Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 24


__ADS_3

"Iya Kak," ujarku. Padahal otakku lagi bingung. Makanan ini pakai bahasa apa? Namanya unik-unik. Gak paham, yang penting isinya kelihatan banyak aja, maklum perut orang bawah, lebih seneng yang isinya banyak dari pada rasanya enak, apalagi gratisan, basi dikit perut masih bisa nampung, lidah juga udah mati rasa kalau perut udah meronta.


"Aku pesan ini Kak, minumannya ini," ucapku sambil menunjuk buku menu, memberitahu Gerry.


"Oke," ucap Gerry.


Pelayan restoran segera mencatat menu yang kami pesan di tablet yang dipegangnya, kemudian pergi. Hanya selang lima belas menit, pesanan datang. Semua makanan ada di atas meja.


"Ayo Aara makan!" ajak Gerry.


Aku mengangguk. Tak sabar memakan makananku. Namun kok isinya daun-daunan semua. Ku bolak balik, mungkin daging atau ikan tersembunyi dibawahnya. Mana? Isinya daun dan daun. Banyak sih tapi semuanya hijau.


"Aara kenapa?" tanya Gerry.


"Gak papa," jawabku.


Aku tidak berani jujur padanya kalau aku belum nemuin daging di balik tumpukan daun.


"Mana dagingnya?" batinku mengodak-aduk mangkukku. Siapa tahu masih terselip di antara dedaunan yang hijau. Atau potongan dagingnya kecil-kecil sehingga aku sulit menemukannya.


Gerry tersenyum melihat tingkahku mencari daging tapi gak ada juga. Sebenarnya dia sudah tahu kalau makanan yang kupesan tidak ada dagingnya dan hanya dedaunan dan sayuran lainnya.


"Kenapa punya kakak banyak dagingnya? tapi punyaku tidak?" tanyaku.


"Itu karena punyamu salad sayuran khusus orang yang diet," jawab Gerry.


"Jadi memang isinya daun semua?" tanyaku.


Aku tidak tahu salat itu apa. Yanng penting bagiku makanan dan isinya banyak. Ternyata isinya daun semua. Harusnya aku tanya Gerry dulu sebelum pesan. Bersyukur saja lah makan daun juga enak.


"Iya, bagus untuk kesehatan dan juga kau akan lebih cantik lagi karena banyak vitamin yang terkandung di dalamnya," ujar Gerry.


"Sehat, cantik, tapi aku ingin yang kenyang dan enak, bukan makan daun seperti ini, di kebon juga bisa tinggal mangap aja," batinku. Tak ada pilihan lagi. Mau minta tambah menu tak enak sama Gerry. Baru kenal masa udah minta ini itu. Lagi pula ini salahku, dodol nih otak, gara-gara gak mudeng bahasa Inggris sama modal banyak doang ternyata isinya daun. Sabar, masih ada jus. Siapa tahu lebih beruntung dari pada sebaskom daun. Semangat, sambil mengigit daun demi daun yang rasanya getir dan pahit karena tak terbiasa makan seperti ini, aku tetap makan membayangkan itu daging enak tiada duanya.


Gerry dibdepanku tersenyum. Mungkin saja dia melihat ekspresi ku yang meringis makan daun dan daun.


"Ah, minum jus siapa tahu oase di padang pasir," batinku. Dengan semangat menuju medan perang, ku ambil gelas berukuran besar, sengaja pilih ukuran big, biar puas minumnya. Maklum minuman mahal harus pilih yang banyak dan besar. Teori yang benar bukan.


Aku minum jusnya. Aduh, rasanya tak jauh beda dengan daun dan daun. Apa dunia ini sudah pindah ke planet daun.

__ADS_1


"Kenapa Aara?" tanya Gerry.


"Tidak apa-apa Kak," jawabku. Aku tidak apa-apa tapi lidah dan perutku, kasihan, sabar makan daun dan daun ini, sehat, cantik.


Harganya mahal, sayang kalau tak dihabiskan meski isinya daun dan daun. Ku kunyah semua daun baik berupa salad maupun jus.


"Alhamdulillah kenyang," ujarku.


"Aara kamu pesan hidangan penutup?" tanya Gerry.


"Tidak, sudah cukup dan kenyang," jawabku. Perasaanku tak enak kalau harus memesan hidangan penutup. Tadi saja daun dan daun dari makanan dan minuman. Gimana kalau aku salah pilih lagi, bisa-bisa cake ulet daun hijau buat menu penutupnya, aduh otakku jadi negatif thinking.


Selesai makan aku dan Gerry kembali berjalan. Senangnya daganganku dah habis. Coba tiap hari begini, aku bisa kaya, tak perlu hidup parasit sama buaya yang menyebalkan.


"Aku jadi ingat si buaya, kenapa dia tak mencariku? apa dia tak menganggapku sebagai istrinya?" batinku jadi teringat buaya yang entah ada di mana.


