
Siang hari kembali berubah menjadi malam hari. Rania berada di kamarnya berdiri di didekat jendela dengan tangannya yang mengusap perut rampingnya.
" Ya Allah aku tidak tau kebaikan apa yang aku lakukan. Sampai engkau memberiku banyak kebahagian. Kau sudah memberiku suami yang begitu baik, keluarga yang mencintaiku, yang menyayangiku yang menganggapku bukan menantu tapi seperti anak dan sekarang engkau titipkan dia di dalam rahimku. Aku sungguh tidak percaya jika di dalam hidupku akan ada seperti ini. Ya Allah aku sungguh bahagia, aku begitu bersyukur dengan apa yang engkau berikan kepadaku. Aku sungguh bahagia," batin Rania yang begitu terharu dengan semua kebahagian yang telah di dapatkannya. Dia sampai meneteskan air matanya dengan kebahagian yang datang bertubi-tubi kepadanya.
Rendy yang keluar dari kamar mandi melihat istrinya yang murung. Rendy tersenyum dan langsung menghampiri istrinya tersebut. Rendy memegang pundak Rania membuat Rania membalikkan tubuhnya dan melihat suaminya yang sudah ada di hadapannya.
" Kamu kenapa?" tanya Rendy dengan mengusap pipi Rania.
" Aku begitu bahagia dengan apa yang aku dapatkan. Makasih ya Rendy kamu sudah hadir di dalam hidupku," ucap Rania dengan air matanya yang kembali menetes. Rendy mengusap lembut air mata itu.
" Aku yang berterima kasih. Karena kamu sudah hadir di dalam hidupku. Kamu sudah memberiku kebahagian yang tidak bisa aku gambaran kan dengan apapun dan kamu sebentar lagi akan menjadikan ku seorang ayah, aku yang berterima kasih Rania," ucap Rendy dengan tulus menatap dalam-dalam 2 bola mata yang masih meneteskan air mata itu.
" Jangan menagis. Bukannya kita sedang bahagia. Jadi air mata ini tidak boleh keluar," ucap Rendy yang lagi-lagi menyeka air mata itu.
" Aku menagis. Karena aku begitu bahagia," sahut Rania yang benar-benar menjadi mewek.
" Aku tau, tapi aku tidak mau melihat istriku yang cantik ini harus mengeluarkan air mata, aku sungguh tidak ingin hal itu terjadi," ucap Rendy.
" Kamu jangan menagis lagi ya," ucap Rendy menegaskan. Rania mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Aku mencintaimu Rendy," sahut Rania.
" Aku juga mencintaimu," sahut Rendy yang mencium lembut kening Rania. Dengan membelai-belai rambut Rania.
" Kamu butuh sesuatu?" tanya Rendy. Rania menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Aku tidak butuh apa-apa. Dengan kamu terus ada di sisiku itu sudah cukup untukku dan aku tidak butuh yang lainnya," sahut Rania.
Rendy tersenyum dan matanya turun pada perut Rania. Rendy berlutut di depan Rania dan mencium perut ramping Rania. Dengan mengusap-usap terus. Rendy juga terlihat berdoa di depan perut Rania yang membuat Rania tersenyum bahagia dengan Rania yang mengusap-usap kepala Rendy.
" Insyaallah, dia akan menjadi anak yang Sholeh atau Sholeha, yang berbakti pada orangtuanya dan pasti yang akan menghormati ibunya," ucap Rendy mengangkat kepala melihat ke arah Rania. Rania mengangguk dengan kembali tersenyum.
" Amin, doa ayahnya akan secepatnya di kabulkan," sahut Rania. Rendy kembali berdiri dan mencium pipi Rania dengan lembut.
__ADS_1
" Kita istirahat ya," ucap Rendy.
Rania mengangguk dan Rendy langsung mengangkat tubuh Rania ala bridal style yang lagi-lagi membuat Rania kaget. Tapi mau bagaimana lagi. Melihat Rendy begitu memanjakan Rania sampai tidak ingin Rania berjalan ketempat tidur.
Dengan perlahan Rendy merebahkan tubuh Rania di atas tempat tidur. Rendy kembali mencium kening Rania dengan lembut lalu Rendy menyusul rebahan di samping Rania dengan membawa Rania kepelukannya dan Rania jelas merasa nyaman jika sudah tertidur di dada bidang suaminya.
