
Zahra dan Elang berada di ruang tamu yang bicara dengan Oma Wati dan juga Ratih.
" Jadi kalian mau ke New York," sahut Ratih yang mana Zahra dan Elang meminta izin untuk pulang kampung.
" Iya Tante. Orangtuanya Elang merayakan anniversary pernikahan. Jadi aku sama Elang mau kesana," sahut Zahra.
" Memang berapa lama Elang?" tanya Oma Wati.
" Mungkin hanya 4 hari saja berada di New York. Tetapi aku juga ada rencana pulang dari New York. Ingin langsung ke Mekkah. Aku dan Zahra mau melaksanakan ibadah umroh," sahut Elang. Zahra terlihat kaget mendengarnya.
" Umroh, kita berdua," sahut Zahra yang terkejut mendengarnya.
" Maaf Zahra aku belum memberitahumu masalah itu. Tiba-tiba saja aku kepikiran dan aku rasa tidak ada salahnya. Jika kita melaksanakan ibadah umroh kan kita juga belum pernah untuk kesana," sahut Elang yang mendapatkan ide spontan secara tiba-tiba.
" Kamu yakin mau sekalian," sahut Zahra yang ragu.
" Iya Zahra," jawab Elang.
Ratih tersenyum mendengarnya. Ratih seakan sudah melihat benih-benih cinta yang tumbuh di antara ke-2nya.
" Aku rasa kamu juga tidak keberatan untuk umroh bersamaku," sahut Elang.
" Ya, aku, aku," sahut Zahra yang kebingungan harus menjawab apa. Jujur dia kaget dan pasti tidak ada persiapan apa-apa.
" Zahra, ibadah itu tidak boleh di pikir-pikir untuk pelaksanaannya. Mungkin saja ini jalan Allah. Jadi pergilah bersama suamimu. Lagian seperti kata Elang. Kalian belum pernah ibadah bersama. Jadi ibadah lah bersamanya," sahut Ratih yang memberikan saran.
" Iya Tante. Aku hanya kaget saja. Karena Elang tidak memberitahunya sebelumnya. Dia hanya mengatakan ke New York dan aku juga meminta izin pada Rania untuk kesana. Jadi makanya aku bingung tiba-tiba Elang mengajak umroh. Kalau di tanya mau pasti aku mau. Tetapi ambil cutinya harus 2 kali," sahut Zahra.
" Rania pasti memberi cuti. Coba lagi untuk bicara kepadanya," sahut Ratih.
" Iya Tante nanti aku akan bicara kembali dengan Rania," sahut Zahra.
" Ya sudah kalian ber-2 kapan berangkatnya?" tanya Oma Wati.
" Nanti sore Oma," sahut Eyang.
" Secepat itu," sahut Zahra yang kelihatan begitu terkejut.
__ADS_1
" Iya Zahra. Maaf aku juga lupa memberitahumu kalau kita berangkat nanti sore. Kamu jangan khawatir masalah tiket aku sudah siapkan," sahut Elang.
Zahra terlihat panik. Seorang wanita yang mau keluar Negri mana bisa packing cepat-cepat. Dan Elang sungguh membuatnya kelimpungan.
" Zahra jangan khawatir nanti Tante bantu siapkan yang lainnya. Lagian Nia juga tidak kuliah nanti dia juga akan membantu keperluan kamu," sahut Ratih yang mengerti apa yang di khawatirkan Zahra.
" Hmmmm, iya Tante," sahut Zahra yang benar-benar tidak yakin bisa packing dengan secepat itu.
" Semoga perjalanan kalian ber-2 baik-baik saja," sahut Oma Wati yang hanya memberikan doanya.
" Makasih Oma," sahut Elang.
" Alhamdulillah akhirnya ada juga titik terang untuk hubungan Elang dan juga Zahra. Semoga saja semuanya bisa berjalan dengan lancar," batin Ratih yang terlihat bahagia melihat keponakannya dan suaminya yang sudah mulai saling membuka diri.
" Ya sudahlah mau gimana lagi. Elang sudah merencanakan semuanya. Lagian itu ibadah. Masaya iya aku harus menolaknya," batin Zahra yang tidak bisa berbuat apa-apa.
