
Lelaki berbaju hitam itu berbalik. Ternyata dia Albern. Wajah penasaranku berubah menjadi senyuman. Sepertinya sang malam sudah menyampaikan rinduku.
"Suamiku," ucapku yang masih terpaku.
"Sayang," kata Albern..
Aku langsung berlari ke arah Albern. Memeluknya. Rasa rinduku terobati. Doaku yang senantiasa ku panjatkan dalam sujudku sudah terkabulkan. Aku bisa bertemu dengannya malam ini.
"Aku rindu," ujar Albern.
"Aku juga rindu," balasku.
Ku peluk Albern semakin erat. Rasanya tak ingin terpisahkan lagi. Aku hanya ingin berdua malam ini dengannya.
"Sampai kapan kita akan di sini terus sayang?" tanya Albern.
"Eh iya, aku lupa. Habis aku rindu," jawabku.
Ku lepas pelukanku. Kami masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba Albern menciumku. Kami menikmati ciuman itu. Rasanya manis sekali. Mungkin karena kami sama-sama rindu.
"Sayang," ujar Albern.
Aku mengangguk. Tanpa harus berkata. Aku paham yang diinginkan suamiku. Malam itu untuk pertama kalinya kami memadu cinta. Meluapkan kerinduaan dalam sebuah cinta yang direstui langit dan bumi. Menjadi halal untuk melakukan semuanya. Semua benang berserakan di manapun. Memulai penyatuan dua hati. Awalnya aku takut. Ini peetama kali untukku sebagai seorang istri. Mataku sesekali ku tutup. Tapi ternyata tak semenakutkan apa yang ku pikirkan. Walaupun.
"Sakit ...," keluhku.
"Sakitnya sebentar sayang, aku akan pelan-pelan," ujar Albern. Kata-kata yang sering diucapkan para suami pada istrinya di malam pertama. Rasa sakit menjadi hal yang ditakuti para wanita. Itu biasa dirasakan di awal berhubungan suami istri. Wajar karena pertama kali.
Aku yang tadi kesakitan sekarang nyaman hanyut dalam buaian cinta. Melupakan semua penat beralih pada indahnya cinta yang hanya kami yang merasakan. Ini kah yang dinamakan cinta halal. Tak perlu takut dosa, hamil di luar nikah, ataupun disantroni tetangga se RT karena zina. Alhamdulillah kami suami istri sah. Memadu cinta justru menjadi ibadah dan pahala untuk kami.
Malam itu sang buaya menunjukkan kelasnya. Tak berhenti hingga aku sendiri lelah. Namun Albern masih bersemangat. Mungkin karena sudah lama ketangkasan tidak diasah jadi perlu belajar kembali dan menajamkannya kembali. Walaupun begitu aku menikmatinya. Memuaskan suami pahala untuk istri.
Setelah sama-sama lelah. Kami berbaring di ranjang. Menutup tubuh dengan selimut. Albern memelukku erat. Aku masih malu-malu dengan apa yang terjadi tadi.
"Makasih ya sayang," ujar Albern.
Aku mengangguk.
"Apa masih sakit?" tanya Albern.
Aku menggeleng.
Albern memelukku semakin erat. Membuatku merasa nyaman. Semua rindu terbayar sudah dengan satu malam panjang.
"I Love You," ujar Albern di telingaku.
"I Love You Too," sahutku.
"Kau lelah sayang?" tanya Albern.
"Iya," sahutku pelan.
Albern menyandarkan kepalaku di dadanya. Terasa hangat. Aku benar-benar jadi seorang istri. Aara yang dulu sendirian kini memiliki pasangan. Aku bahagia. Karena Albern ada di sisiku.
"Tadi aku kirim kado untuk Bobo, udah sampai?" tanya Albern.
__ADS_1
"Udah, Bobo seneng sama kadonya," jawabku.
"Aku bingung mau beliin apa, terus aku melihat iklan di youtube. Jadi kuputuskan beli kereta set dengan semua relnya," ujar Albern.
"Saat kado dibuka, langsung minta dirakit. Jadi Axel merakitnya. Bobo seneng banget liat keretanya jalan dan muter di rel," ujarku.
"Baguslah kalau Bobo suka," ucap Alber.
Sambil kita mengobrol santai. Albern mengelus rambut panjangku. Kami bercerita ini itu seputar kehidupan sehari-hari.
"Sayang kenapa kau bisa ada di rumah Keluarga Ariendra?" tanya Albern.
"Ternyata aku keturunan dari Keluarga Ariendra," ujarku.
Semua hal ku ceritakan pada Albern tentang tsunami. Kepergiaan Albern. Kesendirianku. Pertemuanku dengan Adelina dan Rangga. Hingga aku masuk ke dalam Keluarga Ariendra. Siapa Papa dan Mamaku. Dan semuanya.
"Ternyata kau anak konglomerat sayang," ujar Albern.
