
Sepulang kuliah Zara pergi ke Cafe Cappucinnos miliknya. Dia mengendarai mobil pribadinya sampai diparkiran cafe. Ternyata tempat parkirnya sangat penuh padahal parkiran cafe miliknya cukup luas. Leo sendiri yang mendesain cafe itu dan semua interior didalamnya.
Zara sampai parkir ditempat parkir umum yang cukup jauh dari cafenya dan naik taksi online untuk sampai dicafenya. Zara langsung masuk ke dalam cafe itu. Cafenya sudah dipadati pengunjung. Semua kursi penuh dan banyak yang berfoto ditempat khusus berfoto yang sudah disediakan dicafe itu. Berbagai kreasi, gambar, lukisan, pernak-pernik, dan pajangan terdapat didinding cafe itu. Zara naik ke lantai ketiga ke ruangan kerjanya. Dia mengecek semua laporan pendapatan dan pengeluaran harian beserta laporan keuangan cafe tersebut.
Tuk....tuk.....tuk.......
Suara ketukan pintu terdengar kencang.
"Masuk"ucap Zara.
Pak Ilham masuk keruang kerja Zara untuk melaporkan sesuatu. Dia adalah Manager cafe yang dipekerjan Zara.
"Siang Nona Zara"ucap Pak Ilham.
"Siang Pak Ilham"ucap Zara.
"Nona Zara, kemarin Bu Subagio pemilik cafe disebelah komplain kemari"ucap Pak Ilham.
"Komplain tentang apa ya Pak Ilham?"tanya Zara.
"Pengunjung kita banyak yang parkir dicafe miliknya"ucap Pak Ilham.
"Saya bisa paham itu, tadi saya sendiri juga kesulitan parkir untuk masuk ke cafe ini. Saya sampai parkir diparkiran umum"ucap Zara.
"Terus apa tindakan kita, Bu Subagio akan kemari lagi hari ini katanya"ucap Pak Ilham.
"Baik saya akan menemuinya nanti"ucap Zara.
Tuk....tuk....tuk......
"Masuk"ucap Zara.
Nunu segera masuk ke ruangan kerja Zara. Dicafe itu Nunu menjabat jadi Wakil Manager, membantu Pak Ilham mengerjakan tugasnya. Nunu hanya bekerja sampai hari Jumat karena Sabtu Minggu dia kuliah.
"Zara, Bu Subagio sudah ada didalam cafe dan marah-marah pada para pegawai cafe"ucap Nunu.
"Biar saya urus dulu Nona Zara"ucap Pak Ilham.
"Terimakasih sebelumnya Pak Ilham, tapi biar saya yang menemuinya"ucap Zara.
"Hati-hati Zara kaya Ibu tiri ngomongnya"ucap Nunu.
Zara tersenyum lalu turun ke lantai bawah. Para pengunjung melihat Bu Subagio yang sedang marah-marah pada para pegawai Zara didepan kasir.
"Mentang-mentang cafenya ramai, sampai parkir didepan cafe saya yang sepi. Emangnya tempat parkir saya itu parkiran umum"ucap Bu Subagio.
Semua pegawai diam, mereka takut menanggapi ucapan Bu Subagio.
"Mana pemilik cafe ini, biar saya omelin, biar ngarti jangan seenaknya sendiri jadi orang"ucap Bu Subagio.
"Mau parkir kok gratisan ditempat orang"ucap Bu Subagio.
"Maaf Bu Subagio, selamat siang"ucap Zara.
"Siang"ucap Bu Subagio sambil memperhatikan Zara dari ujung rambut sampai kaki. Dia berpikir Zara adalah pelayan karena terlihat muda dan cantik.
"Siapa kamu? saya mau bertemu pemilik cafe ini, mana orangnya? ngumpet apa, takut bertemu saya ya"ucap Bu Subagio.
"Saya Zara pemilik cafe ini"ucap Zara.
"Hah, kamu anak kemarin sore pemilik cafe ini, yang betul?"tanya Bu Subagio.
"Betul Bu Subagio, silahkan tanyakan pada para pegawai apabila tidak percaya"ucap Zara.
Tatapan sinis Bu Subagio pada Zara karena tak habis pikir anak muda yang mungkin usianya baru dua puluhan sudah memiliki cafe yang begitu ramai.
