Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 22


__ADS_3

Albern terpaksa turun dari mobil. Dia kesal melihatku bersama orang lain. Saat dia hendak mendekat, matanya tercengang ketika melihat Axel yang sedang duduk bersamaku sambil mengajak Bobo berbicara.


"Axel? apa hubungannya Axel dengan Aara? apa Bobo anak mereka?" Albern menduga-duga. dia takut dugaannya benar. Kalau iya tentunya akan punya peluang lebih banyak. Dia tidak mungkin bisa menggantikan Axel.


Albern berdiri dekat tukang ketoprak di samping tukang sate. Dia terus melihat ke arah kami. Perasaannya tak menentu. Campur aduk. Antara ingin menghampiri atau tidak. Berdiam diri membuatnya kesal.


"Baru kali ini aku melihat Axel terlihat happy bersama orang lain," ungkap Albern. Dia hanya bisa mengamati kami. Tak berani mendekat.


Aku dan Axel makan sate kambing. Tak ku sangka Axel suka makan apapun. Ternyata dia tak seperti penampilannya yang sok keren dan cool. Makan di pinggiran begini tidak membuatnya gengsi. Satu hal yang orang tak banyak tahu tentangnya. Dan hanya aku yang tahu. Selesai makan kami berbincang sebentar.


"Lemot kau sudah mengerjakan tugas bahasa Inggris?" tanya Axel. Dia mengingatkan ku tentang tugas di sekolah. Axel tahu betul aku sering lupa.


"Belum, aku gak ngerti, tanya Dodo dan Ami, jawabannya cuma yes or no doang," jawabku. pelajaran bahasa Inggris tak mudah untukku. Jangankan bahasa Inggris, bahasa Indonesia saja aku kesulitan. Biasanya aku nyontek sama Dodo dan Ami. Yang jelas nilaiku tak jauh beda dari mereka.


"Kapan otakmu sedikit nyambung dari arus positif ke negatif?" ujar Axel.


"Makanya ajari aku," pintaku.


Semoga asal mau mengajariku lebih giat lagi. tidak terus-terusan menindasku dan menghinaku. Meskipun demikian dia terkadang baik padaku.


"Bukannya sudah diajarkan Bu Yuyun?" tanya Axel.


"Iya sih, tapi kadang aku bingung, maklum bahasa Inggris dasar saja aku tak paham," ungkapku.


Axel mengusap kepalaku perlahan karena gemas melihatku yang tak mengerti ini itu. Dia sebenarnya kasihan padaku yang belum mengerti juga.


"Oke aku akan menyalurkan sedikit kepintaranku padamu," ujar Axel.


Aku tersenyum. Akhirnya sensei akan menyalurkan jurus pintarnya padaku. Semoga dapat pencerahan langsung. Dari kejauhan Albern sangat kesal sampai menendang gerobak tukang ketoprak.


Dug ...


"Eh Mas, jangan seenaknya nendang gerobak saya." Tukang ketoprak memarahi Albern.


"Diam! aku kesal," ujar Albern.


"Kesel sih kesel, jangan ketoprak saya jadi korban juga."


Albern diam. Tatapan kesalnya ke arah kami. Melihat itu tukang ketoprak tahu kenapa apa Lelaki tampan itu marah-marah, dia langsung tertawa.


"Makanya Mas, kalau suka sama cewek gercep dong, kalah star jadi milik orang."


Albern melihat ke arah tukang ketoprak. Melotot ke arahnya.


"Cewek mah simple, kasih perhatian tiap hari juga luluh."


Pluuk ...


Albern melempar beberapa uang kertas di atas gerobak tukang ketoprak. Seketika wajah tukang ketoprak jadi berseri. Mengambil uang-uang itu dengan senangnya.


"Alhamdulillah, bisa buat mudik, makasih Mas." Tukang ketoprak kesenengan dapat duit dari Albern. Dengan perasaan yang masih kesal Albern pergi meninggalkan tempat itu.


