
Rania terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan pikirannya yang kemana-mana, pikirannya yang sama sekali tidak menentu. Dan di dalam lintasannya hanya mengingat calon suaminya melakukan hubungan yang tidak senonoh di atas ranjang.
" Gilang, aku mengira kamu adalah laki-laki yang baik. Laki-laki yang bertanggung jawab yang bisa aku percayai. Aku mempercayai mu Gilang. Aku menaruh harapan besar kepadamu. Tetapi apa yang kau lakukan. Kau sanggup menghiyanati ku. Kau menghiyanatiku. Aku tidak menyangka jika kau bisa melakukan hal sehina itu Gilang," ucapnya dengan tangisannya yang sengugukan yang merasakan begitu sesak di dadanya.
" Wanita itu adalah orang yang kukenal. Kenapa Gilang kenapa kamu harus bermain dengan wanita yang tak lain adalah rekan kerjaku sendiri. Apa selama ini kamu menipuku kamu mempermainkanku dan bersenang-senang dengan dia," ucap nya lagi semakin sakit kala mengingat wanita yang bersama Gilang.
Pasti sakit rasanya. Karena wanita itu adalah rekan kerjanya. Merasa bodoh dan di tipu pasti ada.
" Kenapa. Kenapa nasibku seperti ini. Kenapa harus aku. Kenapa aku tidak pernah mendapatkan kebahagian. Dia saat semuanya benar-benar akan lancar. Tapi apa, semuanya sia-sia. Gilang menghancurkan semuanya dia benar-benar tega menghiyanatiku dia berselingkuh di belakangku bersama dengan wanita lain,"
" Semuanya kembali hancur pernikahanku hancur, Gilang kamu sungguh jahat. Kamu tega melakukan semuanya, kamu benar-benar kejam Gilang, kamu manusia kamu laki-laki yang sangat kejam yang pernah ku temui," umpatnya yang benar-benar merasa kecewa dengan menyetir dengan kecepatan tinggi yang tidak fokus sama sekali.
" Aku memang tidak akan pernah bahagia. Aku orang yang tidak pantas untuk mendapatkan kebahagian," ucapnya dengan berteriak-teriak.
Sementara Rendy terus mengikuti mobil Rania. Dia juga harus melaju dengan kecepatan tinggi agar tidak kehilangan mobil Rania yang terlihat ugal-ugalan dan bahkan Rania mengalahkan pembalap dunia.
" Apa yang di pikirannya. Apa dia ingin menghilangkan nyawanya," batin Rendy yang terlihat panik. Bagaimana tidak panik melihat Rania yang yang beberapa kali hampir tabrakan. Dia saja beberapa kali hampir bertabrakan dengan mobil yang berlawanan arah dengannya. Apa lagi Rania. Rendy terus mengejar mobil itu.
Rania memang seakan tidak mempedulikan apa-apa dan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dengan perasaanya yang penuh kekecewaan, sakit sesak di dadanya yang membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya.
Sampai akhirnya Rania yang menyetir yang semakin tidak menentu tiba-tiba melihat mobil besar dari depannya yang sangat dekat dan Rania pun akhirnya tersadar dan melotot ketika mobil itu hampir berdekatan dengan mobilnya.
Bahkan cahaya lampu mobil yang di depannya membuat matanya silau dan Rania dengan cepat membanting stir mobil kekanan untuk mengelakkan kecelakaan.
" Ahhhhhhhhh," teriak Rania.
Dan alhasil Rania menabrak pembatas jalan yang langsung mengarah pada tebing yang di bawah sana lautan.
" Aaaaa!" Rania berteriak dengan mobilnya yang sudah menabrak entah apa-apa saja dan Rendy merem mobilnya dengan cepat ketika melihat Rania yang mengalami kecelakaan dan melihat jelas mobil Rania oleh berjalan tidak menentu.
" Astagfirullah," lirih Rendy dengan wajah paniknya dan langsung buru-buru keluar dari mobilnya dan mengejar Rania.
__ADS_1
Rania berada di dalam mobil dengan tangannya yang bergetar memegang stir mobil. Wajahnya begitu memucat ketika mengetahui keberadaannya. Di mana mobilnya berada di pinggir tebing yang mungkin jika dia melepas injakan remnya Rania benar-benar akan masuk kedalam jurang itu bersama mobilnya.
Suara napas berat Nayra terdengar begitu kuat ketika melihat keberadaannya yang membuatnya begitu ketakutan melihat curangnya lautan itu.
" Tolong! tolong! lirih Rania yang ketakutan meminta pertolongan dengan suaranya yang begitu bergetar. Air matanya tidak henti-hentinya keluar.
Dia jelas ketakutan ketika nyawa berada di depan matanya.
