
Zahra kembali Kerumah sakit untuk mengambil apa yang di suruh Rendy padanya. Setelah mengambilnya Zahra keluar dari ruangan Rendy. Namun saat tangannya memegang kenopi pintu yang ingin membuka pintu tiba-tiba Zahra merasa pusing dan begitu lemas.
" Ishhhh kenapa kepala ku sakit," lirihnya yang memegang kuat kepalanya yang terasa begitu berat. Namun Zahra berusaha untuk kuat dan membuka pintu. Namun kepalanya masih terus sakit dan Zahra berjalan begitu tertatih-tatih dengan memegang dingding agar kuat berjalan.
" Ya Allah aku kenapa, aku harus pulang cepat-cepat, mungkin aku kurang istirahat," ucap Zahra yang berusaha berjalan walau hanya tertatih-tatih. Namun pandangan Zahra malah mulai rabun dan Zahra terlihat semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
Di ujung sana Elang sedang berbicara dengan Suster. Namun ketika pandangannya Elang mengarah kepada Zahra yang terlihat lemas.
" Zahra ngapain dia di sini," batin Elang yang penasaran yang terus melihat Zahra berjalan ber alatkan pegangan dinding.
Elang merasa ada yang tidak beres dengan Zahra dan tiba-tiba Elang melihat Zahra yang ingin jatuh yang membuat Elang membulatkan matanya.
" Zahra!" ucapnya yang langsung berlari ke arah Zahra yang membuat suster heran. Zahra yang semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Akhirnya semakin lemah dan pingsan dan sangat beruntung Elang tiba di waktu yang tepat dan langsung menahan tubuh Zahra agar tidak jatuh kelantai di mana tangan Elang memegang pinggang Zahra.
" Kamu tidak apa-apa Zahra?" tanya Elang dengan panik. Zahra yang tubuhnya di tahan dengan matanya yang masih terbuka. Namun masih sadar ada yang bicara dengannya dan melihat Pria dengan rabun yang bicara padanya.
" Zahra!" lirih Elang yang memegang pipi Zahra untuk membangunkan Zahra. Namun Zahra perlahan memejamkan matanya dan akhirnya benar-benar tidak sadarkan diri.
" Zahra bangun!" ucap Elang panik. Namun tidak ingin membuang-buang waktu akhirnya Elang menggendong tubuh Zahra ala bridal style. Karena dia juga tidak ingin terjadi apa-apa kepada Zahra.
Elang membawa Zahra ke salah satu ruangan perawatan, di mana Zahra berbaring lurus di tengah dengan ke-2 tangannya di lipat di perutnya dan punggung tangan Zahra terlilit selang infus.
Mungkin kondisi Zahra memang sangat lemah, makanya Elang mengambil tindakan untuk memberi infus Zahra agar memiliki tenaga. Di mana Elang juga terlihat memeriksa botol infus Zahra.
Tiba-tiba Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya, dengan tangannya yang langsung fokus pada kepalanya yang sepertinya masih terasa begitu sakit. Dahi Zahra mengkerut yang memang sepertinya terasa sangat sakit.
" Zahra, kamu sudah bangun?" tanya Elang. Mendengar suara itu membuat Zahra menengok ke arah kanannya. Zahra masih melihat rabun namun lama kelamaan pandangan itu sangat jelas dan ternyata Elang yang bertanya kepadanya.
" Elang," lirih Zahra.
__ADS_1
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Elang.
" Aku ada di mana?" tanya Zahra heran. Namun belum di jawab Elang. Zahra sudah bisa menebak di mana keberadaannya yang melihat dari bau dan juga suasana di ruangan itu dan terlebih lagi dia sedang di infus.
" Apa yang terjadi padaku, kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Zahra masih dengan suara seraknya dia benar-benar sangat lemah.
" Kamu tadi pingsan dan aku membawa mu kemari," jawab Elang dengan lembut.
" Lalu apa yang terjadi kenapa aku bisa di infus?" tanya Zahra heran yang merasa sebelumnya dia baik-baik saja.
