Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 245 Beraksi.


__ADS_3

Setelah acara yang sederhana itu selesai mereka kembali kekamar masing-masing. Rania dan Rendy pun sudah memasuki kamar untuk beristirahat. Di mana Rendy yang sudah berada di atas tempat tidur dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Tadinya Rendy sedang membaca buku, ketika istrinya datang bukunya di letakkan di atas nakas.


Rania juga langsung memeluk erat pinggang Rendy dengan bermanja pada Rendy. Rendy tersenyum dengan mencium pucuk kepala Rania.


" Anisa tadi cerita kepadaku," ucap Rania.


" Cerita apa?" tanya Rendy heran.


" Masalah dia dan Agam," jawab Rania.


" Memang kenapa dia dan Agam?" tanya Rendy lagi.


" Mereka terlibat konflik kecil dan itu menjadikannya bahan pikiran. Dia juga tidak malu, tidak segan bercerita kepadaku dan ya sudah aku langsung memberikannya solusi," ucap Rania.


" Hmmmm, begitu rupanya. Kira-kira solusi apa yang berikan istriku. Apa itu bisa membuat suasana semakin baik. Atau justru sebaliknya?" tanya Rendy.


" Hmmmm, kalau dia mau melakukannya aku rasa akan semakin membaik. Karena aku benar-benar memberi solusi yang pasti berhasil," ucap Rania.


" Baiklah, kita doakan saja yang terbaik untuk mereka. Agam juga dulu pernah menceritakan masalah rumah tangganya kepadaku," sahut Rendy.


" Pernikahan mereka masih baru. Jadi mungkin wajar jika mereka mengalami konflik-konflik. Tapi Alhamdulillahnya mereka terbuka dan mau belajar," ucap Rania.


" Iya sayang kamu benar. Aku juga bisa menilai Agam yang awalnya Agam terlihat biasa dan kurang serius waktu awal-awal menikah dengan Anisa. Namun sekarang aku melihat dia sangat bertanggung jawab," ucap Rendy.


" Sama dengan Anisa. Aku juga melihat awal-awal aku merasa Anisa menikah hanya seperti pelarian saja untuk melupakan perasaannya kepadamu. Tapi sekarang aku melihat dia sepertinya benar-benar sangat fokus pada pernikahannya," sahut Rania.


" Kamu selalu mengatakan jika Anisa memiliki perasaan kepadaku. Aku ingin tau. Apa kamu sebenarnya kamu begitu cemburu pada Anisa?" tanya Rendy melihat wajah istrinya dan Rania mendongak keatas melihat suaminya.


" Kamu cemburu?" tanya Rendy lagi dengan menaikkan 1 alisnya.


" Kalau aku tidak cemburu. Berarti aku tidak sayang," sahut Rania, membuat Rendy tersenyum.


" Aku juga sangat menyukai. Jika istriku cemburu kepadaku," sahut Rendy mencium kembali pucuk kepala Rania.

__ADS_1


" Tapi aku tidak pernah melihatmu cemburu kepadaku," sahut Rania.


" Bagaimana aku mau cemburu. Kamu tidak pernah berbuat apa-apa. Yang kamu tau hanya aku dan dunia ku. Jadi apa lagi yang harus aku cemburukan," sahut Rendy.


" Sayang apa cemburu itu adalah suatu dosa?" tanya Rania. Rendy menggelengkan kepalanya.


" Tidak sayang cemburu bukan suatu dosa karena istri Rasulullah saja cemburu," jawab Rendy. Rania tersenyum mendengarnya dan kembali menenggelamkan kepalanya di bawah leher Rendy.


" Aku sangat beruntung mempunyai suami seperti kamu. Kelak kalau anak kita nanti lahir. Aku akan menceritakan kepada mereka bagaimana ayahnya yang selalu menenangkan hati ibunya," ucap Rania. Mendengar kata anak membuat wajah Rendy yang tadinya tersenyum menjadi datar.


" Mereka harus tau jika ibunya adalah wanita yang beruntung yang mendapatkan banyak cinta dari ayahnya," lanjut Rania lagi dengan wajah Rendy yang tampak tidak bahagia mendengarnya.


" Ya Allah. Maafkan aku jika permintaan istriku sangat bertolak belakang dengan keinginan ku," batin Rendy yang dalam beberapa hari ini terus was-was.


Dengan Rania yang tidak meminum obat pencegah kehamilan membuat Rendy khawatir dan hanya berdoa agar Rania tidak hamil. Sementara Rania berdoa untuk hamil. Doa mereka kali ini benar-benar bertolak belakang.


