Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Eps 45 Pernikahan.


__ADS_3

" Kamu ingin menikah dengan Rania apa kamu gila?" sahut Iren yang benar-benar kaget.


Karena besok adalah pernikahannya. Rendy memang harus memberi tahu keluarga besarnya. Termasuk Iren dan juga Gilang yang mereka sekarang sedang berkumpul di rumah Rendy.


Selain Gilang, mama dan papanya ada juga Oma Wati dan Anisa yang pasti sangat hancur mendengar penjelasan Rendy yang membuat hatinya sakit.


" Rendy kenapa kamu menikahi Rania. Padahal kamu tau Rania adalah mantanku. Dia telah memutuskan pernikahan dengan ku. Lalu kenapa kamu tiba-tiba ingin menikah dengannya?" tanya Gilang yang pasti terkejut mendengar keputusan sepupunya itu.


" Benar Rendy apa kata Gilang. Kamu tau Rania wanita seperti apa. Lalu kenapa harus mengorbankan diri untuk menikahinya," sahut Anisa yang penuh kekecewaan.


" Ini sangat tiba-tiba Rendy. Apa yang kamu pikirkan sampai punya ide untuk menikahi Rania," sahut jaya.


" Maaf semuanya. Tapi ini sudah keputusanku dan pernikahan itu besok. Maaf aku membuat kalian terkejut. Tapi aku dan mama juga sudah datang kerumah Rania untuk membahas masalah pernikahan ini," ucap Rendy menegaskan.


" Tapi Rendy, apa kamu yakin akan menikah dengan wanita yang tak lain adalah mantan dari Gilang. Kamu juga tau Rania yang membatalkan pernikahan itu," sahut Oma Wati.


" Aku tau Oma. Tapi memang aku sudah yakin dengan keputusanku," sahut Aditya.


" Kenapa? kenapa harus Rania. Wanita itu adalah pembawa sial. Hanya akan terjadi mala petaka di dalam keluarga ini jika kamu menikahinya. Kamu jangan mencari masalah Aditya. Rania bukan wanita baik-baik. Kamu lihat keluarganya penuh dengan dunia gelap. Seharusnya kita bersyukur dengan batalnya pernikahan Gilang Rania. Keluarga kita masih di lindungi dari keluarga yang tidak beres sepertinya. Jika keluarganya tidak beres anak itu pasti lebih tidak beres," sahut Iren yang menghina Rania walau tidak ada orangnya di depannya.


" Mbak sudah jangan terus mengatai Rania," sahut Ratih dengan geleng-geleng.


" Kenapa. Apa yang aku katakan tidak benar hah! semua yang aku katakan adalah kebenarannya. Itu kenyataannya. Di mana wanita itu memang tidak beres," ucap Ratih menekankan.


" Lagian benar apa kata Iren. Jika dia menggagalkan pernikahan itu secara sepihak. Otomatis saat kalian menikah Rania bisa melakukan hal-hal yang tidak terduga lainnya," sahut Jaya.


" Rendy, Oma memang jelas sangat shock dengan permintaan kamu yang tiba-tiba seperti ini. Karena ini memang jelas tidak masuk akal kamu menikahi wanita yang sudah membuat malu keluarga kita," sahut Oma yang masih tidak percaya dengan keputusan Rendy dan pasti berat hati untuk menerimanya.


" Rendy masih ada waktu untuk menghentikannya. Sebelum kamu benar-benar akan menyesal telah menikah dengan wanita yang tidak benar. Kamu jangan memikirkan lagi. Sebaiknya kamu urungkan niat kamu. Wanita itu tidak baik. Dia tidak benar Rendy," sahut Anisa yang benar-benar masih ingin secercah harapan agar Rendy mengurungkan niat.


" Anisa kamu tidak berhak menilai seseorang dari apa yang kamu lihat. Aku memutuskan untuk menikahi Rania bukan asal-asalan. Aku sudah istikharah dan ini petunjuknya untuk menikah dengannya. Masalah keluarga dan apa yang terjadi lainnya aku menerimanya. Karena pada dasarnya. Aku merasa Rania bukan wanita seperti itu," ucap Rendy menegaskan dengan bijak. Ratih, Zahra dan Nia tersenyum mendengarnya.


