
Rania terdiam tertekun melihat temannya yang sholat dengan khusuk. Melihat temannya sholat seakan ad ketenangan di hatinya dan seakan melupakan masalah yang terjadi. Apa lagi jika dia yang sholat pasti dia lebih tenang dan mungkin akan menjadi obat untuk hatinya yang benar-benar sangat terluka itu.
" Assalamualaikum warahmatullahi, assalamualaikum warahmatullahi," ucap Zahra yang mengucap salam. Setelah mengucapkan salam Zahra mengusap wajahnya dan berdoa sebentar pada Tuhannya dan Rania hanya melihat saja dengan ketenangan hatinya.
Selesai sholat subuh. Zahra berdiri dan mengambil sajadahnya yang ingin melipatnya. Tetap Zahra tidak sengaja melihat ke arah Rania.
" Kamu sudah bangun?" tanya Zahra tersenyum melihat temannya iti.. Rania mengangguk pelan.
" Bagaimana tidurmu?" tanya Zahra.
" Aku tidur dengan nyenyak. Makasih ya kamu sudah memberikanku tempat tinggal," ucap Rania.
" Kamu ini apa-apaan sih. Seperti yang aku bilang tadi. Rumah ini bukan rumahku. Jadi jangan mengucapkan terima kasih kepadaku. Tetapi berterima kasih lah. Kepada Tante Ratih," sahut Zahra.
" Hmmm, sama saja. Dengan kamu atau Tante Ratih. Kamu juga sudah meminjamkan kamarmu kepadaku. Jadi aku akan tetap mengatakan terima kasih kepadamu," ucap Rania.
" Terserah kamu deh. Oh Kamu butuh sesuatu, jika menginginkan sesuatu biar aku mengambilnya? tanya Zahra.
" Tidak aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya haus saja," sahut Rania dengan suara pelan yang mungkin memang tenggorokannya sakit.
" Ya sudah kalau begitu aku akan mengambilnya sebentar," ucap Zahra yang membuka mukenanya dengan buru-buru.
" Tidak usah Zahra," sahut Raina menghentikan, " biar aku saja yang mengambilnya," sahut Rania yang tidak ingin merepotkan sahabatnya itu.
" Nggak apa-apa, kamu di sini saja. Jadi biar aku yang mengambilnya. Kamu adalah tamu. Jadi tetaplah di sini," sahut Zahra.
" Tidak aku tidak ingin merepotkan kamu. Jadi biar aku saja yang mengambilnya, lagian hanya mengambil minum saja. Jadi jelas tidak ada masalah," sahut Rania lagi.
" Kamu yakin?" tanya Zahra. Rania mengangguk lalu dengan perlahan berdiri.
" Aku akan minum dulu," ucap Rania.
Zahra mengangguk dan membiarkan saja temannya kedapur sendiri untuk mengambil minum.
" Aku melihat Rania jauh lebih segar. Semoga saja Rania bisa menghadapi semuanya masalahnya. Dan masalah Gilang aku tidak tau bagaimana kelanjutannya dan mungkin ini yang akan menjadi yang terberat," batin Zahra.
**********
Rania dengan langkahnya yang pelan akhirnya keluar dari kamar itu untuk mengambil air putih.
Saat keluar dari kamar Zahra. Suara lantunan Al-Qur'an terdengar di telinganya membuat langkahnya terhenti di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka sedikit dan Rania yang begitu penasaran akhirnya melihat dari pintu terbuka yang sangat kecil itu yang ternyata melihat Rendy yang bersilah kaki di atas sajadah yang membaca Alquran begitu merdu.
Suara indah itu seakan menyiram rasa panas di dalam tubuh Rania dan membuat tubuh itu begitu sejuk, damai dan terlihat sangat tenang. Suara indah itu ternyata mampu membuat air matanya menetes.
Rania mungkin kembali menyadari jika apa dia begitu jauh dari penciptanya. Rania juga mungkin tidak tau apakah dia masih bisa membaca Alquran itu. Dia kembali menyadari orang-orang pantas bahagia Karena mereka melakukan semua perintah Allah dan selalu sabar. Tidak sepertinya yang sibuk dengan dunia dan lupa pada penciptanya.
