Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 7


__ADS_3

Aku penasaran melihat apa yang sedang dilakukan Raina pada Bobo. Baru mau membuka pintu, tiba-tiba pintu ditutup tangan dari belakangku, aku menoleh ke belakang, ternyata itu Axel. Aku tersenyum tanpa dosa. Ngeri juga melihat Axel. Tadikan aku dah diperingatin gak boleh kepo. Masalah deh.


"Bukannya aku sudah bilang jangan ngerayap," ujar Axel.


"Tadi aku mendengar suara Bobo nangis jadi ke sini," sahutku mencari alasan. Repot kalau Axel marah beneran. Aku bakal diapain?


"Ayo belajar, waktuku tak banyak," ajak Axel.


"Tapi Bobo ..." Aku ragu meninggalkan Bobo.


"Raina akan mengurusnya dengan baik, ikut aku atau besok jangan harap aku mengajarimu lagi," ancam Axel.


"Oke Pak guru," ucapku. Tak ada pilihan. Ikuti saja perintah Axel. Toh Raina takkan mengapa-apakan Bobo. Masa Raina berubah jadi monster atau zombie menyantap Bobo, gak mungkin.


Aku berjalan meninggalkan kamar Raina, mengikuti Axel kembali ke balkon. Padahal baru aja aku jadi detektif konan mengungkap kasus atau sesuatu yang janggal, tapi berakhir buyar gara-gara ultimatum Axel. Nurut deh dari pada dia gak mau ngajarin aku, alamat kena omelan dan pidato tiada akhir dari Bu Heni.


Kami duduk di balkon sambil belajar materi matematika. Otakku rasanya dibolak balik, keliling dunia tapi gak nyangkut juga. Pusing lihat tulisan kok kaya dihipnotis.


Axel terus menerangkan dan mencecarku dengan soal-soal yang dibuatnya. Benar-benar sulit. Seandainya aku sepintar Axel tentu tak sulit mengerjakan soal-soal ini. Aku sampai ngantuk dan terdiam. Buntu semua.


"Lemot ngerti gak?" tanya Axel.


"Kira-kira gak bisa apa gak harus pakai rumus, aku inget rumus yang ini, lupa rumus yang itu, tahu cara yang ini, cara yang sebelumnya lupa," ujarku.


"Waktu SD nilai matematikamu berapa?" tanya Axel.


"Deketan ma nol nilaiku," jawabku.


"Memangnya ibumu tak mengajarimu saat kecil?" tanya Axel.


"Ngajarin, cuma otakku aja belum mau ngesave ilmu, pengen kosong biar gak kelebihan beban," ujarku.


"Ya sudah, aku akan mengajarimu matematika dasar dulu dari penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian," ujar Axel.


"Oke," jawabku.


Aku mendengarkan cara Axel mengajariku matematika dasar. Dia memang smart, berhitung tanpa jari, beda denganku ngitung mesti pakai jari, kadang kalau kurang jari Ami dan Dodo ku korbankan, tapi anehnya ngitung duit top cer, mungkin begini yang dinamakan mata duitan, otak boleh kosong tapi soal duit kabel langsung konek, di acc langsung tanpa loading.


"Nah sekarang kerjakan soal pelatihannya!" perintah Axel. Kembali lagi soal pelatihan yang diberikan Axel padaku. Semoga otak ini cemerlang.


"Oke, boleh pinjem jarinya gak?" tanyaku yang masih menggunakan cara jadul untuk menghitung.


"Boleh, bayar 100 ribu ya setiap satu jari," jawab Axel. Dia tak mau meminjamkan jarinya padaku.


"Mahal sekali, seribu aja sayang ngeluarinnya cuma-cuma, apalagi seratus ribu," ucapku.


Aku terpaksa mengerjakannya tanpa bantuan jari tapi Axel memberiku kertas untuk coretan, dia bilang aku harus paham dulu langkahnya baru setelah lihai, dia akan mengajari trik supaya cepat tanpa corat-coret kebanyakan.


"Selesai, akhirnya angka-angka ini bisa ku pecahkan," ujarku bangga. Biarpun gak tahu benar atau tidak tapi aku sudah berusaha. Semoga hasilnya baik. Paling tidak ada yang bener gitu.


Axel melihat kertas jawabanku, dia hanya tertawa terbahak-bahak. Sepertinya sedang mentertawakan kebodohanku.


"Axel kenapa? jawabanku salah?" tanyaku heran. Kenapa Axel malah tertawa. Tak mungkinkan jawabanku benar semua. Ajaib kalau bener tuh.


"Jawabanmu benar tapi tak perlu sampai coretannya kau pindahin juga, pantas lama padahal soalnya cuma lima," jawab Axel. Aku langsung mengerti maksud Axel. Benar juga, aku kelamaan nulis karena mengcopy paste coretannya juga.


"Ini seni namanya, aku gak mau dibilang korupsi angka, kalau ada bukti tentu aman, gak masuk bui," elakku. Cari pembenaran adalah cara untukku lari dari rasa maluku.


