
Setelah dirawat inap dirumah sakit hampir tiga hari Leo kembali bekerja diperusahaan miliknya. Banyak pekerjaan yang tertumpuk dimeja kerjanya selama dia sakit. Leo duduk dikursi dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Dia mengecek semua desain gambar yang telah dikerjakan timnya. Leo sangat teliti dan hati-hati, dia tidak ingin terjadi kesalahan sedikitpun yang akan merugikan nama baik perusahaannya. Dia menanggung nasib ratusan karyawan yang bekerja diperusahaannya. Itu sebabnya Leo tak pernah mengabaikan hal sekecil apapun. Sekretaris Beti masuk ke ruangannya.
"Bos Anda dijadwalkan bertemu Tuan Musa jam 10 pagi dikediamannya"ucap Sekretaris Beti.
"Oke, Sekretaris Beti apa Pak Jidan sudah melihat lokasi lahannya?"tanya Leo.
"Tadi Pak Jidan telpon Bos, Beliau akan melihat lokasi lahannya siang ini. Beliau meminta Bos membawa desain gambarnya sekalian untuk mencocokkan dengan lokasinya"ucap Sekretaris Beti.
"Baiklah, setelah menemui Tuan Musa baru pergi ke lokasi lahan itu"ucap Leo.
"Bos, kemarin saat Anda dirumah sakit, ada telpon dari Predir Kenan, Beliau ingin bertemu dengan Bos"ucap Sekretaris Beti.
"Presdir Kenan?.....kalau tidak salah Beliau pengusaha perhotelan dan pariwisata"ucap Leo.
"Betul Bos"ucap Sekretaris Beti.
"Yasudah nanti saya telpon balik Beliau"ucap Leo.
"Presdir Kenan berpesan untuk menghubunginya lagi setelah Beliau pulang dari luar negeri, Bos" ucap Sekretaris Beti.
"Baiklah kalau itu pesan dari Beliau"ucap Leo.
Sekretaris Beti akhirnya keluar dari ruangan kerja Leo setelah selesai berbicara. Leo kembali mengerjakan pekerjaannya. Dia tak ingin menyia-nyiakan waktunya.
**********
Leo dan Sekretaris Beti pergi menuju ke kediaman Tuan Musa. Mobil milik Leo memasuki pintu gerbang masuk kediaman Tuan Musa, saat masuk ke dalam, kanan dan kiri jalan terlihat hamparan lahan perkebunan sayuran dan buah-buahan serta lahan pertanian. Leo dan Sekretaris Beti yang duduk dikursi belakang mobil, begitu takjub melihat pemandangan itu dari kaca mobil.
"Bos indah sekali, perasaan dari pintu gerbang masuk masih jauh ke kediaman Tuan Musa, entah berapa hektar untuk rumah beserta semua lahan ini. Benar-benar konglomerat sejati"ucap Sekretaris Beti.
"Tuan Musa memang seorang konglomerat tapi Beliau sangat rendah hati, kalau kita tak pernah membaca majalah atau koran bisnis mungkin tidak akan tahu kalau Beliau adalah seorang konglomerat. Karena kesehariannya sangat low profil. Bahkan tak jarang Beliau berbaur dengan masyarakat umum, serta berpenampilan dan bergaul seperti mereka. Beliau tak pernah menyebutkan identitas sebenarnya ataupun menyombongkan kekayaannya"ucap Leo.
"Beda sama saya Bos, punya tas baru aja udah pamer sana-sini sama temen, saudara dan tetangga. Saya jadi malu, orang miskin berlagak kaya sementara orang yang benar-benar kaya berusaha menutupi kekayaannya"ucap Sekretaris Beti.
Leo hanya tersenyum dengan ucapan Sekretaris Beti. Akhirnya mobil milik Leo sampai didepan rumah besar dan megah. Dari depan terlihat seperti sebuah istana putih. Leo dan Sekretaris Beti turun dari mobil.
"Bos besar sekali rumah Tuan Musa, baru kali ini saya datang ke rumah sebesar dan semegah ini" ucap Sekretaris Beti.
Seorang ajudan menghampiri Leo dan Sekretaris Beti.
"Bos Leo ya?"tanya Ajudan itu.
"Benar, saya Leo"ucap Leo.
"Mari Bos Leo saya antar ke dalam"ucap Ajudan itu.
Ajudan itu mengantar Leo dan Sekretaris Beti menuju ke ruang tamu dirumah besar itu. Tuan Musa sudah menunggu mereka. Leo dan Tuan Musa mulai membahas desain gambar taman bunga itu sambil duduk disofa ruang tamu itu. Leo meletakkan desain gambar taman bunga itu dimeja. Dia mulai menerangkan setiap gambar dari bagian-bagian bangunan masjid, taman bunga, air mancur, dan bagian lainnya. Setelah selesai menerangkan desain gambar taman bunga itu, Leo mulai membicarakan hal lain.
