Tertulis Dalam Imam Ku

Tertulis Dalam Imam Ku
Episode 53 Pasrah dengan semuanya.


__ADS_3

Rendy dan Rania pun akhirnya menuju mesjid. Rendy mengambil air wudhu yang juga Rania melakukannya yang juga di tempat yang berbeda. Rania dan Rendy langsung menunaikan ibadah sholat di masjid yang tidak jauh dari rumah sakit.


Di mana untuk pertama kali. Rendy mengimami Rania menuntun Rania untuk menunaikan ibadah sholat. Rania terus meneteskan air matanya dalam sholatnya.


Di mana Rendy yang menjadi imamnya yang untuk pertama kalinya.


Rania mengikuti gerakan sholat yang sudah lama sekali tidak di lakukannya. Bahkan bukan hitungan Minggu. Atau bulan. Sholat itu sudah sangat lama sampai hitungan tahunan. Makanya air matanya terus mengalir deras.


Dalam sholatnya dia juga melihat kesalahannya. Menyadari banyaknya dosa yang dia lakukan sama sekali. Banyaknya kesalahan yang di lakukannya di sengaja dan bahkan tidak di sengaja nya.


Dia sibuk dengan dunianya sampai akhirnya lupa pada penciptanya. Lupa dengan segala yang di milikinya. Lupa bahwa apa yang di milikinya hanyalah titipan yang bisa di ambil kapanpun. Bahkan apa yang di milikinya tidak ada gunanya.


Rendy memang memberinya kesadaran banyak hal untuk dirinya. Dengan melihat Rendy dan keluarganya yang juga berlimpah materi. Tetapi Rendy dan keluarganya hidup tenang. Karena memang selalu mengingat tuhan.


Dia belajar banyak dari Rendy. Belajar arti kehidupan yang sebenarnya. Di mana hanya bersama Rendy dia mendapatkan kebahagian kedamaian yang sangat berarti.


Rendy menuntuntunya. Sampai akhirnya sholat itu berakhir. Rania dan Rendy sama-sama berdoa mengadakan tangan ke atas memohon ampunan pada Tuhannya.


" Ya Allah, aku tidak pantang untuk memohon kepadamu. Ya Alla ampuni segala dosaku. Ampuni aku yang sudah banyak melakukan kesalahan. Ampuni aku yang penuh dengan dosa ini. Aku mohon ya Allah ampuni aku," ucap Rania di dalam hatinya memohon ampun pada penciptanya.


" Ya Allah, berikan kesembuhan untuk ibu Faridah. Besok adalah operasinya. Hanya engkau yang bisa memberinya kesembuhan. Mengangkat segala penyakitnya. Hanya engkau ya Allah. Aku mohon engkau berikan kesembuhan itu padanya ya Allah," batin Rendy yang meminta kesembuhan untuk ibu mertuanya itu.


" Takdir, maut, jodoh hanya di tanganmu. Hannah sebagai manusia tidak bisa meminta lebih kepadamu. Engkau yang punya kuasa. Hamba hanya seorang Dokter yang di percaya seorang anak untuk menyelamatkan nyawa ibunya. Tetapi engkaulah yang punya punya kuasa untuk semua itu," ucap Rendy di dalam hatinya.


" Aku tidak tau ya Allah. Apakah aku pantas untuk meminta kepadamu dengan dosa ku yang banyak ini. Dia adalah mama ku. Aku sangat menyayanginya. Aku mohon ya Allah berikan keselamatan kepada mama. Aku anak yang tidak berguna. Aku tidak menjadi anak yang baik untuknya. Aku memohon pada ya Allah. Berikan pertolongan mu kepadaku," ucap Rania yang terus meneteskan air mata dengan segala doanya.


" Amin!" Rendy dan Rania sama-sama mengaminkan doa mereka. Dengan mengusap wajah mereka dan Rania langsung tertunduk menangis terisak-isak dengan cucuran air matanya yang tidak hentinya.


Rendy membalikkan tubuhnya dan melihat istrinya menagis terisak-isak. Lalu Rendy mendekati Rania dan langsung memeluknya.


