
Ratih menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu membungkuk untuk mengajak Zahra berdiri jangan terus berlutut di depannya. Ratih melihat ke arah Elang yang Diam. Namun terlihat penyesalan di wajah Elang.
" Elang, Tante bertanya sekali lagi sama kamu. Apa kamu benar-benar akan pergi dan tidak bertanggung jawab untuk semua ini?" tanya Ratih memastikan pada Elang.
" Tante aku dan Zahra juga tidak menginginkan pernikahan itu. Jadi pertanggung jawaban ku akan tetap aku lakukan. Tanpa menikahi Zahra. Aku akan mengurus semua biaya saat Zahra dan apapun yang di butuhkan Zahra. Tetapi aku tidak bisa menikah dengannya begitu juga Zahra yang tidak mau menikah denganku," sahut Elang yang tetap merubah keputusannya.
" Zahra apa kamu pikir bisa mengandung tanpa seorang suami?" tanya Ratih melihat serius Zahra. Zahra yang menunduk mengangkat kepalanya.
" Mungkin ini takdirku dan caraku menebus dosaku. Jadi aku tidak apa-apa. Jika akhirnya menderita. Karena ini resiko dari apa yang sudah aku lakukan," sahut Zahra yang juga dengan keputusannya.
" Terserah kalian ber-2. Kalian berdua orang yang sama-sama egois. Bisa-bisanya pikiran kalian sependek ini," ucap Ratih yang juga pusing yang tidak bisa mengatakan apa-apa lagi untuk Zahra dan Elang yang ternyata sama-sama tidak mau menikah.
Jika Zahra tadinya masih mau. Namun karena sudah di sakiti Elang dengan kata-kata Elang yang begitu gampang yang membuatnya sudah tidak berniat untuk menikah dengan Elang yang dia tau dia hanya akan makan hati saja nanti. Mana mungkin menikah dengan Pria yang juga menginginkan wanita lain.
" Elang jika kamu ingin pergi maka pergilah!" sahut Ratih yang sudah kehilangan kesabaran dan sebaiknya memang Elang tidak dirumahnya.
" Baik Tante, maaf kehadiranku sudah membuat kacau. Zahra aku minta maaf sekali lagi kepadamu. Aku tetap di Jakarta. Jika kamu butuh sesuatu katakan kepadaku," sahut Elang yang kalau bicara selalu mudah tanpa berpikir-pikir.
" Aku tidak butuh apa-apa darimu. Pergilah kamu dari sini," sahut Zahra dengan ketus dengan penuh kebencian pada Elang sampai tidak mau melihat wajah Elang. Elang pun tidak menunggu lama dan akhirnya pergi dari hadapan, Ratih, Zahra dan Anisa.
Setelah kepergian Elang. Zahrah melihat ke arah Ratih.
" Tante!" lirih Elang.
" Tante mau istirahat, kamu istirahatlah," sahut Ratih yang mengelak untuk Zahra bicara dia butuh ketenangan diri untuk sementara, perasaannya dan rasa kecewanya begitu besar dan membuatnya langsung pergi begitu saja tanpa mempedulikan Zahra.
" Maafkan aku Tante," batin Zahra yang melihat punggung Ratih yang semakin lama semakin jauh.
__ADS_1
Zahra melihat ke arah Anisa yang masih tetap ada di sana.
" Apa kamu mengetahui semua ini Anisa?" tanya Zahra.
" Iya aku mengetahuinya aku tidak sengaja mendengar kamu dan Rania bicara di dalam kamar," jawab Anisa apa adanya.
" Dan kamu yang memberitahu Rendy?" tanya Zahra memastikan.
" Aku hanya ingin membantu kamu Zahra. Makanya aku memberi tahunya," sahut Anisa.
" Anisa seharusnya kamu tidak mencampuri urusan ku dan seharunya kamu tidak memberitahu Rendy. Karena aku yang akan memberi tahunya. Kamu lihat apa yang kamu lakukan semuanya kacau dan Rania harus menerima kemarahan Rendy," ucap Zahra yang menegur keras Anisa.
