Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 31


__ADS_3

"Aku takut," ucapku pelan.


"Kalau begitu tidurlah, pasti kau lelahkan?" tanya Albern. Dia tidak ingin memaksakan keinginannya. Albern tahu aku masih terlalu muda dan tidak baik memaksa, sesuatu akan indah pada waktunya.


Aku berbalik. Menatap Albern di depanku. Ku raba wajah tampannya. Tak ku sangka aku sudah mempunyai suami di usiaku yang ke 20 tahun. Lelaki dewasa yang pintar, tampan dan mapan. Tak pernah terpikir olehku akan memilikinya dalam hidupku. Kini hidupku lengkap, ada Albern dan Dodo. Hari-hari sulit yang harus aku lewati kini menjadi penuh warna dan terasa ringan seperti kapas. Meskipun terkadang ada saja masalah.


"Aku tampan ya?" tanya Albern.


"Kenapa Tuan begitu pede bilang tampan?" tanyaku.


"Semua wanita akan tunduk padaku saat melihat wajah tampanku," jawab Albern.


Seperti biasa Albern selalu arogan dan sombong. Ya walau ada benarnya dia memang tampan, wanita mana yang tak akan jatuh hati saat melihatnya. Apa aku beruntung atau tidak menjadi istrinya. Tapi semua yang sudah terjadi takdir yang terbaik untukku.


Aku memeluk Albern. Entahlah rasanya begitu hangat dan nyaman saat berdekatan dengannya. Meskipun ku tahu dia buaya.


"Aara I Love You," ujar Albern.


"Tuan I Love You itu kata-kata yang trend dikalangan anak sekolah dan drakor, memang artinya apa?" tanyaku. Aku harus tahu seluk beluk kata I Love You. Mana tahu artinya ayo makan pepes sandal ramai-ramai atau jangan buang mantan sembarangan takut menyebabkan tanah longsor dan tsunami. Lebih baik hatam artinya dari pada sok tahu yes-yes tapi ternyata gak ngerti. Tiba-tiba tagihan listrik nambah kan repot.


Albert melepas pelukanku, menciumku sesaat kemudian menatap mataku. Dia meletakkan tanganku di dadanya dan tangannya di dadaku.


"Di sini ada perasaan yang membuat kita saling mencintai, menyayangi dan memiliki, hanya kita berdua tak ada yang lain," ujar Albern.


Aku mengangguk. Terharu. Rasanya Albern adalah bagian dari tubuhku dan hidupku sekarang. Tak lengkap bila tak ada dia di sisiku. Kenapa aku jadi ketergantungan padanya.


Aku mulai mengantuk. Di sampingku Albern memelukkku sepanjang malam. Tak lama suara Bobo menangis. Dia haus seperti biasa. Aku menggendong Bobo, sedangkan Albern membuatkan susu. Tak ku sangka dia mau bekerja sama denganku.


"Sayang nih susunya," ujar Albern memberiku botol susu. Dia memang selalu rajin membantuku. Tanpa harus aku meminta.


Aku mengambil botol susu itu, memberikannya pada Bobo yang kehausan. Dengan lahap Bobo meminum susu di botolnya.


"Haus ya Bobo," ucapku sambil melihat Bobo yang minum susu. Dia memegang botol susunya dengan tangan kecilnya.


"Sayang ke marilah!" pinta Albern.


Aku berjalan menghampiri Albern yang duduk di ranjang. Dia menyandarkan kepalaku di bahunya. Rasanya nyaman. Ada sandaran di kala lelah dan penat. Mungkin ini yang dikatakan orang. Suami istri itu saling mengisi dan melengkapi. Bagaikan sayap yang sepasang.


"Tidurlah!" kata Albern. Dia mengelus kepalaku. Memegang tangan kiriku. Begini rasanya ada orang yang perhatian dan sayang padaku.


"Tapi Bobo?" tanyaku.