" Percayalah, semuanya akan baik-baik saja," ucap Rendy menguatkan istrinya dan Rania tidak berani berucap lagi hanya menagis senggugukan di dalam pelukan suaminya dengan ke-2 tangannya masih menutup wajahnya.


" Besok adalah operasi ibu Faridah semoga semuanya lancar," batin Rendy dengan penuh doa dan harapan.


**********


Pagi hari kembali tiba. Rania, Della, Rudi berada di depan ruang operasi dengan wajah mereka yang penuh kepanikan. Wajah yang khawatir. Tiba-tiba Ratih, Zahra dan Nia datang kerumah sakit.


Ratih memang memang mendapat kabar dari anaknya. Jika besannya masuk rumah sakit dan sekarang harus di operasi. Dan paginya mereka pun langsung buru-buru Kerumah sakit dan langsung menghampiri Rania.


" Rania," lirih Ratih.


Rania yang duduk langsung berdiri dan memeluk ibu mertuanya itu. Dia sangat hancur dan membutuhkan orang untuk memberinya kekuatan.


" Tenang nak, mama kamu tidak akan apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu harus tenang kamu harus kuat," ucap Ratih menenangkan menantunya.


" Rania, takut ma, Rania takut terjadi sesuatu pada mama," ucap Rania yang menangis di pelukan mertuanya itu.

__ADS_1


" Tidak akan terjadi apa-apa. Kamu harus serahkan pada Allah. Karena apapun hasilnya itu yang terbaik," ucap Ratih yang terus memberikan Rania pengarahan.


Zahra temannya mengusap punggung Rania yang juga ikut memberikan sahabatnya kekuatan agar temannya tabah dalam menghadapi cobaan itu. Sementara Willo melihat hal itu menatap dengan sinis. Ada saja yang membuatnya tidak suka.


" Sebenarnya orang tuanya siapa. Bisa-bisanya dia memeluk orang lain. Jangan-jangan keluarga selingkuhannya itu juga ikut-ikutan untuk mempengaruhi Rania. Aku sih yakin, dasar terlalu banyak drama," batin Willo yang masih sempat-sempatnya syirik dengan orang lain di tengah-tengah mamanya yang masih operasi di dalam sana.


Rendy dan beberapa Dokter yang juga suster memang sedang menangani Faridah. Mereka secepatnya mengambil tindakan untuk mengoperasi Faridah.


Rendy berusaha di dalam sana dengan tim Dokter lainnya. Sementara diluar juga panik menunggu hasilnya dengan doa dan harapan yang mereka inginkan untuk kesembuhan Faridah.


Della yang sekarang sedang di peluk oleh Rania. Rania sebagai kakak memang akan menguatkan adiknya. Della bahkan tidak mau di peluk Rudi. Karena dia masih menganggap Rudi yang sudah membuat mamanya masuk rumah sakit sampai dan sekarang sedang berjuang di meja operasi.


***********


Operasi sudah selesai di laksanakan. Terdapat benjolan pada paru-paru itu sudah di tangani. Tetapi operasi itu tidak membuat Faridah sadar. Faridah masih tetap tidak sadarkan diri.


Rania bahkan sudah pasrah dengan apapun nanti kondisi mamanya. Setelah berdoa. Di memang menjadi wanita yang lumayan kuat dan belajar untuk ikhlas dengan segala apa yang terjadi.


Rania yang duduk di luar, untuk memenangkan dirinya. Sementara di dalam. Ada Della, Willo dan papanya. Sementara keluarga Rendy pulang untuk berganti pakaian sebentar. Dan Rendy sendiri menangani pasien lain.


Willo keluar dari ruang perawatan mamanya dan melihat Rania yang duduk. Willo melangkah mendekati Rania dengan tangannya di lipat di dadanya.


" Ini semua itu gara-gara kamu," ucap Willo yang mencari gara-gara kembali dengan Rania dan Rania langsung melihatnya.


" Kakak masih aja menyalahkan aku. Apa kakak tidak sadar jika semua ini karena ulah kakak," ucap Rania.


" Kalau begitu akan ada terjadi lagi. Aku bukan hanya akan memblokir kartu kredit itu. Tetapi aku juga akan menendang kakak keluar dari rumah ku," tegas Rania to the point membuat Willo melotot mendengarnya.