"Bu Subagio bisakah kita bicara berdua saja?" tanya Zara.
"Oke saya juga gatel ingin bicara denganmu"ucap Bu Subagio.
Zara mengajak Bu Subagio ke lantai tiga diruang tamu. Mereka duduk berdua dan mulai berbicara tentang masalah ini.
"Bu Subagio saya minta maaf atas ketidaknyamanan Ibu karena pengunjung kami yang parkir diparkiran cafe Ibu, kedepan saya akan mencari solusinya agar tidak terulang kembali hal seperti ini"ucap Zara.
"Nah gitu dong cari solusi, gak lihat apa cafe saya jadi gak enak dipandang"ucap Bu Subagio.
"Sekali lagi saya minta maaf"ucap Zara.
"Oke, oya apa rahasianya cafemu kok bisa ramai?"tanya Bu Subagio.
Akhirnya Zara mengobrol santai dengan Bu Subagio. Dia membagi ilmunya pada Bu Subagio. Zara percaya rejeki sudah ada yang mengatur dan tidak mungkin tertukar. Bu Subagio yang tadinya cemberut dan jutek pada Zara jadi mulai akrab dan ramah pada Zara.
"Makasih atas ilmunya ya nak Zara"ucap Bu Subagio.
"Sama-sama Bu"ucap Zara.
Bu Subagio keluar dari cafe itu dengan damai. Tak ada lagi kekesalan dan kemarahan yang dipendam. Tinggal Zara mencari solusi untuk parkiran cafenya agar tidak mengganggu cafe lain.
***********
__ADS_1
Zara pulang ke rumah pada sore harinya. Dia jarang mengambil pekerjaan sampai malam biar bisa memasak untuk makan malam Leo, selain itu ingin menghabiskan banyak waktu bersamanya. Zara berganti pakaian dan langsung memasak didapur bersama Bi Surti. Setelah selesai memasak Zara menunggu Leo sambil mengerjakan tugas kuliahnya. Dia duduk dimeja belajarnya, dari belakang Leo menutup mata Zara .
"Leo, kau sudah pulang"ucap Zara.
"Zara sayang siap-siap buka matamu"ucap Leo.
Leo membuka mata Zara, didepannya ada seikat bunga mawar merah.
"Anak beruang kecil romantisnya, sini Ibu beruang kasih hadiah,membungkuk"ucap Zara.
Leo membungkukkan kepalanya didekat bahu Zara.
Cup
Zara mencium pipi Leo dengan mesra. Leo tersenyum mendapat kecupan manis dari Zara.
"Makasih ya anak beruang kecil"ucap Zara.
"Ibu beruang makan yuk lapar, lidah ini rindu masakan rumah"ucap Leo.
"Oke, Zara memasak soto mie pasti seger deh makannya pakai emping"ucap Zara.
Leo dan Zara turun ke lantai bawah, mereka menuju ke ruang makan. Leo dan Zara makan malam bersama. Selesai makan Zara menceritakan kejadian tadi siang pada Leo.
"Zara gimana kalau kita membeli tanah kosong disamping cafe kita, itu bisa digunakan untuk area parkir dan memperluas cafe kita. Daripada direnovasi akan memakan waktu dan cafe akan tutup sementara kecuali sewa tempat selama proses pembangunan selesai"ucap Leo.
"Tapi tanah kosong disamping cafe kita itu letaknya dijalan raya dan letaknya strategis pasti harga jualnya sangat mahal"ucap Zara.
"Pokoknya gak usah dipikirin, nanti Zara tahunya tanah itu sudah jadi milik kita saja ya"ucap Leo.
"Memang Leo mau membelinya?"tanya Zara.
"Leo mau membelinya untuk Zara"ucap Leo.
"Tapi tabungan Zara juga bisa untuk membeli tanah itu"ucap Leo.
"Tabungan Zara untuk biaya pembangunannya saja, tanahnya biar Leo yang urus"ucap Leo.
"Terimakasih Leo"ucap Zara.
"Iya Zara sayang"ucap Leo.
Zara senang setelah curhat pada Leo akhirnya mendapat solusi dari permasalahan cafenya. Berbagi cerita suka ataupun duka dengan suami membuat hati merasa lega.