Aku dan Axel pulang ke rumah. Kami belajar sebentar di teras rumah. Axel mengajari beberapa pelajaran untuk besok. Dia begitu sabar mengajariku dari hal yang mudah sampai yang sulit.


Menjelaskan padaku semua materi dan caranya. Mengulanginya kembali agar aku bisa mengerti.


"Lemot kau udah ngerti?" tanya Axel.

__ADS_1


"Paham, semoga menetap gak ngekos doang ilmunya," ucapku.


Tahu sendiri aku bukan tipe orang yang bisa men-save pelajaran di dalam otakku. Kebanyakan numpang lewat doang. Namun kali ini aku harus bisa biar tahun ini lulus.


"Makanya rajin membaca, jangan sekali doang," ujar Axel.


"Oke, mulai hari ini aku akan rajin membaca," jawabku. Benar kata Axel, aku harus rajin membaca dan mengulanginya kembali mengingatnya.


Tak lama Axel pulang. Dia kembali ke rumahnya. Naik ke lantai atas. Masuk ke kamarnya, tiba-tiba Raina memeluknya dari belakang.


"Axel kemana saja?" tanya Raina. Dia kangen pada Axel. Beberapa hari ini Axel terlihat menjauhinya. Jarang di rumah.


"Aku pergi sebentar," jawab Axel.


Axel memegang tangan Raina yang berada di perutnya.


"Kenapa tanganmu kasar? apa Mami menyuruhmu mengerjakan pekerjaan rumah lagi?" tanya Axel.


"Nggak, tapi aku ...," jawab Raina.


Axel berbalik, melihat Raina menundukkan kepalanya.


"Kau kerja di luar sana?" tanya Axel.


Raina mengangguk.


Axel langsung memeluk Raina. Pelukan itu cukup membuat Raina bahagia.


"Kau tak perlu bekerja, kalau butuh uang tinggal bilang," ujar Axel.


"Baiklah, tapi jangan memaksakan diri," kata Axel.


Raina hanya mengangguk dan tersenyum.


Raina menatap wajah Axel. Mendekati wajahnya, hendak menciumnya tapi Axel memalingkan wajahnya.


"Raina aku mau mandi," ujar Axel.


"Axel kita suami istri, aku mulai mencintaimu, bisakah kita seperti selayaknya suami istri?" tanya Raina.


Axel memegang pipi Raina.


"Beri aku waktu untuk bisa mencintaimu," ucap Axel.


"Apa karena pernikahan ini hanya caramu menolongku? jadi kau tidak bisa mencintaiku?" tanya Raina.


"Bukan, mencintai seseorang tak semudah menikahinya, aku membutuhkan waktu untuk itu," ujar Axel.


"Aku akan menunggu," ucap Raina.


Axel mengangguk. Dia melepas tangannya dan berjalan masuk ke toilet. Sementara Raina masih terdiam, berdiri mematung. Teringat saat bertemu Axel di jembatan satu tahun lalu.


Flash Back


Malam itu Raina berdiri di atas jembatan. Keluarganya, tetangga, teman sekolahnya sudah mengolok-oloknya. Parahnya ibu tirinya mengusir Raina dari rumah. Perutnya sudah besar, kehamilannya sudah menginjak 8 bulan. Tak bisa ditutupi lagi. Raina hanya bisa menangis dan tak tahu harus mengadukan nasibnya pada siapa. Di saat seperti itu Axel yang kebetulan melewati jembatan itu melihat Raina. Dia segera menghampirinya.


"Hei kau gila," ucap Axel.

__ADS_1


Raina tetap terpaku dan menangis. Dia tak peduli dengan ucapan Axel.


"Lihat perutmu, pikirkan keselamatanmu dan bayimu, semua pasti ada jalan keluarnya, bunuh diri bukan solusi," ungkap Axel.


