Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 66 Canggung.


__ADS_3

Rania masih mendengarkan pembahasan suster tersebut. Hati nya seolah pasti tersentuh lagi karena tidak menyangka jika Rendy mendonorkan darahnya.


" Dokter Rendy itu memang sangat baik, tampan jadi wajar saja jika dia juga mendapatkan istrinya yang baik dan juga cantik," ucap suster tersebut.


" Hmmm, ya begitulah. Tuhan memang sangat adil," sahut suster tersebut. Rania hanya diam terpaku mendengarkannya.


" Rania ini minumnya, maaf aku lama," sahut Rendy yang tiba-tiba datang. Lalu berjongkok dan memberikan Rania air putih yang di kemas di botol mineral.


" Hmmm, makasih ya," sahut Rania dengan pelan.


" Hmmm, ya sudah sekarang kita masuk. Udara di luar sangat dingin. Tidak baik untuk kesehatan kamu," ucap Rendy menyarankan.


" Iya," jawab Rania mengangguk. Rendy pun langsung berdiri dan langsung mendorong kursi roda Rania.


Ketika sampai di kamar tanpa aba-aba. Rendy langsung menggendong Rania ala bridal style ke atas ranjang dengan perlahan. Rania hanya melihat Rendy yang tampak tenang dalam merawatnya.


" Kamu istirahatlah," ucap Rendy menarik selimut sampai ke dada Rania. Rania hanya mengangguk saja. Lalu Rendy beralih ke sofa, melepas jas dokternya lalu lalu langsung merebahkan dirinya di atas sofa dengan 1 tangannya berada di bawah kepalanya yang di jadikannya bantal.


Lalu perlahan Rendy memejamkan matanya. Tugasnya di rumah sakit memang sudah selesai. Karena istrinya masih ada di sana. Jadi dia akan menginap di kamar perawatan Rania untuk menjaga istrinya.


Rania memiringkan tubuhnya menghadap Rendy dengan ke-2 telapak tangannya yang menyatu di bawah pipinya. Matanya tidak lepas melihat ke arah Rendy menatap wajah itu dengan dalam. Seperti mengamati dengan perasaannya yang bercampur aduk di dalam sana yang tidak mengerti.


" Kenapa kamu begitu baik padaku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa. Kamu rela menikah dengan ku. Hanya untuk mencegah perbuatan jahat dari kakak iparku. Bahkan kamu juga melakukan itu hanya untuk menutupi aib ku. Kenapa kamu begitu baik Rendy. Aku padahal bukan siapa-siapa mu. Yang seharusnya kamu bisa mendapatkan wanita yang baik di bandingkan aku," batin Rania yang merasa tidak pantas menjadi istrinya.


" Ya Allah, berikan aku kesempatan untuk menjadi yang terbaik untuknya. Aku tidak tau apa artinya. Tetapi perasaanku begitu tersentuh saat bersama dirinya. Aku merasakan banyak ketulusan dari dia. Berikan aku kesempatan untuk membalasnya," batin Rania dengan matanya berkaca-kaca melihat terus ke arah Rendy. Dia terus menatap suaminya sampai perlahan-lahan matanya perlahan memejam.


*************


Rania akhirnya melanjutkan perawatan di rumah. Dia tidak nyaman di rumah sakit dan memilih melakukan perawatan di rumah toh sama juga yang merawatnya tetap ibu mertuanya yang super duper baik hati dan juga suaminya yang juga seorang Dokter yang sekalian merawat dirinya yang pasti setia dalam 24 jam bersamanya.

__ADS_1


Selama di rumah sakit. Tidak sekalipun papanya melihatnya. Tidak kakaknya atau papanya. Dia benar-benar seperti anak yang tak di anggap tidak di lihat sama sekali. Coba saja kalau masalah uang pasti langsung heboh mengabarinya.


Walau kecewa dan pasti sedih. Tapi Rania tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang itu sudah takdirnya dia juga tidak berharap banyak.


Rania sekarang sudah berada di dalam kamar dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Tadi pagi dia tiba di rumah. Rania terlihat memegang ponselnya dan sepertinya sangat serius melihat apa yang di ponselnya.


