
Hujan di luar semakin deras. Aku terpaksa berteduh di halte bus. Untung Bobo tidur anteng setelah minum obat penurun panas. Aku memeluk Bobo, khawatir dia kedinginan walaupun aku sendiri sebenarnya kedinginan. Perutku lapar lagi. Mana ada makanan jatuh dari langit di saat seperti ini.
"Dasar buaya mesum, seharusnya aku tak perlu baik padanya, dia itu kejam, takkan pernah berubah," ucapku.
Aku terus bergumam, sampai mengutuk Albern jadi batu kaya dalam cerita rakyat. Lelaki seperti dia tak pantas dipikirkan, dia hanya memikirkan otak mesumnya. Kenapa aku terikat kontrak pernikahan dengannya. Sungguh membuatku tersiksa.
Tak lama sebuah motor berhenti, pengendara motor itu turun dari motornya. Dia menghampiriku masih mengenakan helm. Aku ketakutan, berdiri, memasang keberanianku untuk melawan orang di depanku yang mungkin saja begal atau perampok.
"Tunggu, aku jelaskan sebelum kau membegalku, biar gak nyesel kalau nanti cuma nemu tempe di dompetku," ujarku.
Dia masih diam. Aku semakin takut, di malam tanpa bulan dan bintang ini, bisa saja dia memiliki niatan jahat.
"Tuan begal aku hanya sebatang kara pergi mencari ibuku, terbang ke sana kemari dari satu tempat ke tempat lain. Tunggu, kok familiar dengan cerita ini, kaya cerita Hachi ya?" ujarku.
Lelaki mengenakan helm itu semakin dekat. Membuatku semakin takut. Tanganku sampai dingin, dahi ku berkeringat. Jantungku berdebar kencang. Mau lari udah tegang duluan.
Semakin dekat dengannya ,aku harus bisa kabur. Jangan sampai dia menangkapku, bisa jadi dia mafia jahat atau psikopat sadis.
"Ku mohon maafkanku, aku janji akan mengunjungi makammu, memberi bunga di nisanmu," ucapku.
"Ha ha ha." Lelaki itu melepas helmnya. Ternyata Axel. Wajah ketakutanku jadi melongo. Tadinya niatan mau ku timpukun pakai tasku yang beratnya ada 20 kg ini, auto gagar otak nih, tapi untungnya dia buka helm, bisa-bisa dekem di penjara gara-gara nimpuk Axel pakai tas seberat 20kg.
"Oh ku pikir setan gentayangan ternyata kamu toh," ujarku. Axel memang berhasil membuatku takut. Untung aku tak kena serangan jantung.
"Lemot kenapa kau di sini? kau mau mati?" tanya Axel.
"Aku baru saja keluar dari rumahku, tapi aku gak punya uang, aku tidak tahu harus tinggal di mana dan ke mana," jawabku.
Melihatku yang terlihat menyedihkan, akhirnya Axel membawaku ikut bersamanya. Aku tidak tahu mau dibawa ke mana. Lumayan jauh dari tempat tadi. Hingga tiba di sebuah rumah kecil.
Axel dan aku turun dari motor. Kami berjalan menuju rumah itu.
"Ini rumah siapa?" tanyaku melihat rumah di depanku.
"Rumahku, nanti kau akan tahu," jawab Axel.
Axel membuka pintunya. Kami masuk ke dalam rumah. Banyak alat-alat musik, seperti gitar, drum, piano, dan alat lainnya. Rumah itu tampak berantakan, banyak barang di taruh dimana-mana tak sesuai tempatnya.
__ADS_1
"Biasanya aku dan geng ke sini, tapi sekarang jarang, terbengkalai," ucap Axel menjelaskan.
Aku melihat ke segala sudut. Semua barang itu berharga untuk Axel meskipun aku kurang suka.
"Aara tinggalah di sini untuk sementara," ujar Axel. Dia tak tega melihatku gelandangan. Dia berusaha membantuku.
"Terimakasih Axel," ucapku. Tak ku sangka Axel peduli padaku.
