
4 tahun kemudian
Rendy berjongkok di pemakaman yang selesai di tabur kembang tidak lupa juga membawakan boucket bunga yang di letakkan di bawah mesan berdekatan dengan foto Rania yang memakai jilbab yang wajahnya begitu teduh.
Rendy seperti biasa akan berziara kemakam istrinya. Hal itu memang sering di lakukannya, setiap hari Jumat akan berkunjung makam istrinya itu.
Tidak ada yang di katakan Rendy dia hanya mengirim doa kepada istrinya. Surga yang indah yang iya tau adalah tempat istrinya. Selesai berdoa Rendy mengusap mesan tersebut dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Ayah!!!!!" suara teriakan anak kecil membuat Rendy menoleh kebelakang. Anak kecil yang begitu cantik yang ke-2 tangannya di pegang Nia dan juga Mario. Anak kecil itu melepas genggaman tangannya dan langsung berlari membuat Rendy tersenyum.
" Kenapa tidak tunggu Asyifa pulang sekolah, kan tadi malam ayah janji mau sama-sama ketempat ibu," ucap Asyifa dengan wajahnya yang cemberut di depan Rendy.
Randy hanya tersenyum melihat putrinya yang merajuk itu, " kemari!" ajak Rendy mengulurkan tangannya. Asyifa mengangguk dan langsung duduk di pangkuan Rendy.
" Maafkan ayah ya," ucap Rendy. Asyifa mengangguk dengan tersenyum lebar.
" Assalamualaikum ibu. Ibu apa kabar. Pasti ibu baik-baik saja. Oh iya ibu tadi di sekolah Asyifa dapat nilai bagus saat menggambar, teman-teman Asyifa juga bilang kalau gambaran Asyifa itu cantik," Asyifa mulai curhat pada ibunya.
Rendy hanya tersenyum mendengar putrinya yang pintar itu yang di usianya yang masih balita tetapi sudah seperti orang dewasa. Mario dan Nia pun saling melihat yang pasti bangga dengan pertumbuhan Asyifa.
" Oh, iya, ibu ternyata benar, ayah itu baik sekali. Ayah tidak pernah marah, padahal Asyifa sering buat salah tapi ayah yang minta maaf, ibu benar ayah memang laki-laki lembut," lanjut Asyifa lagi.
" Kamu tau dari mana ibu pernah bilang begitu?" tanya Rendy melihat selidik putrinya itu.
" Asyifa baca surat ibu," jawab Asyifa tertawa-tawa kecil tanpa dosa.
" Itu kan surat untuk ayah, mana boleh sembarangan di baca," sahut Rendy menautkan ke-2 alisnya.
" Maaf ayah," sahut Asyifa yang tersenyum melihat ayahnya dan Asyifa berdiri dari pangkuan Rendy mendekati mesan ibunya. Mencium mesan itu terdengar suara kecupan.
" Ibu baik-baik ya. Asyifa pulang dulu. Assalamualaikum ibu," ucap Asyifa pamitan.
" Ayo ayah!" ajak Asyifa. Rendy mengangguk dan langsung berdiri.
" Tante Nia Om Mario, Asyifa pulang sama ayah aja ya," ucap Asyifa.
__ADS_1
" Iya sayang," jawab Nia, " Tante juga mau pergi dulu sama Om Mario," sahut Nia.
" Mau kemana kalian?" tanya Rendy.
" Begini kak Rendy, kebetulan kakak aku melahirkan dan aku mau mengajak Nia untuk menjenguk kakak aku," sahut Mario mengambil alih untuk menjawab.
" Ya sudah tapi jangan malam-malam pulangnya," ucap Rendy memberi ingat.
" Baik kak," sahut Mario dan Nia serentak.
" Ayo Asyifa kita pulang," ajak Rendy.
" Baik ayah. Da Tante da Om," sahut Asyifa pamitan.
" Dada," sahut mereka dengan serentak sembari melambaikan tangan.
" Ayo kita juga pergi!" anak Mario. Nia mengangguk.
Rendy memang masih tetap posesif pada adiknya. Nia dan Mario memang menjalani kedekatan selama ini bahkan dalam tahun ini mereka juga akan menikah.
