
Rendy dan Rania akhirnya memasuki rumah dan di ruang tamu memang terlihat ada beberapa orang di sana termasuk Ratih Sarah, Anisa, Zahra, Elang dan terlihat Pria yang tidak asing bagi Rania dan Rendy yang mana Pria itu adalah Agam dengan ke-2 orang tuanya yang duduk di samping kiri dan juga kanannya.
" Pria itu bukannya yang pernah datang kerumah ini saat pernikahan Zahra dan juga Elang. Jadi dia calon suaminya Anisa," batin Rania yang tidak percaya dengan Anisa benar sungguh-sungguh akan menikah dan itu berati yang benar-benar sudah melupakan suaminya, mengingat cinta Anisa begitu besar pada Rendy.
" Dia kan yang pernah datang kerumah ini," batin Rendy yang ternyata juga mengingat siapa Pria yang bisa di tebak calon suami Anisa.
" Rendy kalian sudah pulang," sahut Ratih menegur ketika melihat pasangan suami istri itu yang telah kembali.
" Ayo kemari, kenapa berdiri di sana," sahut Ratih. Rania dan Rendy sama-sama mengangguk dan akhirnya sama-sama mendatangi ruang tamu dan mengambil tempat duduk.
" Ini Rendy anak pertama saya dan ini istrinya Rania," ucap Ratih memperkenalkan.
" Salam kenal Tante," sahut Rania yang tampak begitu sopan.
" Salam kenal Rania. Kamu cantik sekali," sahut wanita itu dengan ramah.
" Makasih Tante," sahut Rania.
" Saya Rendy," sahut Rendy yang juga memperkenalkan diri dengan sopan kepada ke-2 orang tua Agam.
" Rania, Rendy. Ini orang tua Agam yang tak lain adalah calon suami Anisa. Agam dan Anisa ini ingin menikah secepatnya," jelas Ratih dengan singkat. Rania dan Rendy masih saja terkejut walau sudah di dengarnya beberapa kali.
" Ya Allah sungguhan benar-benar Anisa akan menikah. Akhirnya dia menyadari juga harus menemukan Pria lain. Dia berhak bahagia dan menikah dengan Pria yang mencintainya," batin Rania yang paling bahagia mendengar pernikahan itu.
" Kita pernah bertemu sebelumnya," sahut Agam.
" Iya kamu pernah datang kerumah ini," sahut Rendy.
" Kapan dia datang kerumah ini? tanya Sarah yang tampak heran yang mendengar pernyataan Rendy.
__ADS_1
" Mati. Kenapa juga Agam harus keceplosan. Bagaimana jika mama banyak bertanya lagi. Ya ampun semuanya bisa berabe sudah sukur-sukur tadi semuanya lancar-lancar segala," batin Anisa yang terlihat pusing dan begitu panik.
" Anisa sebenarnya kamu berapa lama sudah berhubungan dengan Agam?" tanya Sarah yang terlihat serius.
" Kita sudah lama kenal Tante dan juga sudah dekat lama," sahut Agam yang menjawab pertanyaan Sarah.
" Berapa lama kalian pacaran?" tanya Sarah dengan mengintimidasi.
" Mah, kenapa jadi bertanya pacaran," sahut Anisa.
" Dia datang kerumah ini dan mama tidak tau berarti kalian sudah pacaran di belakang mama," sahut Sarah terlihat tidak menyukai hal itu.
" Tante jangan salah paham. Aku sama Anisa tidak pacaran sama sekali. Kita kenal tidak sengaja dan hanya dekat tanpa ada pacaran," jelas Agam pada Sarah.
" Benar mah, aku sama Agam tidak pacaran," sahut Anisa yang menegaskan.
" Mbak Sarah kita sangat mengenal Anisa. Dia pasti tau jika pacaran itu tidak baik untuknya dan mereka hanya dekat dan Agam sungguh luar biasa yang sudah yang langsung berniat untuk melamarku Anisa membawa orang tuanya jauh-jauh dari Luar Negri hanya untuk meminang Anisa dari hal kecil itu kita sudah tau seperti apa nak Agam ini," sahut Ratih yang memang selalu bijak dalam berbicara.