*************
Malam hari tiba Rendy pulang dari rumah sakit yang langsung memasuki kamar untuk melihat keadaan istrinya. Sesampai di dalam kamar Rendy melihat Rania yang duduk di atas ranjang dengan bersandar di kepala ranjang yang sedang membaca buku.
" Assalamualaikum," sapa Rendy.
" Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya Rendy mengusap-usap pucuk kepala Rania yang sudah duduk di samping Rania.
" Aku sudah baik-baik aja, setelah minum obat semuanya jauh lebih membaik," jawab Rania.
" Alhamdulillah kalau begitu," sahut Rendy yang merasa lega. Rania tersenyum mendengarnya.
" Kamu sedang membaca apa?" tanya Rendy Rania memperlihatkan judul buku yang di bacanya.
..." Cara menjadi istri yang baik,"...
Rendy tersenyum melihatnya. Dengan melihat apa yang telah di baca istrinya.
" Kenapa membaca itu bukannya kamu sudah menjadi istri yang baik," sahut Rendy.
" Bagiku masih kurang," sahut Rania.
__ADS_1
" Terserah kamu deh. Tetapi bagiku Kamu sudah menjadi istri yang baik," sahut Rendy.
Rania mengangguk dan tetap membaca bukunya. Rendy menundukkan kepalanya yang mengusap-usap perut Rania dan menciumi perut itu. Membuat Rania tersenyum.
" Bacaian sholawat buat anak kita!" pinta Rania. Rany mengangguk dan menuruti istrinya yang membedakan sholawat untuk calon anak mereka. Suara Rendy begitu merdu dengan nyanyian sholawat. Rania tersenyum dengan mengusap-usap kepala suaminya itu.
" Ya Allah terima kasih atas kebahagian yang engkau berikan. Ya Allah berikan kesehatan kepadaku dan juga janin yang ada di rahimku," batin Rania dengan doanya.
**********
Rendy sekarang sedang menyuapi istrinya makan yang mana ternyata Rania tidak makan sejak tadi dan batu hanya makan jam segini.
" Aku tidak melihat Zahra. Apa dia belum pulang kerja?" tanya Rendy.
" Oh itu. Zahra dan Elang sedang keluar Negri ketempat orang tua Elang katanya ada acara gitu di sana," jawab Rania.
" Hmmm, begitu rupanya pantesan aku tidak melihat mereka," sahut Rendy.
" Iya mereka juga kelihatan mendadak perginya. Tadi pagi Zahra minta izin buat cuti. 4 hari. Tetapi bari selang 2 jam dia datang lagi menemuiku dan meminta tambah cuti 4 hari lagi. Katanya mereka langsung mau umroh. Ya udah aku sekalian aja kasih cuti 10 hari," jelas Rania dengan singkat.
" Ya baguslah. Kalau mereka bisa liburan bersama," sahut Rendy.
" Oh, iya sayang Zahra juga bilang sama aku. Kalau Elang sudah tau masalah Cindy," ucap Rania.
" Cindy, memang ada apa dengan Cindy?" tanya Rendy mengkerutkan dahinya yang terlihat bingung.
" Yang kemarin aku ceritai sama kamu yang mana. Kalau Cindy ada sesuatu di belakang Elang," sahut Rania.
" Oh, itu. Lalu bagaimana?" tanya Rendy.
" Ya, kata Zahra Elang dalam proses perbaikan diri, koreksi diri. Apa yang terjadi bukan salah Cindy. Bingung juga yang harus di salahkan siapa. Jadi dari pada menyalahkan atau merasa yang terhiyanati Elang katanya lebih mementingkan apa yang harus di jaganya sekarang," jelas Rania.
" Apa itu artinya rumah tangganya," sahut Rendy menebak. Rania mengangguk.
" Ya sudah kita doakan saja apa yang terbaik untuk mereka," sahut Rendy.
" Iya kamu benar, semoga saja dengan mereka umroh. Mereka bisa saling membuka hati dan saling menerima. Seperti kita dulu. Di tanah suci itu banyak kenangan cinta di antara kita berdua," sahut Rania.
__ADS_1
" Iya sayang," sahut Rendy tersenyum dengan mengusap pucuk kepala Rania dan terus menyuapinya.
Bersambung