Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
New Generation Part 53


__ADS_3

Rehan dan Cinta keluar dari rumah sakit. Mereka masuk ke mobil pribadi milik Rehan. Cinta duduk dikursi belakang bersama Rehan. Cinta memperhatikan jalan, dia merasa itu bukan jalan pulang ke Apartemen Gloria. Dia bertanya pada Rehan.


"Kak Rehan bukannya kita mau pulang?"tanya Cinta.


"Kita akan pulang gadis kecil"ucap Rehan.


"Tapi ini kok kayanya bukan jalan menuju ke apartemen ya?"tanya Cinta.


"Gadis kecil nanti kau akan tahu"ucap Rehan.


Cinta hanya mengangguk dengan ucapan Rehan padanya. Sampai disebuah rumah besar dan megah. Mobil parkir dihalaman rumah besar itu.


"Gadis kecil ayo turun"ucap Rehan.


"Ini rumah siapa Kak Rehan?"tanya Cinta.


"Ini rumah kita gadis kecil"ucap Rehan.


"Rumah ini rumah kita?"ucap Cinta masih belum percaya.


"Kau tak percaya, seorang Rehan Darien bisa memberimu tempat tinggal seperti ini"ucap Rrhan.


"Percaya, kaukan Tuan yang sombong"ucap Cinta.


"Bibir kecilmu itu manis, jadi katakan sesuatu yang membuatku senang gadis kecil"ucap Rehan.


"Kak Rehan suamiku yang baik, tampan dan pintar gendong aku masuk ke rumah itu"ucap Cinta.


"Ternyata ucapan manismu itu ada maunya ya gadis kecil"ucap Rehan.


"Gendong"ucap Cinta.


"Kalau aku capek karena menggendongmu, aku akan minta upah"ucap Rehan.


"Bilang saja kau tidak kuat menggendongku, iyakan"ucap Cinta.


"Kau menantangku, kau tak ingat berapa kali aku menggendongmu"ucap Rehan.


"Enggak"ucap Cinta.


"Kalau gitu naiklah, aku akan menggendongmu gadis kecil"ucap Rehan.


"Oke"ucap Cinta.


Cinta naik ke punggung Rehan.


"Kau berat ya sekarang"ucap Rehan.


"Habis tiap hari kau menyuapiku"ucap Cinta.


"Kalau kau semakin gendut, lama-lama aku gak kuat menggendongmu"ucap Rehan.


"Jadi Kak Rehan gak suka aku gendut" ucap Cinta.


"Suka, kau jadi montok"ucap Rehan.


"Kak Rehan kau pasti berpikir jorok"ucap Cinta.


"Hei berpikir jorok pada istri sendiri gak papakan gadis kecil"ucap Rehan.


Cinta langsung memeluk Rehan saat dipunggungnya. Dia merasakan aroma tubuh Rehan dan kehangatannya yang selalu membuatnya nyaman.


Sampai didalam rumah besar itu terdapat beberapa pelayan. Semua pelayan menyambut Rehan yang menggendong Cinta dipunggungnya.


"Selamat pagi Tuan"ucap Para pelayan.


"Pagi"ucap Rehan.


Cinta malu digendong Rehan memasuki rumah itu.


"Kak Rehan turun"ucap Cinta.


"Aku gak akan menurunkanmu sampai dikamar kita"ucap Rehan.


"Malu, para pelayan itu melihat kita"ucap Cinta.


"Memang kenapa? aku mau apa juga, bukan urusan mereka, tugas mereka bekerja mengurus rumah ini"ucap Rehan.


"Tapi aku malu"ucap Cinta.


"Kalau begitu ayo kita segera naik........"ucap Rehan sambil berlari menggendong Cinta.


"Kak Rehan.....nanti jatuh....."ucap Cinta.


"Takut ya sayang"ucap Rehan.


"Kak Rehan....."ucap Cinta berteriak.


Rehan terus berlari hingga masuk ke kamar mereka. Dia menjatuhkan Cinta ke ranjang dan berbaring diranjang bersama Cinta.


"Gimana gadis kecil? kau suka tidak kamarnya?" tanya Rehan.


"Suka"ucap Cinta.

__ADS_1


"Kau lihat didinding ada foto pernikahan kita"ucap Rehan.


"Iya, Kak Rehan tampan dan gagah"ucap Cinta.


"Jadi kau senengkan jadi istriku gadis kecil"ucap Rehan.


"Nggak"ucap Cinta.


"Masa sih sayang"ucap Rehan.


Rehan mendekati wajah Cinta yang malu-malu saat Rehan menatapnya dari dekat.


"Iya"ucap Cinta.


Rehan mendekati bibir Cinta hendak menciumnya tapi suara pintu diketuk membuatnya berhenti.


Tuk.....tuk.....tuk......


"Tuan.....ada tamu syantik dan seksi menggoda iman, merontokkan pertahanan datang kemari"ucap Mba Tin-Tin.


Rehan berdiri lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Tamu siapa?"tanya Rehan.


"Itu Tuan orangnya cantik rambut panjang melambai terkena angin, body mulus awas jadi pelakor diantara kalian, bilangnya perawat yang siap merawat tapi jangan merawat Tuan juga, kan udah ada istri"ucap Mba Tin-Tin.


"Siapa namanya?"tanya Rehan.


"Dina seribu bunga mempesona ditaman yang indah gak ada duanya"ucap Mba Tin-Tin.


"Oke, aku akan turun menemuinya"ucap Rehan.


