
Faridah yang memejamkan matanya dengan tangannya yang jatuh membuat Rania kaget. Yang lainnya juga kaget dan panik.
" Mama," ucap Rania dengan wajah terkejutnya.
" Mama!" panggil Rania lagi.
" Ma," ucap Della mencoba membangunkan mamanya yang terus menangis.
" Rendy apa yang terjadi, kenapa mama tidak bangun?" tanya Rania panik.
" Aku periksa sebentar," ucap Rendy mendekati mertuanya dan Rania bergeser membiarkan Rendy memeriksa mamanya.
Rendy terlihat memeriksa detak jantung mertuanya, membuka kelopak matanya dan memastikan denyut nadinya. Rendy terlihat membuang napasnya perlahan. Rania yang gemetaran melihat ekspresi suaminya.
" Innalilahi wa innailaihi roziun," ucap Rendy. Rania, Della, Willo dan Rudi kaget mendengarnya. Rania menutup mulutnya dengan air matanya yang mengalir. Tidak percaya jika mamanya telah tiada.
" Nggak mungkin," ucap Rania dengan suara napas beratnya.
" Mama," teriak Della yang menggoyang-goyangkan bahu mamanya mencoba membangunkan mamanya. Rudi tampak menyesal dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Dan Willo juga tidak percaya jika mamanya meninggal.
" Tidak mungkin, mama tidak mungkin meninggal, tidak," ucap Willo berteriak tidak terima melihat mamanya yang terbukti kacau.
Rania juga terlihat frustasi dengan kematian mamanya yang sangat cepat, Rendy mendekatinya dan memeluknya. Tangisan Rania semakin pecah merasa di bidang dada suaminya dengan melihat sang mama yang terbujur kaku.
" Mama jangan tinggalin Della, mama," teriak Della yang mana Rudi menenangkan putri bungsunya itu. Dengan memegang ke-2 pundak Della namun Della terus menangis histeris yang tidak terima kematian mamanya.
Ruangan itu di penuhi dengan isak tangis. Memanggil nama sang mama, berteriak histeris mencoba untuk membangunkan mamanya, masih berharap sang mama masih kembali membuka matanya.
*********
Ratih berdiri di ruang tamu yang mengangkat telpon.
" Inalillahi wa innailaihi roziun," lirih Ratih dengan wajah sendu yang ternyata mendapat kabar dari putranya. Jika besannya meninggal dunia.
" Ada apa ma, siapa yang meninggal?" tanya Nia yang melihat kesedihan di wajah mamanya.
" Bu, Faridah, Bu Faridah meninggal dunia," jawab Ratih.
" Innalilahi wa innailaihi roziun," ucap Nia kaget dengan menutup mulutnya yang ternyata ibu dari kakak iparnya telah meninggal dunia yang padahal mereka baru saja menjenguknya. Dan sekarang berencana untuk kembali Kerumah sakit tetapi ternyata besannya itu sudah pergi untuk selamanya. Padahal mereka baru saja saling mengenal. Tetapi tuhan sudah mengambilnya terlebih dahulu.
__ADS_1
" Ya Allah, semoga amal dan ibadah Tante Faridah di terima di sisimu," ucap Nia dengan penuh doa.
" Amin," sahut Ratih. " ya sudah sayang, sekarang kita Kerumah sakit. Kita bantu segala prosesnya," ucap Ratih.
" Iya, ma, Nia telpon kak Zahra dulu," ucap Nia. Ratih mengangguk-anggukkan kepalanya. Rania pun menelpon Zahra.
" Ya Allah, semoga Rania di berikan ketabahan. Semoga dia tabah," batin Ratih berdoa untuk menantunya.
***********
Keluarga Gilang juga menerima berita duka itu dan sekarang Jaya sedang membujuk istrinya agar ikut kepemakaman.
" Mas, ngapain sih, sok-sok-an mau melayat segala. Apa pentingnya coba. Nggak ada kita di sana. Mama dari wanita itu tetap di kubur juga," ucap Iren dengan kesal.
" Ma, tapi kamu adalah kakak ipar dari Ratih. Dan yang meninggal itu adalah besan Ratih, masa iya kamu tidak melihatnya. Apa kata mama nanti," ucap Jaya menjelaskan.
" Masa bodo. Aku sudah mengatakan di awal. Aku tidak menyukai Rania dan Rendy tetap saja menikahinya. Jadi kalau mamanya mati itu bukan urusanku," sahut Iren yang tetap tidak mau pergi untuk melayat.
" Kamu jangan memikirkan siapa Rania dan keluarganya. Tapi kamu melayat karena kemanusiaan. Karena kamu adalah saudara dari Ratih. Jadi jangan berikan hal-hal yang negatif, yang menimbulkan spekulasi yang tidak-tidak," tegas kaya.
" Negatif apanya. Wanita itu yang sejak awal memberikan aura negatif pada keluarga kita. Lagian juga keluarganya tidak benar juga. Jadi percuma kita melayat membaca Yasin dan berdoa sebagainya. Mamanya juga tidak akan masuk surga," ucap Iren yang bicara asal-asalan saking bencinya pada Rania.
" Sudahlah, ma, jangan banyak berpikir, sekarang ayo kita pergi, kita melayat Kerumah duka," bujuk Jaya lagi.
" Baiklah, tapi aku tidak mau masuk. Kita di luar saja. Najis menginjakkan kaki di rumah itu," ucap Iren.
