Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 232 Saran Rendy.


__ADS_3

Rendy yang menunggu istrinya dan Zahra hanya duduk dengan mengecek handphonenya. Tiba-tiba Agam ada di sana dan langsung menghampiri Rendy.


" Rendy ?" sapa Agam yang membuat Rendy heran.


" Agam!" sahut Rendy yang langsung berdiri.


" Lagi apa di sini?" tanya Agam.


" Oh, lagi nungguin Rania sama Zahra lagi di dalam. Biasa kalau cewek belanja pasti lama," jawab Rendy.


" Oh, begitu rupanya," sahut Agam.


" Kamu sendiri ngapain?" tanya Rendy.


" Tadi ada keperluan," jawab Agam.


" Ohhh, begitu rupanya. Ya sudah kita duduk, kalau kamu tidak sibuk. Kita nggak pernah mengobrol soalnya," sahut Rendy yang langsung mempersilahkan Agam untuk duduk dan Agam langsung menurut saja duduk bersama Rendy.


" Gimana kabar kamu?" tanya Rendy.


" Baik. Cuma ada sedikit masalah dengan Anisa," jawab Agam yang tampaknya ingin sharing dengan Rendy.


" Oh, iya pasti masalah kecillah. Ya pernikahan memang seperti itu. Dan biasa dalam tahap-tahap awal, biasanya belum saling mengenal sifat-sifat masing-masing dan makanya terkadang pertengkaran kecil-kecilan," ucap Rendy yang terlihat begitu bijak.


" Mungkin saja. Mungkin juga karena aku hanya kenal dengan Anisa dan tidak berpacaran juga tidak mengenal lama jadi tidak saling tau dan memutuskan untuk menikah. Sampai kita sama-sama kaget akhirnya," sahut Agam.


" Itu bukan pasti faktornya Agam," sahut Rendy tersenyum. " Aku dan istriku juga tidak pacaran. Kami juga mengenal tidak lama. Istriku bahkan sudah merencanakan pernikahan dengan sepupuku dan ada insiden besar yang membuat pernikahan itu batal. Aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba aku haru sholat istikharah meminta pada Allah untuk menikahi Rania saat itu aku tidak mencintainya. Kami hanya bertemu dulu sekali dan bertemu setelah bertahun-tahun dan hanya biasa saja. Tetapi dengan doa dan keyakinan yang kuat aku berani menikahinya membangun komitmen," jelas Rendy.


" Setelah menikah pun aku tidak jatuh cinta begitu saja. Banyak proses sampai berbulan-bulan. Sampai akhirnya kami saling mencintai dan justru setelah menikah itu malah pendekatan kami kalau kata orang-orang jaman sekarang namanya pedekate. Namun dalam bentuk halal," kelas Ardian pada Agam.


" Ehmmm, maaf Rendy kalau aku menanyakan hal ini. Mungkin agak sedikit aneh dan tidak pantas aku tanyakan. Tetapi aku hanya mendengar pendapatmu saja," ucap Agam yang ragu dalam bertanya.


" Iya katakan ada apa?" sahut Rendy.

__ADS_1


" Kamu bilang dan Rania tidak saling mencintai saat kalian menikah dan bahkan pendekatan setelah kalian menikah. Lalu sebagai laki-laki. Pasti tidak mungkin. Maaf sekali berhubungan dengan Rania walau tidak saling mencintainya," ucap Agam yang membuat Rendy. tertawa kecil.


" Agam dalam pernikahan itu tidak di ukur dengan berapa lama dia berpacaran atau saling mengenal dengan pasangannya. Tapi menikah itu harus mengukur, mental, kesiapan, segala finisial dan yang pasti ilmu dalam pernikahan. Aku pria normal yang tidak mungkin tidak memiliki hasrat itu. Tetapi aku menghargai istriku dan hanya dengan cinta yang sudah ada kami melanjutkan ibadah itu," jelas Rendy dengan kata-kata yang begitu bijak.


" Pantas Anisa begitu iri dengan Rania. Rendy hanya mementingkan perasaan istrinya dan kenyamanan saja," batin Agam yang seolah pikirannya telah di bukanya.