" Shodaqallahhul adzim," Rendy mengakhiri kajiannya dan menutup Alqurannya Rendy menoleh kesamping ke arah pintu dan melihat Rania yang berdiri di sana. Rania yang tersadar lalu dengan cepat menyeka air matanya lalu dengan buru-buru pergi.
Rendy heran melihat Rania yang tiba-tiba ada di sana, dia tidak tau sejak kapan Rania ada di sana.
" Kenapa dia ada di sana," batin Rendy penuh kebingungan melihat kepergian Rania yang begitu saja. Rendy bahkan merasa seperti ada yang salah padanya makanya Rania main asal-asal pergi saja.
Rania menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan dan melangkah menuju dapur di mana di sana ternyata ada Ratih dan 1 wanita yang lumayan tua yang mungkin bisa di katakan dia asisten rumah tangga yang di mana 2 wanita itu sedang memasak.
" Rania!" sapa Ratih ketika melihat Rania yang tiba-tiba ada di sana.
" Tante," sapa Rania tersenyum.
" Kamu sudah bangun?" tanya Ratih.
" Iya Tante," jawab Rania.
" Bagaimana tidur kamu sayang?" tanya Ratih.
" Rania tidur nyenyak dan tidak ada masalah sama sekali Tante," jawab Rania.
" Syukurlah kalau begitu," sahut Ratih merasa lega.
__ADS_1
" Rania mau minum, boleh Rania minum Tante?" tanya Rania yang tampak segan.
" Kamu ini mau minum saja bertanya. T sebentar biar Tante ambilkan," sahut Ratih yang langsung buru-buru mengambil gelas.
" Tidak usah Tante, Rania akan ambil sendiri," sahut Rania mendekati Ratih yang ingin mengambil alih pekerjaan Ratih.
" Tidak apa-apa kamu duduk saja. Mana ada tamu yang harus turun kedapur," sahut Ratih.
" Tapi Tante," sahut Rania merasa tidak enak.
" Ayo duduk," ucap Ratih yang menarik kursi dan meletakkan air putih di depan Rania tanpa ingin tamunya harus repot-repot sendiri
Lagi-lagi Rania menurut saja dengan perlakuan Ratih yang begitu baik.
" Minum dengan duduk, oke," sahut Ratih. Rania mengangguk dan mulai meminum air putihnya.
" Makasih Tante," sahut Rania tetap merasa tida enak.
" Sama-sama," sahut Ratih tersenyum. Ratih menuju dandang dan mengambil kue yang di kukusnya meletakkan di piring kecil dan memberikan pada Rania.
" Ini untuk pendamping minuman kamu," ucap Ratih tersenyum.
" Apa ini Tante?" tanya Rania heran.
" Ini kue kukus jagung, ini sangat cocok di makan saat bangun tidur, untuk mengganjal perut. Sebelum sarapan," ucap Ratih menjelaskan sedikit.
" Tenang saja. Itu tidak akan bikin gemuk," sahut Ratih. Mungkin Ratih berpikiran Rania adalah wanita yang sangat frefeksionis jadi pasti sangat memperhatikan bentuk tubuhnya. Karena Rania memang tipe wanita ideal yang seperti model.
" Bukan begitu Tante. Tetapi sungguh Tante tidak perlu repot-repot sampai seperti ini, sahut Rania merasa tidak enak lagi dengan pelayanan Ratih yang sangat ramah kepadanya dan terlihat sangat memanusiakan dirinya.
" Tidak ada yang repot Rania, orang Tante masak ini setiap hari dan kebetulan juga sudah masak dan kamu sudah datang. Ini rezeki kamu. Jadi ingin tidak ada unsur merepotkan makanlah," sahut Ratih menjelaskan sedikit.
" Tapi Tante," sahut Rania yang masih tidak enak.
" Sudah jangan menolak. Kamu coba saja dulu rasanya. Pasti sangat nikmat. Itu memang menjadi rutinitas Tante untuk memasakkanya. Karena Rendy sangat menyukainya dan makanan itu menjadi makanan favoritnya," sahut Ratih menjelaskan lagi kepada Rania. Rania tetap diam dan tetap merasa tidak enak.