***********


Lain Rania dan Rendy yang saking bercerita. Ternyata Anisa sedang menjalankan apa yang di katakan Rania. Di mana dia berada di kamar mandi yang sudah siap-siap. Anisa memakai dress putih lengan satu sepahanya dan rambut panjangnya di gerai dan bahkan Anisa sempat tacap dengan memberi gelombang sedikit di bagian bawahnya.


" Aku rasa cukup. Sekarang waktunya untuk beraksi," ucap Anisa menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Setelah itu Anisa langsung keluar dari kamar mandi dengan kepalanya yang terlebih dahulu keluar mengintip Agam sedang apa yang ternyata Agam sedang menutup jendela.


" Ayo Anisa, kamu harus nekat. Ingat kata Rania jangan gengsi. Kamu akan mendapatkan 2 bonus pahala dan juga surga. Jadi lakukanlah," batin Anisa yang berusaha untuk meyakinkan dirinya.


Anisa pun keluar dari kamar dan langsung berjalan perlahan menghampiri Agam yang masih menutup jendela. Di mana Anisa berdiri di belakang Agam dengan dek-dekan. Setelah Agam selesai menutup jendela dan langsung berbalik.


" Aaa!" Agam tersentak kaget dengan keberadaan Anisa yang tiba-tiba di belakangnya yang membuatnya sampai mengelus dada dengan wajah yang masih terkejut.


" Anisa kamu ngagetin aja," sahut Agam dengan suara seraknya yang masih mengatur napasnya.


" Maaf-maaf aku tidak bermaksud mengangetkanmu," sahut Anisa merasa bersalah pada Agam.


" Lagian kamu ngapain sih pakai pakaian seperti itu. Dingin tau. Sudah tau di puncak dingin. Memang nggak kedinginan," ucap Agam geleng-geleng.

__ADS_1


" Hah! dingin katanya. Kayaknya nggak ada di skenario deh. Bukannya seharusnya dia pangling ya dan langsung gitu gairahnya naik," batin Anisa yang terlihat bengong.


" Anisa kok jadi melamun?" tanya Agam heran.


" Tidak kok aku tidak kedinginan," sahut Anisa.


" Hmmm, ya sudah ayo tidur!" ajak Agam yang membuat Anisa kaget.


" Tidur, itu reaksinya. Aku sudah seperti ini dan dia malah ngajak tidur. Agam kamu nggak peka apa," batin Anisa yang kesal dan melihat Agam yang benar-benar menaiki tempat tidur yang tidak peduli dengan Anisa.


Tetapi Anisa tidak menyerah dan dia pun langsung menaiki tempat tidur dan duduk di samping Agam yang membuat Agam heran.


" Ada apa?" tanya Agam dengan heran melihat tingkah Anisa. Anisa langsung meraih tangan Agam dan memegangnya erat.


" Malam ini sangat dingin. Gimana caranya ya supaya hangat," ucap Anisa yang memberi- memberi kode.


" Tadi kamu bilang tidak kedinginan ya sana pakai jaket, nanti masuk angin lo," ucap Agam


" Aku ingin di hangatkan pakai dengan yang lain," ucap Anisa dengan wajah wajahnya yang tersenyum dan terlihat begitu menggoda Agam.


" Ya sudah sini kita istrirahat biar aku pakai selimut!" ucap Agam yang merebahkan dirinya dan sepertinya memang ingin tidur dan Anisa tampak mulai kesal dengan Agam.


" Kamu pura-pura tidak tau atau apa sebenarnya," ucap Anisa yang marah tiba-tiba dengan Agam dan Agam langsung melihat kearah Anisa dengan heran.


" Maksudnya?" tanya Agam.


" Agam aku hanya menolakmu sekali dan itupun karena aku ingin pergi. Tetapi pembalasan kamu seperti ini kepadaku. Kamu bahkan membuatku menjadi wanita yang tidak punya harga diri," ucap Anisa yang marah-marah yang membuat Agam benar-benar heran.


" Anisa apa yang kamu katakan?" tanya Agam


" Argggghhh, sudahlah aku capek bicara denganmu. Kamu benar-benar membuatku kesal," sahut Anisa yang langsung pergi kekamar mandi.


" Anisa!" panggil Agam. Anisa tidak merespon dan hanya merespon dengan suara pintu yang di tutup dengan keras.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2