Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 101. Hati yang sabar.


__ADS_3

Pagi hari tiba kondisi Rendy sudah benar-benar sangat membaik. 3 hari sakit dan di rawat dengan penuh cinta oleh istrinya membuatnya benar-benar sembuh dan bahkan terlihat Fress.


Rendy juga sudah mandi menggunakan air hangat yang di siapkan Rania. Dan sekarang Rania memakaikan kemeja pada suaminya. Sebenarnya Rendy sudah bisa melakukannya. Tapi kalau Rania masih ingin melayani suaminya kenapa tidak. Toh dia sangat ikhlas melakukannya.


Rania yang berdiri di depan Rendy dengan mengkancing satu persatu kancing kemeja itu. Di mana mata Rendy tidak lepas untuk tidak menatap istri cantiknya itu.


Ya apa mungkin Rendy sengaja di segar-segarkan karena ingin melanjutkan hal yang tertunda. Karena Rania tidak mau melakukannya. Karena Rania mengatakan dia sedang sakit. Ya mungkin memang Rendy sengaja melakukan hal itu.


" Ya, ampun sampai kapan dia berhenti menatapku, seperti itu. Apa dia tidak tau jantungku terus bergetar saat mendapat tatapan seperti itu," batin Rania yang ternyata begitu canggung yang di tatap suaminya. Wajahnya juga memerah yang mendapatkan tatapan yang dalam yang penuh arti itu.


Dia jelas sangat grogi apalagi tangannya begitu bergetar saat mengkancing baju suaminya dan Rendy malah memegang tangannya, membuat Rania berhenti mengkancingnya dan mengangkatnya kepalanya melihat suaminya.


" Ada apa?" tanya Rania dengan gugup.


" Aku yang bertanya padamu. Ada apa denganmu. Kenapa kamu begitu grogi?" tanya Rendy.


" Tidak, siapa yang grogi," sahut Rania mengelak. Rendy tersenyum dan mendekatkan dirinya pada Rania. Rendy membelai rambut Rania membuat Rania semakin grogi.


" Ya ampun Rendy mau ngapain lagi, ya kan nggak usah pagi-pagi begini juga," batin Rania dengan pikirannya yang kemana-mana.


" Ehmm, aku_ aku," sahut Rania menggeser pelan tangan Rendy dari wajahnya, " aku mau bersihkan tempat tidur," lanjutnya yang langsung membereskan tempat tidur.


Rendy hanya tersenyum melihat Rania yang tidak bisa bohong. Kalau dia memang sangat gugup. Karena jelas terlihat beberapa kali Rania membuang napasnya perlahan.


Tok-tok-tok-tok.


Pintu kamar mereka di ketuk membuat Rendy dan Rania sama-sama melihat ke arah pintu dan Rendy langsung menghampiri pintu dan membuka siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi begini di pagi hari.


" Tante Sarah," ucap Rendy. Rania mendengar nama itu langsung melihat ke arah pintu yang ternyata benar Sarah yang datang kekamar mereka.


" Ngapain Tante Sarah, datang kemari," batin Rania yang penuh kebingungan.


" Kamu sudah sembuh Rendy?" tanya Sarah.


" Alhamdulillah Tante, ada apa Tante datang kemari?" tanya Rendy.


" Ayo turun, kalau kamu sudah sembuh. Kamu sebaiknya sarapan di bawah, supaya kamu lebih fress dengan suasana rumah dan tidak berkurung terus di dalam kamar," ucap Sarah.


" Iya Tante, aku dan Rania akan segera turun. Tante seharusnya tidak repot-repot memanggil kami. Mungkin Nia atau siapa bisa memanggil," ucap Rendy dengan sopan.


" Jika bukan Tante siapa lagi yang memanggil kalian. Istri kamu soalnya sudah melarang untuk tidak bicara denganmu. Bahkan Rania telah menegur Anisa untuk tidak melakukan apa-apa denganmu. Jadi jika bukan Tante siapa yang memanggil dan melihat keadaanmu," ucap Saras yang melebih-lebihkan bicara dan Rania mendengarnya hanya diam.


Rendy melihat ke belakangnya dan melihat Rania. Rendy juga pasti tidak mengerti apa yang di maksud Sarah.


" Iya kan Rania," sahut Sarah melihat ke arah Rania, seakan membenarkan ucapannya.