"Tuan Musa, ada yang saya ingin bicarakan mengenai bangunan liar ditepi lahan Tuan Musa" ucap Leo.
"Saya sendiri malah tidak tahu kalau ada bangunan liar dilahan itu sebab yang melakukan transaksi jual beli itu anak saya, dia tidak bercerita apapun tentang bangunan liar itu"ucap Tuan Musa.
"Begini Tuan Musa, mereka yang mendirikan bangunan liar itu adalah pemilik tanah yang sah sebelumnya. Mereka ditipu oleh seorang pengusaha yang merupakan pembeli pertama lahan tersebut. Mereka digusur dari tanah mereka sendiri padahal jual beli tanahnya belum dilunasi semuanya. Sebagian dari mereka pulang kampung karena putus asa, sebagian masih bertahan. Mereka yang bertahan mendirikan bangunan liar dilahan itu"ucap Leo.
"Kasihan juga nasib mereka, tega sekali orang itu sampai menipu mereka dan merampas hak milik mereka dengan paksa"ucap Tuan Musa.
"Jika Tuan Musa tidak keberatan, saya ingin membeli sedikit lahan itu untuk tempat tinggal mereka"ucap Leo.
"Begini saja,saya membutuhkan orang-orang untuk mengurus taman bunga itu. Mereka bisa tetap tinggal disitu bahkan saya ingin membangun rumah untuk mereka ditepi taman bunga itu. Jadi mereka bisa tetap tinggal dan bekerja pada saya, sehingga tidak ada yang dirugikan disini"ucap Tuan Musa.
"Tuan Musa memang orang yang baik, saya bangga bisa mengenal Anda"ucap Leo.
Leo senang akhirnya bisa mendapatkan solusi untuk para warga dibangunan liar itu. Selesai bertemu Tuan Musa, Leo dan Sekretaris Beti pergi ke lahan taman bunga itu. Sampai disana keadaan sangat tak kondusif. Pak Jidan menyewa tukang pukul untuk mengusir warga dan menggusur rumah merek secara paksa. Terjadi bentrok antara para warga yang bertahan dibangunan liar itu dengan tukang pukul yang disewa Pak Jidan.
Seorang ibu dan anak kecil ikut menghalangi rumah mereka, tukang pukul itu melakukan pemukulan pada mereka, Leo yang turun dari mobil berlari menuju Ibu dan anak kecil itu. Dia menahan tangan tukang pukul itu.
"Tak sepatutnya seorang laki-laki kekar melakukan pemukulan pada seorang wanita dan anak kecil"ucap Leo sambil menahan tangan tukang pukul itu.
Pak Jidan langsung menghampiri Leo yang sedang menolong Ibu dan anak kecil itu.
"Bos Leo untuk apa Anda harus terlibat dalam hal kecil seperti ini, itu hanya mengotori baju Anda" ucap Pak Jidan.
Saat melihat Pak Jidan mendekat tukang pukul itu menarik lengannya dari tangan Leo yang tadi menahan pukulannya dan menjauh dari Leo dan Pak Jidan.
"Pak Jidan kenapa harus dengan cara seperti ini?"tanya Leo.
"Dunia bisnis itu kejam Bos Leo, jika ingin untung kita harus tega. Siapa yang kuat itu yang bertahan"ucap Pak Jidan.
"Tapi tidak dengan kekerasan seperti ini, mereka semua manusia bukan binatang. Bahkan kita saja tidak pantas menganiaya binatang, apalagi ini manusia. Apa hati nurani Pak Jidan sudah tidak ada"ucap Leo.
__ADS_1
"Bos Leo, aku tidak ingin punya masalah denganmu. Kita sering satu proyek bersama, jadi tolong jangan mempersulit semua ini"ucap Pak Jidan.
"Pak Jidan, saya sudah membicarakan masalah ini dengan Tuan Musa, ada solusi yang tidak akan merugikan kita semua. Jadi tolong akhiri semua ini. Dan mari kita bicara baik-baik"ucap Leo.
"Oke kalau begitu, mundur!"ucap Pak Jidan memerintah tukang pukul itu untuk meninggalkan para warga yang bertahan.
Leo dan Pak Jidan akhirnya bicara empat mata membicarakan solusi dari masalah itu. Setelah itu mereka berkeliling melihat lahan dan mencocokkannya dengan desain gambar taman bunga itu.
"Bos Leo, saya tidak habis pikir Anda mau mengurus hal kecil seperti ini, padahal Anda sendiri sibuk"ucap Pak Jidan.
