
"Nanti saat tiba waktunya, aku akan memberitahu kakak pergi kemananya" ucap Rafael.
"Baiklah" ucap Barra.
"Kalau begitu aku pulang dulu" ucap Rafael.
"Kau tidak tinggal disini saja" ucap Barra.
"Tidak, aku ingin mandiri kak" ucap Rafael.
Rafael sudah terbiasa mandiri. Dia tidak ingin hidup bergantung pada orang lain selagi dia mampu dan sehat.
"Kau sudah besar ya sekarang, aku lupa" ucap Barra.
"Kalau lelaki tidak bisa menghidupi dirinya sendiri, bagaimana dia akan menghidupi istri dan anaknya kelak?" ucap Rafael.
"Kau benar, laki-laki memang harus kerja keras, barulah dia bisa disebut seorang laki-laki" ucap Barra.
Rafael memutuskan pulang ke kontrakkan. Dia kembali beraktifitas seperti biasa menjadi supir taksi online sambil kuliah.
************
Deena pergi membeli makan disebuah warung makan setelah kerja kelompok dengan teman-temannya. Dia makan disudut warung makan itu, tak sengaja dia mendengar obrolan seorang anggota kepolisian didekatnya.
"Aku dengar banyak kasus penculikan gadis muda akhir-akhir ini"
"Iya, beberapa warga melapor kalau anak gadis mereka hilang dan sampai sekarang kami belum menemukannya"
"Apa mungkin ada hubungannya dengan penjualan gadis dibawah umur keluar negeri?"
"Belum berani berspekulasi ke situ, tapi semoga saja segera ditemukan"
Deena mirip mendengar informasi yang didengarnya secar tidak langsung. Dia terdiam memikirkan dari mana akan memulai pencarian para gadis yang hilang itu.
"Hei kau masih sekolahkan?" Seorang polisi bertanya pada Deena.
"Iya a...ku masih seko...lah"
"Sebaiknya jangan pergi tanpa sepengetahuan orangtua, akhir-akhir ini tidak aman untuk gadis muda sepertimu" Polisi itu menasehati Deena.
"Ba..ik Pak" ucap Deena.
Selesai makan, Deena keluar dari warung makan itu. Dia masih memikirkan obrolan polisi tadi.
"Apa ini bukan kasus penculikan biasa? mungkinkah sindikat penculikan dari kerajaan bawah?" Deena berjalan sambil memikirkan hal itu.
__ADS_1
Saat Deena berjalan dia bertemu dengan Haura yang juga sedang berjalan ke arahnya.
"Deena" ucap Haura memanggil saudara kembarnya.
"Kau da..ri mana Haura?" tanya Deena.
"Aku sedang mencari sida rhombifilia (sidaguri) dan andrographis paniculata (sambiloto) untuk tugas kelompokku" ucap Haura.
"Oh, kalau kelompokku tanaman physalis (ceplukan) dan portulaca (krokot)" ucap Deena.
Deena dan Haura berbeda kelompok. Sehingga mereka memiliki tugas yang berbeda.
"Udah dapat?" tanya Haura.
"Udah, ta..di malah udah di..bagi tugas dan membuat ta..bel" ucap Deena memberitahu.
"Kalau gitu ayo pulang" ucap Haura mengajak Deena.
"Oke" ucap Deena setuju dengan usulan Haura.
Deena dan Haura berjalan menuju halte. Mereka menunggu taksi online. Tiba-tiba ada mobil taksi yang berhenti didekat mereka. Kaca mobil taksi itu diturunkan.
"Ayo neng masuk, mumpung kosong" ucap supir taksi itu.
"Haura tunggu, ki...ta naik tak...si online a...ja" ucap Deena.
"Kelamaan, kita naik ini aja, toh sama-sama taksikan" ucap Haura.
"Ta..pi" ucap Deena.
Haura menarik lengan Deena masuk ke dalam taksi itu. Supir taksi menyetir mobil taksinya meninggalkan tempat itu. Beberapa kilometer tiba-tiba supir taksi itu berhenti sebentar lalu memakai masker khusus. Deena mencurigai supir taksi itu lalu dia bertanya saat taksi itu mulai jalan kembali.
"Pak kok pa..kai mas..ker kenapa?" tanya Deena.
"Saya lagi sakit batuk takut menular" ucap Supir taksi itu.
