
Axel Brylee adalah ketua geng Fakboy yang beranggota empat orang, selain Axel, Blue Leornard, Grey Kanzie, dan Bruno Darwin. Mereka cowok-cowok ganteng, keren dan tajir. Idola kaum hawa di sekolah. Folllower dan fans fanatiknya berjamur di sekolah maupun di luar sekolah, sayangnya mereka jutru hater sejatiku, aku ini dianggap joker yang harus diadili dan dihukum mati.
"Ya punyalah, di mana-mana orang juga tahu, manusia punya mata kecuali batu, kayu dan tanah, ternyata murid terpandai gak paham makhluk hidup itu punya mata," ujarku kesal. Emangnya otakku yang lemot ini karena aku tak punya mata. Kalau bukan karena tampan sudah ku tonjok.
"Lemot, lo cari masalah sama gue!" Axel semakin marah. Dia melotot padaku.
"Iya, emangnya kenapa? mau beli keripik, mumpung diskon nih," ucapku sekalian menawarkan barang daganganku. Mana tahu orang emosi itu laper mau yang digigit-gigit selagi sengitnya pertarungan.
"Lemooot!" Axel semakin bertanduk. Alamat nih kena semprot.
"Sabar ganteng, ini hanya masalah untung rugi, untung di aku, rugi di kamu," ucapku.
"Najis gue tubrukan lo," ucap Axel. Eh memangnya aku ini segitunya. Sampai tak mau tubrukan sama aku. Orang tampan memang begitu.
"Siapa juga yang mau tubrukan sama kamu, gr," ujarku.
Di saat kami berdebat Bobo terbangun dan rewel. Mereka berempat melihat ke arah ransel di belakangku.
"Suara bayi, jangan-jangan bener itu anak harammu?" tanya Axel. Dia ikut menuduhku seperti yang lainnya.
"Kepo ya, makanya jadi artis kaya aku, viral," jawabku. Cuek aja, sudah biasa jadi bahan gosip dan pembullian teman-teman di sekolahku.
Masa bodo, mau dikatain anak haram atau anak boleh nabung, yang penting aku sayang Bobo.
"Bos si lemot bawa bayi, kita cabut tar dikira bapak bayinya, repot," usul Blue. Dia tak ingin geng fakboy kena gosip tak sedap.
"Betul Bos, nikah dadakan sama si lemot bisa surem masa depannya," imbuh Grey. Bahaya kalau harus menikah denganku, mereka pikir aku ini pembawa sial.
"Oke, cabut!" Axel nengajak ketiga temennya pergi meninggalkanku, mereka tak mau terkena gosip murahan yang akan menjatuhkan nama baik geng Fakboy.
"Baguslah dah kabur, tadinya aku mau mintain pertanggunjawaban, lumayan jadi bapaknya Bobo, empat juga gak masalah, penghasilan double," ucapku. Tadinya dah seneng siapa tahu ada yang mau aku poliandri eh pada kabur. Syukurlah dari pada gotot-gototan sama orang tampan gak tega.
Aku membawa Bobo ke kantin sekolah. Bi Siti terlihat santai, duduk sambil memegang handphone di tangannya, nyengar nyengir melihat video di handphonenya. Aku tak banyak berpikir, segera menghampiri Bi Siti.
"Bi Siti lihat video apa?" tanyaku kepo sekalian pendekatan sebelum ke tujuan utama. Biar Bi Siti menjiwai dan baper dulu.
"Video bayi kasihan deh ditinggal emak bapaknya," jawab Bi Siti.
"Kasihan ya Bi Siti, bayinya sebatang kara, tak ada kedua orangtua yang menyayangi, tak ada yang menjaga, seandainya itu Bi Siti gimana?" Aku sengaja menambah dramatisir seakan nonton drakor yang menyedihkan.
"Gak tega, biarin deh kalau deket Bi Siti yang ngerawat," ujar Bi Siti. Udah masuk perangkap nih Bi Siti. Tinggal ditambahi penyedap rasa dan gimik aja beres.
Bi Siti nangis. Air matanya mengucur. Bi Siti pernah jadi seorang ibu meskipun anaknya meninggal dunia, dia pasti bisa merasakan apa yang sudah ku ceritakan padanya.
Saatnya aku melancarkan tujuan utamaku mumpung Bi Siti masih baper.
"Bi Siti kebetulan, aku punya bayi yang nasibnya sama seperti bayi yang di video, kasihan deh Bi Siti," ucapku. Ku ceritakan semuanya pada Bi Siti ditambah sedikit penjiwaan yang menyedihkan dan mengharukan.
"Bayi?" tanya Bi Siti. Dia penasaran.
"Iya," jawabku sambil bersedih.
Aku memperlihatkan Bobo pada Bi Siti, semua ku ceritakan padanya dari awal aku menemukan Bobo sampai aku merawatnya. Semua cerita itu membuat hati Bi Siti tak karuan. Dia merasa iba.
