
" Ada apa ini sebenarnya?" tanya Oma Wati, " kenapa masalahnya jadi seperti ini. Apa ini. Sarah apa maksud kamu dengan semua ini dan kenapa kamu berhubungan dengan Willo kakak Rania dan dari mana kamu mendapatkan informasi tentang Raina yang menderita HIV?" tanya Oma Wati dengan beribu pertanyaan pada Sarah.
" Benar Tante, kenapa Tante bisa berhubungan dengan Willo," sahut Zahrah yang juga bertanya dengan mengintimidasi.
" Penyakit HIV bukanlah penyakit yang di anggap remeh dan di permainkan. Dan Rendy sendiri tau istrinya seperti. Kita jelas mendengarnya bagaimana Rania sebenarnya. Berhenti melihat seseorang dari covernya saja," sahut Ratih yang juga ikut bersuara.
" Sial, semua orang jadi menyudutkan ku dan Anisa. Apa yang harus aku katakan, agar mereka tidak beranggapan buruk padaku," batin Sarah yang terlihat begitu panik.
" Tante, Sarah kenapa Tante begitu membenci kak Rania!" sahut Nia yang langsung to the point.
" Apa maksud kamu Nia. Siapa yang membencinya. Aku tidak membencinya sama sekali," sahut Sarah mengelak.
" Jika tidak membenci mana mungkin semua terjadi. Apa yang Tante katakan dari kemarin tidak ada satupun yang benar," sahut Nia.
" Tolong semuanya jangan salah paham pada mama," sahut Anisa langsung bersuara untuk membela mamanya.
" Ini bukan kesalahan mama dan lagian kita semua tau hubungan Rania dan kakaknya tidak baik. Ya pasti Willo sengaja untuk mempengaruhi mama yang tidak tau apa-apa untuk mengecoh kekeluargaan kita dan pasti apa yang di sampaikan mama di dapatkan dari Willo. Masalah benar atau tidaknya. Mama jelas tidak tau hal itu," ucap Anisa yang mencari pembelaan.
" Sudahlah, kita jadikan semua ini pembelajaran saja. Aku hanya meminta berhenti untuk berpikiran yang buruk-buruk pada Rania. Rania adalah menantu di rumah ini. Jadi tolong hargai menantu di rumah ini," ucap Ratih menegaskan.
" Benar kata Sarah. Semoga kejadian ini memberikan pelajaran untuk kita semua," sahut Oma Wati.
" Saya minta maaf sekali lagi," sahut Sarah dengan wajah menyesal.
Wajah palsu yang di keluarkannya untuk minta maaf. Agar semua orang kembali percaya kepadanya. Anisa juga berpura-pura menyesal dengan kejadian itu. Sementara Elang terlihat datar-datar saja berada di situasi itu.
***********
Rendy dan Raina kembali memasuki kamar tangan itu masih saling menggenggam dengan wajah Rania yang terlihat murung. Rendy menghadapnya.
" Kamu baik-baik saja," ucap Rendy memegang pipi Raina menatap sendu wajah istrinya itu. Rania menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih, kamu sudah melakukan semuanya kepadaku. Sekarang aku benar-benar lega," ucap Rania. Rendy tersenyum dan mencium lembut kening Rania.
" Aku suamimu apa yang aku lakukan sudah sewajarnya. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu. Saat aku meninggalkanmu kamu pasti mengalami kesulitan. Rania alasanku menikahimu. Karena aku melihat kamu wanita kuat, wanita sabar. Makanya aku menikahimu," ucap Rendy dengan tulus.
Rania hanya diam yang tidak mampu untuk bicara apa-apa.
" Rania kamu tidak sendirian. Aku akan selalu ada bersamamu. Kamu adalah istitiku. Jadi jangan pernah merasa sendiri. Aku selalu bersamamu," ucap Rendy.
__ADS_1
" Makasih," sahut Rania. Rendy mengangguk tersenyum.
" Sebentar!" ucap Rendy yang pergi dari hadapan Rania, Rendy terlihat membuka kopernya yang belum sempat mengeluarkan barang-barangnya kemarin.
" Kamu mau ngapain?" tanya Rania heran. Rendy terlihat mengambil sesuatu dari dalam kopernya seperti tiket. Lalu mengahampiri Rania.
" Apa ini?" tanya Rania heran.
" Rania, aku ada niat untuk umroh dan kemarin seharusnya sehabis dari Jerman aku langsung melaksanakan ibadah umroh. Tetapi aku memutuskan pulang aku ingin mengajakmu untuk ketanah suci," ucap Rendy dengan niat baiknya.
" Maksud kamu aku sama kamu berangkat umroh?" tanya Rania kelihatan tidak percaya.