"Aara apa kau masih sekolah?" tanya Gerry.


"Iya masih, seharusnya sudah lulus 2 tahun lalu, hanya aku nunggak gara-gara otakku lemot," jawabku.


"Kau harus belajar lebih rajin lagi, aku yakin kau bisa lulus dengan nilai yang baik," ujar Gerry.


"Aara kau mau ke mana?" tanya Gerry yang membuntutiku. Aku tak menjawab, segera membeli susu, roti dan minuman untuk mereka. Aku membayar di kasir, Gerry hanya memperhatikanku dengan bingung. Aku berjalan kembali keluar menghampiri mereka. Ku berikan semua yang ku beli tadi.


"Terimakasih Dek, semoga Allah membalas kebaikanmu."


"Makasih kakak."


"Iya sama-sama," jawabku sambil tersenyum. Rasanya senang sekali ketika aku bisa menolong mereka. Mungkin aku tak punya banyak uang tapi sedikit bantuanku bisa meringankan beban mereka. Gerry hanya melihatku dari kejauhan. Segera aku menghampirinya kembali dan berjalan bersamanya lagi.


"Aara kenapa kau membelanjakan uangmu untuk mereka? kau saja kekurangan sampai harus dagang bawa bayi," ucap Gerry.


"Aku memang susah, tapi aku tidak tega melihat mereka susah. Entahlah," jawabku.


"Orang kaya yang membantu orang miskin itu biasa, karena mereka kaya, mampu, tapi orang miskin yang membantu orang kesusahan itu luar biasa, meskipun hidupnya sulit tapi masih peduli pada sesamanya," ujar Gerry.


"Iya, terkadang hidup tak harus melihat hidup kita terus, ada kehidupan di mana orang lain yang memiliki hidup jauh lebih susah dari kita, dan bagaimana kita menyikapinya," ucapku.


Otak kosongku sok bijak. Udah kaya motivator. Seharusnya mungkin jadi motivator aja, tapi gak paham bahasa Inggris, gimana kalau yang butuh motivasi itu bule? udah jawab yes atau no. Padahal dia mau tanya cara BAB dengan benar pakai tissu atau air.

__ADS_1


Hujan mulai turun deras, aku dan Gerry menepi ke halte bus. Kami berdiri di halte, karena hujannya lama, aku kelelahan dan duduk tiduran sambil memangku Bobo. Tak ku sangka Gerry duduk di sampingku, dia menyandarkanku di bahunya. Sesekali mencium keningku dan memangku Bobo.


"Bocah, aku makin sayang," ucapnya padaku.


Angin berhembus semakin kencang, Gerry melepas sweaternya, menyelimutkannya padaku.


Dia jug memeluk Bobo erat. Bobo nyaman dipelukannya. Sesekali tersenyum padanya. Gerry mengajaknya bicara, membuat Bobo semakin antusias. Dia tersenyum dan begitu senang saat Gerry mengajaknya bicara. Dua jam berlalu, hari sudah sore, aku baru saja terbangun. Terkejut saat aku ada dibahu Gerry. Segera bangun dan duduk tegap.


"Kak Gerry maaf," ujarku.


"Tidak apa-apa, kau lelah," kata Gerry.


"Bobo," sapaku melihat Bobo anteng di tangan Gerry.


"Tadi Bobo pup, aku tidak tahu cara menggantinya, asal aja," ujar Gerry.


Aku langsung mengambil Bobo dari tangan Gerry.


Ku periksa popoknya, meski pasangnya terbalik tapi selebihnya benar. Ternyata Gerry bisa juga mengurus Bobo.


"Makasih Kak, maaf merepotkanmu," ujarku.


"Tidak masalah, aku suka mengurus anak kecil, apalagi ibunya," ujar Gerry.


"Apa?" tanyaku. Apa takut salah mendengar. Mungkin telingaku yang sedang kotor.


"Aara hujan udah reda, ayo pulang," ajak Gerry.


Aku mengangguk. Semua barang ku bereskan. Kami berjalan menuju arah pulang. Senangnya hari ini, aku dapat yang cukup banyak, semoga semua terkumpul cepat, aku bisa bayar SPP.


***


Pagi itu aku, Dodo, Ami sedang bercanda sambil menunggu jam masuk kelas. Tiba-tiba Axel menaruh tasnya di mejaku. Ami langsung nyolot padanya.


"Ganteng, kenapa tasmu ada di sini, apa kau ingin pedekate denganku?" tanya Ami.


Sepanjang sejarah Ini pertama kalinya Axel mendekati geng absurd. Entah apa tujuannya.


"Pindah ke depan! aku mau duduk sama Aara," ucap Axel.

__ADS_1


"Apa?" Aku, Dodo dan Ami terkejut. Mereka Tak habis pikir tiba-tiba Axel menyuruh Ami pindah ke depan.


__ADS_2