Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 82


__ADS_3

Aku berjalan di lorong kampus bersama Sweety dan Joko Raharjo. Dua makhluk yang tak ingin dipisahkan. Mereka saling mengisi dan menerima kekurangan satu sama lain. Biasa Sweety tak jauh dari makanan. Kemana pun. Untung Mas Joko sudah membawa seplastik chiki tanpa merk.


"Mas Joko, chikinya kok beda-beda rasanya," ucap Sweety.


"Maklum Dek Sweety, antara yang jamuran dan yang baru ke campur," jawab Joko.


"Jadi yang rasanya aneh ini udah jamuran?" tanya Sweety.


"Iya, tapi jadi double rasa kan?" tanya Joko.


"Iya sih, ada rasa manis dan sepet-sepet gitu, masih enaklah," sahut Sweety.


"Kemarin sih adikku cuma sakit perut doang, lima kali mencret, tapi masih bisa makan chikinya lagi," ucap Joko.


"Bagus dong buat diet, resep kurus dengan jalur pintas," ujar Sweety.


"Boleh juga, nanti aku bawain lagi Dek Sweety," ucap Joko.


"Makasih Mas Joko, sekarung ya," pinta Sweety.


Joko mengangguk. Benar-benar aku kaya remahan debu tak dianggap keduanya. Seakan dunia seember dinaiki berdua. Untung Joko gak mampu memangku Sweety, jadi Sweetylah yang mangku Joko.


"Ha ha ha." Aku tertawa. Tak sanggup membayangkan dua insan ini.


Kami terus berjalan. Membiarkan dua pasangan beda alam itu romantisan. Tiba-tiba aku melihat ada Adelina duduk sendirian memperhatikan Rangga dan Queen yang lagi baca komik berdua. Komik dengan sampul pink itu terlihat menarik dibaca keduanya. Sampai dunia ini bagai milik kedua makhluk pink itu. Aku menghampiri Adelina sedangkan duo makhluk beda alam terus berjalan tak menyadari aku belok. Biarin aja toh mereka lagi di dunia fantasi.


"Del," sapaku.


"Kak Aara," sahut Adelina.


"Kenapa?" tanyaku.


"Gak kenapa-kenapa," sahut Adelina. Dengan wajah murung. Aku yakin pasti ada masalah dengannya. Tak mungkin dia terlihat seperti itu. Aku tahu apa yang mengusik hatinya. Terlihat dari tatapan matanya tadi ke arah Rangga.


"Oya, Putra katanya lagi jomblo, gak jadi mengkhitbah Sarah loh," ucapku. Pasti Adelina akan senang. Dari kemarinkan dia ngebet sama Putra. Tapi ekspresi wajahnya tak terlihat senang saat aku memberitahu tentang putra. Justru dia masih terlihat murung.


"Kita bicara di sana ya," ajakku ke tempat yang jauh lebih sepi.


Adelina mengangguk.


Kami berjalan menuju ke taman. Duduk berdua. Sambil berbincang.


"Adel, kakak lihat kau suka pada Rangga ya?" tanyaku.


"Gak kok Kak," jawab Adelina.


"Jangan menyembunyikan perasaanmu, kakak tahu. Mungkin kemarin kau hanya kagum pada Putra, tapi hatimu untuk Rangga," ujarku.


"Kak Rangga kakakku, jadi aku mengkhawatirkannya saat dekat dengan orang lain," jawab Adelina.


Aku memegang tangan Adelina menyakinkannya. Aku yakin Adelina punya perasaan lebih pada Rangga bukan sebatas saudara.


"Adel, kalau kau begini terus Rangga akan terlanjur mencintai orang lain, kau tak ingin memperjuangkan cintamu?" tanyaku.


Adelina terdiam. Memikirkan ucapanku.


"Adel, aku tahu kau dan Rangga kakak adik, tapi kalian bukan saudara kandung. Kau masih memiliki kesempatan untuk bersamanya," jawabku.


"Aku ragu, Kak Rangga cuma menganggapku adiknya," sahut Adelina.


Aku memeluk Adelina. Aku tahu dia mencintai Rangga cuma belum menyadari sepenuhnya.


"Rangga itu masih polos, dia juga belum pernah jatuh cinta. Itu sebabnya dia begitu. Tapi kalau kau cinta padanya, perjuangkan dia," ucapku.


"Aku ...," jawab Adelina.


"Ketika kita ingin pintar, harus belajarkan. Berarti kau juga harus memperjuangan cintamu, aku akan membantu prosesnya," ujarku.


"Terimakasih Kak Aara," jawab Adelina.


"Semangat," ucapku.


"Ya," sahut Adelina.


Suasana mulai mencair. Adelina terlihat ceria kembali. Kami pun berjalan kembali menuju lorong kampus. Hari ini banyak mata kuliah yang belum selesai.


***


Sore itu Rangga sedang berdandan di cermin mengenakan kemeja pink dengan celana levis berwarna pink juga. Dia akan pergi nonton di bioskop bersama Queen. Tiba-tiba Adelina masuk ke dalam. Menghampiri Rangga. Membawa sebuah pakaian untuknya.


