
Pagi hari kembali tiba. Seperti biasa di rumah itu akan di adakan sarapan pagi. Oma Wati, Ratih, Rendy, Rania, Anisa, Sarah, Nia, Zahra dan juga ada Elang yang ikut sarapan seperti biasanya.
Rania tiba-tiba tidak fokus sarapan dan hanya melihat kearah Zahra dan Elang yang duduk kebetulan bersebelahan. Elang yang sadar di lihat oleh Rania merasa tidak nyaman. Elang tau kenapa Rania melihatnya seperti itu.
Pasti karena berhubungan dengan tadi malam. Jadi tatapan itu langsung berbeda. Zahrah juga sarapan sama. Merasa sangat canggung dengan Rania yang seakan masih banyak penasaran kepadanya. Padahal dia sudah menceritakan semuanya tanpa ada di tutup-tutupi.
" Elang dan Zahra harus menikah secepatnya," batin Rania yang terus kepikiran masalah Elang dan Zahra.
" Hmmm, oh iya mah," sahut Nia tiba-tiba memulai pembicaraan.
" Ada apa Nia?" sahut Ratih.
" Nia mau bilang, kalau Minggu depan Nia mau berangkat ke Jepang," sahut Nia yang menyampaikan apa yang ingin di sampaikan.
" Ke Jepang, memang mau ngapain?" tanya Ratih heran.
" Biasalah mah, ada pertukaran pelajar gitu. Jadi Nia menjadi salah satu mahasiswi yang di kirim," sahut Nia menjelaskan singkat.
" Memang kamu bisa pergi keluar Negri, tanpa mama," sahut Rendy menggoda adiknya itu.
" Ishhh, ya bisalah, kakak ada-ada aja. Memang Nia masih kecil apa. Nia sudah dewasa tau," sahut Nia.
" Ya sudah Nia, kalau memang ada pertukaran pelajar, kamu hati-hati di sana. Dan kamu juga harus memegang kepercayaan yang sudah di berikan pada kamu," ucap Ratih berpesan.
" Iya mah," sahut Nia mengangguk tersenyum.
" Tante juga ikut berdoa ya Nia semoga kamu baik-baik di sana," sahut Sarah.
" Makasih Tante," sahut Nia.
" Nanti kakak bikini beberapa cemilan untuk kamu di sana. Karena pasti sulit untuk menyesuaikan lidah kamu di Jepang," sahut Anisa.
__ADS_1
" Tidak perlu kak Anisa. Nggak usah repot-repot. Nanti Nia beli aja di supermarket. Kak Rania nanti temani ya," sahut Nia yang malah mengajak Rania.
" Iya Nia," sahut Rania. Anisa hanya bisa berekspresi datar ketika Nia yang menolehnya dan malah meminta bantuan dari Rania.
" Yang penting seperti apa yang di katakan mama tadi. Kamu jaga diri di sana, baik-baik di sana, jangan aneh-aneh, ada apa-apa langsung kabari Kerumah," sahut Rendy yang kembali berpesan pada adiknya.
" Siap kak Rendy," sahut Nia dengan tersenyum yang semua orang sudah memberinya izin.
" Eeeek," tiba-tiba Zahra ingin muntah. Mata Rania langsung melotot ke arah Zahra dan Elang yang di sampingnya langsung kaget dan pasti panik. Zahra menutup mulutnya dengan tangannya dan melihat orang-orang di sekitarnya.
" Kamu kenapa Zahra?" tanya Sarah yang bingung melihat Zahra.
" Hmmm, itu, aku, hanya egeeee," Zahra kembali ingin muntah yang membuat orang-orang semakin bingung.
" Maag kamu kambuh ya," sahut Rania yang mencoba membuat suasana cair.
" Iya, kayaknya maag aku kambuh. Makanya tidak selera makan," sahut Zahra.
" Kenapa tidak pernah bilang Zahra kalau kamu ada maag," sahut Ratih yang memang baru mengetahui hal itu.
" Gawat, ini tidak boleh," batin Rania kepanikan.
" Tidak usah Rendy, aku sudah enakan kok, tidak perlu," sahut Zahra yang begitu gugup yang berusaha menahan agar dia tidak mual kembali.
