Zahra sibuk menelpon.


" Apa sudah terhubung?" tanya Ratih.


" Belum Tante, pak Rudi tidak menjawab telponnya," jawab Zahra yang sedari tadi menghubungi keluarga Rania dan tidak ada jawaban sama sekali.


" Coba kakaknya," sahut Nia.


" Kakak tidak punya no telponnya," jawab Zahra yang terlihat bingung.


" Ya Allah bagaimana ini. Mereka harus tau keadaan Rania seperti apa," gumam Ratih panik.


" Coba hubungin ke pesantren Della. Pasti dia punya nomor kakaknya kak Rania," sahut Nia yang menemukan ide.


" Jangan!" sahut Ratih.


" Kenapa mah?" tanya Nia.


" Nanti Della akan panik jika tau hal ini. Nanti saja kita mengabarinya. Nanti dia malah di konsen untuk belajar," jawab Ratih.


" Lalu bagaimana Tante, keluarga Rania tidak bisa di hubungi," sahut Zahra kebingungan dan bertambah panik.


" Kak Rendy pasti punya," sahut Nia.


" Ya sudah kita tunggu Rendy saja," sahut Ratih.


" Apa aku Kerumah Rania saja," sahut Zahra yang mempunya ide.


" Ya, itu jalan terbaik," sahut Nia setuju.


" Oh, aku tau, Astri, Astri pasti sudah mengabarinya. Sebaiknya aku pastikan sama Astri saja," sahut Zahra yang tiba-tiba mengingat.


" Ya sudah Zahra sana cepat kamu pastikan," sahut Ratih.


" Iya Tante," sahut Zahra. Dan Zahra pun langsung menghubungi Sekretaris Rania untuk mengabari keluarga Rania.


Sementara Ratih dan Nia semakin panik. Karena Rendy yang menangani Rania tak kunjung keluar.


" Ya Allah, semoga Rania baik-baik saja, berikan dia kekuatan dan keselamatan ya Allah. Lancarkan anakku dalam menanganinya," batin Ratih berdoa dengan wajahnya yang terus khawatir.


*********


Rendy masih menangani Rania di dalam ruang unit gawat darurat. Kondisi Rania bahkan menurun.

__ADS_1


" Dokter, kita kehabisan stok darah," sahut salah seorang suster ketika mendapat perintah menambah darah Rania. Karena darah Rania kekurangan darah. Dan Rendy yang mendengarnya bertambah cemas dengan stok darah yang di butuhkan.


" Apa yang harus aku lakukan," batin Rendy.


" Bagaimana ini Dokter. Kondisinya semakin menurun. Denyut jantungnya juga lemah?" tanya suster.


" Ayo ambil darah saya," sahut Rendy mengambil keputusan dengan cepat. Suster yang mendengarnya heran dan wajah mereka begitu terkejut.


Mereka mungkin tidak mengetahui jika pasien yang mereka tangani adalah istri dari Dokter tersebut.


" Ayo cepat kenapa dia kita tidak punya waktu," sahut Rendy.


" Hah! i-iya Dok," sahut suster mengangguk-angguk walah masih kebingungan.


Rendy memang yang setelah mengetahui jenis darah Rania yabg ternyata sama dengannya langsung mengambil tindakan dengan cepat untuk menyelamatkan nyawa Rania.


Transfusi darah yang di lakukan pun terjadi. Tania masih tidak sadarkan diri dan untuk lukanya juga sudah di jahit. Rendy dan Rania berada di atas tempat tidur pasien yang bersebelahan dengan jarak satu meter yang mana mereka masih melakukan transfusi darah.


Wajah Rendy terus menoleh ke arah Rania. Dia tidak tau kapan istrinya itu akan sadar. Perasaannya sudah bercampur aduk. Tidak hanya khawatir. Tetapi banyak ketakutan akan kehilangan.


" Seandainya aku menjemputmu. Kejadiannya tidak akan seperti ini. Apa yang terjadi sebenarnya. Siapa yang melakukan ini kepadamu," batin Rendy yang penasaran dengan kejadian yang di alami istrinya.


***********


Tidak tau pelaku wanita atau Pria. Apa motifnya sampai ingin mencelakai Rania. Polisi memang kesulitan untuk mengungkap hal itu.


Rania sudah di pindahkan keruang perawatan. Di dalam ruangan VIP yang di berikan Rendy padanya. Rania yang berbaring di ranjang sudah memakai baju rumah sakit berwarna biru muda yang memang khusus untuk pasien dengan selimut sampai dadanya berwarna putih dengan garis-garis hitam.


