Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 52 Faridah sekarat.


__ADS_3

Akhirnya Faridah di larikan Kerumah sakit. Rendy memang langsung bergegas mengambil tindakan jika tidak kasihan ibu mertuanya itu.


Rania, Della, Willo dan Rudi terlihat panik di depan UGD. Sementara Rendy masih berada di dalam UGD yang langsung menangani ibu Faridah.


Rania terus menggengam kuat tangannya. Wajahnya benar-benar panik takut terjadi sesuatu pada mamanya.


" Kenapa mama bisa-bisa tiba pingsan dan bahkan mengeluarkan darah. Apa mama sakit sebenarnya. Awalnya juga mama memang kurang sakit," batin Rania khawatir dengan kondisi sang mama.


Sementara Della terus menagis yang duduk dengan papanya yang menenangkannya dengan memeluknya merangkul pundaknya dan mengusap-usap nya.


" Kamu tenang, mama kamu tidak akan apa-apa," ucap Rudi berusaha menenangkan putri bungsunya.


" Nggak apa-apa gimana. Mama itu jelas apa-apa. Mama dari kemarin sakit. Mama terus batuk-batuk. Dan kalian terus ribut di rumah. Nggak kak Willo, kak Rania. Bahkan juga papa," ucap Della yang marah dengan papanya sampai menyinggirkan tangan papanya dari bahunya.


" Papa selalu sibuk, ikut-ikutan dengan masalah kak Willo dan kak Rania. Tapi apa bukannya mendamaikan agar masalah selesai. Papa malah membuat masalah tambah lebar dan tidak tau kalau mama sakit, ini semua gara-gara papa," ucap Della yang langsung menyalahkan sang papa.


Sampai Rudi tidak pernah berkutik. Rania hanya diam saja. Dan apa yang di katakan Della mewakilinya. Tetapi jika dia mengatakan itu pasti akan muncul keributan lagi.


" Della, ini itu musibah, kamu kenapa jadi nyalahin papa," sahut Willo. Rania sudah berdecak dengan kakaknya yang main sambar saja.


" Iya, memang bukan salah papa. Tapi kakak yang selalu membuat onar," sahut Della kesal. Membuat Willo langsung naik pitam.


" Apa maksud kamu jangan sembarangan kamu, main salah-salahan segala," sahut Willo tidak terima.


" Lalu apa jika tidak hah! kakak yang ingin bercerai dengan suami kakak. Tapi kakak membuat kegaduhan. Semenjak kakak tinggal di rumah. Kondisi mama terus menurun," ucap Della dengan suaranya yang mengeras.


" Heh, jaga bicara kamu ya. Jangan sembarangan kamu. Kamu masih kecil sudah sok tau," sahut Willo menunjuk-nunjuk.


" Aku masih, kecil. Tapi paling tidak aku punya otak. Kalian semua sibuk dengan keributan kalian. Lupa kalau aku masih ada. Lupa jika mama belakangan ini sering sakit," teriak Della.


" Anak ini benar-benar ya," geram Willo ingin mendatangi Della.


" Willo sudah cukup!" bentak Rudi. Willo hanya menahan amarah dengan mengepal tangannya yang panas dengan kata-kata adiknya. Sementara Rania hanya diam saja. Biarkan saja Della yang menasehati orang yang tidak bisa di nasehati.


" Apa-apaan sih kalian, sudah jangan ribut, ini rumah sakit," tegas Rudi.


" Jika terjadi sesuatu sama mama. Itu adalah kesalahan papa," sahut Della geram melihat papanya dan Rudi tidak berani berkutik lagi.


Di tengah-tengah suasana tegang itu pintu UGD terbuka dan Rendy keluar dari ruangan UGD. Rania langsung buru-buru menghampiri dan juga yang lainnya.


" Rendy bagiamana keadaan mama?" tanya Rania panik. Sementara wajah Rendy tampak sangat sendu.


" Mama tidak apa-apakan Rendy!" tanya Rania lagi yang masih menunggu jawaban mama.


" Iya kak, bagaimana keadaan mama. Apa mama baik-baik saja?" tanya Della lagi dengan memegang tangan Rania. Adik kakak itu saling menguatkan dengan perasaan yang bercampur aduk.


" Bu, Faridah belum siumannya. Kondisinya sangat menurun," jawab Rendy dengan suara berat. Rania langsung down mendengarnya dan Della Isak tangisnya langsung pecah dan Rania langsung memeluknya.