" Jadi aku mohon sama kalian semuanya untuk menghormati keputusanku. Karena memang ini keputusan yang kuambil berdasarkan petunjuk yang aku dapatkan. Tidak ada kata untuk membatalkan, mengundurkan atau mengurungkan niat untuk menikahi Rania. Semuanya sudah jelas dan aku akan menikahinya," tegas Rendy lagi.


" Dan aku meminta kepada semua keluarga untuk menghargai keputusanku. Dan untuk menerima Rania di dalam keluarga ini. Karena Rania akan menjadi istriku," ucap Rendy yang menegaskan berkali-kali yang membuat Anisa mendengarnya mengepal tangannya.


" Tapi Rendy...!" sahut Iren.


" Maaf Tante, tapi ini sudah keputusan yang tepat. Aku bukannya tidak ingin mendengarkan kalian. Tetapi satu poin yang juga ingin aku beri tahu. Ini juga untuk menutup malu keluarga kita dan juga Rania karena batalnya pernikahan ini," sahut Rendy.


" Tapi kamu tidak harus mengorbankan diri," sahut Anisa yang masih terus berharap.


" Kenapa sih, kak Anisa ikut-ikutan segala untuk mempengaruhi kak Rendy?" batin Nia yang sedari tadi kesal dan lama-kelamaan muak dengan Anisa.


" Anisa ini sudah keputusan Rendy tidak ada yang berkorban untuk hal ini," sahut Ratih dengan lembut bicara. Namun Anisa mengepal tangannya yang usahanya akan sia-sia selama ini.


" Sekali lagi aku mengatakan. Ini tidak akan berubah sampai kapanpun. Jadi tolong di hargai besok aku akan tetap menikahi Rania. Aku rasa cukup sampai di sini. Terima kasih untuk semuanya atas waktu kalian dan maaf membuat kalian semuanya kaget. Aku permisi dulu," ucap Rendy yang berdiri dan langsung pergi dengan sopan.


" Rendy!" panggil Iren.


" Sial, kenapa Rendy jadi malah menikah dengan Rania. Apa yang di tawarkan Rania sampai Rendy memang harus menikahinya. Semuanya rencanaku berantakan dan Rendy benar-benar kehilangan akal yang main nikah-nikah saja dengan Rania," batin Gilang dengan kesal.


" Semuanya berantakan. Kamu benar-benar keterlaluan Rendy kamu tidak melihatku sama sekali. Perasaan ku selama ini begitu besar kepadamu. Tetapi apa yang kamu lakukan bisa-bisanya kamu menikahi dengan Rania dan tidak mempedulikan ku sama sekali. Kamu sungguh keterlaluan Rendy," batin Anisa yang penuh kekecewaan dengan Rendy.


" Apa kamu tidak menegur Rendy dalam mengambil keputusan ini?" sahut Iren yang masih saja berusaha untuk membatalkan segala keputusan Rendy.

__ADS_1


" Rendy yang menjalani semuanya mbak. Saya tidak punya hak untuk mencegahnya atau melakukan apa-apa. Seperti yang di katakan Rendy di awal tadi. Dia sudah memutuskan untuk menikah dengan Rania setelah berpikir dan mendapat petunjuk dari Allah. Jadi saya sebagi ibunya hanya menyerahkan kepada anak saya yang akan menjalani semuanya," jawab Ratih dengan bijak.


" Tapi di lihat dulu siapa wanitanya jangan asal main asal setuju-setuju saja," sahut Iren dengan kesal.


" Tante, Rania wanita baik. Jadi apa yang salah. Rendy menikahinya karena tau dia wanita baik," sahut Zahra yang geram. Ketika hanya diam saja.


" Baik kamu bilang. Kamu tau dia seperti apa yang sudah main batal pernikahan dengan sepihak," sahut Iren.


" Dia membatalkan pernikahan itu ada alasannya," sahut Iren.


" Apa alasannya hanya karena dia egois dan sok berkuasa," sahut Iren.


" Yang pasti alasannya itu karena besar dan tidak mungkin menikah dengan Gilang. Karen saya juga tidak akan melanjutkan pernikahan. Jika saya tau siapa calon suami saya," tegas Zahra yang tidak bisa menahan kata-katanya.