" Apa maksud kamu. Kamu mau mengusirku," sahut Willo dengan penuh emosi.


" Iya. Aku bukan hanya mengusir kakak. Rumah yang kakak tempati dulu bersama suamimu. Juga akan aku ambil. Karena kesabaran ku sudah habis. Kakak tidak bisa di kasih kelonggaran lagi," ucap Rania menegaskan.


" Kurang ajar kamu. Kamu pikir kamu bisa melakukannya," ucap Willo.


" Aku bisa melakukannya dan kakak hanya tinggal menunggu saja," ucap Rania menegaskan.


" Kau," Willo yang geram ingin melangkah dan ingin melayangkan tangannya pada Rania.


" Cukup!" sahut Rendy yang tiba-tiba datang. Dan Rendy langsung menghampiri istrinya.


" Jangan membuat kegaduhan di rumah sakit. Itu tidak ada gunanya," ucap Rendy.


" Istri kamu yang duluan," ucap Willo.


" Ayo Rania, kamu makan dulu," ucap Rendy yang tampaknya tidak peduli dengan Willo yang bicara. Rania mengangguk dan langsung mengikuti Rendy. Mereka tidak peduli dengan Willo.


" Ishhhh, sial, dia pikir dia sudah sangat hebat. Selalu menegurku. Apa dia pikir dia yang paling hebat apa," desis Willo yang kepanasan dengan Rendy yang seakan pasang badan untuk Rania.

__ADS_1


**************


Rania dan Rendy pun akhirnya makan siang di salah satu Restaurant yang tidak jauh dari rumah sakit. Rendy melihat Rania tidak memakan apa yang di pesannya dan bahkan lesu dengan menopang sebelah pipinya dan hanya menatap makanan saja.


" Kamu kenapa tidak makan?" tanya Rendy.


" Aku tidak selera makan?" jawab Rendy.


" Memang kenapa. Kamu memikirkan mama?" tanya Rendy. Rania mengangguk.


" Rania, apa menurut kamu. Kalau kamu tidak makan. Mama kamu akan langsung bangun. Sampai kapan kamu tidak akan makan?" tanya Rendy.


" Tapi aku tidak selera," ucap Rania dengan wajah murungnya.


" Makanlah sedikit. Sedikit saja. Agar perut kamu terisi. Kamu juga bisa sakit kalau kamu tidak makan. Apa kamu mau sakit," ucap Rendy. Rania hanya diam saja.


" Rania, dengarkan aku. Ayo cepat makan!" ucap Rendy membujuk Rania.


Rania menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Lalu Rania mau tidak mau harus makan.


" Jangan suka mendiami makanan itu tidak baik," ucap Rendy.


" Iya," sahut Rania yang dengan pelan mengunyah makanannya. Rendy tersenyum tipis melihat Rania.


" Kamu kenapa senyum?" tanya Rania heran yang menangkap senyum Rendy.


" Tidak apa-apa. Memang salah jika aku tersenyum," sahut Rendy.


" Tidak apa-apa, memang. Hanya saja kau heran," jawab Rania.


" Ya sudah kamu makan lagi. Setelah ini kita akan melihat mama," ucap Rendy.


" Makasih ya Rendy, kamu sudah banyak membantuku," ucap Rania.


" Tidak ada yang perlu di terimah kasihkan. Karena seperti yang aku katakan. Itu adalah kewajiban ku," sahut Rendy dengan tenang.


" Tetapi tetap saja, kamu banyak membantuku," ucap Rania.


" Hmmm, Rania aku boleh meminta sesuatu pada kamu?" tanya Rendy.


" Apa?" tanya Rania heran.


" Hmmm, sekarang mama lagi di rawat di rumah sakit. Alangkah baiknya kamu menemaninya. Jangan bekerja dulu dan yang paling penting jangan ribut dengan kakak mu. Karena itu bisa mempengaruhi kesehatan Bu Faridah," ucap Rendy memberikan pesan pada Rania.


" Iya, aku tau. Aku tidak akan meladeni kak Willo lagi. Demi kesehatan mama," sahut Rania dengan besar hati menuruti kata-kata Rendy. Rendy tersenyum mengangguk.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2