Rendy lagi-lagi kembali mencium kening Rania dan perlahan mereka sama-sama memejamkan mata mereka dengan perlahan.
**********
Pagi hari kembali tiba seperti biasa Rania akan membatu Rendy untuk siap-siap ke rumah sakit. Sekarang Rania sedang merapikan merah baju Rendy. Namun setelah selesai Rania malah memeluk Rendy erat dan Rendy jelas begitu bahagia yang pagi-pagi sudah mendapat pelukan aja dari istrinya.
" Hmmmm, harum, aku sangat menyukainya," ucap Rania dengan menghirup tubuh Rendy yang membuatnya begitu candu.
" Apa perlu aku membuka bajuku dan kamu memakainya?" tanya Rendy yang juga memeluk Rania.
" Boleh," sahut Rania mengangkat kepalanya untuk melihat Rendy tanpa melepas tangannya dari pelukan itu.
" Aku tidak mau bajunya saja. Aku juga mau orangnya sekalian," sahut Rania. Rendy mengendus tersenyum dengan mengusap-usap rambut Rania.
" Jangan sekarang masih pagi dan lagian ibu hamil muda berbahaya untuk hal itu," ucap Rendy.
" Apa itu artinya kita tidak akan pernah....!sahut Rania yang tidak berani melanjutkan kata-katanya.
" Tidak pernah apa?" tanya Rendy dengan menaikkan 1 alisnya.
" Nggak jadi," sahut Rania yang gelang-gelang yang tidak mau memberi tahu.
" Kamu benar-benar nakal," sahut Rendy mencolek hidung Rania.
" Tapi kamu suka kan?" tanya Rania dengan menggoda suaminya.
" Aku jelas menyukainya," sahut Rendy. Rania tersenyum lebar.
__ADS_1
" Hmmm, ya sudah sekarang ayo kita turun, kita harus sarapan," ucap Rania.
" Hmmm, baiklah," sahut Rendy. Pelukan itu berubah menjadi genggaman tangan yang mana ke-2nya sama-sama tidak mau lepas. Rania dan Rendy memang tidak akan pernah ada kata selesai bucin.
**********
Rania, Rendy, Ratih, Anisa dan Zahra sedang sarapan bersama. Sarah belum kembali Kerumah itu dan Oma Wati memang belum pulang dari kampung halamannya dan untuk Nia masih berada di Jepang melakukan kegiatan pertukaran pelajar.
Mereka seperti biasa sarapan bersama sebelum melakukan aktifitas masing-masing. Namun Rania Randy saling melihat yang sepertinya Rania maupun Rendy sama-sama ingin memberitahu kabar bahagia yang mereka dapatkan.
" Mah," ucap Rendy. Ratih melihat kearah Rendy.
" Ada apa Rendy?" tanya Ratih. Rendy melihat istrinya dan Rania menganggukkan matanya.
" Mama doain ya untuk kesehatan Rania," sahut Rendy membuat Ratih bingung.
" Memang Rania sakit apa?" tanya Ratih bingung namun langsung panik.
" Tidak sakit apa-apa mah. Kita hanya minta doa dari mama untuk kesehatan Rania dan juga calon buah hati kami," sahut Rendy yang memperjelas semuanya yang membuat Ratih kaget mendengarnya. Tidak hanya Ratih Zahra juga kaget dan bahkan Anisa yang paling terkejut.
" Apa maksud kamu, apa itu artinya Rania sedang mengandung?" tanya Ratih yang memastikan.
" Iya mah," sahut Rendy membenarkan.
" Ya Allah Alhamdulillah, Rania telah mengandung cucuku," sahut Ratih yang begitu bahagia mendengar kabar itu. Ratih bahkan berdiri dan memeluk Rania yang masih tetap duduk.
" Selamat ya sayang untuk kehamilan pertama kamu," ucap Ratih.
" Makasih mah," sahut Rania tersenyum yang memeluk erat mertuanya itu.
Zahra juga tersenyum dengan kebahagian Rania dan Rendy. Yang pasti tidak dengan Anisa. Yang menjadi satu-satunya orang yang merasa resah dengan kehamilan Rania.
Bersambung
__ADS_1