" Iya, terserah kamu, yang penting kita ada di sana. Menunjukkan wajah," ucap Jaya. Iren dengan terpaksa pun menurut dan ternyata Gilang mendengar pembicaraan orang tuanya yang berada jauh dari ruang tamu. Gilang tampaknya juga kaget dengan berita kematian mama dari mantan tunangannya itu.
" Jadi mama Rania meninggal," batin Gilang yang tampak tidak percaya dengan berita kematian itu.
*************
Jasad Faridah di urus dengan baik dari rumah sakit. Sampai ke rumah duka. Rendy yang memang Dokter di rumah sakit di mana sebelumnya Faridah di rawat memang mengurus Faridah dengan baik. Dia yang menjadi orang terdepan menyelesaikan urusan rumah sakit.
Sampai Zenajah Faridah di semayamkan di rumah duka. Para tamu yang datang melayat, baik saudara-saudara, keluarga besar, teman-teman Faridah, Rudi dan juga dari perusahaan Rania yang datang untuk melayat.
Rania tampak terpukul dengan kepergian mamanya, dengan dress putih memanjang dengan pasmina yang menutup sebagian atas kepalanya dia terus menagis dengan terus memeluk sang adik.
Rendy terus ada di sana. Bahkan menjadi imam untuk menyolatkan Zenajah mertuanya. Ya pastilah Rudi tidak bisa menjadi imam dan dengan besar hati serta sebuah kewajiban Rendy mengambil tugas itu.
__ADS_1
Rendy terus mengurus Zenajah sampai membawa ketempat peristirahatan terakhirnya. Di mana Rendy juga turut hadir memasukkan Zenajah Keliang lahat.
Di sana juga, ada Ratih, Nia, Zahra Oma Wati, Iren dan suaminya walau Iren terpaksa ikut kepemakaman dan ada juga Gilang yang hadir di pemakaman yang ikut menyampaikan bela sungkawa.
Bukan hanya Gilang Anisa dan mamanya juga ada di sana. Tetapi menantu Faridah yang satunya yaitu suami Willo tidak terlihat sama sekali yang mungkin bisa saja tidak tau jika mertuanya sudah tiada.
Terdengar suara indah Rendy yang mengumandangkan adzan di dalam kubur yang menyentuh hati yang membuat air mata semakin mengalir deras. Selesai azand acara pemakaman di lanjutkan sampai tanah itu tertutup dengan gundukan dan terpasangnya mesan di sana.
Rania, berjongkok di sampingnya ada Della dan di depan Rania, ada Rudi dan Willo. Mereka menabur bunga di atas pusarah makam itu. Della tidak henti-hentinya menangis terisak-isak.
Ratih yang jongkok di samping Della terus merangkul gadis remaja yang kehilangan seorang ibu itu. Memberi kekuatan kepada Della.
" Mama kenapa cepat sekali perginya, mama kenapa ninggalin Della," ucap Della yang menagis terisak-isak.
" Sabar ya nak, kamu harus sabar, kamu yang kuat. Mama kamu sudah beristirahat dengan tenang," ucap Ratih menguatkan Della. Dan tampaknya Della juga sangat tenang dengan kata-kata Ratih.
Rania juga menagis terisak-isak menabur bunga di atas pusara makam istrinya.
" Maafin Rania, ma. Rania belum sempat memberikan mama kebahagian. Maafkan Rania ma," batin Rania yang terus menangis.
" Maafkan aku Faridah. Aku tidak tau apa yang kamu alami selama ini. Maafkan aku," batin Rudi yang menyesal dengan kematian sang istri.
" Kenapa mama cepat sekali perginya. Kenapa akhir-akhir ini kita selalu bertengkar. Willo belum sempat meminta maaf pada mama," ucap Willo yang pasti juga menangis dengan kepergian mamanya apa lagi mereka suka ribut akhir-akhir ini. Selalu berbeda pendapat.
Sementara Anisa yang berdiri melihat 1 persatu keluarga yang kehilangan itu. Bukan melihat dengan simpatik malah melihat dengan jengkel.
" Keluarga aneh, orang berduka. Bukannya membaca Yasin malah sibuk menangis. Ya seperti itulah kalau tidak tau agama," batin Anisa yang langsung mencap buruk keluarga Rania dari apa yang di lihatnya.
Dia mungkin juga tidak ikhlas datang kerumah itu. Hanya karena menghormati keluarga Rendy makanya dia datang melayat.
" Percuma banyak orang-orang yang datang, kalau ujung-ujungnya langsung masuk neraka," batin Iren yang sepertinya adalah tuhan yang jauh lebih tau kalau Farida akan masuk neraka.
" Rania, sudah ayo kita pulang ini sudah sore," ucap Rendy memegang pundak Rania. Perlahan Rania berdiri dengan tangisannya, Rendy yang tidak tega melihatnya langsung memeluknya dan hal itu membuat kecemburuan di depan Anisa maupun Gilang.
" Memang harus mencari kesempatan untuk peluk-peluk segala," batin Anisa yang tampak sewot.
" Rania, kamu menikah dengan Rendy dengan mudahnya. Apa sebenarnya kalian sudah punya hubungan sebelumnya," batin Gilang yang tampak tidak suka dengan apa yang di lihatnya.
Pemakaman memang sekalian pendekatan 2 hati yang sudah beberapa kali berpelukan dengan penuh ketulusan dan sekalian juga untuk 2 orang panas yang mempunya hati yang buruk.
__ADS_1
Bersambung