Axel tersenyum. Dia membantuku beres-beres. Sampai tempat itu rapi. Axel yang tak suka denganku, mau menolongku. Dia benar-benar baik.
"Aara aku pulang dulu, besok aku akan ke sini sepulang sekolah sekalian belajar ya," ujar Axel.
Aku mengangguk. Setelah itu Axel pergi, tinggal diriku di dalam rumah. Walaupun kecil tapi rapi dan nyaman. Axel memang baik hati.
Aku bisa tidur dengan tenang bersama Bobo.
Setidaknya kami tidak kehujanan dan tanpa tujuan yang tak pasti.
Di sisi lain Albern meninggalkan rumah besarnya. Mencariku menelusuri jalan. Dia terus mencariku, matanya tajam melihat ke samping kanan kiri sesekali. Dia khawatir padaku. Ada perasaan bersalah berkecamuk di hatinya.
"Bocah kau ada di mana?"
"Ada apa Tuan?"
"Tidak, maaf mengganggu, saya salah orang," ucap Albern.
"Kirain kenapa?"
Albern berjalan kembali ke mobil. Tadinya dia sudah senang mengira sudah menemukanku tapi ternyata bukan aku. Dia kecewa sampai menendang body mobilnya.
"Bocah kau membuatku khawatir, kau di mana?"
Albern menyesal kenapa tadi berkata seperti itu padaku. Seharusnya dia tidak begitu padaku. Apalagi dia tahu saat aku keluar hari sudah sangat malam.
****
Pagi harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Ku siapkan semua barang yang ku butuhkan. Kali ini ada yang berbeda. Di tanganku ku tempelkan kertas yang berisi materi untuk ku hafalkan, begitupun di seragam, dan di hijabku. Totalitas siapa tahu semua masuk ke otakku tanpa permisi dulu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, hari ini aku akan memulai bisnis jualan keripikku lagi," ucapku.
Aku menggendong Bobo di depan, tasku di belakang. Berjalan menuju tempat Bu Teti mengambil keripik lalu berangkat ke sekolah. Sampai di sana aku di tertawakan.
"Dasar aneh, pantas saja masuk geng absurd."
"Untung aku masih waras gak gila kaya dia."
"Bawa anak haram, mendadak gila lagi."
Aku tak peduli, sudah biasa mereka mencibirku dan menghinaku. Telinga ini udah biasa makan hinaan dan cibiran.
"Ayo atuh beli keripik nya, mumpung baru, kranci lagi," ucapku malah menawarkan keripik pada mereka.
Beberapa dari mereka membeli keripikku. Lumayan walau harus dihina dan dicibir tapi mereka mau beli.
Aku berjalan masuk kelas. Dodo dan Ami sudah di mejaku. Mereka memang sahabat yang setia dalam segala musim ada. Selalu mengsupportku baik suka maupun duka. Segera ku langkahkan kakiku menghampiri mereka.
"Aara kamu mau membasmi vampire?"tanya Ami heran melihat penampilanku penuh kertas disekujur tubuhku.
"Paling kau menyiapkan contekkan ya buat ulangan PKn?" tanya Dodo.
"Salah, aku sedang menghafal biar UTS nilaiku bagus," jawabku.
"Gak salah? bukankah kita sudah terbiasa dapet nilai di bawah rata-rata," ucap Dodo.
"Iya, sudah jadi ikon sekolah kalau kita langganan remedial terus," sahut Ami.
Benar juga aku dan mereka berdua sudah sering remedial bersama. Sampai nyusul guru ke toilet yang lagi BAB lupa kunci pintu toilet. Belum lagi dikejar sapi karena kami sok tahu melepas tali sapi saat menemui guru Biologi di rumahnya. Benar-benar perjuangan panjang.
"Aku mau merubah sejarah, memulai lembaran baru," ucapku.
"Kau waras gak lagi konsletkan? biar ku panggil PLN kalau belum konek," ujar Ami.
Aku menggeleng.
"Wah ini kena virus hepatitis, jadi terjadi penguningan di otak," ucap Dodo ngawur.
__ADS_1
Di saat kami sedang mengobrol, tiba-tiba seorang teman menghampiriku.
"Aara ada yang mencarimu."