"Bukannya sebagai manusia kita harus peduli dengan sesama kita, hidup itu seperti roda Pak Jidan, kadang diatas dan kadang dibawah. Mungkin sekarang kita sedang diatas hingga lupa untuk berbagi dan menolong sesama kita. Tapi jika besok kita dibawah baru kita akan merasakan betapa sulitnya hidup ini bahkan hanya untuk sekedar mencari sesuap nasi"ucap Leo.
"Tak banyak pebisnis seperti Anda, saya senang bisa kerjasama dengan Anda, maafkan sikap saya tadi. Saya selalu memikirkan keuntungan dan keuntungan bahkan tak jarang memotong keuntungan orang lain untuk keuntungan saya. Sungguh saya sangat angkuh dan egois"ucap Pak Jidan.
"Pak Jidan setiap orang pernah melakukan kesalahan tapi bagaimana kita memperbaikinya dan tidak mengulanginya lagi"ucap Leo.
Urusannya dengan Pak Jidan dan para warga selesai, Leo dan Sekretaris Beti kembali ke kantor. Leo senang akhirnya setiap masalah bisa diselesaikan dengan baik dan tanpa merugikan siapapun. Dia duduk dikursi belakang mobil sambil tersenyum bahagia, kini tinggal pembangunan taman bunga itu.
**********
Hari sudah sore, Leo sengaja pulang lebih awal. Sepanjang perjalanan menuju rumah Leo membeli berbagai makanan untuk Zara, seperti martabak, sate, bakso, es krim, rujak dan gorengan yang dibelinya dipedagang kaki lima. Leo tahu Zara lagi seneng makan maka dari itu Leo membelikan berbagai macam makanan. Sampai dirumah Zara sudah menunggunya diteras rumahnya. Leo memarkirkan mobilnya lalu turun dan menghampiri Zara.
"Zara sayang kau menungguku dari tadi?"tanya Leo.
"Aku sangat rindu padamu Leo, entah kenapa tidak sabar ingin segera bertemu denganmu" ucap Zara.
"Mungkin Dede bayinya rindu sama Papanya ya"ucap Leo lansung berlutut didepan perut Zara.
Leo terus menciumi perut Zara secara perlahan.
"Leo kau sudah menciumnya lebih dari sepuluh kali"ucap Zara.
"Habis Leo kangen sama Dede bayi"ucap Leo.
"Leo bawa apa? baunya harum, Zara jadi laper" ucap Zara.
Leo langsung berdiri dan menunjukkan plastik bawaannya pada Zara.
"Ini semua untukmu Zara, kau pasti suka"ucap Leo.
"Sepertinya enak, ayo masuk Zara jadi lapar mencium baunya"ucap Zara tak sabar ingin memakan makanan yang dibawa Leo.
"Zara sayang, kau tidak terlihat lemas malah terlihat energik"ucap Leo.
"Yang penting Zara harus makan banyak, rasanya perut ini sering lapar dan ingin makan ini itu"ucap Zara.
"Akhir-akhir ini Zara juga suka nonton film Korea romantis, jangan-jangan anak kita cewek"ucap Leo.
"Tapi Zara akhir-akhir ini juga suka nonton sepak bola, Zara rasa anak kita cowok"ucap Zara.
"Yang penting Zara dan anak kita sehat itu yang Leo harapkan setiap hari"ucap Leo.
"Leo nanti malam beli sate kikilnya Pak Idul ya" ucap Zara.
"Siap Bos"ucap Leo sambil memberi hormat.
Zara tersenyum mendengar ucapan Leo. Dia senang melihat Leo begitu perhatian padanya dan bayi yang dikandungnya.
**********
Malam harinya Leo dan Zara menonton film Korea romantis. Sambil makan popcorn dan minum susu Ibu hamil yang dibuatkan Leo, Zara terlihat serius memperhatikan film itu.
"Leo, Zara jadi bingung pilih cowok yang mana, ganteng semua"ucap Zara.
"Zara pilih Leo aja ya, jangan pilih dia. Leo juga gak kalah gantengnya dari cowok itu"ucap Leo.
"Leo memang ganteng tapi maksud Zara yang mau dipilih cewek itu, bikin Zara gregetan dan dilema. Semua cowoknya perfect dan perhatian walau ada yang satu itu agak kasar dan cuek"ucap Zara.
"Oh, yang kasar dan cuek biasanya main leader nya, lihat aja nanti pasti endingnya sama cowok yang kasar dan cuek"ucap Leo.
"Leo coba peragakan percakapannya, Zara pengen denger kalau Leo jadi cowok itu"ucap Zara.
"Semenjak hamil Zara jadi Korean gini, pasti gara-gara ketempelan Bi Surti nih"ucap Leo dalam hatinya.
"Kamu, cewek cupu ngapain disitu"ucap Leo memperagakan adegan difilm itu.
"Lagi....."ucap Zara.