"Nanti ku awasi," ucap Albern. Berusaha meringankan bebanku. Agar aku bisa beristirahat.


Aku mengangguk. Mulai memejamkan mataku yang mulai mengantuk. Tak terasa aku sudah masuk alam mimpi. Jualan keripik, coklat, panci, dodol, buaya, sikat WC, obat jerawat, jamu tolak hujan dan sebagainya.


"Kok aku palu gada gini? gak kerenan dikit kek, kan mimpi bebas ya?" ucapku dalam mimpi.


"Gak bisa request jadi sultan apa atau crazy rich, kenapa jadi pedagang di tepi jalan samping kuburan gini, tar pembelinya pocong dan kunti gimana?" ujarku dalam mimpi.


Giliran aku menemukan lampu ajaib udah mau episode terakhir.

__ADS_1


"Ku beri satu permintaan," ucap Albern jadi jin lampu ajaib.


"Aku mau lulus tahun ini," ucapku.


"Sulit, di otakmu hanya ada tulisan police line," ucap Albern.


"Pantas saja hafalan susah masuk," ucapku.


"Ada permintaan lain?" tanya Albern.


"Aku ingin kaya," jawabku.


"Susah, nasibmu mentok-mentok jadi pawang buaya," ujar Albern.


"Gak bisa apa jadi sultan atau crazy rich gitu, kan mimpi, bebas dong," ujarku.


"Settingan mimpimu terbatas, otakmu tak bisa mengkhayal dan menghafal yang lainnya, hanya seputar keripik dan buaya, jadi mentok-mentok di keripik dan buaya, ada sih job lain," ungkap Albern.


"Apa? siapa tahu ini lebih baik," ucapku antusias.


"Jadi juragan sandal jepit," kata Albern.


"Ampun di mimpi aja nasibku gak jauh beda dari kenyataan," ujarku.


Tak lama aku terbangun karena Albern mencium pipiku. Mataku terbuka lebar. Suara adzan subuh berkumandang.


"Sudah pagi," ujarku.


Aku mengangguk. Ku lihat Bobo masih tidur pulas. Albern yang memindahkannya tidur di ranjang. Segera aku dan Albern wudhu dan sholat. Senang rasanya ada iman di saat sholat. Ada seseorang yang bertanggungjawab dunia akhirat untukku.


Usai sholat subuh, seperti biasa Albern masak untukku sambil ku temani. Aku belajar memasak darinya. Dia jago soal masak memasak. Setelah itu kami makan bersama.


"Enak gak yang ku masak?" tanyaku. Aku ingin tahu bagaimana rasa masakanku. Kalau aku sendiri yang bilang enak tak adil. Harus ada komentator lainnya.


"Enak," jawab Albern sambil menyendok makanan yang ku masak. Mengunyah perlahan.


"Yang bener?" tanyaku.


"Ada rasa cinta di dalamnya jadi enak," jawab Albern. Dia sengaja memujiku agar aku senang. Suami memang harus begitu. Apa susahnya sesekali mrnyenangkan hati istri meski hanya sebuah pujian kecil.


Aku tersenyum malu-malu. Albern berhasil melontarkan gombalannya.


Usai sarapan, aku mulai merapikan semua keperluan sekolahku. Tiba-tiba Albern memberikanku sebuah goodie bag besar.


"Ini apa?" tanyaku sambil memegang goodie bag itu. Penasaran dengan isi di dalamnya. Ini pertama kali Albern memberi barang untukku.


"Bukalah sayang!" perintah Albern.


Rasa penasaran membuatku segera membuka goodie bag-nya. Ternyata berisi ransel, sepatu, seragam SMA-ku, alat tulis, gendongan modern dan alat make up. Dulu aku selalu bermimpi membelinya suatu saat nanti. Ternyata kini mimpiku kenyataan. Semua barang ini sangat ku butuhkan.