***********
Rendy menyetir fokus ke depan dan Asyifa di dalam mobil sedang yang duduk di sampingnya sedang menghafal surat pendek. Pastinya pendidikan agama sangat di tanamkan Rendy dari usia dini. Sesekali Rendy menoleh kesamping melihat putrinya yang sangat serius menghafal dan pasti begitu lancar.
" Ayah bagaimana apakah, Asyifa sudah sepintar ibu?" tanya Asyifa.
" Iya kamu sudah sepintar ibu," jawab Rendy.
" Alhamdulillah," sahut Asyifa yang tersenyum dengan gembira. Mata Asyifa melihat keluar jendela melihat mobil yang berjalan di sampingnya mata Asyifa bukan fokus pada mobil itu. Tetapi pada wanita yang duduk di bagian kursi penumpang. Wanita dengan pakaian muslimah nya dengan wajahnya yang memakai masker dengan membaca Alquran.
" Asyifa lihat apa?" tanya Rendy.
" Tadi lihat wanita cantik yang matanya mirip ibu cantik sekali," jawab Asyifa. Rendy tersenyum mendengarnya dengan mengusap-usap pucuk kepala Asyifa.
" Ibu hanya satu, jadi mana mungkin ada yang mirip sama ibu. Apa lagi Asyifa hanya melihat matanya saja," ucap Rendy.
__ADS_1
" Iya ayah benar," sahut Asyifa tersenyum. Namun dia begitu penasaran dengan wanita yang di lihatnya itu.
*******
Perjalanan mereka di lanjutkan dan mobil Rendy berhenti di depan rumah sakit yang terlihat terbengkalai. Yang terlihat habis terbakar.
" Kenapa berhenti di sini ayah?" tanya Asyifa melihat ayahnya yang fokus pada rumah sakit itu.
" Tidak apa-apa sayang. Ayah hanya rindu rumah sakit ini. Dulu ayah bekerja di sini dan ibu juga di rawan di sini. Kamu juga lahir di rumah sakit ini," jelas Rendy.
" Apa rumah sakitnya terbakar. Kenapa hancur?" tanya Asyifa.
" Iya sayang, ada ******* yang waktu itu melakukan bunuh diri dan membuat bom. Akhirnya rumah sakit itu terbakar dan ibu mu juga salah satu korbannya. Saat itu ayah sedang umroh untuk membawakan keinginannya. Tetapi insiden itu datang. Nyawa ibu mu tidak tertolong. Menjadi korban bersama pasien lain yang ikut terbakar," jelas Rendy dengan wajah senduhnya yang masih menyesal sampai sekarang tidak ikut mengantarkan istrinya ke tempat terakhirnya.
" Berarti ibu pergi. Karena kejadian itu. Kalau tidak ada kejadian itu. Ibu pasti belum pergi," sahut Asyifa.
" Sayang mau itu ada kejadian itu atau tidak. Jika sudah takdir. Ibu akan tetap pergi. Kejadian itu hanya cara yang lain membuat ibu pergi," jelas Rendy.
" Kalau begitu. Kenapa ayah jadi menyesal, kan itu bukan salah ayah?" tanya Asyifa.
" Kamu tau dari mana ayah menyesal?" tanya Rendy balik.
" Asyifa sering dengar kalau ayah sholat pasti berdoa dan minta maaf sama ibu. Karena ayah tidak ada saat itu. Berartikan ayah menyesal. Padahal tadi ayah bilang kalau ibu memang sudah ditakdirkan pergi ke surga. Hanya saja caranya lain. Lalu kenapa harus menyesal?" ucap Asyifa yang berbicara begitu bijaknya bicara.
Mendengar putrinya bicara hanya membuat Rendy tersenyum.
" Kamu itu memang paling tau semuanya. Kamu suka ya diam-diam nguping ayah kalau lagi berdoa?" tanya Rendy penuh selidik.
" Sedikit," sahut Asyifa tertawa tanpa dosa.
" Jangan menyalahkan diri ayah. Ayah tidak salah dan semua sudah kehendak Allah. Lagian ibu juga sudah tenang. Jadi ayah nggak boleh menyalahkan diri ayah," ucap Asyifa.
" Iya sayang," sahut Rendy. Asyifa dengan manjanya langsung memeluk Rendy.
Bersambung
__ADS_1