**********
Mumun bangun pagi merapikan buku-buku mata kuliahnya. Dia rajin kuliah pantang menyerah meskipun sakit tetap kuliah yang terpenting bekal aman. Masalah perut adalah permasalahan utamanya. Meski masih jomblo tapi makanan lebih penting dari itu. Jika harus memilih antara pacar atau makanan enak tentu Mumun akan memilih makanan enak. Sepi dan sunyi hidupnya jika tak ada makanan yang memanjakan perutnya. Selesai membereskan perlengkapan Mumun pergi ke dapur.
"Udah siap dong jagoan gendut emak, nih"ucap Emak Odah memberikan bekal Mumun.
"Emak ini bekalnya apaan?"tanya Mumun.
"Itu nasi timbel, lauknya ikan asin bakar, sambel sama jengkol muda mentah buat lalapannya"
ucap Emak Odah.
"Emak elitan dikit apa lauknya, masa tar pas makan semua temen Mumun kebauan sama jengkolnya. Terus kalau mau nawarin sama temen gak enak masa lauknya ikan asin"ucap Mumun.
"Yah Mun, masih untung masih ada ikan asin kemarin ma jengkol boleh ngasih tetangga. Kalau gak Emak bekalin timbel sama sambel doang"ucap Emak.
"Emak kok makin kesini bekalku makin ngenes" ucap Mumun.
"Gimana gak semakin ngenes kamu makannya sebakul, uang belanja emak udah abis duluan buat beli beras doang. Kalau gitu pulang kuliah kesawah nyari belut buat laukmu besok"ucap Emak.
"Nasib, kesawah bikin Mumun cepet kurus"ucap Mumun.
"Udah berangkat sana keburu siang"ucap Emak.
Mumunpun berangkat ke kampus. Dia naik motor butut yang bunyinya udah gak enak didengar. Kadang mogok dijalan udah jadi hal biasa.
Baru juga setengah jalan beneran mogok motor butut itu.
"Yah belum nyampe udah ngambek nih motor butut, mau diloakin sayang, dipakai kaya udah sekarat gini. Kalau dia manusia pasti minta pensiun udah aki-aki gak sanggup jalan lagi, pipis aja udah dipempes"ucap Mumun.
Mumun akhirnya mendorong motor bututnya.
"Kalau tiap hari gini, tambah laper bekel kurang banyak nih. Bisa-bisa kurus gue pas wisuda nanti kalau jalan dorong sijeko tiap hari"ucap Mumun.
Jeko adalah nama motor butut milik Mumun.
Sampai dikampus Mumun jalan memasuki kelasnya. Saat masuk ke kelas tiga temannya mengerjainya. Mereka memasang tali didepan pintu tempat mumun berjalan.
Blug...............
Mumun jatuh, ikan asinnya tumpah ke salah satu teman yang mengerjainya. Sementara nasi timbel dan jengkolnya jatuh dilantai.
"Buset dah ikan asin. Baju gue penuh ikan asin terdampar. Bau ikan asin jadinya"ucap Kenzo.
"Gendut Lo bawa bekel jengkol segala"ucap Neo.
__ADS_1
"Gak seru kalau sehari aja gak ngerjain Lo"ucap Joshua.
"Joshua kau gak ada habisnya ya ngerjain orang" ucap Zara yang baru masuk kelas.
"Cewek buku"ucap Joshua.
Zara langsung menghampiri Mumun dan menolongnya bangun.
"Kalian gak ada habisnya ya ngerjain Mumun, kasihankan dia. Punya hati gak sih jadi orang. Ini kampus bukan tempat kalian bikin ulah"ucap Zara.
"Malas, ayo bubar udah gak asyik"ucap Joshua.
"Oke Bos"ucap Kenzo dan Neo.
Mereka bertiga berjalan dan menginjak bekal milik Mumun lalu keluar dari kelas itu. Mumun sedih melihat bekal buatan emaknya kotor dan gak bisa dimakan lagi.
"Mun jangan sedih, nih ambil aja bekal Zara"ucap Zara.
".........."Mumun masih tetap sedih.
"Mumun gak mau bekal Zara?"tanya Zara.
"Mau, tapi kalau cuma segitu baru pencuci mulut doang, Mumun masih laper gimana mau mikir seharian tar"ucap Mumun.
"Yaudah tar Zara teraktir deh makan bakso, mau gak?"tanya Zara.
"Semangat, makasih Zara kamu memang teman sekelas yang baik"ucap Mumun.
