Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 25


__ADS_3

"Aku duduk sama Aara," ucap Axel. Dia ingin duduk denganku. Menatap Ami Dan Dodo dengan tatapan tajam.


"Tunggu ganteng, gimana kalau kita duduk bersama, serasi tuh," ujar Ami.


"Gak," sahut Axel.


"Kalau gitu duduk sama aku, biar F4 kita, ketularan tenar," ucap Dodo. Berharap Axel mau jadi anggota geng kita. Bisa tenar mendadak yang kita kalau ada Axel di dalamnya. Maklum nggak ada yang pintar diantara kita berempat. Axel akan membawa perubahan pada geng kita.


"Ngarep, mana ada F4 jarang gosok gigi, pingsan semua fansnya," ujar Ami.


"Axel aku sudah lama duduk dengan Ami, lebih baik kau duduk bersama Dodo," saranku.


Axel melihat ke meja Dodo. Kebetulan Dodo memang duduk sendiri. Axel dengan berat hati menaruh tasnya di meja Dodo. Meskipun dia nggak ingin duduk dengan duduk nya


"Alhamdulillah, mendadak femes nih." Dodo senang banget bisa duduk sama Axel. Bayangan ketenaran dan ditimpukin fans sama bunga dan permen muncul dipikirannya, belum lagi cewek-cewek yang pada minta foto dan tanda tangan.


"Bro, air liur lo banjir nih," tegur Axel yang melihat air liur Dodo membanjir sampai mengalir di atas meja.


Plaaak ...


Ami mengeluarkan jurus kepakan merak membangunkan musang tidur.


"Aw ..., lo ganggu aja, lagi bayangin dicium fans juga," ujar Dodo pada Ami.


"Kasihan si ganteng, liur loh kan najis mugallazah tahu," ucap Ami.


"Sembarangan, liur gue itu bak air zam-zam," kata Dodo.


Axel yang jarang tertawa, melihat Ami dan Dodo berdebat sengit tertawa terbahak-bahak. Aku senang melihat Axel senang. Mungkin selama ini dia jaim. Hal semacam ini jarang dilihatnya. Tidak seburuk itu duduk dan bersama kami. Ada hal menarik yang kami miliki dan membuat kami spesial.


Bunyi bel terdengar kencang. Semua siswa masuk kelas. Geng fakboy heran melihat Axel duduk bersama geng absurd. Mereka duduk sambil berbisik satu sama lain.


"Bro itu Bos ngapain di sana?" tanya Grey.


"Kena sihir nih Bos," jawab Blue.


"Aku rasa mereka keturunan penyihir gila, Bos habis dipelet kali," ucap Bruno.


"Apa kita perlu ke Pak Ustad untuk menyadarkan Bos ke jalan yang benar?" tanya Grey.


"Udah bawa ke tukang cuci mobil, biar disteam, kali aja otaknya bersih lagi," jawab Blue.


"Kasih rumput juga sembuh," timpal Bruno.


Mereka terus berbincang membicarakan keanehan Axel yang tiba-tiba nempel dengan geng tak dirindukan dan ingin dihempaskan dari sekolah. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kelas, rambutnya kribo, di pipinya ada tai lalat. Sepertinya aku tahu.


"Selamat pagi anak-anak," sapa Gerry.


"Pagi Pak," sahut semua.


"Perkenalkan nama bapak Gerry Renaldi, guru baru PKn kalian," ucap Gerry.

__ADS_1


Semua siswa menahan senyuman melihat Gerry yang terlihat aneh penampilannya. Mereka menganggap Gerry guru terjelek di antara guru-guru lain.


"Itu Pak Gerry, rambut kaya egg roll, jadi laper," ujar Grey.


"Kira-kira kutu kalau rimbun gitu betah kali ya?" ujar Bruno.


"Apa dia alien nyasar kemari? lupa kali pengkolannya di mana," ucap Blue.


"Kalian bertiga, pagi-pagi udah gosip, maju!" ucap Gerry.


"Kami Pak?" tanya Grey, Blue dan Bruno.


"Iya kalian, makhluk mana lagi yang bigos selain kalian," ujar Gerry.


"Loh sih Grey, bisik-bisik gitu kalau umbar aib," ujar Blue.


"Ya elah, lo malah bibir kaya speaker, udah tahu duduk di depan juga," ujar Grey.


"Udah, ayo maju jangan memalukan geng fakboy," ucap Bruno.


Dengan pede Bruno berjalan duluan, dia berdiri di depan papan tulis. Semua murid mentertawakannya. Begitupun dengan Grey dan Blue yang baru gabung dengannya. Mereka berdiri di depan dengan Bruno berada di tengah diapit Blue dan Grey.


"Grey, lo ketawa kenapa?" tanya Bruno.