" Hiks, hiks, hiks. Apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku keluar, dari tempat ini," ucapnya penuh kebingungan.
" Aaaaa," teriak Rania saat ban mobil itu melaju sedikit. Rania semakin ketakutan bahkan sudah berkeringat dingin.
" Mungkin memang sudah waktunya. Aku mungkin lebih baik mati. Sudah tidak ada lagi gunanya aku hidup mungkin memang ini jalannya. Aku sudah lelah dengan semuanya," ucap Rania dengan kepasrahan hidupnya.
" Dunia ini terlalu kejam untuk tempat ku berada. Tidak ada yang peduli kepadaku dan memang lebih baik aku tiada," ucapnya lagi yang selain pasrah juga putus asa. Karena memang tidak ada yang bisa di lakukannya selain pasrah.
" Aku berharap kematian ku, masih di tangisi keluargaku," batinnya memejamkan matanya dan mungkin akan merelakan dirinya untuk tiada.
" Rania!" panggil Rendy membuat Rania kembali membuka matanya dan menoleh perlahan kekananya dan melihat Rendy sekitar 5 meter dari mobilnya.
" Rania, kamu tenang, kamu jangan panik. Semuanya akan baik-baik saja, kamu jangan lihat kebawah, tenangkan diri kamu dan berserah kepada Allah. Kamu akan baik-baik saja percayalah," ucap Rendy yang memberikan Rania semangat dengan kata-kata Rendy yang cepat-cepat yang terlihat panik.
Rania mendengarnya tertekun dan hanya melihat Rendy yang sepertinya menjadi satu-satunya orang yang menginginkan dia hidup.
" Rania, kamu mendengarku?" tanya Rendy. Rania menganggukkan kepalanya.
" Baiklah! kamu tenang ya. Jangan memikirkan apa-apa," sahut Rendy. Rania mengangguk yang sepertinya ada power di dalam dirinya sehingga dia harus hidup.
" Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rania.
" Kamu tetap tahan remnya. Jangan bergerak sedikit pun. Jika kamu bergerak, mobilnya akan maju. Jadi kamu tenangkan diri kamu," ucap Rendy memberi arahan dan Rania mengangguk pelan.
__ADS_1
Rendy melangkah mendekati pintu di bagian Rania dan dia semakin jelas melihat wajah pucat dan penuh ketakutannya Rania. Dengan perlahan tangan Rendy membuka pintu mobil dan saat membuka ban mobil kembali melaju.
" Aaaa," teriak Rania dengan napas beratnya.
" Tenang Rania jangan takut," ucap Rendy. Rania mengangguk dan berusaha untuk tenang. Pintu mobil terbuka.
" Dengarkan aku. Kamu tenang dan jangan banyak bergerak. Setelah kamu memegang tanganku. Kamu lepas remnya," ucap Rendy memberikan arahan.
" Tapi apa itu tidak akan membuatku ikut masuk kedalam?" tanya Rania yang sepertinya takut untuk mati.
" Percaya kepadaku, semuanya akan baik-baik saja," sahut Rendy meyakinkan dan Rendy mulai mengulurkan tangannya.
" Ayo cepat!" ucap Rendy. Dengan perlahan satu tangan Rania beralih dari stir mobil. Tangan bergetar itu pun sampai pada tangan Rendy dan Rendy bisa merasakan tangan Rania yang sangat dingin.
" Kamu siap?" tanya Rendy melihat Rania. Rania mengangguk.
" Kamu lepas injakan remnya dalam hitungan 3," ucap Rendy memberikan arahan. Rania dengan napas beratnya mengangguk.
" 1, 2, 3," ucap Rendy dan Rania dengan yakin melepas injakan remnya dan dengan cepat Rendy menarik Rania dari mobil.
" Aaaaaa," teriak Rania dengan matanya yang di pejamkannya.
Byurrrr
Mobil Rania beserta isinya masuk kedalam jurang dan Rania sediri berada di atas tubuh Rendy yang terbaring di tanah di pinggir tebing.
Suara napas berat ke-2nya terdengar sangat kuat dengan debaran jantung yang ke-2nya bisa merasakan masing-masing. Rania masih memejamkan matanya saat berada di bidang dada itu.
Dengan perlahan Rania mengangkat kepalanya dan membuka matanya melihat Rendy yang juga memejamkan matanya dengan napas Rendy yang berat dan perlahan Rendy membuka matanya dan melihat Rania yang ada di depannya.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Rendy. Rania menggeleng pelan.
__ADS_1
Rendy terlihat membuang napasnya panjang dan Rendy langsung duduk dengan memegang ke-2 bahu Rania dan Rania pun bangkit dari tubuh Rendy dan mereka duduk bersebelahan dengan arah yang berlawanan saling menghadap.
Bersambung