"Ya ampun kasihan banget Aara," ujar Bi Siti.
"Iya Bi, itulah sebabnya aku merawatnya, Bi selama aku belajar, bisakah aku nitip Bobo?" tanyaku pada Bi Siti. Saatnya tujuan utamaku diluncurkan. Semoga Bi Siti mau dititipin Bobo.
__ADS_1
"Bisa, tapi inget jam istirahat buruan diambil, kamu tahu sendiri banyak yang beli," jawab Bi Siti.
"Alhamdulillah, makasih Bi Siti," ucapku dengan senang. Akhirnya ada tempat untuk menitipkan Bobo selama aku masih berada di kelas. Sekolahku selamat dan Bobo ada di tempat yang aman untuk saat ini.
"Sama-sama," sahut Bi Siti.
Aku bisa melangkah untuk belajar dengan tenang. Sudah ada yang merawat Bobo. Aku tidak perlu cemas lagi. Segera aku masuk kelas duduk bersama teman-teman dengan tenang. Pelajaran di mulai seperti biasa guru masuk kelas. Hari ini pelajaran matematika. Kebetulan guru yang mengajar matematika adalah guru baru, namanya Heni Lestari. Belum lama mengajar baru sekitar dua mingguan. Orangnya cantik, berkaca mata hanya sedikit cemberut, mungkin karena belum menikah tekanan gosip tetangga kebanyakan atau pusing melihat fb dan ig dipenuhi makhluk tuhan berpasangan dengan mesranya sedangkan dia masih josi alias jomblo kesepian.
"Anak-anak ibu akan membagikan hasil ulangan matematika, bagi yang diremedial, harap kerjakan tugas matematika soal pelatihan dari 135-180 tiga lembar, paham?" ujar Bu Heni.
"Paham," jawab semuanya.
Bu Heni mulai membagikan hasil ulangan satu demi satu, Ami dan Dodo maju ke depan, lalu dengan bangganya memperlihatkan hasil ujian mereka padaku. Kebetulan Ami satu meja denganku sedangkan Dodo di depanku.
"Lihat Aara, nilaiku sempurna." Ami menyombongkan dirinya padaku. Karena penasaran aku melihat nilainya.
"Wah ada peningkatan paling tidak masih satu server denganku, diremedial juga tuh," ucapku. Kami memang sudah langganan remedial tak terhitung. Selalu setia bertiga mengejar guru ke sana sini.
"Emang ya, tapi ini 6 loh, biasa dapet 5 atau 4, kemajuan besarkan?" ujar Ami.
"Iya sih maju, tapi masih dibawah standar, kalau kereta belum sampai tujuan, mesti naik angkot lagi," jelas Dodo.
"Lo sendiri berapa Do?" tanya Ami.
"Sorry ya friends, kita akan beda alam kali ini, silahkan pesan tiket duluan untuk remedial, gue aman kali ini, nilai gue 6,99," jawab Dodo menyombongkan diri. Padahal dia juga nasibnya belum jelas.
"Ha ha ha." Aku dan Ami tertawa.
"Kalian pasti syirik, aku bisa dapet nilai bagus sepanjang sejarah hidupku, harus dirayakan nih makan nasi tiwul bersama," ujar Dodo.
"Do 6,99 itu belum 7 jadi tetap diremedial juga, sorry Do kita masih satu pesawat, silahkan pakai sabuk pengaman," jelasku.
"Tambahin ragi aja biar ngembang, jadi pas tuh 7, gak kurang 0,11," ledek Ami.
"Udah Do belajar yang giat kali aja ulangan besok dapet 7, jikalau mampu dan doa loh nembus langit," candaku.
"Ini pasti karena aku belum minta Mak Erot gedein nilaiku," jawab Dodo.
"Ha ha ha," kami tertawa.
Sudah biasa bercanda jadi makanan sehari-hari kita, meski nilai tak memenuhi standar tapi optimis harus, remimedial sudah jadi teman sejati dan mengisi kegabutan kita setiap kali ujian selesai.
"Aara Amelia," panggil Ibu Heni.
"Iya Bu," jawabku.
Aku maju ke depan. Kali ini jantungku tidak berdebar seperti hari biasanya kalau pembagian nilai dibagikan, sepertinya aku akan dapet kesemek runtuh nih. Aku berdiri di samping meja Bu Heni, pasang muka polos tanpa dosa, mana tahu gak kena omel, maklum Bu Heni biasa nyembur gara-gara nilaiku yang dibawah standar.
"Aara nilaimu +1," ujar Bu Heni. Dia marah padaku. Gak sanggup melihat nilaiku yang gak ada kemajuan. Udah pusing gara-gara jomblo harus pusing juga gara-gara nilaiku minus.
"Alhamdulillah," jawabku. Bukannya sedih malah bersyukur.