" Jadi bagaimana mbak apa lamaran anak kami di terima?" tanya wanita yang tak lain ibu Agam yang membutuhkan kepastian. Lamaran anaknya di terima atau tidak.
" Benar mbak, sebaiknya di jawab keputusan niat baik keluarga Agam ini," sahut Ratih.
" Aku melihat Agam ini Pria baik dan Agam dan Anisa sepertinya memang cocok dan mereka juga menjalankan niat tulus dalam pernikahan. Jadi tidak ada yang salah dengan niat Agam yang ingin melamar Anisa," sahut Rendy yang memberikan saran untuk Sarah.
" Tante jika Anisa ingin menikah. Tante sebaiknya jangan ragu dengan pilihan atau apapun pada Anisa karena Agam adalah pilihannya dan dia pasti tau jika itu pilihan yang baik untuknya," sahut Zahra menambahi.
Anisa dan Agam sama-sama melihat ke arah mamanya berharap mamanya langsung menerima lamaran dari Agam.
" Ayo mah, terima jika tidak aku bisa selesai di sini," batin Anisa yang begitu menunggu-nunggu jawaban mamanya.
__ADS_1
" Aku melihat mamanya Anisa meragukanku. Pantes saja Anisa begitu was-was jika aku ingin kerumahnya," batin Agam yang terus melihat wajah mama Anisa yang ingin mendapatkan kepastian.
" Mah, jawablah Anisa ingin menikah," ucap Anisa pelan yang tidak sabaran dengan menunggu jawaban sang mama.
" Tidak ada yang perlu Tante ragukan saya benar-benar siap menjalani rumah tangga dengan Anisa. Secara materi mental dan sebagainya saya sungguh-sungguh siap," ucap Agam dengan wajahnya yang tampak begitu serius.
" Tumben dia bicara serius seperti itu," batin Anisa yang merasa aneh dengan Agam.
" Baiklah lamaran kamu saya terima," sahut Sarah.
Anisa benar-benar kaget mendengar ucapan mamanya itu.
" Alhamdulillah," sahut semuanya serentak yang merasa bahagia dengan lamaran Agam di terima. Agam yang tidak percaya hal itu tersenyum dan Anisa sampai begitu kagetnya yang benar-benar tidak percaya mamanya menerima lamaran itu langsung.
" Itu artinya saya akan menikah dengan Anisa," sahut Agam.
" Melamar tujuannya untuk menikah. Ya kalau sudah lamarannya di terima berarti ada pernikahan," sahut Sarah dengan ketus.
Agam tersenyum mendengarnya dan melihat ke arah Anisa yang juga sama-sama tersenyum tipis. Tidak tau kenapa Anisa begitu bahagia yang telah di lamar.
" Jadi ini rasanya di lamar. Sungguh ini sangat berbeda," batin Anisa yang tidak percaya jika di dalam hidupnya akan pernah di lamar.
" Alhamdulillah kalau begitu. Berarti kita tinggal membahas pernahkah Agam dan juga Anisa," sahut Ratih.
" Kami tunggu tanggal dari kalian dan kami berharap secepatnya. Karena kami juga harus kembali ke Luar Negri," sahut mama Agam.
" Iya mbak kita akan mengatur secepatnya dan pasti tidak akan menyulitkan bapak dan ibu. Anisa sudah seperti keluarga kami sendiri dan dia tanggung jawab kami. Jadi kami akan melakukan yang terbaik untuknya dan juga Agam calon suaminya," sahut Rendy yang mengambil tanggung jawab untuk hal itu.
" Kalau begitu terima kasih untuk semua kemudahannya," sahut mama Agam.
__ADS_1
" Sama-sama," sahut Rendy yang tersenyum melihat istrinya yang juga terus tersenyum.
Bersambung