"Iya, aku tidak menyangka sama sekali," sahutku.
"Semua ini hadiah atas kerja kerasmu selama ini," ujar Albern.
Aku mengangguk.
"Axel dan Raina kenapa ada di kota A?" tanya Albern.
Aku menceritakan semuanya pada Albern tentang Axel dan Raina. Termasuk alasan mereka pindah dan pekerjaan Axel.
"Hebat Axel. Tak kusangka dia bisa semandiri itu di usianya yang masih muda," ujar Albern.
"Lalu suamiku kenapa kau bisa menjadi Martin?" tanyaku.
"Ceritanya panjang," jawab Albern.
Dulu saat Albern masih bekerja di tepi pantai. Membantu nelayan menurunkan ikan, ada konglomerat yang sedang berkunjung di pantai itu. Dia terseret ombak besar. Albern langsung menolongnya. Saat itu Robberto yang selamat ditolong Albern terkejut saat mendapati wajah Albern sedikit mirip dengan putranya. Mereka berbincang banyak hal. Termasuk asal usul Albern dan Roberto.
"Jadi anda berasal dari Negara A?" tanya Albern.
"Iya Nak," jawab Robberto.
"Anak sendiri sepertinya bukan orang sini, apakah dari Negara A?" tanya Robberto.
"Betul," jawab Albern.
"Bagaimana bisa sampai di negara ini?" tanya Robberto.
Albern akhirnya menceritakan semuanya pada Robberto. Dari dia terseret tsunami hingga terpaksa harus tinggal di negara itu karena tak punya ongkos pulang dan membayar hutang.
"Kasihan sekali nasibmu," ujar Robberto.
"Aku sudah ikhlas, mungkin ini jalan takdirku," sahut Albern.
"Kau mau bekerja untukku?" tanya Robberto.
"Bekerja apa?" tanya Albern.
__ADS_1
Robberto menjelaskan siapa dia. Bekerja di mana dan berasal dari keluarga apa. Termasuk tempat tinggalnya di kota A.
"Bagaimana, kau bersedia jadi orang kepercayaanku?" tanya Robberto.
"Oke," jawab Albern.
Akhirnya di antara mereka terjadi kesepakatan. Robberto pun membayar semua hutang Albern. Dan membawa Albern kembali ke Negara A. Sayangnya saat kembali ke Negara A, Martin anaknya kecelakaan yang menyebabkannya koma. Melihat kondisi Martin dan kejanggalan pada kecelakaannya, Robberto merasa ada yang sengaja ingin membunuh putranya. Dia meminta Albern untuk menjadi putranya selama Martin koma. Semua itu untuk mengetahui siapa dalang dari kecelakaan anaknya.
"Begitulah sayang ceritanya," ujar Albern.
"Ternyata perjalananmu sangat sulit suamiku," ucapku semakin memeluk Albern erat. Tak ku sangat dia melewati hal seberat itu.
"Semua ku lakukan demi bertemu denganmu lagi," ujar Albern.
Aku langsung menangis. Begini rasanya berharga untuk orang lain. Dia rela berkorban untukku dan mati-matian berusaha agar bisa bertemu denganku lagi.
"Aku semakin mencintaimu suamiku," ujarku.
"Aku juga sayang, apapun akan ku lakukan demi bersamamu," ujar Albern.
Aku beruntung memiliki Albern. Meskipun masa lalunya tak baik namun dia sudah berusaha untuk berubah dan memperbaiki semuanya.
"Peempuan yang genit padamu itu?" tanyaku.
"Pacarnya Martin, Bos Robberto ingin aku menyelidikinya dan mencari informasi darinya," ujar Albern.
Aku terdiam. Itu memang pekerjaan suamiku. Namun kegenitan wanita itu, menyebalkan. Kalau dia cabe udah ku ulek sampai lembut tak tersisa.
"Kau cemburu?" tanya Albern.
"Gak, sebel aja dia genit padamu," jawabku.
"Sabar ya sayang, setelah semua berakhir, aku akan kembali," ujar Albern.
Aku mengangguk.
"Berarti sekarang kau kuliah dan kerja?" tanya Albern.
"Mungkin besok tidak, aku akan kuliah setiap hari," jawabku.
"Tiap hari bersama Pinky Boy dong," ujar Albern.
"Suamiku cemburu?" tanyaku.
"Gaklah, aku percaya. Lagi pula dia pemanis dalam harimu bersama Sweety itu kan?" ujar Albern.
Aku mengangguk.
"Ada satu lagi, Joko Raharjo, unik juga," ujarku.
"Geng Absurd lagi dong," sahut Albern.
Kami tertawa bersama. Lega banget bisa curhat gini. Semua keraguan hilang. Ploong rasanya.
Kami menceritakan semuanya satu sama lain. Kini aku dan Albern meskipun harus LDR-an paling tidak sudah tahu penyebabnya masing-masing.
__ADS_1
Tak lama kami pun tertidur karena lelah.