__ADS_1


" Memang apa yang terjadi sama mama Rendy. Kenapa mama tiba-tiba seperti ini?" tanya Rania yang juga sudah meneteskan air mata.


" Ada sesuatu di paru-paru nya. Apakah Bu Faridah sering batuk-batuk mengeluarkan darah?" tanya Rendy melihat pada Rudi. Rudi tampaknya tidak bisa menjawabnya, apa lagi Willo, dan Rania juga.


" Iya. Della sering nangkap mama batuk-batuk. Lalu keluar darah. Della juga bingung kenapa mama seperti itu. Kondisi mama memang belakangan tidak baik. Bahkan mama juga pernah pingsan sebelumnya," sahut Della yang menjelaskan yang lebih tau kondisi mamanya.


Yang lainnya hanya diam plus malu. Bisa-bisanya ibu dan istri sendiri tidak tidak tau apa yang terjadi.


" Kenapa kamu nggak pernah bilang Della?" tanya Willo. Della langsung menatap wajah kakaknya horor.


" Kaka apa bukan anaknya. Kenapa aku harus bilang. Mama juga tidak bilang samaku. Tapi aku tau. Karena aku memperhatikannya. Tidak seperti kakak yang tidak peduli," sambar Della dan Willo hanya mempermalukan diri saja.


" Sudahlah, jangan ribut lagi," sahut Rudi yang juga panik. " Rendy, apa yang terjadi sebenarnya. Apa kondisi berbahaya?" tanya Rudi.


" Iya Pak. Tim Dokter akan memeriksa lebih lanjut. Agar dugaan-dugaan bisa di pastikan," jawab Rendy.


" Dugaan, dugaan apa?" tanya Rania dengan suara bergetar menatap nanar Rendy. Rendy mendekati Rania dan mengusap pundak istrinya itu.


" Semuanya akan baik-baik saja," ucap Rendy menatap Rania sendu. Dia tau perasaan Rania yang pasti penuh kekhawatiran.


***********


Rendy dan tim Dokter lainnya kembali melakukan pemeriksaan lebih lengkap. Dengan alat-alat medis yang hanya pihak dokter yang tau apa namanya. Rendy juga melihat di monitor dan mengecek lap hasil pemerikasaan ibu mertuanya.


Wajah Rendy tampak resah. Dengan hasil yang di dapatnya sendiri. Bahkan beberapa kali Rendy membuang napasnya perlahan kedepan.


Tidak lama setelah itu. Rendy pun memanggil Rania dan keluarganya Keruangannya untuk membicarakan hasil pemeriksaan ibu Faridah.


" Apa yang terjadi pada istri saya?" tanya Rudi.


" Benar kak. Mama tidak apa-apa kan kak?" sahut Della yang tampak panik. Rendy tampak berat hati untuk memberi tahukan ke adaan mertuanya.


Rendy bahkan melihat 1 persatu orang yang ada di depannya. Termasuk Rania. Wajah yang sangat berharap banyak tidak terjadi apa-apa pada mamanya.


" Bu Faridah, mengalami kanker paru-paru," ucap Rendy yang membuat semuanya kaget. Sampai Rania menutup mulutnya dengan tangannya.


" Kanker paru-paru!" lirih Rania.


" Ada benjolan di paru-paru ibu Faridah dan kami tim dokter akan mengoperasinya," ucap Rendy.


" Dan ini sudah lama terjadi. Bu Faridah tidak pernah berobat sama sekali dan membuat benjolan itu semakin besar.


Wajah yang lainnya masih kaget. Dengan Della yang sudah menagis dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.


Rania juga sudah meneteskan air mata. Bahkan dia langsung berjongkok dengan menangis menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Willo juga kelihatan terkejut.


Rendy langsung keluar dari kursinya dan menghampiri Rania yang menagis terisak. Rendy berjongkok dengan mengusap-usap pundak Rania. Rania mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Rendy. Rendy melihat air mata ke hancuran di wajah istrinya itu.

__ADS_1


" Apa mama akan sembuh?" tanya Rania dengan bibir bergetar yang penuh harapan untuk kesembuhan pada orang tuanya. Rendy menganggukan matanya. Seolah hanya membuat Rania tenang dan tidak apa-apa.


" Tolong selamatkan mama," ucap Rania.


" Iya aku akan berusaha. Kamu tenanglah," ucap Rendy.