" Apa maksud kamu," sahut Iren dengan wajah kagetnya mendengar omongan Zahra.


" Apa yang di katakan Zahra. Kenapa dia bicara seperti itu," batin Gilang yang terlihat panik.


" Sudahlah masalah ini jangan di bahas lagi, Zahra sudah," sahut Ratih yang tidak ingin keributan bertambah. " Mbak, keputusan Rendy. Tidak bisa kami ubah, jadi sudah kita sudahi semuanya. Rania akan menjadi keluarga jadi mohon untuk menerimanya seperti kami menerimanya," lanjut Ratih. Iren begitu kesal mendengarnya.


" Itu tidak akan mungkin dan saya tidak akan Sudi menganggap dia keluarga di rumah ini," tegas Iren yang langsung berdiri.


" Ayo kita pergi dari sini," sahut Iren yang langsung pergi. Gilang dan jaya pun berdiri.


" Kami pulang dulu," ucap Jaya pamit dan menyusul istrinya.


" Tante saya pulang dulu," sahut Gilang berpamitan dengan mencium tangan Ratih. Lalu menyusul mama dan papanya. Ratih mengusap pundak Zahra.


" Jangan membahas masalah itu lagi," ucap Ratih. Zahra mengangguk. Padahal dia sudah geram ingin membongkar siapa Gilang sebenarnya. Yang justru jadi permasalah pembatalan pernikahan itu.


" Mama tidak mengerti dengan keputusan Rendy," sahut Oma Wati yang juga pergi.


" Iya Anisa," sahut Ratih. Anisa pun berpamitan dengan kekecewaannya yang penuh.


" Tante kenapa coba cegah aku buat bicara yang sebenarnya," ucap Zahra yang masih kesal.


" Sudahlah Zahra, Jika Rania saja tidak mau memberi tahu orang lain dan menutup aib Rendy. Lalu kenapa kamu harus membongkarnya," ucap Ratih.


" Tetapi tetap aja," sahut Zahra kesal.


" Sudah tenang kan diri kamu. Ayo kita siapkan apa yang perlu di bawa besok," ucap Ratih.


" Ya sudah," sahut Zahra yang mencoba untuk tenang.


" Ayo Nia!" ajak sang mama.


" Iya ma," sahut Nia yang juga langsung berdiri.


***********


Keesokan harinya di mana jelas hari pernikahan Rania dengan Rendy yang seharusnya hari pernikahan Rania dengan Gilang.


Undangan pernikahan memang tidak sempat di sebar. Meski sebagian banyak yang mendengar-dengar pernikahan itu Gilang dan Rania.


Tetapi asisten Rania bisa mengatasinya. Hanya dengan beberapa jam yang di berikan kepadanya. Sang Asisten bisa menyebar undangan dengan nama yang berbeda Rania dan Rendy.

__ADS_1


Rania memang sepenting itu. Mendengar isu pernikahan yang batal. Lokasi pernikahan yang sudah di tetapkan di penuhi wartawan yang ingin mengetahui apakah benar Rania akan batal menikah atau tidak.


Tetapi nyatanya lokasi pernikahan itu sudah di penuhi tamu-tamu baik dari Rania maupun tamu-tamu dari Rendy yang memenuhi lokasi pernikahan yang bersifat outher itu.


Sementara Rania sendiri berdiri di dalam kamar yang khusus untuk tempatnya bersiap. Di mana dia terlihat cantik dengan kebaya putih dengan hiasan di kepalanya seperti singer. Rania yang duduk di depan cermin begitu dek-dekan.


Wajahnya masih di poles makeup oleh 2 orang wanita yang mungkin ahlinya. Rania beberapa kali membuang napasnya kasar kedepan dengan dia memang sungguh begitu dek-dekan, gugup, panik. Semua bercampur aduk menjadi satu.


" Apakah semuanya akan lancar hari ini," batin Rania yang justru tidak percaya diri akan di nikahi. Tangannya mungkin sudah sangat dingin.


" Menikah dengan selingkuhan," tiba-tiba terdengar suara yang Rania langsung melihat dari depan cermin yang tak lain adalah Willo yang berdiri di depan pintu dengan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.