"Ini untuk apa?" tanyaku sambil menunjukkan alat make up pada Albern. Satu barang itu yang tak pernah aku impikan. Karena aku tak pernah memilikinya meskipun hanya lipbros.

__ADS_1


"Supaya kau tambah cantik," jawab Albern.


"Makasih ya," ujarku. Yang penting udah dikasih, gratis lagi. Lebih baik aku bersyukur dan berterimakasih. Aku yakin Albern sudah susah payah memilihnya untukky.


Albern merangkulku dan mencium keningku.


"Kau suka?" tanya Albern menatap mataku.


Aku mengangguk. Memberi senyuman. Siapa yang tak suka. Untuk membeli semua itu aku harus bekerja selama berbulan-bulan. Menyisihkan uang itupun kalau tak ada kebutuhan mendesak lainnya.


"Aara mulai sekarang kau tak perlu jualan keripik lagi ya, aku akan menafkahimu sebagai suamimu," ujar Albern.


"Tapi aku sudah biasa berdagang," ucapku. Meskipun Albern kaya. Tapi aku sudah biasa berdagang. Aku tak terbiasa berdiam diri.


Albern memegang kedua pipiku. Menatap mataku penuh cinta.


"Bekerja itu tugas suami, tugasmu jadi istri sholehah untukku," ucap Albern.


Aku mengangguk. Buaya sudah mulai jinak. Mungkin habitatnya sudah tercemar, wajar kalau buaya jadi topeng monyet sekarang.


Albern memberiku kartu ATM dan kartu kredit.


Aku gak mudeng, ku puter-puter tuh kartu.


"Ini apaan? Mirip kartu pelajar," ucapku.


"Kau bisa membeli apapun dengan itu, anggap saja itu uang, kau bisa cairkan dan pakai langsung sebagai alat pembayaran elektronik," ungkap Albern.


"Oh, berarti aku beli apapun tinggal berikan ini pada kasir ya?" tanyaku.


Albern tersenyum. Akhirnya dia menjelaskan semua tentang kartu ATM dan kartu kredit padaku. Ku anggukkan kepalaku tanda ngerti atau justru gak faham sama sekali. Bisa dibilang ini kartu ajaib. Apa mimpi semalam pertanda. Ternyata realita lebih indah dari mimpi.


***


Hari jumat pagi, ku bayarkan semua tunggakkanku dengan kartu kredit milikku. Petugas TU sampai kaget melihatku membayar menggunakan kartu kredit.


"Aara, kau kerja apa sampai punya kartu kredit segala?" tanya Pak Didin.


"Ada seseorang yang baik hati membantuku Pak," jawabku.


"Hati-hati zaman sekarang apa-apa gak gratis, jangan sampai terjerumus ke dalam kemaksiatan," ujar Pak Didin.


"Insya Allah gak Pak. Ini halal kok," jawabku.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Pak Didin.


Senangnya SPP ku sudah dibayar. Aku bisa ikut UTS. Terimakasih Albern, suamiku. Dia tahu saja aku butuh uang untuk bayar SPP.


Sore harinya aku masak untuk Albern sebagai ucapan terimakasihku padanya. Buaya pasti senang aku masak untuknya. Apalagi aku memoles wajahku dengan make up yang diberikan olehnya. Rambutku ku gerai panjang, dengan bando bunga-bunga di kepalaku. Tadi pulang sekolah aku belajar sama Ami. Sampai kaya badut aku dibuatnya. Terus kami berkali-kali mencoba sampai berhasil. Ami memang the best friend deh. Dia tahu aja aku sedang mau berkencan dengan suamiku.


Satu jam sudah aku memasak. Ku siapkan semuanya di meja. Bau harum masakannya tercium dihidungku. Tinggal menunggu Albern pulang. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas. Aku berjalan menuju pintu. Membukanya perlahan. Wajah di depanku membuatku terkejut.

__ADS_1


__ADS_2