"Kok alhamdulillah?" tanya Bu Heni kesal melihatku bersyukur. Emosinya semakin memuncak. Semoga tak kena serangan jantung karenaku.
"Ya alhamdulillah Bu, biasa nol, ada kemajuan," jawabku.
"Ampun, dimana-mana nilai +1 itu tuh jelek, kamu kok bangga, kamu tahu tidak nilaimu, semuanya minus," ujar Bu Heri.
__ADS_1
"Tahu Bu, makanya saya masih abadi di sini," kataku.
"Tuh tahu, kamu gak ngerti atau gak faham materi yang sudah disampaikan?" tanya Bu Heni.
"Antara gak faham atau gak masuk otak beda tipis Bu, udah belajar mah, cuma gak ada yang sisa, pada kabur kalau waktunya ngisi soal Bu," ujarku.
"Pokoknya kamu belajar lagi, ibu akan memintamu belajar bersama Axel, dia mendapat nilai sempurna," ujar Bu Heni.
"Boleh Bu, kalau belajar ma yang ganteng semangat walau galak juga," jawabku.
"Huuuh ...," teman-teman menyurakiku, sedangkan Axel yang terlihat jeles dan cemberut saat harus belajar denganku.
"Sudah-sudah." Bu Heni menenangkan teman-teman yang sebenarnya syirik, aku bisa belajar bersama Axel ketua geng Fakboy. Beginilah nasib si bodoh meski tak mendapat nilai bagus tapi nasib mujur, lumayanlah dapet pencerahan belajar sama cowok ganteng walau nyebelin juga, masalah pagi tadi saja bikin aku naik darah untuk bukan naik gunung, tersesat aku.
Lupakan nilai jelek, aku kembali ke meja sekalian senyum ke arah Axel, sebagai tanda kalau kita akan belajar bersama, tapi para haters udah kebakaran jenggot siap menghajarku tanpa ampun. Masa bodo yang penting disetiap kegagalan pasti akan ada kemajuan salah satunya belajar bersama Axel, he he.
***
Pulang sekolah aku menggendong Bobo menghampiri Axel di parkiran mobil. Maklum Axsel anak orkay. Mobilnya aja mentereng, ada bodyguard dan supir yang nganter jemput. Dari kejauhan aja tuh muka ganteng bikin silau, belum lagi parfumnya memikat siapa aja yang mencium aromanya. Segera tancap gas menghampiri si ganteng somse ini.
"Selamat siang Axel," sapaku sok akrab. Biarin deh kena damprat para haters yang melihatku mendekati Axel.
"Bro lihat si lemot, dia ekor loh sekarang, ngintil," ujar Blue.
"Gak nyangka lo harus ngajarin si lemot, mandi keramas biar gak rabies," ucap Bruno.
"Gue cabut, gak mau kena apes deket-deket si lemot," ujar Grey.
"Yoi," jawab Blue dan Bruno.
Teman-teman Axel pada kabur. Dikira aku ini anjing belum divaksin kalau gigit bikin rabies, padahal aku ini cacing kremi bikin sakit perut atau santing ya?
"Lemot, lo ngapain ke sini?" tanya Axel.
"Lupa atau perlu dicabut dulu paku di kepalamu biar inget?" tanyaku.
"Gue gak sudi ngajarin lo ya," ujar Axel.
"Gak masalah, tinggal lapor Bu Heni," ancamku.
"Sial! kenapa juga harus gue yang ngajarin si lemot," gumamnya pelan.
"Ayo pangeran kita ke rumahmu, ajarin otak kosongku, biar ada isinya," ucapku.
Axel memukul pintu mobilnya pelan, dia kesal harus mengajari otak kosongku ini, apalagi image bawa bayi bikin dia risih deket sama aku. Selama ini saja dia jaga jarak dariku, mungkin karena dia menganggapku najis yang harus dihindari. Mana mau nyapa apalagi tanya. Sombong abis pasang muka acuhnya setiap bertemu atau berpapasan. Tak lama pintu mobil terbuka, Axel mempersilahkanku masuk.
"Lemot masuk, awas kalau bayimu berisik!" ancam Axel.
"Beres Bos, Bobo anteng kok," jawabku.
Aku masuk ke dalam mobil Axel. Benar-benar nyaman kaya di dalam rumah. Kekepoanku meraja lela, aku pegang ini itu, maklum pertama kali naik mobil mewah.
"Lemot stop! jangan pegang ini itu!" tegas Axel.
"Tenang, aman masih utuh, cuma ternoda aja," ujarku sambil senyum.
Axel hanya diam. Dia mengeluarkan handphone miliknya lalu memainkannya, karena Bobo mulai tak nyaman aku mengeluarkannya dari gendongan dan memangkunya sambil memberinya susu. Sekejap Axel melirik ke arahku.
__ADS_1
"Anak siapa?" tanya Axel.