
Suasana begitu canggung mendadak. Rania memang terlihat begitu berpikir yang tidak tau ada apa dengannya.
" Apa yang sebenarnya ingin di tanyakan Ranai," batin Zahar yang jadinya begitu penasaran.
" Elang mana Zahra?" tanya Rendy.
" Lagi di sana. Tadi aku cari minum, malah ketemu Ranai," sahut Zahra.
" Hmmm, begitu," sahut Rendy.
" Kalian mau makan tidak?" tanya Rendy.
" Mau," jawab Rania dengan cepat.
" Mau makan apa?" tanya Rendy.
" Aku pengen sate yang sana," jawab Rania menunjuk penjual sate yang sekitar 100 meter dari tempat mereka berdiri.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu aku beli dulu. Kamu juga mau Zahra?" tanya Rendy.
" Boleh," sahut Zahra.
" Ya sudah kalian tunggu di sini akan aku beli dulu," ucap Rendy Zahra dan Rania sama-sama mengangguk dan melihat Rendy yang pergi berlari menuju penjual sate.
" Kamu ingin bicara apa Rania?" tanya Zahra yang pasti mengetahui Rania ingin mengatakan sesuatu hal penting padanya.
" Aku mau tanya sama kamu apa saat kamu menikah dengan Elang. Elang ada cerita apa-apa kepada kamu. Kenapa dia sampai bisa memenuhi syarat pernikahan itu yang aku itu sangat sulit untuk di lakukan," ucap Rania tiba-tiba.
" Maksud kamu apa?" tanya Zahra heran.
" Masalah Cindy apa Elang sudah putus dengan Cindy?" tanya Rania to the point.
" Mana mungkin Rania Elang putus dengan Cindy. Elang bisa menikah denganku dan memenuhi syarat yang di berikan Tante Ratih itu karena Cindy ada di Jerman. Cindy pergi sebelum kami menikah," ucap Zahra yang membuat Rania kaget sampai matanya melotot.
" Apa kamu bilang Cindy ada di Jerman?" pekik Rania yang tidak percaya.
" Iya dia ada di Jerman dan belum putus dengan Elang," jawab Zahra apa adanya. Rania benar-benar schok mendengarnya.
__ADS_1
" Mana mungkin," sahut Rania dengan suara seraknya.
" Apa yang tidak mungkin Rania?" tanya Zahra heran.
" Kamu yakin Cindy ada di Jerman?" tanya Rania lagi yang sudah 2 kali melihat Cindy ada di Indonesia dan bahkan sama-sama ada di Bali.
" Apa kamu melihat Cindy di sini?" tanya Zahra yang langsung to the point. Dari gelagat kegelisahan Rania dia bisa menebak Rania juga melihat Cindy.
" Kenapa kamu bicara seperti itu Zahra?" tanya Rania balik dengan melihat wajah Zahra dengan serius.
" Jika kamu melihatnya di sini. Berarti aku memang tidak salah lihat," sahut Zahra yang membuat mata Rania semakin melotot.
" Kamu melihatnya?" tanya Rania memastikan . Zahra mengangguk.
" Iya. Aku melihatnya di Bandara saat kita di jemput. Aku mengira Elang dan Cindy janjian di sini. Aku juga sempat ribut dengan Elang sewaktu sampai Villa. Tetapi Elang mengatakan Cindy di Jerman dan bersumpah tidak berkomunikasi dengannya dan aku mungkin memang benar aku salah lihat. Aku hanya halusinasi. Tetapi aku tidak halusinasi jika kamu juga melihatnya yang berarti memang benar yang aku lihat adalah Cindy," jelas Zahra.
Rania menghela napasnya perlahan kedepan dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang mana wajah cantik itu terlihat begitu penuh dengan pikiran.
" Astagfirullah Al Azdim. Jadi Cindy tidak putus dengan Elang dan Cindy dengan laki-laki lain," ucap Rania. Zahra heran dengan pernyataan Rania.
" Maksud kamu apa Rania?" tanya Zahra.
" Kamu serius melihat hal itu?" tanya Zahra yang tidak percaya. Rania mengangguk. Memang benar yang dilihatnya tidak di tambahi dan tidak di kurangi sama sekali.