" Siapa orang itu," gumam Rania dengan serius melihat rekaman cctvnya. Melihat orang yang menusuknya.


" Kenapa sampai sekarang polisi tidak menemukannya. Dia memang tidak seperti pria atau wanita. Aneh sih memang," batin Rania yang merasa banyak ke ganjalan di rekaman itu.


Ceklek.


Tiba-tiba Rendy memasuki kamar dan melihat Rania tanpa begitu serius.


" Kamu sedang lihat apa?" tanya Rendy.


" Aku heran saja. Sudah beberapa hari. Tetapi kenapa polisi tidak kunjung menemukan pelakunya, aku jadi khawatir kalau hal itu tidak terungkap juga. Nanti akan terjadi lagi," ucap Rania dengan wajahnya penuh kecemasan.


" Aku mengerti, wajar kamu takut. Besok aku akan coba kekantor polisi dan akan menanyakan masalah ini," ucap Rendy.


" Kamu sekarang banyak pikiran dulu. Selagi kamu tidak kekantor. Kamu akan aman. Kamu jangan bekerja dulu sebelum masalah kamu selesai," ucap Rendy.


" Iya, kamu benar, aku juga jadi was-was kalau kemana-mana. Jujur aku juga takut," sahut Rania.


" Jangan takut, kamu serahkan semua pada Allah dan minta perlindungan padanya," ucap Rendy. Raina mengangguk tersenyum.


" Ehhmm, oiya Rania, jaitan kamu harus di periksa," ucap Rendy.


" Oh, ya sudah," sahut Rania mematikan ponselnya meletakkannya di atas nakas dan tampak tenang.

__ADS_1


" Aku harus berbaring?" tanya Rania.


" Iya," jawab Rendy.


" Hmmmm, oke," sahut Rania yang langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi ternyaman nya.


Rendy yang duduk di sampingnya menyediakan alatnya di samping Rania. Lalu melihat Rania yang mana Rania terlihat santai dengan ke-2 tangannya di lipat di atas perutnya.


Rendy menurunkan tangan Rania. Dan Rania langsung melihat Rendy dan mulai merasa aneh bahkan dek-dekan sedikit.


" Maaf, aku harus melepas bajumu," ucap Rendy membuat Rania menelan salavinanya. Ya memang itu harus di lakukan tapi dia malah dek-dekan di depan Rendy.


Tidak menunggu Rania mengatakan iya atau tidak Rendy melepas kancing baju Rania dari bawah sampai ketengah tepat di bagian luka di perut Rania. Rania malah terlihat canggung dan dan begitu resah. Dia memang sangat tidak nyaman.


Padahal memang itu yang sering di lakukan Dokter. Rendy juga biasa melakukannya. Tetapi dia juga tampak resah dan merasa gelisah saat menangani Rania. Mungkin istrinya dan sangat aneh tubuh sang istri yang di sentuhnya.


Tetapi Rendy adalah Dokter dengan profesional Rendy melanjutkan dengan membuka perban jaitan Rania.


" Shyyyyy," Rania berdesis saat Rendy membuka perbannya.


" Apa ada yang sakit?" tanya Rendy. Rania menggeleng cepat dan malah tidak berani melihat Rendy. Dia sibuk dengan perasaannya yang tidak karuan.


Rendy melanjutkan mengganti perban istrinya. Tangan Rania di bawah sana sudah mengepal saking dek-dekannya. Bahkan menahan dirinya saat tangan lembut Rendy menyentuh bagian perutnya.


" Rania apa yang kamu pikirkan, stop Rania, dua Dokter, lalu apa. Bukannya hal itu biasa," batin Rania yang berusaha tenang dengan segala sentuhan tangan Rendy di bagian perutnya. Dia merasa geli-geli bagaimana gitu bahkan sampai menggigit bagian bawah bibirnya.


Namun Rendy juga hanya terlihat tenang padahal dia juga sangat canggung melakukan itu. Mungkin karena Rania jadi perasaannya lebih berbeda dan tidak bisa di jelaskan sama sekali.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2