
Asyifa tetap menunduk dengan ke-2 tangannya yang sama-sama di pegangnya di bawah sana.
" Apa janji Asyifa tadi malam sama ayah. Ayah sudah mengatakan. Jangan kemana-mana. Asyifa sudah janji tidak akan aneh-aneh. Tapi apa lihat apa yang Asyifa lakukan. Asyifa menghilang begitu saja. Membuat orang khawatir. Ini bukan Jakarta Asyifa. Ini negara orang yang besar dan banyak tempat yang tidak kita ketahui. Lalu bagaimana jika ada yang menculik Asyifa. Apa Asyifa tidak memikirkan nenek, Opa yang khawatir sama Asyifa!" Rendy memarahi putrinya itu yang tidak berani bicara lagi.
Namun Asyifa sudah mengeluarkan air mata karena ayahnya begitu marah dengan kelakukan bodohnya.
" Lihat bagaimana paniknya semua orang, dari tadi mencari Asyifa dengan pikiran yang tidak menentu ketakutan dan ini itu. Dan Asyifa pulang dengan kebohongan. Sejak kapan Asyifa belajar bohong apa ayah pernah mengajari Asyifa untuk bohong," lanjut Rendy dengan suaranya yang sedikit keras yang sangat kecewa dengan Asyifa.
" Rendy sudah nak, kasian Asyifa," sahut Ratih merangkul cucunya yang menagis itu.
Rendy meredakan emosinya yang melihat putrinya memang sudah menangis tanpa suara. Dia pun sudah tidak sanggup lagi marah-marah melihat kesedihan putrinya itu.
" Ayah membenci kebohongan. Ayah sangat marah dengan Asyifa yang belajar berbohong dan menutupi sesuatu. Ayah sangat marah dengan Asyifa yang melakukan sesuatu di luar batas yang membuat semua orang khawatir. Ayah benar-benar kecewa dengan tindakan Asyifa. Yang harusnya ada di tempatnya malah pergi tidak jelas. Ingat Asyifa kita kemari untuk ibadah bukan untuk membuang-buang waktu permainan Asyifa," tegas Rendy yang langsung berlalu dari tempatnya.
" Rendy!" panggil Ratih dengan suara pelan.
Ratih langsung memeluk Asyifa.
" Nenek maafin Asyifa. Asyifa tidak bermaksud untuk bohong sama ayah. Maafin Asyifa nenek, Opa, Tante," Asyifa yang merasa bersalah menagis di pelukan Ratih sambil meminta maaf pada keluarga yang begitu mengkhawatirkan nya.
Ratih melepas pelukannya itu dan mengusap air mata cucunya yang ada di depannya itu.
" Jangan di ulangi lagi ya," ucap Ratih mengingatkan. Assyifa menganggukkan kepalanya dengan cepat.
" Ayah sangat sedih dengan Asyifa yang pergi tidak bilang-bilang. Banyak anak yang pintar, tapi walau kita merasa pintar dan bisa kembali. Tetapi tetap tidak boleh pergi tanpa izin. Asti kalau mau apa harus izin dulu," ucap Ratih. Asyifa menganggukkan kepalanya
" Ya sudah masuk kamar, kamu minta maaf sama ayah. Ayah pasti sangat kecewa dengan Asyifa. Ayah pasti sangat takut tadi. Jadi minta maaf sama ayah dan jangan di ulangi lagi," ucap Ratih memberikan masukan pada cucunya itu.
__ADS_1
Asyifa mengangguk dan langsung menyusul ayahnya yang mungkin sekarang sudah berada di kamar. Ratih membuang napasnya perlahan kedepan dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
" Alhamdulillah Asyifa bisa kembali dengan selamat," sahut Rudi yang memang jauh merasa lebih lega. Walau Rendy tadi marah-marah. Wajar Rendy marah-marah sekalian untuk menegur Asyifa biar menyadari jika perbuatannya itu adalah salah dan tidak boleh di ulangi lagi.
" Tapi kenapa Asyifa tiba-tiba mengungkit ibu. Apa Asyifa hanya berhalusinasi saja. Apa dia begitu merindukan kak Rania," batin Nia yang sedari tadi memikirkan hal itu.
" Kasihan Asyifa dia pasti merindukan Rania sampai bisa melangkah sangat jauh. Karena hal itu. Asyifa anak sangat pintar dan wawasannya begitu besar. Jadi logikanya mengantarkannya pada hal yang tidak mungkin terjadi," batin Willo.