"Kak Rangga kemarin Adel beli sesuatu, nih," ucap Adelina memberikan pakaian itu untuk Rangga.


"Ini untukku?" tanya Rangga sambil menerima pakaian itu.


Adelina mengangguk.


"Warnanya biru, kakak gak suka warna biru," ujar Rangga memperhatikan kemeja biru muda itu.

__ADS_1


"Coba dulu, pasti suka, Adel yang milih sendiri," ucap Adelina.


Rangga tadinya ragu untuk mencoba. Namun karena kasihan pada Adel yang sudah membeli untuknya, dia akan memakainya.


"Adel balik badan dulu, Kak Rangga mau pakai nih," ucap Rangga.


Adelia mengangguk. Berbalik badan. Dia menutup matanya. Senang akhirnya Rangga mau memakai baju darinya. Padahal dia ragu apakah Rangga akan mau atau tidak. Tapi ternyata mau.


Rangga melepas kemeja pink miliknya mengganti dengan kemeja biru muda itu. Kemudian mengenakan levis biru tua yang juga menjadi stelannya yang sudah dibelikan Adelia beberapa bulan lalu.


Rangga bercermin di depan lemari kaca. Memperhatikan penampilan barunya. Dia tersenyum melihat dirinya di cermin.


"Bagus juga ternyata," ujar Rangga memuji penampilannya sendiri. Dia tak pernah membayangkan ternyata bagus juga memakai pakaian selain warna pink.


"Keren ya," puji Rangga kembali.


"Kak udah belum?" tanya Adelina.


"Udah," sahut Rangga.


Adelina berbalik melihat Rangga mengenakan pakaian darinya. Rangga begitu tampan mengenakan pakaian berwarna biru muda itu. Tampak maco dan keren. Pipi Adelina memerah. Sedikit malu namun tak bisa dipungkiri visualis Rangga mirip boy band Korea.


"Masya Allah gantengnya kakakku," puji Adelina.


"Iya dong adik manis, Rangga," ujar Rangga menyombongkan dirinya.


"Adel jadi suka sama Kak Rangga kalau begini," ucap Adelina.


"Beneran?" tanya Rangga.


"Eh, maksud Adel, suka melihat Kak Rangga mengenakan baju itu," koreksi Adelina.


Rangga langsung terdiam. Berharap tadi kata-kata Adelina padanya benar namun tidak.


"Aku pergi dulu ya Del," ucap Rangga.


"Mau ke mana Kak?" tanya Adelina.


"Nonton ke bioskop sama Queen," jawab Rangga.


Adelina terdiam. Dia merasa cemburu saat Rangga akan pergi bersama Queen. Padahal baru saja dia mengikis rasa canggung dengan Rangga dan menjalin kedekatan.


"Kau mau ikut?" tanya Rangga.


"Gak kok Kak, pergi aja," jawab Adelina.


Rangga sempat kecewa dengan jawaban Adelina. Namun dia tak bisa memaksakan kehendaknya.


Adelina mengangguk.


Rangga berjalan melewati Adelina. Meskipun langkahnya berat. Ingin rasanya pergi bersama tapi Adelina menolak. Rangga ke luar dari kamar. Bertemu denganku di depan tangga.


"Rangga tumben pakai baju biru, biasa juga pinky," ujarku.


"Baju dari Adel," jawab Rangga lesu.


"Wah keren, ini baru cowok, Adel pasti suka," ucapku.


Ku kira Rangga akan semangat mendengar ucapanku tapi justru dia terlihat murung. Aku tahu apa yang dirasakan dua insan ini. Saling cinta tapi sulit mengungkapkan. Maklum mereka berdua dulunya adik kakak jadi sulit untuk ditepis.


"Aku pergi dulu," ucap Rangga.


"Ke mana?" tanyaku.


"Nonton ke bioskop sama Queen," jawab Rangga sambil berjalan menuruni tangga.


"Hati-hati di jalan," pekikku.


"Oke," sahut Rangga yang mulai menjauh.


Aku berdiri melihat kepergiaan Rangga. Tiba-tiba Adelina ke luar dari kamar Rangga menghampuriku. Dia merangkulku.


"Kak," sapa Adelina.


Aku menengok ke samping. Melihat Adelina.


"Kok gak ikut?" tanyaku.


Adelina menggeleng.


"Katanya mau memperjuangkan," ucapku.


Adelina terdiam.


"Susul, ikuti ke mana pun. Jangan lepas," ujarku menyamangati Adelina.


Adelina tersenyum. Dia terlihat bersemangat lagi.

__ADS_1


"Ayo, dandan yang cantik, kejar Rangga," ucapku.


Adelina mengangguk. Melepaskan tangannya dari bahuku. Dia meninggalkanku masuk ke dalam kamarnya.


"Semoga mereka bisa bersama," batinku.