" Kalian keluarlah!" perintah Rania pada dua MUA tersebut. Mereka menundukkan kepala. Lalu langsung keluar dan Rania langsung berdiri untuk melihat kakaknya yang banyak bicara sedari tadi.


" Apa maksud kakak bicara seperti itu?" sahut Rania yang tampak tidak terima di katakan menikah dengan selingkuhan.


" Kenapa?" apa yang aku katakan salah. memang pada kenyataannya. Kamu menikah dengan selingkuhanmu?" ucap Willo.


" Terserah apa yang kakak katakan. Yang jelas aku tidak seperti itu dan aku tidak bisa memaksakan kakak untuk menerima keadaannya, jadi aku harap kakak tidak membuat ulah di pernikahan ku," tegas Rania.


" Hah! kenapa? kamu takut. Kamu takut gagal lagi. Memang itu pantas untukmu," sahut Willo dengan sinis.


" Kalau begitu jangan salahkan aku. Jika orang-orang ku yang aku suruh untuk mengawasi pernikahan ku. Mereka akan mengusir pengacau dan mungkin kakak yang menjadi pengacaunya!" tegas Rania dengan penuh ancaman.


" Apa maksud mu! berani sekali kau mengancamku," ucap Willo langsung kesintingan.


" Aku hanya mengingatkan saja. Jangan sampai kesabaran ku habis," tegas Rania.


" Kau," geram Willo yang ingin mendorong Rania.


" Willo cukup!" gertak sang mama yang datang tiba-tiba, " kamu ini apa-apaan sih," sahut Faridah yang langsung menghampiri Rania.


" Dia yang lah ma, dia ingin mengusir Willo dari sini. Emang nggak ada otaknya," sahut Willo yang terus membela diri dan tidak mau di salahkan.


" Sudah, jangan bicara lagi mama pusing. Ayo Rania kita keluar calon suami kamu sudah datang dan pernikahannya akan di mulai," sahut Faridah yang mengajak Rania. Rania mengangguk dan pergi bersama mamanya meninggalkan Willo yang sendirian yang penuh kesetannan.


" Sial!" geram Willo." kenapa sih mama selalu membelanya. Dia pasti sekarang merasa hebat dengan mama menjadi pawangnya. Apa lagi sekarang dia menikah. Waoo, tambah semakin berkuasa," ucap Willo yang marah-marah sendiri melihat kebahagian adiknya. Namnya juga orang iri pasti tidak akan senang melihat sang adik hidup bahagia.


**********


Langkah Rendy dan keluarnya memang lancar. Rendy dan keluarganya sudah datang tepat waktu. Rendy juga sudah duduk di depan penghulu dengan stelan kemeja putih dan juga jas putih. Dia begitu tampan di hari pernikahannya.


Tamu-tamu juga sudah mengambil tempat duduk di kursi- kursi yang di susun rapi berbaris.


Ratih, Zahra, Oma Wati dan Nia, juga ada di antara para tamu duduk di barisan paling depan dengan memakai pakaian serba putih. Gilang dan keluarganya memang tidak datang ke acara pernikahan itu karena pasti mereka tidak menerima keadaan itu.


Begitu juga dengan Anisa yang mungkin tidak akan sanggup jika melihat Rendy dan Rania menikah.


Rendy yang duduk di di depan penghulu begitu gugup. Mungkin tangannya sudah dingin. Rendy juga lumayan gelisah. Seketika di tengah kegelisahannya. Rendy menoleh ke arah ujung jalan yang ternyata Rania yang berjalan dengan mamanya.


Di mana Rania yang begitu cantik dengan kebaya tersebut yang membuat hati Rendy bergetar. Dia memang tidak mencintai wanita itu. Tetapi mungkin setelah menikah mereka akan membangun cinta.


Rania semakin gugup dari jauh yang mendapat tatapan dari Rendy. Walau tidak memiliki perasaan apa-apa pada Rendy. Tetapi dia begitu bergetar. Mungkin saja belum menikah saja dia mereka sudah mulai merasakan jatuh cinta di awal. Karena terlihat dari tatapan ke-2nya yang begitu tulus.


Bersambung

__ADS_1


...Jangan lupa Vote, like, coment dan jadiin favorite kalian. Mohon dukungannya ya, bantu share dan lainnya....


...Terima kasih....


__ADS_2