"Solusi? masa depanku sudah hancur, solusi apa yang bisa merubah semuanya? aku hanya mendapat hinaan, cibiran dan diusir dari rumahku," ujar Raina.


"Tapi bunuh diri juga bukan solusi yang terbaik, kau hanya menambah penderitaanmu, bukan menguranginya," ucap Axel.


"Aku sudah tidak punya siapapun yang mau menerima kehadiranku dan bayi di perutku, untuk apa aku hidup lagi," kata Raina.


Axel berdiri di samping Raina.


"Kalau begitu ayo melompat bersama," ajak Axel.


"Kau gila? untuk apa kau melakukan ini? kau ingin mati sia-sia?" tanya Raina.


"Lalu apa kau tak mati sia-sia?" tanya Axel.


Raina terdiam. Hanya air mata yang terus menetes di pipinya.


"Ayo turun, aku akan membantu mencari solusinya," ajak Axel


Axel turun ke bawah, berdiri di bawah Raina.


"Turun!" perintah Axel.


Raina menatap Axel yang ada di depannya.


"Ayo turun!" pinta Axel.


Raina mengangguk, dia turun dibantu Axel yang menangkap tubuhnya, kemudian mereka duduk di kursi tak jauh dari jembatan itu. Raina menceritakan semua yang menimpanya pada Axel.


"Aku akan menikahimu," ucap Axel.


"Tapi kau bukan ayah bayi ini, kenapa kau harus ikut menanggung beban ini," ujar Raina.


"Ayo ikut bersamaku, pulang ke rumahku," ujar Axel.


"Axel ...," ucap Raina.


"Sudah malam, kau pasti lelah," ucap Axel.


Axel mengajak Raina pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, Axel mendapatkan kemarahan ibunya.


"Axel kau membawa wanita murahan ini ke dalam rumah? kau membuatku jijik, kau seperti ayahmu yang membawa wanita murahan itu," ujarnya.


Ayah Axel bernama Hans Prawira, anak semata wayang dari Keluarga Prawira. Ibu Axel bernama Jonita Tiana, istri pertama Hans, karena Jonita tak kunjung hamil, Hans terpaksa menikahi Nirmala Larasati. Dengan pernikahannya dengan Nirmala, mereka dikaruniai anak lelaki. Albern merupakan anak semata wayang dari pernikahan keduanya Hans. Selang belasan tahun, Jonita akhirnya hamil. Namun kehamilannya tak mudah. Dia memiliki masalah dengan kandungannya. Selama 9 bulan, dia harus bed rest. Selama itu Hans menemaninya. Kirana tinggal bersama Keluarga Prawira, sedangkan Jonita tinggal di rumah besar yang milik Hans. Setelah sembilan bulan Jonita akhirnya melahirkan Axel. Albern dan Axel saudara seayah beda ibu. Mereka tak pernah akrab dikarenakan tempat tinggal dan kedekatan yang tak pernah dijalin keduanya. Apalagi masalah ibu mereka yang tak pernah akur membuat keduanya jarang bertemu ataupun berbicara satu sama lain.


"Bu jangan samakan aku dan ayah, wanita ini Raina namanya, dia calon istriku," ujar Axel.


"Apa? wanita ini calon istrimu? kau gila?" tanya Jonita.


"Ibu setuju atau tidak, aku akan menikahinya!" tegas Axel.


"Axel!" pekik Jonita.


Sejak saat itu Axel bersikeras menikahi Raina. Dia tak peduli kemarahan ibunya. Dia menikahi Raina tanpa persetujuan ibunya. Sampai terpaksa keluar dari rumah. Axel menikahi Raina usai Raina melahirkan. Mereka hidup bersama di kontrakkan. Axel sampai kerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, untung saja Hans bisa menyakinkan Jonita, dan membawa Axel dan Raina kembali bersama anak yang dilahirkan Raina.

__ADS_1


__ADS_2