" Rania, memang kamu sama Rendy adalah suami istri. Tapi bukan berarti kamu berkata kasar pada Anisa. Sampai membuatnya sedih. Rendy dan Anisa sudah berteman sejak mereka remaja. Jadi sangat wajar jika dia khawatir dengan ke adaan Rendy. Tante saja khawatir. Tapi kamu tidak mengerti perasaannya. Kamu bukan hanya melarangnya ini itu. Tetapi kamu juga berkata yang tidak-tidak kepadanya. Sampai dia sedih dan serba salah," ucap Sarah yang menyudutkan Rania.


" Tidak seperti itu Tante," sahut Rania membantah tuduhan Sarah kepadanya.

__ADS_1


" Tidak seperti bagaimana. Apa iya kamu melarangnya untuk melihat ke adaan Rendy," sahut Sarah.


" Iya, tapi bukan berarti...."


" Sudahlah Rania," Sarah langsung memotong pembicaraan itu, " Kamu jelaskan Rendy mendengar apa kata istri kamu. Jika dia melarang Anisa dan membuat hati Anisa sakit," sahut Sarah yang memanfaatkan situasi itu.


" Ya mungkin istri melakukan itu. Karena dia merasa nyonya di rumah ini. Dan Tante dan Anisa hanya menumpang di rumah ini," ucap Sarah dengan wajah sedihnya.


" Tante apa yang Tante bicarakan," sahut Rendy.


" Tidak apa-apa Rendy. Itu kenyataan yang Tante dapatkan di rumah ini. Ya terkadang seseorang bisa memecah hubungan kekeluargaan yang sudah bertahun-tahun kita bangun. Itu hal yang biasa kok," sahut Sarah yang tidak henti-hentinya menyudutkan Rania. Sehingga Rania adalah yang paling bersalah.


" Ya sudah lah Rendy. Tante hanya memanggil kamu untuk makan. Semoga istri kamu tidak melarang ya. Tante permisi dulu," ucap Sarah yang langsung pergi.


Dan Rania sudah berkaca-kaca. Sarah memang melebih-lebihkan kata-katanya di depan Rendy. Padahal dia tidak seperti itu. Dia tidak mengatakan hal-hal yang parah pada Anisa. Apa yang di katakannya justru wajar.


Rendy membuang napasnya perlahan, Rendy langsung menghampirinya Rania dengan mengusap bahu Rania.


" Aku tidak melakukan apa-apa," ucap Rania melihat suaminya. Rendy menganggukkan matanya.


" Jangan memikirkan apa-apa. Aku tau apa yang kamu lakukan dan yang tidak kamu lakukan. Sekarang kita turun ya. Apa yang di katakan Tante Sarah jangan di dengarkan, ayo turun, kita sarapan di bawah," ucap Rendy. Rania mengangguk.


" Ya Allah, kenapa Tante Sarah harus melakukan itu kepadaku. Dia bahkan melebih-lebihkan kata-katanya," batin Rania yang jelas kepikiran dengan hal itu.


**********


Rania keluar dari kamarnya menuruni anak tangganya.


" Iya Oma, ada apa?" tanya Rania. Wati mendekatinya dan berdiri di hadapan Rania.


" Rania, rumah ini terbiasa dengan kekeluargaan. Oma mengerti jika Rendy adalah suami kamu, tapi kamu tidak perlu berlebihan seperti itu," ucap Oma Wati membuat Rania bingung.


" Ada apa Oma sebenarnya Oma, Rania tidak mengerti maksud Oma?" tanya Rania bingung.


" Apa yang Oma katakan, seharusnya sangat mudah untuk kamu mengerti. Rania, Anisa tidak bermaksud apa-apa. Jangan sampai pikiran kamu negatif kepadanya. Apa lagi sampai mengatakan yang membuat hatinya sakit. Rania Anisa dan mamanya tinggal di rumah ini dan bukan berarti kamu bisa bicara yang menyakiti mereka," ucap Oma Wati yang menegur Rania.


" Memang apa yang Rania lakukan. Rania tidak melakukan apa-apa," sahut Rania sudah lah Rania jangan di bahas lagi. Kami mengerti perasaan kamu. Jadi Oma hanya mengingatkan kamu. Jika salah maka minta maaflah," ucap Oma Wati.


" Apa maksud Oma, aku harus meminta maaf pada Anisa," sahut Rania.


" Kesalahan itu kesadaran kita Rania. Jadi jangan keras kepala. Minta maaf tidak membuat kamu jadi terhina," ucap Oma Wati.


" Apa yang Anisa bicarakan sebenarnya. Kenapa semua orang menyalahkanku. Apa melarangnya masuk kekamarku sembarangan adalah kesalahan, sehingga orang-orang menyalahkanku," batin Anisa yabg terlihat murung dan serba salah.


Di saat Rania dan Oma Wati saling bicara tiba-tiba Anisa lewat dan Oma Wati langsung melihat Anisa.