***


Rangga mengendarai mobil Ferr4ri menuju ke Mall. Dia memikirkan Adelina sepanjang jalan. Dan baju yang dikenakannya. Selama hidupnya baru kali ini kembali mengenakan pakaian berwarna selain pink dan dia nyaman. Mungkin karena ada sesuatu antara dia dan Adelina.


"Tidak, aku dan Adelina kakak adik," batin Rangga yang mulai galau dengan perasaannya sendiri.


Rangga terus menyetir. Menepis keraguan. Dia merasa perasaannya itu tak pantas pada Adelina yang merupakan adiknya.


Sampai di parkiran Mall Orange, Rangga turun dari mobil. Berjalan menuju lift di basemant naik ke atas. Ke luar di lantai dua. Dia menelpon Queen untuk memastikan di mana posisinya. Ternyata Queen tak jauh dari lift. Rangga menghampirinya.


"Queen," sapa Rangga.


"Rangga," sahut Queen. Dia terkejut dengan penampilannya yang tak biasanya. Rangga mengenakan baju berwarna biru langit.


"Kok pakai baju warna itu, gak seserver jadinya," keluh Queen.


"Aku lagi suka pakai baju ini," sahut Rangga.


"Ganti, kitakan couple Rangga," ucap Queen manja.


"Gak, aku suka ini," sahut Rangga.


Queen kesal. Dia marah pada Rangga.


"Ganti, Queen gak mau jalan sama Rangga," ujar Queen manja mengeluh pada Rangga.


"Aku gak mau Queen, aku suka baju ini," ucap Rangga.


"Iiih ... Rangga, gak sesuai film yang akan ditonton kita," ucap Queen.


"Sorry, tapi kali ini aja biarin aku pakai baju ini," ujar Rangga.


Mereka terus berdebat. Sampai Queen nangis. Merengek minta Rangga ganti bajunya. Akhirnya Rangga tak bisa menolak. Dia setuju.


"Kita belu bajunya di butik itu ya," ucap Queen.


Rangga mengangguk.


Queen mengajak Rangga pergi ke butik langganan Queen. Membeli baju pinky untuk Rangga.


"Ganti ini Rangga," pinta Queen memberikan setelan baju berwarna pink.


Rangga mengangguk. Dia menerima baju berwarna pink itu. Kemudian pergi ke ruang ganti. Rangga melepas baju dari Adelina. Mengenakan baju dari Queen. Meskipun hatinya ragu. Dia merasa baju dari Adelina sudah membuatnya menyatu dengan bajunya. Sulit untuk menggantinya. Namun dia sudah terkanjur setuju pada permintaan Queen.


Rangga ke luar dengan mengenakan baju berwarna pink. Di tangannya masih memegang setelan baju berwarna biru. Tiba-tiba Queen nengambilnya dan membuangnya begitu saja di tong sampah.


"Queen," teriak Rangga.


"Udah, biarin aja, yuk keburu filmnya mulai," ajak Queen menarik tangan Rangga. Mereka pergi dari butik itu. Hati Rangga terasa berat meninggalkan pakaian yang dibuang di tong sampah itu. Rasanya ingin kembali dan mengambilnya. Namun tangannya terus ditarik Queen menjauh dari tempat itu.


Rangga terus berjalan sejajar dengan Queen di lorong lantai dua Mall bersama Queen namun hatinya tak ada di situ. Pikirannya jauh melampau di butik tadi.


Rangga menghentikan langkahnya. Rasa berat terus membayanginya.


"Ada apa Rangga?" tanya Queen.


"Maaf Queen, aku tak bisa, aku suka baju yang tadi," ujar Rangga.


"Rangga, aku gak mau jalan lagi sama kamu kalau gitu," ancam Queen.


Rangga melepas kemeja pink dari Queen. Begitu pun dengan celananya. Tersisa T-shirt dan celana pendek berwarna putih. Dia memberikan kembali setelan baju itu pada Queen.


"Makasih, tapi aku suka baju yang tadi, tak apa jika kita tak jalan lagi," ucap Rangga.


"Rangga," ucap Queen.


Rangga berlari meninggalkan Queen.


"Rangga!" teriak Queen.


Rangga tak menggubris. Berlari menuju butik itu kembali. Mencari tong sampah yang tadi saat Queen membuang baju dari Adelia.


"Mana bajunya?" Rangga mencari baju dari Adelina tapi sudah tak ada. Dia sampai mencari ke semua tempat sampah. Tak peduli orang-orang mentertawakannya. Dia sampai bertanya ke petugas dan karyawan di butik itu.


Ternyata tempat sampahnya sudah dibawa ke bawah. Tempat pengumpulan sampah di Mall. Rangga langsung ke luar dari butik. Berlari, mencari kembali baju itu.


"Lihat orang itu, gila apa?"


"Masa ke Mall pakai baju itu."


"Seksi tahu."

__ADS_1


"Huh."


Banyak orang membicarakan Rangga dan mentertawakannya. Mereka mengira Rangga gila. Padahal dia mengejar waktu dan jarak untuk mendapatkan kembali baju pemberian Adelina.


__ADS_2