"Lo kalau habis setor jangan lupa di tutup lagi napa, tuh promo terus," ucap Grey menunjuk ke rel sleting Bruno. Dengan rasa malu karena ditertawakan teman sekelasnya, Bruno memberanikan diri melihat rel sletingnya.


"Bruno, bulu lo lebat, jarang cukur ya?" tanya Grey.


"Ampun, ini daleman bulu-bulu gue pesen online nih," ujar Bruno.


"Ha ha ha." Teman-teman sekelas mentertawakan Bruno. Segera Gerry menenangkan kita semua. Dia menghampiri Bruno. Berdiri di depan tiga personil geng fakboy.


"Kamu, siapa namamu?" tanya Gerry.


"Bruno Pak," jawab Bruno.


"Itu kamu diendrose atau lagi promo biar banyak yang pakai CD bulu-bulu?" tanya Gerry.


"Awalnya mau live di IG Pak, laku keras nih CD bulu-bulu, gocap dah dapet, mau yang bulu lurus, kriwel-kriwel atau kribo juga bisa," ujar Bruno.


"Ha ha ha." Teman-teman sekelas tertawa.


"Bruno HB bulu ada gak?"


"Kalau bisa bulu tikus bagus tuh."


"Kalau gitu bulu domba bapak gue laku buat bikin CD," ucap Dodo.


"Huh ...," semua bersorak.


Pagi itu dimulai dengan candaan yang lucu. Setiap hari ada saja yang membuat kelas kita ramai. Ini yang membuatku rindu sekolah. Di tempat ini banyak hal terjadi, beragam karena satu kelas terdiri dari 40 kepala, dengan pola pikir yang berbeda, itu membuat ada saja topik yang membuat kita tertawa dan terharu.

__ADS_1


****


Pulang sekolah aku, Ami, dan Dodo jalan di tepi jalan. Axel menghampiri kami. Dia membawa dua buah es krim. Akhir-akhir ini sikapnya manis padaku. Dia langsung memberikan es krim itu padaku.


"Makasih Axel," ucapku. Senengnya dapat es krim coklat dari Axel. Pas banget dengan cuaca yang panas ini. Es kirim emang paling enak dimakan siang hari.


"Loh kok Aara doang yang dikasih es krim honey, ayang gak?" tanya Ami. Dia juga ingin es krim.


"Uuueeekk ... uuuuueekk ...." Dodo sengaja berakting muntah mendengar sebutan honey dan ayang Ami pada Axel.


"Ah lo Dodo sirik, miss kecantikkan didekati honey Axel," ucap Ami.


"Axel kalau udah kakek-kakek baru mikir mau sama lo, buat gantiin popok sama nyebokin," ucap Dodo.


"Ha ha ha." Kami tertawa. Ada aja banyolan Ami dan Dodo. Bikin geng kita makin rame.


"Kalian mau ke mana?" tanya Axel.


"Itu nyari kecebong buat praktek, hewan amphibi yang kami amati besok," ucapku.


"Boleh gak aku satu kelompok dengan kalian, kebetulan aku belum dapat kelompok," ujar Axel.


Ami langsung main peluk Axel. Untung Axel menghindar, malah Dodo yang dipeluk. Cocok deh jadinya.


"Loh kok bau kambing, jigong lagi," ujar Ami.


"Beb, benci jadi cinta ya," ucap Dodo.


"Ampun, kenapa pangeran jadi kodok gini," ucap Ami.


Axel tertawa. Dia merasa senang bisa berteman dengan kami. Ada hal yang unik dan baru untuknya. Dia bisa jadi dirinya sendiri tak perlu sok cool.


"Aara kita nyari kecebongnya di mana? apa di tong sampah ada?" tanya Ami.


"Kecebong itu hidup di gunung api atau laut ya?" tanyaku.


"Di gunung es lah, kecebongkan hewan langka," ucap Dodo.


Axel geleng-geleng. Ternyata kami bertiga sama-sama bodoh. Tak ada satupun yang pinteran dikit.


"Kecobong ada di sawah atau sungai," ucap Axel.


"Tuhkan ayang pinter, makin cinta deh, muuuuaaah," ucap Ami.


"Awas Axel, kiss Ami beracun, diakan uler betina buntet," ucap Dodo.


"Udah Mi, stop merayu, kasihan Axel bisa sakit tiga hari tiga malem kalau kau merayu terus," ucapku.


"Oke-oke," sahut Ami.


Kami terus berjalan, sementara itu Gerry terus mengikuti kami dari belakang. Dia penasaran dengan apa yang akan dilakukan kami berempat. Apalagi dengan adanya Axel diantara kami.

__ADS_1


"Itu Axel kenapa deketin bini gue?" ucap Gerry. langkah kakinya perlahan terus membuntuti kami.


__ADS_2