" Anisa!" panggil Oma Wati membuat langkah Anisa terhenti dan Rania melihat ke arah Anisa.


" Kemarilah!" ajak Oma Wati. Anisa mengangguk dan menghampiri Oma Wati.

__ADS_1


" Ada apa Oma?" tanya Anisa yang sudah di depan Oma Wati.


" Rania, jangan keras kepala, ayo minta maaf padanya. Karena kamu sudah menyingung perasaannya," ucap Oma Wati. Dan Rania pasti tidak mungkin melakukan hal itu.


" Apah, Oma menyuruh Rania minta maaf kepadaku. Akhirnya usahaku tidak sia-sia. Memang harus ini yang di lakukan Oma. Kasihan kamu Rania. Sekarang kamu taukan betapa pentingnya aku di rumah ini. Aku jauh lebih penting di bandingkan mu," batin Anisa yang merasa menang.


" Rania kenapa diam, ayo minta maaf," ucap Oma Wati. Rania dan Anisa saling melihat.


" Kenapa aku yang harus minta maaf," batin Rania yang merasa di sudutkan.


" Ada apa ini!" tiba-tiba Rendy datang dan melihat ketegangan di antara 3 wanita itu.


" Kenapa Oma, menyuruh Rania meminta maaf?" tanya Rendy.


" Rendy, Oma hanya tidak ingin ada kesalah pahaman dan permintaan maaf tidak akan membuat Rania kehilangan harga diri. Kamu tidak tau masalahnya. Jadi biarkan mereka saling memaafkan agar tidak terjadi salah paham lagi," ucap Oma Wati.


" Oma, aku tau masalahnya. Tetapi aku rasa. Rania tidak perlu minta maaf dan aku tanya sama kamu Anisa apa yang sebenarnya yang di katakan Rania kepadamu. Sampai kamu sakit hati dan harus seperti ini?" tanya Rendy.


" Kenapa Rendy harus menanyakan itu," batin Anisa yang terlihat panik.


" Rendy Anisa sudah mengatakannya kepada Oma, dan sangat wajar jika Rania harus meminta maaf, kasihan Anisa," sahut Oma Wati yang terlihat membela Anisa.


" Tapi aku belum mendengar langsung dari Anisa Oma. Dan aku ingin tau apa yang di katakan Rania kepadanya. Maka jawablah Anisa apa yang di katakan istriku kepadamu," ucap Rendy yang kembali bertanya pada Anisa.


" Rania, Rania melarangku masuk kekamarmu," jawab Anisa dengan menunduk dengan wajah sendunya.


" Hanya itu saja?" tanya Rendy lagi.


" Sial, kenapa Rendy malah mengintimidasi ku di depan Rania. Aku mana mungkin mengatakan apa yang aku katakan pada Oma, yang ada semua semakin kacau.


" Oma, apa ada yang salah di katakan Rania. Rania menegurnya karena Anisa masuk sembarangan tanpa mengetuk pintu. Rania menegur Anisa saat Anisa masuk tiba-tiba. Di saat aku dan Rania.... Hal itu tidak perlu keceritakan," ucap Rendy yang bijak menangani masalah.


" Hubungan suami istri hanya di lakukan di kamar dan kamar adalah privasi. Melihat kejadian kemari. Aku mungkin juga akan menegurmu. Karena menurutku kamu terlalu melewati batas kamu. Jadi tidak ada yang salah dengan Rania menegurmu. Aku rasa hanya itu saja kan Anisa yang di katakan Rania padamu," ucap Rendy yang membalikkan semuanya pada Anisa.


" Iya," sahut Anisa pelan.


" Kalau begitu aku bertanya, siapa yang harus minta maaf kamu apa Rania?" tanya Rendy.


" Apa maksud Rendy, apa dia ingin aku minta maaf, pada Rania itu tidak mungkin," batin Anisa panik.


" Ya Allah Rendy memang selalu membelaku. Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa kepadanya. Tetapi dia seakan tau mana yang benar dan yang salah," batin Rania yang terus mengagumi suaminya itu.


" Anisa, kamu kenapa diam?" tanya Rendy.


" Rendy, sudahlah, mungkin ini hanya salah paham, aku tidak apa-apa," sahut Rania.


" Baiklah. Oma aku meminta sama Oma, tolong jika ingin melihat suatu masalah. Maka lihatlah dari 2 sisi. Agar salah paham sesungguhnya tidak terjadi," ucap Rendy menegaskan.


" Ayo Rania," ajak Rendy. Rania mengangguk dan langsung mereka langsung pergi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2