" Jadi selama ini Faridah sakit, dan aku tidak tau itu," batin Rudi baru menyadari jika tidak berguna ya dia sebagai seorang ayah. Dia sibuk dengan hal yang tidak perlu di urusanya dan pada akhirnya tidak tau apa yang terjadi pada istrinya.


************


Mereka berada di ruangan perawatan Faridah yang masih belum sadar. Selang infus sudah terpasang di punggung tangan Faridah. Bahkan alat pernapasan di hidung dan juga mulutnya terpasang dengan monitor jantung yang juga ada di sana.


Della duduk di samping mamanya dengan terus memegang tangan mamanya dengan erat. Air matanya yang tidak pernah berhenti. Sementara Rudi dan Willo duduk di sofa dengan wajah penuh penyesalan. Apa lagi Rudi. Dia yang selalu sekamar dengan istrinya. Tetapi tidak tau apa-apa tentang istrinya.


Sementara Rania berada di luar. Dia duduk di salah satu bangku yang ada taman di sana. Dia memeluk tubuhnya dengan menangis terisak-isak.


" Kenapa aku tidak tau. Jika selama ini mama sakit parah. Aku terlalu sibuk dengan duniaku, sampai aku tidak tau keadaan mama," batin Rania yang juga penuh penyesalan.


" Mama, maafin Rania, maafin Rania ma," ucap nya yang penuh penyesalan dan hanya meminta maaf pada sang mamanya Rania menunduk menangis senggugukan dengan wajahnya yang di tutup kedua tangannya.


Tiba-tiba di tengah tangisnya. Sebuah jaket menutup tubuhnya dan membuat Rania mengangkat kepalanya dan melihat ternyata itu adalah Rendy.


" Ayo masuk, di sini dingin!" ucap Rendy dengan lembut. Rania menggelengkan kepalanya.


" Aku tidak apa-apa. Aku nyaman di sini," jawab Rania. Rendy mendekatkan dirinya mengusap pundak Rania.


" Kamu tidak perlu menagis. Tangisan tidak akan membuat Bu Faridah sembuh. Tapi doa. Karena dia dari anak akan memberikannya kekuatan dan kedamaian," ucap Rendy dengan tulus. Rania hanya menatap Rendy. Tapi jujur hatinya begitu tenang.


" Aku takut, jika mama kenapa-kenapa. Aku takut jika tidak ada lagi kesempatan untukku," ucap Rania.


" Rania, takdir kematian itu hanya milik Allah. Kita manusia yang hidup di dunia ini akan kembali kepadanya. Dan semua kesempatan pasti ada. Berdoalah untuk yang terbaik pada Bu Faridah. Yang terbaik berarti tidak akan membuatnya kesakitan dan jauh lebih tenang," ucap Rendy dengan lembut.


" Sekarang ayo kita kemesjid. Kita sholat dan meminta yang terbaik pada Allah!" ajak Rendy. Rania terdiam dengan air matanya lebih mengalir deras. Ajakan itu membuat hatinya bergetar.


" Kamu mau kan?" tanya Rendy.


" Aku_ aku sudah lama tidak melakukannya. Aku juga tidak tau apa kah masih bisa melakukannya. Aku tidak tau apakah sholat ku akan di terima," ucap Rania dengan jujur. Rendy tersenyum tipis mendengarnya.


" Aku adalah suamimu dan berarti aku imammu. Jika kamu tidak bisa maka tugasku untuk mengajarimu dan masalah di terima atau tidak. Tidak ada ibadah yang tidak di terima. Apa lagi jika niat kamu tulus," ucap Rendy.


Kata-kata Rendy benar-benar membuat hati Rania tersentuh. Rendy selalu berbicara lembut. Berbicara yang membuatnya tenang. Bahkan selalu menganggapnya memanusiakannya yang membuatnya.


" Kamu kenapa diam, kamu tidak mau mendoakan ibu kamu?" tanya Rendy.


" Aku mau," jawab Rania.


" Ya sudah sekarang ayo kita doakan sama-sama. Supaya Allah memberi yang terbaik untuk ibu kamu," ucap Rendy. Rania menganggukkan matanya. Lalu Rendy berdiri dan mengulurkan tangannya. Agar di sambut Rania.

__ADS_1


Dengan perlahan tangan Rania pun menyambut uluran itu. Lalu berdiri yang mengikuti imamnya untuk meminta pada penciptanya.


Bersambung


__ADS_2