" Jika dalam permasalahan kamu terjadi mis komunikasi. Atau kamu mengakui hubungan kamu dan istrimu tidak baik dan belum ada cinta. Tidak akan rugi Agam bagi kita Pria yang mengejar istri kita sendiri. Tidak akan rugi Agam mencintai istri kita atau membuatnya nyaman bersama kita," ucap Rendy yang memberikan Agam saran.


" Anisa sudah ku anggap seperti adikku sendiri yang itu juga berarti kamu juga adikku. Aku sangat senang, jika kamu menemuiku dan seakan meminta saran padaku yang itu artinya kamu mempercayaiku. Jika ada permasalahan tidak ada salahnya sebagai suami mengalah. Karena itu tidak akan merugikan kita sebagai suami," ucap Rendy yang memberi saran.


" Iya, kamu benar Rendy. Ya aku stres belakangan ini dengan banyaknya masalah dan di tambah pekerjaan. Sekarang aku mengerti. Jika aku harus lebih banyak memahami masalah pernikahan dari pada sibuk mencari kebenaran untuk diri sendiri," ucap Agam yang apa yang di katakan Rendy. sepertinya masuk kedalam otaknya. Rendy hanya mengangguk.


" Hmmm, ya sudah Rendy kalau begitu aku sebaiknya kembali dulu. Makasih ya saran dan masukan kamu. Itu benar-benar sangat berguna untukku," ucap Agam.


" Sama-sama Agam," sahut Rendy.


" Ya sudah kalau begitu. Aku sebaiknya pulang dulunya," ucap Agam pamit.


" Iya hati-hati. Salam ya buat Anisa," ucap Rendy.


" Jika dia memiliki masalah dengan istrinya. Semoga saja masalahnya cepat selesai," batin Rendy yang pasti berdoa yang terbaik.


************


Setelah Zahra dan Rania berbelanja mereka berlanjut dengan makan siang bersama dan sekarang sudah ada Elang yang ikut bergabung dengan makan bersama mereka.


" Tadi aku melihat Agam sama kamu, ngapain dia?" tanya Rania sambil mengunyah makanannya.


" Hanya mengobrol-ngobrol saja. Kebetulan dia melihatku dan ya mengobrol-ngobrol saja," jawab Rendy.


" Anisa ikut?" tanya Zahra.


" Tidak hanya dia sendiri saja," jawab Rendy.

__ADS_1


" Kalian belanjanya sudah selesai atau masih ada lagi yang ingin di belanjakan?" tanya Elang.


" Kalau di tanya masih ada ya pasti banyak lah," sahut Zahra.


" Tapi sekarang sudah cukup dulu. Kasian Zahra pasti kecapean," sahut Rania.


" Ya ampun Rania. Kalau belanja mana ada cerita kecapean," sahut Zahra.


" Iya kamu enak bicara, bayinya di dalam. Pasti capek," sahut Elang yang sensitif.


" Dia yang adanya senang tau," sahut Zahra.


" Senang dari mana," sahut Elang mengusap-usap perut Zahra dan seolah berbicara dengan bayinya.


" Dia mengadu padaku. Dia mengatakan kamu itu keterlaluan," sahut Elang.


" Mana ada dia bicara apa-apa," sahut Zahra. Zahra dan Elang malah ribut kecil. Sementara Rania dan Rendy saling melihat dengan sama-sama tertawa dengan geleng-geleng dengan pasangan yang bertengkar itu.


***********


Rania dan Rendy dengan bergandengan tangan berjalan di pesisir pantai di tempat Favorite mereka berdua yang mana mereka tadi berpisah dari Zahra dan juga Elang. Karena mereka juga ingin berduan walau mereka setiap hari berduaan terus.


" Kamu senang hari ini?" tanya Rendy.


" Mana pernah hatiku menjadi tidak senang semenjak menikah denganmu. Aku sangat bahagia dengan kehidupan kita ber-2. Jadi kalau di tanya senang atau tidak. Jawabannya aku sangat bahagia," ucap Rania. Rendy tersenyum mendengarnya.


" Ya sudah. Kita mau kemana lagi?" tanya Rendy.


" Hmmm, aku kira-kira mau kemana ya. Bagaimana kalau kita naik kapal laut," ucap Rania.


" Tujuannya?" tanya Rendy.


" Ya pokoknya naik aja tanpa tujuan," sahut Rania.

__ADS_1


" Baiklah sayang," sahut Rendy yang mana mungkin menolak permintaan istrinya.


Bersambung


__ADS_2