"Lemot pantas saja kau gak lulus dua kali, kalau soal mudah begini tak bisa," ujar Axel. Ya dia benar. Soal mudah aja aku kesulitan. Gimana soal sulit. Pantas aku nunggak terus. Masa jadi siswa abadi.

__ADS_1


"Axel kira-kira aku harus gimana? biar tahun ini lulus, malu juga kalau terus abadi di SMA, udah nenek-nenek masih seragam abu, temen-temen udah pada punya cucu, atau sampai jadi hantu masih sekolah SMA," ujarku.


"Ha ha ha." Axel tertawa puas. Melihat muka polos dan otak lemotku, dia merasa senang sekali, kalau gak ketawa takut kentut, tapi kalau berlebihan takut dosa.


"Lemot, sekalian pesan batu nisan terus beli tanah di taman sekolah, biar kalau udah ketuaan, mati tinggal ngubur," ujar Axel.


"Makasih atas wejangannya, sepertinya peramal perlu pensiun karena Axel akan menggantikan," ucapku.


Axel mengusap-usap hijab di kepalaku. Dia yang tadi kesal jadi terhibur. Tak menyangka aku selucu itu di matanya.


"Dasar otak kosong!" pekik Axel.


Kami tertawa bersama. Tak disangka Raina melihat kami dari kejauhan. Sekilas aku meliriknya, dia melihat ke arah Axel. Entah ada hubungan apa di antara mereka, tapi aku tak mungkin tanya pada Axel, dia pasti akan marah lagi. Lagian bukan urusanku, pamali kepo. Tar dicaplok kuda nil gara-gara mengancam daerah kekuasaanya, kuda nilnya itu ya Axel siapa lagi.


Axel berjalan ke dalam rumah, mumpung dia masuk, aku menghampiri Raina yang berdiri di dekat balkon.


"Raina capek gak jagain Bobo?" tanyaku.


"Gak, justru aku seneng," jawabnya. Dia terlihat happy tak merasa capek atau terpaksa jagain Bobo.


"Raina tadi kau ...." Ingin aku mengatakannya tapi tak enak. Rasanya tak pantas juga jika aku tanya soal yang tadi. Raina juga pasti tak nyaman.


"Itu ..., tadi Bobo haus jadi ku beri susu botol," ujar Raina. Aku tak tahu sejelasnya apa yang terjadi. Mungkin hanya prasangka ku saja.


"Oh gitu," ucapku.


"Aara apa Bobo ini anakmu?" tanya Raina. Dia sepertinya ingin tahu kejelasan dariku. Bisa jadi dia curiga karena wajah kami memang tak mirip.


"Bukan, tapi aku sudah menganggapnya anakku," jawabku. Lebih baik jujur. Toh memang benar Bobo bukan anakku.


"Lucu ya Bobo, anteng lagi," ujar Raina.


Setelah semua selesai aku diantar supir pulang ke kosanku bersama Bobo. Senangnya tadi sempat negoisasi dengan para pembantu di rumah Axel. Mereka terkena promo manisku, semua keripikku dibeli, Bobo memang bawa rejeki meskipun sempat cium sana sini gara-gara lucu.


Sore berganti malam. Raina masuk ke dalam kamar. Axel sedang belajar di meja belajarnya.


Raina membawa susu hangat dan meletakkannya di meja.


"Axel apa dia temanmu?" tanya Raina.


"Bukan, dia gadis lemot yang disuruh guru untuk ku ajari, jangan berpikir dia temanku," jawab Axel.


"Anaknya lucu, aku jadi ingat ..." Mata Raina berkaca-kaca mengingat sesuatu yang sudah berlalu.


Axel yang duduk berdiri, memeluk Raina. Dia tahu apa yang sekarang dirasakannya.


"Jangan sedih lagi, ikhlas semua sudah yang terbaik," ujar Axel.


"Iya, makasih Axel," sahut Raina.


Axel mengangguk. Dia melepas pelukannya. Berdiri di depan Raina.


"Tidurlah duluan, nanti aku menyusul," ujar Axel.


"Kau masih belajar?" tanya Raina.


"Ada rumus yang ku suka," jawab Axel.


"Rumus kimia atau fisika?" tanya Raina.

__ADS_1


"Kimia," jawab Axel.


"Kalau gitu ajari aku, kemarin nilaiku kurang," ujar Raina.


Axel mengangguk. Dia mengajari Raina rumus kimia. Mereka belajar bersama kemudian tidur karena kelelahan.


***


Pagi itu aku sudah bangun pagi sekali. Maklum pejuang rejeki recehan sepertiku harus rajin. Jangan malas keburu ayam bangun mematok rejekiku, kata peribahasa. Namun kenyataan tak seindah dongeng putri raja, Bobo pup di saat aku sudah rapi.


"Padahal mau berangkat, udah rapi, tapi Bobo pup," keluhku.