" Zahra kamu operdosis. Kamu terlalu banyak mengkonsumsi obat mual, sampai kamu melupakan lambungku yang kosong, makanya kamu tidak bertenaga," jawab Elang yang sudah memeriksa kondisi Zahra.
" Aku mana mungkin tidak meminum obat mual. Kamu tidak tau apa yang aku rasakan, setiap detik aku selalu mual-mual. Hanya obat itu yang bisa menghentikan rasa mualku," jawab Zahra dengan apa adanya yang bicara dengan membuang mukanya yang tidak ingin melihat Elang.
Kata-kata Zahra tidak bisa di bantah Elang. Karena memang Zahra sendirian mengatasi mualnya.
" Zahra walaupun seperti itu, kamu juga harus makan," ucap Elang dengan lembut.
" Tapi kamu harus tau, itu bahaya untum kehamilan kamu terlebih lagi asam lambung kamu," ucap Elang memperingati.
" Apa peduli kamu," sahut Zahra yang melihat Elang dengan tajam dan Elang sama sekali tidak bisa berkata apa-apa yang hanya membuat mereka ber-2 beradu pandang. Di mana Zahra pasti membenci Elang dan Elang pasti merasa bersalah kepada Zahra.
tok-tok-tok-tok.
Suara ketukan pintu yang akhirnya membuat ke-2nya tersentak dan sama-sama mengalihkan pandangan masing-masing. Sang pengetuk pintupun akhirnya membuka pintu yang ternyata suster yang membawa kantung plastik.
" Dokter, ini makanan yang Dokter minta," ucap suster yang berdiri di depan pintu. Elang mengangguk dan langsung berjalan menghampiri suster mengambil makanan itu.
" Makasih ya," ucap Elang.
__ADS_1
" Iya Dokter, saya permisi dulu," ucap suster.
Elang mengangguk, Suster kembali keluar dan Elang menghampiri ranjang Zahra.
" Kamu makan dulu ya," ucap Elang.
" Tidak perlu, aku makan di rumah saja," sahut Zahra menolak.
" Zahra, aku tau ini salahku. Aku tau kamu membenciku, aku tau kamu marah kepadaku. Tapi cukup kepadaku jangan anak itu. Dia tidak tau apa-apa. Kamu boleh tidak makan. Tapi apa kamu tidak memikirkannya," ucap Elang dengan suara lembut bicara pada Zahra, seolah ingin membujuk Zahra.
" Makan ya!" ucap Elang lagi memastikan.
Elang pun meletakkan kantung plastik tersebut di atas nakas, lalu membantu Zahra untuk duduk. Zahra yang tadinya menolak. Namun menurut saja. Yang mungkin dia melakukan semua itu demi bayinya. Setelah Zahra duduk Elang langsung duduk di pinggir ranjang dan mengambil kotak nasi yang ada di dalam kantung plastik tersebut.
Di mana Elang langsung menyendokkan dan mengarahkan ke arah mulut Zahra.
" Aku bisa sendiri, kamu tidak perlu menyuapiku," ucap Zahra.
" Makanlah!" sahut Elang dengan tegas. Zahra seolah tidak bisa melakukan apa-apa dan langsung memakan apa yang di berikan Elang. Elang tersenyum tipis yang merasa lega dengan Zahra yang mau menurutinya.
" Zahra, kamu harus perhatikan makan kamu. Agar kejadian ini tidak terulang lagi, aku akan memberimu vitamin, agar tenaga mu ada," ucap Elang di sela-sela menyuapi Zahra.
Tidak satu katapun yang keluar dari mulut Zahra untuk menjawab pertanyaan Elang.
" Setelah infusnya habis. Aku akan mengantarmu pulang," sahut Elang dengan keputusannya.
" Kau tidak perlu melakukan itu. Kau bisa pulang sendiri," ucap Zahra.
" Kamu tidak bisa menyetir, aku tidak ingin kamu kenapa-napa. Dengarkan aku dan jangan membantah," ucap Elang dengan tegas yang mana Zahra tampak tidak bisa apa-apa dan hanya memakan apa yang di suapi Elang kepadanya.
__ADS_1
Bersambung