" Ayo di makan, jangan di lihatin terus," ucap Ratih. Rania pun akhirnya mengangguk dan menerima makanan itu.
" Apa enak?" tanya Ratih. Rania mengangguk.
" Enak, Rania baru memakan makanan ini sekarang. Rasanya sangat enak. Rania sangat menyukainya," sahut Rania dengan tersenyum lepas dengan mulutnya mengunyah makanan tersebut.
" Kalau begitu kamu makan lagi. Nanti Tante akan buatkan yang lebih banyak lagi untuk kamu," sahut Ratih.
" Tidak Tante ini sudah cukup," sahut Rania yang malu-malu.
" Terserah kamu yang penting kamu nikmati saja," ucap Ratih. Rania mengangguk-angguk. Tiba-tiba mata Ratih melihat ke arah pintu masuk dapur yang melihat Rendy yang masih sarung yang sangat tampan dengan wajah berseri yang memasuki dapur.
" Rendy!" tegur Ratih. Rania mendengarnya seketika menghentikan makannya. Mungkin Rania menjadi gugup dengan tiba-tiba. Karena kehadiran Rendy. Mungkin juga kegugupannya karena masalah kemarin dan di tambah dengan kejadian beberapa menit yang lalu saat dia terpergok berada di depan pintu kamar Rendy.
" Iya ma," sahut Rendy yang menghampiri meja makan. Ratih tampaknya tau apa yang di butuhkan putranya dan Ratih langsung kembali ke area dandang dan mengambil kue jagung untuk Rendy.
Rendy juga langsung menarik kursi di depan Rania dan langsung duduk. Hal itu membuat Rania semakin gugup dengan kehadiran Pria yang di depannya ini.
" Ini punya kamu," sahut Ratih meletakkan piring berisi kue yang sama dengan Rania di depan Rendy.
" Makasih ma," sahut Rendy. Rania semakin canggung bahkan tidak mampu berbicara apa-apa. Sementara Rendy tetap santai dan mulai menikmati apa yang sudah menjadi khasnya itu.
" Terima kasih untuk pertolongan kamu," sahut Rania pelan yang tiba-tiba bicara. Rendy pun melihat kearah Rania sambil mengunyah makanannya.
" Maaf aku sudah merepotkanmu. Aku tidak tau jika ini rumahmu, aku sudah mengatakan. Aku tidak terlalu tentang masalah pribadi Zahra. Jadi aku juga tidak tau kalau Zahra tinggal denganmu," jelas Rania yang merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu mengucapkan terima kasih. Yang penting kamu sudah baik-baik saja," sahut Rendy yang memang selalu menjadi orang yang paling santai.
" Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih," sahut Rania lagi. Rendy mengangguk.
" Iya. Lanjutkan makanmu," sahut Rendy. Rania mengangguk dan makan dengan gugup di hadapan pria tampan ini.
__ADS_1
" Kenapa juga aku jadi terjebak di rumah ini. Kenapa aku tidak kepikiran dulu dari awal masalah Zahra. Jadi aku tidak perlu berada di rumah ini dan sekarang lihatlah hasilnya aku tidak tau harus melakukan apa. Tetapi walau seperti itu. Rumah ini terlihat sangat nyaman dan begitu menemukan," batin Rania dengan canggungan hatinya. Namun sangat tenang berada di rumah itu walau hanya sebentar saja.
**********
Setelah menikmati kue kukus dari Ratih Rania pun kembali kekamar Zahra untuk mengganti pakaiannya yang sudah di siapkan Zahra untuknya. Rania memang harus mengganti pakaiannya karena pakaiannya yang terlihat kotor.
Setelah mengganti pakaian itu. Rania dan Zahra akhirnya keluar dari kamar dan menuju meja makan untuk melakukan sarapan bersama dengan yang lainnya.
" Zahra, sebaiknya kamu antarkan aku pulang saja," ucap Rania dengan pelan.
" Nanti saja Rania. Kita sarapan dulu. Tante Ratih sudah memasak. Jadi tidak enak jika kita tidak sarapan dan pergi begitu saja," sahut Zahra menjelaskan.
" Iya tapi kan," sahut Rania yang masih ingin menolak.
