Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 127 Perdamaian yang indah.


__ADS_3

Mendengar sang kakak masuk rumah sakit Rania dan Rendy langsung kerumah sakit untuk melihat kondisi kakaknya yang masih belum sadar. Rania dan Rendy terlihat begitu buru-buru sekali mencari ruangan di mana Willo di rawat.


" Itu Pak Rudi," ucap Rendy yang melihat papa mertuanya dan mereka akhirnya menghampiri Rudi.


" Pah," lirih Rania yang terlihat cemas. Rudi yang duduk langsung berdiri yang pasti tidak kalah paniknya dari Rania.


" Rania, kamu sudah pulang," ucap Rudi dengan memegang tangan Rania.


" Bagaimana kak Willo, apa dia baik-baik saja?" tanya Rania yang begitu resah.


" Willo masih belum sadar," jawab Rudi.


" Ya, Allah kenapa bisa sampai seperti ini," sahut Rania semakin cemas. Rendy suaminya hanya memberinya ketenangan.


" Lalu Dody dan kuku sekarang di mana?" tanya Rania yang juga mencemaskan 2 keponakannya itu.


" Kamu tenang saja Rania mereka ber-2 sama bibi di rumah, mereka tidak apa-apa," jawab Rudi.


" Maafin papa Rania. Papa tidak bisa mengendalikan semuanya. Makanya sampai seperti ini," sahut Rudi merasa bersalah.


" Tidak pah. Ini bukan salah papa. Jadi jangan merasa bersalah," sahut Rania yang tidak ingin papanya merasa tersalahkan.


" Rania, Pak Rudi. Kalian jangan khawatir. Saya akan memantau kondisi Willo dan saya juga akan membantu Dokter lain untuk kesembuhannya. Kita akan berusaha semampunya kami sebagai Dokter dan pasti sisanya kita serahkan kepada Allah," sahut Rendy.


" Makasih ya Rendy," sahut Rudi yang merasa lega.


" Papa sudah makan?" tanya Rania.


" Belum," jawab Rudi apa adanya.


" Papa tunggu di sini ya. Rania cari makan dulu," ucap Rania.


" Tidak usah Rania. Kamu baru pulang kamu pasti capek," sahut Rudi yang tidak mau merepotkan putrinya.


" Tidak apa-apa pah, Rania pergi sebentar. Rendy titip papa ya," ucap Rania yang langsung pergi. Rendy mengangguk dan Rania langsung pergi.

__ADS_1


" Terima kasih ya Rendy. Kamu sudah menjadikan Rania wanita yang sangat baik," ucap Rudi yang baru mengakui jika menantunya itu sangat hebat.


" Tidak Pak, sebelum saya menikah dengan Rania. Dia memang sudah baik. Saya tidak melakukan apapun kepadanya," sahut Rendy dengan rendah hati. Rudi mengangguk yang mungkin sudah mulai di sadarkan jika selama ini dia bukanlah ayah yang baik dan berguna.


**********


Rania dan Rudi sedang makan bersama di dalam ruang perawatan Willo yang masih belum sadar.


" Jadi Tante Sarah mendorong Willo," sahut Rania yang kaget mendengar kronologi cerita dari papanya.


" Benar Rania. Mereka terlibat cekcok dan yang papa dengan masalah uang dan tidak tau apa lagi. Mereka ber-2 sama-sama keras. Tidak ada mau mengalah. Papa tidak bisa melerai dan akhirnya Sarah tidak tau sengaja atau tidak yang mendorong Willo sehingga terguling di tangga dan jatuh seperti itu," jelas Rudi.


" Astagfirullah Al Azdim, kenapa kak Willo bisa seperti itu. Kenapa hanya uang dan uang yang ada di pikirannya," ucap Rania yang terlihat khawatir.


" Mungkin ini salah papa. Karena terlalu memanjakannya," sahut Rudi menunduk merasa bersalah.


" Tidak pah. Ini bukan salah papa. Jadi berhenti menyalahkan diri papa. Kita ambil saja hikmah dari kejadian ini. Kita berdoa saja untuk kesembuhan kak Willo," sahut Rania mencoba menenangkan papanya.


" Iya Rania kamu benar," sahut Rudi mengangguk.