" Maafkan aku Zahra. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin membelamu, aku ingin membantumu dan aku tidak tau kalau semuanya akan seperti ini. Mungkin niatku salah. Jadi maafkan aku," sahut Anisa dengan wajah yang penuh penyesalan.
" Kamu terlalu ikut campur Anisa. Kamu seharusnya tidak melakukan ini. Karena kamu bukan keluarga di rumah ini," ucap Zahra menegaskan.
**********
" Rendy dengarkan aku dulu," sahut Rania yang mencoba menjelaskan pada Rendy.
" Apa yang ingin kamu katakan lagi. Jika haru ini tidak terbongkar maka apa lagi. Kamu akan berbohong setiap hari," ucap Rendy yang penuh kemarahan. Mengambil kemejanya dari dalam.lemari dan buru-buru mengganti pakaiannya.
" Aku minta maaf, aku tidak bermaksud melakukannya," sahut Rania dengan lembut merasa bersalah di depan Rendy yang sekarang memakai pakaian.
" Kamu hanya mengulang kesalahan yang sama. Kita sudah menikah, dan aku sudah mencintai kamu sama seperti kamu. Apa sangat pantas jika kita masih saling menutupi satu sama lain. Apa pernikahan kita seperti dulu yang masih seperti orang asing," ucap Rendy dengan menatap Rania penuh kekecewaan.
" Rendy aku tau aku memang tidak seharunya menutupi ini. Aku mohon maaf. Aku sungguh menyesal melakukannya. Aku sudah berbohong banyak kepadamu. Maafkan aku," ucap Rania dengan matanya yang bergenang.
__ADS_1
" Kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jika kamu tidak menganggapku asing dan kamu sampai detik ini masih menganggapku asing. Makanya kamu bisa melakukan semua itu," ucap Rendy merendahkan suaranya.
" Tidak sama sekali Rendy. Aku tidak pernah menganggapmu asing. Percayalah kepadaku Rendy," ucap Rania memohon.
" Kamu tau Rania apa yang aku rasakan. Aku begitu kecewa kepadamu. Aku harus tau masalah ini dari orang lain," ucap Rendy menegaskan.
" Minggirlah! aku harus kerumah sakit," ucap Rendy.
" Kita harus menyelesaikan masalah kita dulu," ucap Rania.
" Semuanya sudah selesai. Hanya tinggal kamu yang mengambil pelajaran sendiri jangan hanya mengulang itu-itu lagi," ucap Rendy menegaskan.
" Aku pergi dulu!" ucap Rendy pamit. Rania langsung meraih tangan Rendy mencium punggung tangan Rendy bahkan air matanya menetes di punggung tangan Rendy. Rendy pasti tidak tega dengan Rania yang pasti menyesali dan menangis untuk masalah ini. Tapi dia benar-benar kecewa dengan Rendy.
" Aku pergi! ucap Rendy setelah Rania mencium punggung tangannya seperti biasa. Namun Rania menghentikan Rendy sampai Rendy melihatnya kembali.
" Aku tau kamu marah, tapi bukan berarti kamu melupakan untuk menciumku," ucap Rania menunjuk keningnya. Rendy menghembuskan napasnya perlahan dan mencium lembut kening Rania.
" Pipi ku juga," sahut Rania yang menuntut lebih banyak. Rendy pun melakukannya. Walau marah pada Rania tapi setiap kecupan yang di berikannya di wajah istrinya sangat tulus dan penuh cinta dan tidak terpaksa sama sekali.
Setelah menciumi wajah Rania. Rania menatap nanar Rania. Begitu juga Rania. Namun Rania berjinjit dengan mengecup bibir Rendy.
" Kamu hati-hati," ucap Rania. Rendy mengangguk dan akhirnya berlalu dari hadapan Rania.
" Aku tau Rendy kamu sangat marah kalau sudah masalah kebohongan. Tapi aku tidak akan membiarkan kamu terus marah dan kecewa kepadaku," batin Rania yang melihat kepergian suaminya.
Rania memang tidak kekantor hari ini. Karena mau kerumah papanya. Makanya tidak barengan dengan Rendy.
__ADS_1
Bersambung