Saat jam istirahat Zara mentraktir Mumun makan bakso. Mumun sampai makan sepuluh mangkuk. Zara melihat Mumun makan sampai kenyang sendiri.
************
Leo dan Sekretaris Beti pergi ke daerah Serayu. Mereka hendak survei tempat yang yang akan didesain gambarnya. Leo dan Sekretaris Beti turun didepan lahan itu. Beberapa bangunan liar berdiri dilahan itu. Leo dan Sekretaris Beti berkeliling dilahan yang luas itu.
"Sekretaris Beti, ada bangunan liar dipinggir lahan ini. Apa kontraktornya sudah tahu tentang ini?"tanya Leo.
"Saya tidak tahu Bos, kemarin Pak Jidan hanya bilang menunggu Bos menyelesaikan desain gambarnya baru melihat lahannya"ucap Sekretaris Beti.
"Ayo kita cari tahu kenapa dilahan milik Pak Musa ini ada bangunan liarnya"ucap Leo.
"Baik Bos"ucap Sekretaris Beti.
Mereka menghampiri sebuah rumah yang terbuat dari bilik bambu. Ada sepuluh rumah yang terdapat dipinggir lahan itu menghadap ke jalan raya. Leo penasaran dan bertamu ke salah satu dirumah itu.
"Assalamualaikum"ucap Leo.
"Wallaikumsalam"ucap Ibu Siti.
"Maaf Bu mengganggu waktunya, boleh saya bertamu sebentar?"tanya Leo.
"Boleh, silahkan nak"ucap Ibu Siti.
Leo duduk diteras bersama Ibu Siti dan Sekretaris Beti.
"Bu mau tanya, sudah berapa lama Ibu tinggal disini?"tanya Leo.
"Sudah lama, dari saya masih kecil"ucap Ibu Siti.
"Apa orangtua Ibu dulunya tinggal disini?"tanya Leo.
"Ya orangtua saya dulu tinggal disini"ucap Ibu Siti.
"Tapi disini hanya ada sepuluh rumah, apa dari dulu memang hanya sepuluh rumah seperti ini?"tanya Leo.
"Tidak, dulu dilahan ini penuh rumah warga tapi terjadi penggusuran paksa. Padahal ini adalah tanah kami. Dulu ada seorang pengusaha kaya hendak membeli lahan kami dengan bayaran sepuluh kali lipat, kami tergiur dan bersedia menjual tanah kami. Dengan segala tipu dayanya sertifikat tanah milik kami jatuh ke tangannya. Setelah itu rumah kami digusur paksa tanpa dibayar. Semua orang pindah dan pergi hanya kami yang tetap bertahan. Entah sudah berapa kali ganti pemilik ini lahan"ucap Ibu Siti.
"Oh begitu ya, saya ikut prihatin atas kejadian yang menimpa Ibu dan yang lainnya"ucap Leo.
"Terimakasih, oya mau minum nak?"tanya Ibu Siti.
"Tidak usah repot-repot Bu, saya pamit pulang. Terimakasih atas waktunya"ucap Leo.
"Sama-sama nak"ucap Ibu Siti.
Leo dan Sekretaris Beti meninggalkan tempat itu.
Dimobil Leo berbicara pada Sekretaris Beti.
"Kalau mereka digusur kasihan juga"ucap Leo.
"Kemungkinan tempat tinggal mereka pasti digusur Bos, Pak Jidan orangnya keras pasti berhasil menyingkirkan mereka dengan cara apapun"ucap Sekretaris Beti.
"Saya jadi gak enak, kalau seandainya nanti tempat itu dibangun, sementara mereka hidup dijalanan. Padahal mereka mungkin pemilik asli tanah itu"ucap Leo.
"Kasihan sih Bos, tapi merekakan tidak punya sertifikat kepemilikan tanah, jadi pasti mudah digusur"ucap Sekretaris Beti.
"Sekretaris Beti minta Joni selidiki kasus ini, apa benar mereka dulunya pemilik lahan itu"ucap Leo.
"Baik Bos"ucap Sekretaris Beti.
__ADS_1
Leo merasa kasihan, dia ingat dulu saat bersama Zara tidak punya tempat tinggal. Sampai numpang dirumah Kemal dan tinggal di Rumah Singgah Tuna Wisma. Dia bisa merasakan hal yang sama mungkin dirasakan mereka.