Begini nasib jadi ibu, saat makan anak rewel, pup, minta susu, itu pun terjadi saat aku ingin tidur. Wajar itulah pengorbanan jadi ibu, tak mudah. Makanya surga di bawah telapak kaki ibu, netizen yang budiman biasa tak sewot soal yang satu ini. Siapa yang tak tahu perjuangan ibu dari blendung sampai brojol, plus merawat kini hingga dedengkot. Berapa banyak keringat untuk mengantarkan kita ke titik sekarang, jangan deh durhaka pada ibu.


Aku mengganti popok Bobo, baru dibuka si kuning bercampur coklat benyek, ditambah lengket, belum baunya juga meramaikan suasana pagi yang udah mepet, jam beker aja manggil terus, buruan berangkat, tapi yah cuuuur, pancuran kena bajuku.


"Bobo mancur ya, Momi jadi basah, mana gak punya seragam lain lagi," ucapku.


Lupakan keluh kesah tak akan menyelesaikan masalah. Segera ku eksekusi Bobo, ganti popok dan ku bersihkan bajuku meski jadi basah kuyup. Gak masalah yang penting gak bau kencing.


Setelah ku selesaikan tugas negara, ku langkahkan kakiku keluar kosanku. Tak lupa menyapa tetangga kosan. Seperti biasa semua orang juga star beraktifitas. Aku melewati jalur yang tak biasa, jalan pintas lebih cepat melewati kebun kosong, kebun tua yang dianggap angker karena rumah besar yang terbengkalai, kesan mistis terlihat dari luar, musik seram diputar di pos ronda bikin tambah serem. baju bergantungan dijemuran gak diangkat, konon katanya itu milik sang pemilik rumah yang menghilang entah kemana, suara ngak ngik terdengar seperti pintu dan jendela yang buka tutup. Pemandangan yang benar-benar menyeramkan, tapi kok duo bapak dan ibu sedang komat-kamit di bawah pohon besar dekat rumah kosong itu. Jiwa kepoku meronta, langsung meluncur ke TKP.


"Orang-orang itu pasti minta penglaris atau obat rematik?" pikirku masih loading.


Sudah lupakan otakku yang masih searching, lebih baik ke semak-semak buat nonton drakor horor. Aku berjongkok di semak-semak yang tak jauh dari pohon besar. Ku dengarkan pembicaraan mereka menggunakan telepatiku.


"Yang Mulia saya ingin cantik, tapi gak usah di operasi, ku mohon kabulkan."


Wah seru kalau aku ikut nimbrung. Lumayan komedi di pagi hari, siapa suruh percaya yang musyrik gitu.


"Ho ho ho, maskeran tai sapi aja Mbak paten kali."


"Oh gitu ya Yang Mulia."


Eh dia naruh duit dan makanan segala, sayang tuh. Sepertinya episode berlanjut nih, ada pembayaran sebagai pemain film horor.


"Yang mulia saya ingin suami saya setia."


"Ho ho ho, ibu tampil cantik aja jangan kaya emak-emak lagi banyak cicilan, pasti suami males ngelihatnya, ingat! pelakor semakin di depan, bahkan pasang iklan," ujarku.


"Begitu ya."


Lah kok dia naruh ayam idup segala plus telor. Lumayan buat diingkung dan di dadar.


"Yang Mulia saya mau punya sawah banyak gimana ya?"


"Ho ho ho, ya kerjalah Pak! masa ngutang tar ditagih rentenir bingung, jangan ngarepin warisan gak berkah, yang ada sengketa sampai pengadilan, ujung-ujungnya dihujat netizen yang budiman," ucapku.


"Kerja keras ya jadinya."


Wah yang ini petani makmur, kacang panjang segala ditaruh.


"Yang Mulia saya pengen punya dua istri gimana ya?"


"Ho ho ho, susah pak satu istri aja kere, apalagi dua istri, buat beli kolor aja masih kredit, jangan mimpi poligami," ucapku.


"Gak jadi deh nambah istri."


Yah gopean doang, ketahuan banget kere tapi mimpinya terlalu tinggi, pengen punya dua istri. Manusia jaman sekarang miskin aja udah pengen punya dua, gimana kaya, se RT dikawinin kali ya.

__ADS_1


Akhirnya drakor horor berakhir, mereka bubar juga. Percaya beginian segala di zaman udah modern, ya beginilah orang bodoh bodihin orang bego. Ternyata aku bukan satu-satunya yang bodoh, tapi ada biangnya yang lebih bodoh tur keblinger, tapi lumayanlah. Sayang banget ini uang, ayam, telur, kacang panjang ditaruh di bawah pohon, emangnya pohon mau masak apa, diakan cuma butuh pupuk dan air, ada-ada aja kehaluan orang sekarang. Untungnya meski otakku kosong masih realistis dan modernis. Udah bawa semua hasil tangkapan, sambil jalan di tepi jalan ku bagikan pada yang membutuhkan. Semoga berkah dan mereka yang musyrik segera dapat hidayah.


__ADS_2