" Astagfirullah Al Azdim," sahut Zahra yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Zahra menurut kamu bagaimana?" tanya Rania.
" Aku tidak tau Rania. Elang mengatakan belum putus dari Cindy. Apa itu artinya Cindy membohongi Elang?" tanya Zahra.
" Bukan hanya Cindy yang membohongi Elang. Tetapi juga Elang membohongi Cindy," jawab Rania.
" Ya kamu benar, Elang menutupi hubungan dan pernikahan kami dari Cindy dan Cindy juga berselingkuh di belakang Elang," sahut Zahra. Rania mengangguk dengan wajahnya yang terlihat pusing dan tidak lama Rendy pun datang yang membawakan 2 sate untuk istrinya dan sepupunya. Begitu melihat Rendy Rania langsung mencoba menenangkan dirinya.
" Ini," ucap Rendy memberikan pada Rania dan Zahra.
" Makasih," sahut mereka serentak.
__ADS_1
" Hmmm, ya sudah sekarang kita makan," sahut Rendy.
" Hmmm, aku makan di sana saja ya, gabung sama Nia," sahut Zahra yang kelihatan tidak mau menggangu Rania dan Rendy.
" Hmmm, ya sudah," sahut Rania. Zahra pun langsung pergi.
" Ayo sayang duduk!" ucap Rendy. Rania mengangguk dan mereka duduk di atas pasir untuk menikmati sate yang di belikan Rendy.
" Aaaa," Rania langsung menyuapkan suapan pertama untuk suaminya. Rendy membuka mulutnya. Lalu Rania menyuapkan untuk dirinya sendiri.
" Sayang aku ingin mengatakan sesuatu kepada kamu," ucap Rania yang kelihatan tidak ingin menyembunyikan apa-apa dari suaminya.
" Ingin mengatakan apa?" tanya Rendy.
" Maslaah Elang," jawab Rania. Rendy melihat Rania dengan penasaran.
" Memang ada apa dengan Elang?" tanya Rania heran.
" Hmmm. Aku baru bertanya pada Zahra mengenai hubungan Cindy dan Elang dan Zahra bilang Cindy pergi ke Jerman sebelum mereka menikah. Tetapi aku sudah beberapa kali melihat Cindy di Indonesia dan bahkan di Jakarta. Yang membuatku aneh. Aku melihat Cindy dengan pria lain," ucap Rania yang jujur apa adanya.
" Kamu yakin?" tanya Rendy yang terlihat begitu schok mendengarnya.
" Iya sayang, bahkan aku melihat mereka tadi di sini dan Cindy dan Pria itu ya seperti pasangan pada umumnya," sahut Rania.
" Lalu Elang tidak tau?" tanya Rendy.
" Kalau menurut cerita Zahra. Elang tidak tau. Karena Elang taunya Cindy ada di Jerman," jawab Rania.
" Aku jadi bingung Rendy harus ngapain. Cindy jelas-jelas ada di sini," sahut Rania.
" Kamu benar Rania. Cindy dan Elang memang begitu rumit. Mungkin saja Cindy juga tidak tau. Jika Elang ada di sini dan ya kita juga tidak bisa menghakimi Cindy yang jika memang dia menghiyanati Elang. Karena Elang juga sudah menghiyanatinya. Berhubungan dengan Zahra dan menikah dengan Zahra dan jelas ini sangat membingungkan," sahut Rendy.
" Itu yang aku pikirkan. Yang penghiyanat siapa yang di hiyanati siapa dan ke-2nya sama-sama berperan," ucap Rania.
" Sudahlah Rania kita jangan memikirkan masalah itu. Kita serahkan kepada Allah dan semoga ada petunjuk," ucap Rendy.
" Amin, aku bisa berdoa. Semoga yang terbaik untuk masalah ini," sahut Rania. Rendy mengangguk.
__ADS_1
" Kamu makan lagi," ucap Rendy. Rania mengangguk. Dia sudah lega bisa membagi bahan pikirannya dengan suaminya. Dari pada beban itu ditanggung sendiri. Jadi lebih baik bebannya di bagi-bagi.
Bersambung