Di hidung Rania masih terpasang alat pernapasan dan juga di punggung tangannya terpasang infus. Nia, Ratih dan Zahra berada di dalam ruangan itu.


Nia yang tertidur di sofa yang ada di ruangan itu dengan kepalanya yang berada di atas paha Zahra yang duduk di sofa yang sama. Sementara Ratih duduk di samping Rania yang beberapa kali berdoa untuk kesembuhan Rania. Mereka setia menjaga dan menunggu Rania bangun.


Untuk keluarga Rania sendiri. Belum terlihat sama sekali dari tadi malam sampai pagi ini. Astri sekretaris Rania sudah memberitahu dan mereka sama sekali tidak terlihat.


Jari telunjuk Rania bergerak spontan dengan cepat dan mata Ratih tepat fokus melihat kearah jari tersebut.


" Rania!" lirih Ratih yang menyadari ada pergerakan dari Rania. Ratih berdiri dengan memegang lengan Rania. Ratih sedikit menundukkan diri mendekati wajah Rania dan melihat mata itu bergerak-gerak.


" Rania sadar Tante?" tanya Zahra.


" Matanya bergerak," jawab Ratih. Nia yang mendengar percakapan itu langsung duduk dengan mengucek matanya.


" Rania, nak bangun lah," ucap Ratih dengan lembut. Zahra dan Nia pun bangkit dari sofa dan mendekati tempat tidur Rania. Mereka melihat perlahan mata itu terbuka.

__ADS_1


" Alhamdulillah kak Rania," sahut Nia dengan wajah bahagianya melihat Rania yang membuka mata perlahan dan menutup kembali sampai membuka lagi.


Pandangan Rania masih belum sempurna, dia hanya melihat samar-samar namun suara yang memanggil nanya membuat matanya menoleh kekananya ingin mengetahui suara tersebut siapa.


Belum sempurna dengan apa yang di lihatnya masih tetap samar-samar. Namun lama-kelamaan Rania bisa melihat wajah itu dengan jelas.


" Mah," lirih Rania dengan kesulitan bernapas.


" Iya sayang ini mama," sahut Ratih.


" Aku panggil Rendy dulu," sahut Zahra yang langsung pergi memanggil Rendy. Agar memeriksa kondisi Rania.


Rania, masih belum bisa bisa bicara banyak. Dia hanya melihat tempat keberadaannya dengan wajahnya pemikir dan berusaha mengingat apa terjadi sebelumnya dengannya.


Tidak lama akhirnya Rendy pun datang dan melihat Rania sudah siuman.


" Biar aku periksa sebentar," ucap Rendy yang berdiri di kiri istrinya. Rendy memeriksa kondisi Rania dengan steteskopnya.


" Bagaimana keadaan Rania?" tanya Ratih.


" Alhamdulillah kondisinya membaik," jawab Rendy yang merasa lega dan bersyukur.


" Alhamdulillah," sahut mereka serentak dengan mengusap wajah mereka yang pasti ikut bahagia mendengar membaiknya kondisi Rendy.


" Kamu sudah tidak apa-apa kan Rania?" tanya Ratih. Rania hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


" Siapa yang melakukannya?" tanya Rania dengan pelan. Dia telah mengingat kejadian sebelumnya dan yang membuatnya berada di rumah sakit.


" Polisi masih mencari perlakukannya," sahut Zahra.


" Rania, kamu memikirkan apa-apa dulu. Kamu jaga kondisi kamu dengan baik. Jangan banyak pikiran yang membuat kesehatan kamu menurun," ucap Rendy menyarankan.


" Benar sayang, kamu istirahat saja ya. Yang penting kamu sudah membaik dan agar lebih pulih lagi, kamu jangan banyak pikiran. Serahkan semuanya kepada polisi," sahut Ratih. Rania menganggukkan matanya.


" Ya sudah, kamu istirahat lagi. Aku keluar sebentar. Ma, tolong jaga Rania ya," ucap Rendy


" Iya pasti," sahut Ratih mengusap-usap pucuk kepala Rania. Dia memang begitu sayang kepada menantunya itu. Rendy pun akhirnya pergi mempercayakan istrinya pada keluarganya.


" Kamu mau makan?" tanya Ratih. Rania menggeleng.


" Ya sudah kamu istirahat saja," ucap Ratih. Rania menganggukkan matanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2