" Hmmm, ya sudah Zahra kamu mungkin kecapean karena pekerjaan yang banyak. Kamu sebaiknya istirahat saja. Kamu jangan kekantor hari ini," sahut Rania yang memberikan Zahra waktu untuk beristirahat.
" Iya Rania," sahut Zahra mengangguk. Zahra melirik kearah Elang yang terlihat tampak gelisah.
*********
Masalah Zahra dan Elang harus membuat Rania turun tangan. Dia tidak ingin Zahra menanggung semuanya atas apa yang sudah terjadi antara Elang dan Zahra. Rania pun memutuskan untuk menemui Elang di salah satu Restaurant di dekat perusahannya.
__ADS_1
" Dan kamu seperti ini terus," sahut Rania yang sudah banyak bicara panjang lebar dengan Elang.
" Rania aku pasti bertanggung jawab untuk Zahra," sahut Elang.
" Kapan Elang, kamu terus mengatakan bertanggung jawab. Dari awal semua terjadi, bukannya langsung bertindak untuk bertanggung jawab. Kamu malah suka-suka. Sampai detik kamu masih mengatakan akan bertanggung jawab. Kamu sadar tidak, jika Zahra sudah hamil dan mau sampai kapan seperti itu. Perutnya akan semakin membesar Elang," ucap Rania menekankan pada Elang.
" Rania aku harus bicara pada keluargaku. Aku bingung," sahut Elang dengan wajah frustasinya.
" Apa yang kamu bingungkan. Jika ingin menemui keluargamu maka temuilah dan bicarakan semuanya," sahut Rania.
" Tidak semudah itu Rania. Aku juga tidak mungkin mengatakan apa yang aku lakukan dengan Zahra, aku tidak mungkin mengatakannya," sahut Elang.
" Apa maksud kamu. Jadi maksud kamu. Kamu akan terus mengulur waktu, membiarkan semuanya seperti ini," sahut Rania.
" Bukan seperti itu Rania, aku sudah mengatakan akan bertanggung jawab pada Zahra. Aku sedang memikirkan caranya. Tapi aku tidak mungkin juga harus menceritakan aoa yang terjadi," jelas Elang.
" Kamu selalu mengulang alsan kamu. Dengar ya Elang, kamu berani berbuat yang seharusnya kamu bertanggung jawab tidak seperti ini dan kamu dengar baik-baik Zahra itu wanita baik-baik. Dan aku masih sabar untuk tidak memberitahu Rendy masalah ini. Jika dia tau aku tidak tau apa yang akan di lakukannya kepadaku. Jadi aku sarankan cepat selesaikan masalah kamu dengan Zahra sebelum aib kalian semakin menyebar," ucap Rania menegaskan.
Elang hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa dengan penegasan yang di katakan Rania. Rania tidak banyak bicara lagi dan langsung mengambil tasnya.
" Aku permisi," ucap Rania pamit.
Elang membuang napasnya dengan perlahan kedepan dengan mengusap wajahnya kasar dan juga mengacak-acak rambutnya frustasi.
" Kenapa masalah ini semakin melebar, apa lagi yang harus aku lakukan," batin Elang yang benar-benar frustasi dengan masalah yang ada-ada saja.
Sementara di sisi lain Zahra menangis di pinggir ranjang dengan ke-2 tangannya menutup wajahnya.
" Sampai kapan aku harus menyembunyikan kehamilan ku ini. Apa yang harus aku lakukan lagi. Aku capek bicara dengan Elang. Dia hanya terus mengatakan akan bertanggung jawab. Tapi nyatanya apa. Aku sudah hamil," ucap Zahra menangis sengugukan.
" Ya Allah ampuni aku. Aku mohon berikan aku petunjukmu. Aku takut ya Allah, aku takut dengan semua ini, aku benar-benar takut," batin Zahra dengan tangisannya yang meratapi nasibnya.
__ADS_1
Tangannya juga mengusap perut rampingnya yang terdapat benih Elang di dalam sana. Zahra tidak pernah menyangka jika hal seburuk itu akan pernah di alaminya. Dia yang memang wanita baik-baik yang selalu menjaga diri harus terjebak oleh hubungan seperti itu.
Bersambung