" Kita sebaiknya istrirahat," sahut Ratih.
" Iya," sahut Rudi mengangguk dan semuanya langsung bubar kekamar masing-masing.
**********
Asyifa memasuki kamar di mana ayahnya berada. Ketika pintu di buka Rendy duduk di pinggir ranjang dan melihat ke arah pintu di mana putrinya berdiri dengan menangis tersedu-sedu membuat hati Rendy tersentuh.
" Kemari!" Rendy merentangkan tangannya mengajak putrinya untuk mendekatinya dan Asyifa pun berjalan mendekati ayahnya dan memeluk ayahnya. Memeluk ayahnya membuat tangisnya semakin pecah.
" Hiks, Asyifa yang minta maaf sama ayah hiks, Asyifa sudah salah sama ayah, Asyifa jahat sama ayah, Asyifa udah bohong sama ayah, Asyifa bikin ayah kecewa hiks, Asyifa yang minta maaf ayah," dengan menangis tersedu-sedu Asyifa di pelukannya Rendy terus meminta maaf dengan mengakui semua kesalahannya.
" Shutttt, cup-cup,cup," Rendy tidak tega dengan putrinya yang menagis itu. Ini adalah pertama kali Asyifa menangis setelah balita. Ya dulu waktu bayi Asyifa sering menangis.
" Sudah sayang jangan menagis lagi, ayah minta maaf sudah buat Asyifa sedih," ucap Rendy mengusap-usap punggung putrinya itu.
" Asyifa yang minta maaf karena Asyifa buat ayah sedih, maafkan Asyifa ayah," ucap Asyifa lagi.
" Iya, ayah sudah maafkan," sahut Rendy yang melepas pelukannya dari putrinya.
__ADS_1
Rendy mengangkat Asyifa untuk duduk di atas tempat tidur dan mereka saling berhadapan dengan Rendy mengusap air mata yang membanjiri wajah putrinya itu.
" Asyifa jangan mengulangi hal itu lagi, ayah tidak mau," ucap Rendy.
" Asyifa janji Ayah tidak akan mengulanginya lagi. Asyifa tidak akan pergi tanpa minta izin sama ayah, Asyifa janji," ucap Asyifa dengan tangisnya yang sengugukan.
" Ya sudah ayah percaya sama Asyifa. Karena ayah sangat yakin putri ayah ini tidak akan membuat ayahnya marah. Putri ayah ibu sangat baik. Dan manusia tidak luput dari kesalahan. Asyifa pokoknya jangan pernah pergi atau jauh-jauh dari ayah. Apa lagi kita bukan di negara kita. Kita tidak tau apakah ada orang jahat atau tidak. Jangan membuat orang khawatir dan apa yang terjadi di jadikan pembelajaran," ucap Rendy dengan lembut memberikan anaknya itu nasihat.
" Iya ayah," sahut Asyifa.
" Ya sudah jangan menagis lagi. Ayah mau tanya sesuatu sama Asyifa. Boleh?" tanya Rendy. Asyifa menganggukkan kepalanya.
" Apa Asyifa rindu sama ibu?" tanya Rendy dengan suara serak yang menahan air matanya untuk tidak keluar.
" Kenapa harus rindu. Bukannya ibu ada di sini!" jawab Asyifa dengan meletakkan tangannya di dada kanan Rendy.
" Ibu ada di hati ayah, jadi kenapa Asyifa harus rindu," lanjut Asyifa, membuat Rendy tersenyum tipis dengan mencium kening putrinya itu.
" Ya sudah sekarang yang penting Asyifa sudah ada di sini. Sekarang kita istirahat!" ucap Rendy.
" Ayah sudah memaafkan Asyifa?" tanya Asyifa memastikan. Rendy mengangguk.
" Makasih ayah, ternyata ibu benar. Ayah itu baik. Asyifa yang salah. Tetapi ayah yang minta maaf. Makasih ayah," ucap Asyifa yang sudah merasa lebih tenang.
" Ya sudah sekarang kita tidur ya ini sudah malam," ucap Rendy.
" Asyifa mau cuci muka dulu," ucap Asyifa.
__ADS_1
" Ya sudah sana cuci muka," jawab Rendy. Asyifa mengangguk dan langsung turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Bersambung