"Beraninya masuk kamarku, lihat saja akan ku buat kau menyesalinya"ucap Leo.
__ADS_1
"Leo aktingmu bagus"ucap Zara.
"Dulukan Leo pernah ikut casting, Zara masih ingatkan"ucap Leo.
"Iya ya, sudah lama sejak saat itu, Leo beliin sate kikilnya Pak Idul"ucap Zara.
Leo mengangguk lalu keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuruni tangga menuju pintu keluar.
Leo keluar dari pagar rumahnya berdiri didekat pohon depan jalan menunggu sate kikil Pak Idul. Tak lama sate kikil Pak Idul lewat dengan suara khasnya.
"Te.....sate......sate kikil....."ucap Pak Idul.
"Bang sate"ucap Leo.
"Aduh kok bulu kuduk merinding, udah malam lagi jangan-jangan tadi suara hantu pohon ceri yang tumbang"ucap Pak Idul secepatnya meninggalkan tempat itu.
"Bang sate satu bungkus"ucap Leo sambil mengejar Pak Idul.
"Perasaanku semakin gak enak, hari ini Jumat Kliwon, biasanya hantu jalan-jalan ke Mall"ucap Pak Idul.
"Bang tunggu aku mau beli"ucap Leo terus berjalan mengejar Pak Idul.
"Mau nengok kebelakang takut, tar tenyata hantu gendruwo makan sate kikil gimana, bisa rugi. Untung gak seberapa modal melayang gak mau balik lagi"ucap Pak Idul terus berjalan dengan cepat.
"Bang jangan kabur, tunggu"ucap Leo.
"Hantunya agresif, ini pasti hantu kurang terkenal, mau naik daun jadi ngejar-ngejar tukang sate biar terkenal kaya sunder bolong"ucap Pak Idul.
Leo cukup kelelahan berjalan mengejar tukang sate kikil.
"Aduh.....,tukang sate kikil itu kenapa semakin dipanggil semakin menjauh"ucap Leo.
Leo tidak menyerah demi Zara yang sedang ngidam sate kikil, dia harus bisa mendapatkannya.
"Bang hujan duit tuh"ucap Leo.
"Mana hujan duit, lumayan buat bayar kontrakkan yang nunggak tiga bulan"ucap Pak Idul sambil menengok kebelakang.
"Memang ya duit itu hal yang paling disukai siapa aja, dari tadi dipanggil gak nengok, giliran bilang hujan duit aja nengok"ucap Leo dalam hatinya.
"Bang saya mau beli sate kikil"ucap Leo sambil mendekati Pak Idul.
"Bilang dong dari tadi, sayakan gak perlu berpikir terlalu imajinatif, berhalusinasi berlebihan membuat saya jadi gak bisa fokus bikin sate kikil yang enak"ucap Pak Idul.
"Maaf, Bang beli sate kikilnya satu bungkus ya"ucap Leo.
"Satu bungkus isi berapa?"tanya Pak Idul.
"Isi tiga puluh tusuk deh"ucap Leo.
"Memang beli banyak gini buat dimakan sendiri?" tanya Pak Idul.
"Buat saya dan istri saya yang sedang hamil Bang"ucap Leo.
Leo menunggu sate kikil itu sambil mengobrol dengan Pak Idul sampai selesai. Setelah itu Leo membayar dan pulang ke rumahnya. Pak Idul kembali berkeliling dijalan itu.
"Suudzon itu tidak baik, nanti kalau ada yang manggil lagi harus dijawab"ucap Pak Idul.
Tak lama Pak Idul berjalan ada yang memanggilnya.
"Bang sate....."ucap sesosok berbaju putih.
"Wah malam ini memang mujur, banyak yang beli"ucap Pak Idul lalu menengok ke belakang.
Sesosok berbaju putih berdiri didekat pohon kedondong menatapnya.
"Nah Lo, ini mah hentong beneran, kabur aja tapi kaki kok kaku gini gak bisa jalan, habis deh dicium hantu"ucap Pak Idul.
"Ka....bur.........."ucap Pak Idul.
Pak Idul lari terbirit-birit sambil membawa gerobaknya. Dua orang yang sedang ronda itu mulai membicarakan Pak Idul.
"Lo sih Tedi pakai selimutan selimut putih segala jadi dikira hantukan padahal lagi ronda"ucap Norman.
"Habis sarung gue diloakin sama adik gue buat dituker ciki"ucap Tedi.
"Sarung gue yang satunya malah buat bikin tenda-tendaan sama anak gue dan temen mainnya"ucap Norman.
Jangan berpikir buruk dulu terhadap sesuatu, terkadang itu ternyata hal yang baik untuk kita. Tapi jangan terlalu percaya diri nanti saat gagal kita akan kecewa.
__ADS_1