"Oh gi...tu" ucap Deena.
Haura hanya asyik memainkan handphonenya sedangkan Deena tetap waspada, dia merasa ada yang aneh. Tak lama muncul gas bius dari saluran AC mobil. Deena yang tahu itu, dia menahan nafas sedangkan Haura langsung pingsan.
"Ini gas bius, kecurigaanku benar" batin Deena.
Deena mengeluarkan sesuatu dari tasnya lalu meletakkannya dalam lipatan dibawah jok mobil itu. Dia tidak mungkin berbicara kalau tidak gas bius itu bisa terhirup olehnya. Deena berusaha memukul supir taksi itu dari belakang. Kemudian Supir taksi itu menghentikan mobilnya, Deena yang sudah sulit menahan nafas lagi, dia keluar dari taksi.
"Huh...huh..huh..." Nafas Deena tersengal-sengal.
__ADS_1
Mobil taksi itu tiba-tiba melaju meninggalkan Deena yang turun dari mobil.
"Hauraaaaaa...." ucap Deena memanggil.
Mobil taksi itu semakin menjauh hingga tak terlihat. Deena hanya berdiri melihat ke arah jalan.
"Untung aku sudah meletakkan alat pelacakku didalam mobil taksi itu, tapi aku tidak bisa menyelamatkan Haura sekarang, aku butuh dia untuk jadi umpan sampai markas para penculik itu" ucap Deena.
***********
Haura terbangun dari pingsannya. Dia berada didalam sel bersama beberapa gadis muda seusianya. Haura coba mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya. Dia ingat naik taksi bersama Deena, tahu-tahu dia pingsan dan sudah berada diruangan itu.
"Ini tempat apaan?" batin Haura.
Haura melihat ada gadis yang menangis, hanya diam dan ada juga yang ketakutan. Dia menghampiri gadis yang duduk sambil terdiam.
"Hei ini tempat apa?" tanya Haura sambil menyentuh tangannya.
Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya diam dan meneteskan air matanya. Haura kasihan pada gadis itu. Dia berpikir mungkin gadis itu mengalami sebuah depresi.
"Dia tidak akan menjawab, dia sudah putus asa" ucap Seorang gadis datang mendekati Haura.
Haura menoleh ke samping. Seorang gadis muda seusianya dan wajahnya cukup cantik, kulitnya putih dan rambutnya panjang. Dia terlihat lebih baik dari gadis-gadis lainnya yang terlihat ketakutan, menangis ataupun terdiam.
"Putus asa kenapa?" tanya Haura yang belum paham apa yang sedang terjadi ditempat itu.
"Dia adalah orang lama disini, semua teman-temannya sudah dijual keluar negeri" ucap Gadis itu menceritakan apa yang terjadi pada gadis yang terdiam itu.
"Dijual keluar negeri?" ucap Haura terkejut mendengar ucapan gadis itu.
"Iya, kita semua akan dijual keluar negeri" ucap Gadis itu menekankan ucapannya.
Haura langsung terdiam, dia tahu kenapa mereka berperilaku aneh. Dia juga paham kenapa tadi dia pingsan. Gadis-gadis yang bersamanya didalam sel bernasib sama dengannya. Mereka juga diculik seperti Haura. Para penculik berkamuplase menjadi apa saja agar tidak dicurigai. Bahkan mereka menyamar dan memalsukan taksi yang menjadi angkutan umum untuk warga sekitar. Dengan cara itu sebagian orang tidak akan curiga dari pada menculik dengan cara pemaksaan atau pun rayuan.
"Namamu siapa?" tanya Haura pada gadis disampingnya.
"Elis" ucap Elis menjawab pertanyaan Haura.
"Aku Haura" ucap Haura yang juga memperkenalkan dirinya.
Mereka berdua memperkenalkan diri dan berbincang mengenai tempat itu. Setelah berbincang dengan Elis, Haura berjalan ke tepi sel. Dia melihat seorang lelaki dirantai kaki dan tangannya. Dia terlihat lemas dengan luka dikujur tubuhnya, dia menundukkan kepalanya kebawah.
"Kasihan lelaki itu, dia kenapa ya?" ucap Haura merasa penasaran dengan lelaki yang dirantai kedua tangan dan kakinya.
Haura memperhatikan lelaki itu. Dia berpikir lelaki itu mungkin saja seusianya.
__ADS_1