" Sudahlah jangan tapi-tapi, ayok!" sahut Rania menegaskan. Rania mengangguk dan akhirnya mengikuti saja dan langsung menuju meja makan. Yang mana sudah ada Ratih, Nia dan juga Rendy yang juga siap-siap untuk bekerja.
" Rania, Zahra, ayo kemari sarapan bersama," sahut Ratih yang mengajak dengan ramah.
" Iya Tante," sahut Zahra dan membawa Rania untuk mengambil salah satu kursi dan mendudukinya yang mana Rania tepat berada di depan Rendy.
" Ayo Rania kamu sarapan dulu, sebelum Zahra mengantarkan kamu pulang," sahut Ratih menjamu dengan baik.
" Makasih Tante," sahut Rania.
" Kamu juga Zahra," sahut Ratih.
" Iya Tante pasti," sahut Zahra yang sudah mulai mengisi piringnya dengan nasi goreng.
" Kenapa kak Rania datang kerumah kita tidak ada yang memberitahu Nia," sahut Rania merasa sangat di sayangkan.
" Namanya sudah malam. Jadi mana mungkin kamu harus di bangunkan lagi," sahut Ratih.
" Walaupun kan seperti itu. Tidak ada salahnya membangunkan Nia," sahut Nia.
" Sudahlah, Nia kamu juga toh bisa lihat Rania sekarang," sahut Zahra.
" Iya sih. Hmmmm kak Rania. Aku senang banget lihat kakak ada di sini. Lain kali main lagi ya kemari," ucap Nia dengan senyumnya yang sangat bahagia.
" Iya, kapan-kapan kakak akan kemari lagi," sahut Rania tersenyum dan mendengarnya Nia tampak bahagia.
" Ya ampun kasihan sekali kak Rania," batin Nia yang simpatik dengan Rania.
" Kenapa orang-orang ini sangat baik. Hanya sarapan saja. Tetapi aku merasakan kedamaian yang benar-benar membuatku melupakan masalahku. Tante Ratih sangat baik. Dia begitu tulus kepadaku dengan apa yang di berikan kepadaku. Aku benar-benar sangat bahagia, rumah ini sangat tenang. Bahkan mereka berbicara begitu lembut," batin Rania yang terus merasakan keteduhan. Rania melihat satu-persatu orang-orang yang ada di sana tampak tersenyum dengan bahagia seperti tanpa ada beban.
" Assalamualaikum," sapa suara seorang wanita yang memberikan salam.
" Walaikum salam," sahut semuanya serentak melihat ke arah suara tersebut yang ternyata adalah Anisa yang datang membawa rantang.
" Anisa! ayo kemari," sahut Ratih. Anisa tersenyum dan langsung melangkah mendekati meja makan tersebut.
Saat tiba di sana Anisa di kagetkan dengan kehadiran Rania yang tiba-tiba ikut menikmati sarapan bersama orang-orang tersebut.
" Ngapain dia ada di sini," batin Anisa dengan wajah kagetnya.
" Ayo Anisa kamu juga ikut sarapan," sahut Ratih.
" Hmmm, iya Tante," sahut Anisa.
" Ini Anisa bawakan titipan mama," sahut Anisa dengan wajahnya penasaran memberikan rantang tersebut.
" Makasih ya mama kamu selalu saja repot-repot," sahut Anisa.
" Tidak apa-apa Tante, mama senang kok melihatnya," sahut Anisa dengan tersenyum.
" Apa Anisa memang adalah kekasihnya Rendy. Dia sangat dekat dengan keluarga Rendy," batin Rania yang ternyata juga sangat penasaran.
" Hmmm, ya sudah, ayo kembali kita sarapan bersama," sahut Ratih. Anisa mengangguk dan mengambil tempat duduk di samping Rendy yang terlihat santai dengan sarapannya. Namun Anisa terus melihat Rania dengan keberadaan wanita itu di rumahnya.
__ADS_1
" Bukannya dia sebentar lagi akan menikah. Lalu kenapa ada di rumah ini. Malah terlihat sok akrab lagi," batin Anisa dengan sewot melihat kedatangan Rania yang membuat matanya sakit.
Bersambung