" Iya, kamu maukan umroh bersamaku," ucap Rendy. Mata Rania berkaca-kaca dengan ajakan suaminya itu.
" Ada apa Rania apa kamu bisa ikut?" tanya Rendy yang melihat Rania diam tanpa bicara sama sekali.
" Bukan itu. Aku hanya tidak percaya jika aku bisa ketempat suci itu," sahut Rania yang terlihat schock.
" Itu tempat ibadah siapapun bisa kesana. Jika memiliki hati yang tulus. Termasuk kamu," ucap Rendy, " kamu mau kan pergi bersamaku?" tanya Rendy memastikan sekali lagi.
" Aku mau," jawab Rania dengan tersenyum lebar. Rendy tersenyum merasa lega. Lalu langsung memeluk Rania dengan erat.
***********
Malam hari tiba setelah Rania selesai beres-beres koper. Rania menyeret koper di dekat pintu.
" Sudah selesai?" tanya Rendy Rania mengangguk.
" Ya sudah istirahatlah," sahut Rendy yang memang sedari tadi sudah berada di atas ranjang. Rania tidak memperbolehkannya untuk ikut dalam mengurus koper. Karena Rania tidak mau Rendy lelah.
" Aku mau kedapur sebentar," ucap Rania.
" Mau ngapain?" tanya Rendy heran.
" Mau minum saja," sahut Rania.
" Ya sudah," sahut Rendy. Rania mengangguk dan langsung pergi dari kamar.
*********
__ADS_1
Rania menuruni anak tangga menuju dapur untuk mengambil air putih. Tenggorokannya memang terasa sangat kering. Biasanya di dalam kamar masih ada stok minuman. Karena habis. Jadi mau tidak mau Rania harus turun kedapur untuk mengambilnya
Dapur sangat gelap. Karena hanya minum Rania malas untuk menghidupkan lampu. Jadi membiarkannya saja. Rania menuang air ke gelas dan langsung meneguknya.
Tiba-tiba di tengah minumnya sebuah tangan melingkar di perutnya, membuat Rania kaget bahkan sampai merinding. Rania yang melotot langsung membalikkan badannya dengan cepat.
Uhuk.
Rania batuk dan menyemburkan air yang di minumnya pada orang yang di belakangnya yang tak lain adalah suaminya.
" Rendy!" lirih Raina yang kaget dan merasa bersalah dengan wajah suaminya yang sudah basah dan Rendy memejamkan matanya pasrah dengan wajahnya.
" Maaf-maaf, aku tidak sengaja sahut Rania langsung melap wajah Rendy dengan tangannya.
" Kamu sih bikin kaget aja. Kan aku takut," sahut Rania yang menyalahkan suaminya langsung.
" Sudah aku bisa sendiri," sahut Rendy yang melap wajahnya dengan tangannya.
" Maafkan aku. Kamu ngapain coba tiba-tiba sudah ada di belakang," sahut Rania merasa bersalah.
" Aku hanya melihatmu saja. Kamu sendiri ngapain kedapur bukannya hidupkan lampu. Kalau jatuh bagaimana?" tanya Rendy.
" Hanya minum saja memang akan jatuh," sahut Rania. Rania menatap suaminya dengan merasa bersalah.
" Maaf ya," lirih Rania dengan memegang pipi Rendy. Rendy tersenyum dengan menyinggirkan anak rambut di wajah Rania.
" Kamu sekarang sangat suka minta maaf," ucap Rendy.
" Kamu yang mengajariku yang apa-apa haru minta maaf. Kamu sering mengatakan maaf kepadaku. Walau terkadang aku yang memulai kesalahan tapi kamu malah minta maaf. Jadi jangan heran. Kalau aku sekarang suka meminta maaf. Karena aku mengikuti imanku," ucap Rania. Rendy tersenyum mendengarnya.
" Kamu semakin lama semakin pintar," ucap Rendy. Mata Rendy turun pada bibir Rania. Bibir yang menjadi candunya itu. Rendy mendekatkan wajahnya yang ingin meraih bibir itu. Rania memejamkan matanya yang memberikan izin saat bibir itu menempel. Tak.
Lampu hidup dan membuat ciuman itu tidak jadi. Rendy dan Rania sama-sama melihat ke arah orang yang menghidupkan lampu yang ternyata Anisa yang berdiri mematung dengan wajahnya yang terlihat kesal.
" Maaf aku pikir tidak ada orang di dapur," sahut Anisa.
" Ayo kita kekamar!" ajak Rania mengajak suaminya pergi. Rendy mengangguk dan merekapun meninggalkan dapur dan juga Anisa yang apa lagi jika tidak menahan amarah kecemburuan di tubuhnya.
Bersambung
__ADS_1