Di sisi lain Rendy yang tadinya ingin memasuki ruangan Willo harus menghentikannya. Karena tidak ingin mengganggu Ayah dan anak yang begitu romantis.


" Aku sangat percaya Rania. Kamu wanita yang tulus dan ketulusanmu. Juga kamu gunakan untuk mengalah. Kamu menutup kebencian di hatimu. Semoga saja hubungan kamu dan Pak Rudi baik-baik saja dan selalu seperti ini," batin Rendy tersenyum lebar melihat istrinya yang sudah berdamai dengan keadaan.


**********


Di ruang tamu terlihat Oma Wati, Rania, Ratih, Purwasih Rendy, Anisa, Nia, Sarah, dan Zahra berada di sana yang mengobrol serius.


" Maafkan Tante Rania. Tante tidak bisa mengendalikan diri. Tante tidak bermaksud mendorong Willo, Tante benar-benar tidak sengaja," ucap Sarah dengan air matanya yang memohon pada Rania.


" Rania, aku tau mama salah. Tapi Willo yang membuat keributan. Dan aku mohon tolong jangan perbesar masalah ini. Jangan sampai di bawa kerana hukum, kita bisa bicarakan dengan kekeluargaan," sahut Anisa dengan lembut bicara yang membantu mamanya.


" Tapi kondisi kak Willo, sekarang sekarat. Mana bisa hanya di selesaikan kekeluargaan," sahut Nia yang ambil alih dalam bicara.


Sarah pun langsung mendekati Rania bahkan berlutut di depan Rania memohon untuk tidak memperbesar masalah yang terjadi.

__ADS_1


" Tante, apa yang Tante lakukan," sahut Rania yang menghindar. Semua orang juga kaget dengan perlakuan Sarah.


" Tolong Rania. Tante tidak mau di penjara. Tolong kerendahan hati kamu Rania," ucap Sarah memohon pada Rania dengan menyatukan ke-2 telapak tangannya.


" Tante tidak perlu seperti ini. Bangunlah Tante. Jangan seperti ini," ucap Rania.


" Mbak, jangan seperti itu, ayo bangun," sahut Ratih.


" Saya akan melakukan apapun agar Rania tidak membawa masalah ini kepada hukum," sahut Sarah yang terus menagis mendapat belas kasihan dark Rania.


" Ya ampun, sekarang aja memohon, biasanya juga selalu memojokkan Rania," batin Zahra geleng-geleng.


" Rania, tolonglah mama. Aku tau mama banyak salah dengan kamu dan juga aku. Tapi kami mohon. Kasih kami kesempatan untuk semua ini. Kami akan tetap bertanggung jawab. Kami manusia yang penuh dosa. Jadi mohon beri kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya," sahut Anis yang mencoba meluluhkan hati Rania.


Namun Rania belum memberikan respon apa-apa. Dia masih diam yang pasti penuh kebingungan yang harus mengambil jalan apa.


" Rania!" tegur Sarah. Rania melihat ke arah Rendy. Rendy juga tidak bisa bicara apa-apa. Karena semua keputusan hanya di tangan Rania.


" Tante, aku akan bicara dengan papa dulu. Aku tidak bisa memutusakan apa-apa. Karena aku masih punya papa yang mengambil keputusan untuk semua ini," ucap Rania.


" Tapi Rania...." sahut Sarah.


" Aku kekamar dulu. Aku mau istirahat," sahut Rania yang langsung berdiri dan Rendy pun langsung menyusul istrinya itu.


" Mbak Sarah, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Semuanya ada di tangan Rania dan keluarganya. Saya hanya berdoa semoga ada jalan terbaik," sahut Ratih.


" Benar kata Ratih. Seharusnya peristiwa kemarin di ambil pelajaran bukan menambahi dengan peristiwa yang lebih parah lagi seperti sekarang," sahut Oma Wati menambahi.


" Kami minta maaf. Jika kami sudah menyusahkan keluarga ini," sahut Anisa.


" Ini bukan salah kamu Anisa. Mama yang salah," sahut Sarah.


" Ya sudah sebaiknya kita istirahat. Ini sudah malam. Semoga besok ada jalan terbaik," sahut Oma Wati.


Yang lainnya mengangguk dan satu persatu bubar dari ruang tamu. Menuju kamar masing-masing.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2