"Saya pamit dulu Tuan keburu matahari berada ditengah langit tentu akan panas jika menjemur pakaian, saya harus segera pergi ke medan perang sebelum hujan datang baju tak kunjung dijemur"ucap Mba Tin-Tin.


"Ya"ucap Rehan.


"Ini pembantu lebay masa kini, boleh juga buat hiburan dimasa senggang"ucap Rehan.


Mba Tin-Tin akhirnya pergi juga. Rehan langsung turun ke lantai bawah menuju ke ruang tamu bertemu Dina.


"Selamat pagi"ucap Dina.


"Pagi"ucap Rehan.


"Silahkan duduk"ucap Rehan.


"Baik"ucap Dina.


Rehan dan Dina duduk disofa ruang tamu itu.


"Saya Rehan Darien"ucap Rehan.


"Saya ditugaskan kemari untuk merawat Nona Cinta Mutiara yang sedang menderita leukimia" ucap Dina.


"Benar, selama saya bekerja, kamu harus merawat Cinta dan menjaganya"ucap Rehan.


"Baik"ucap Dina.


"Mari saya antar ke kamarmu"ucap Rehan.


"Oke"ucap Dina.


Rehan mengantar Dina ke kamarnya dilantai bawah dekat ruang keluarga.


"Dina ini kamarmu selama disini"ucap Rehan.


Dina melihat keseluruh ruangan kamarnya.


"Kalau kau butuh sesuatu yang kurang dikamar ini tinggal bilang ke pelayan dirumah ini, biar mereka menyampaikannya pada saya"ucap Rehan.


"Oke"ucap Dina.


"Setelah kau membereskan barangmu, nanti saya akan mengenalkanmu pada Cinta"ucap Rehan.


"Oke"ucap Dina.


"Baiklah kalau begitu, saya tinggal dulu"ucap Rehan.


"Ya"ucap Dina.


Rehan keluar dari kamar itu menuju ke kamarnya dilantai atas. Sementara Dina tersenyum, rencananya baru saja dimulai.


"Rehan Darien kau akan masuk ke dalam perangkapku, selain tampan kaya pula, benar-benar mangsa yang menguntungkanku" ucap Dina.


Tak lama handphone Dina berdering, dia langsung mengangkat telpon itu.


"Hallo Bos"ucap Dina.


"Hallo Dina, bagaimana? kau sudah masuk ke rumah binatang buruanmu?"tanya Eden.


"Sudah Bos"ucap Dina.


"Lakukan semuanya sesuai rencanaku"ucap Eden.

__ADS_1


"Beres Bos"ucap Dina.


"Aku akan memberimu bonus tambahan jika kau berhasil memburu binatang itu"ucap Eden.


"Oke Bos"ucap Dina.


"Aku menanti hasil buruanmu secepatnya"ucap Eden.


"Siap"ucap Dina.


Eden menutup telponnya setelah berbicara dengan Dina. Lalu Dina berbaring diranjang kamar itu.


"Bos, uang yang kau berikan tak seberapa dengan kekayaan Rehan Darien. Aku lebih tertarik memburunya untukku dari pada menyerahkan buruanku untukmu, aku ini tidak bodoh"ucap Dina.


Dina hanya tersenyum dengan rencananya.


Tak lama Dina keluar dari kamarnya, dia melihat Rehan dan Cinta duduk diruang keluarga itu.


"Dina kemarilah"ucap Rehan.


"Baik Tuan"ucap Dina.


Dina menghampiri Rehan dan Cinta.


"Dina, ini Cinta istriku"ucap Rehan.


"Senang bertemu denganmu"ucap Cinta.


"Saya Dina Nona Cinta, saya juga senang bertemu dengan Anda"ucap Dina.


"Oh...., ini istrinya yang penyakitan itu, paling bentar lagi is death"batin Dina.


"Dina duduklah"ucap Cinta.


"Iya Nona"ucap Dina.


Dina duduk di sofa bersama Rehan dan Cinta.


"Gadis kecil aku ke atas dulu, ada kerjaan yang harus ku selesaikan"ucap Rehan.


"Iya Tuan yang sombong"ucap Cinta.


"Ih.....sok sweet banget sih pakai panggilan sayang, lihat saja senyuman itu akan berubah air mata"batin Dina.


Rehan meninggalkan Cinta naik ke lantai atas.


"Nona Cinta masih muda sudah menikah ya" ucap Dina.


"Iya"ucap Cinta.


"Apa gak kemudaan menikah semuda ini"ucap Dina.


"Kak Rehan menikahiku untuk merawatku dan menjagaku selama sakit, daripada menyebabkan zina lebih baik kami menikah"ucap Cinta.


"Begitu ya, oya Nona Cinta harus bisa pinter-pinter ngimbangin Tuan Rehan yang udah dewasa, tahukan maksud saya"ucap Dina.


Cinta hanya tersenyum dengan ucapan Dina.


"Pelakor jaman sekarang nekat lo Nona, apalagi suami Nona tampan dan kaya, harus lebih hati-hati"ucap Dina.


"Bener Non, kalau ada pelakor datang dari kuburan saya tampol pakai panci kreditan, biar nambah diomelin tukang perabotnya sekalian"ucap Mba Tin-Tin yang baru datang membawa minuman dan camilan.


"Ih....ini pembantu nyebelin, lebay"batin Dina.


"Iya Mba"ucap Cinta.


"Tenang Non, Mba gakkan biarin pelakor nyosor Tuan kaya bebek dikali berjejer nyosorin comberan"ucap Mba Tin-Tin.


"Makasih Mba"ucap Cinta.


"Maju tak gentar membela kolor abang takut dipelorotin pelakor repotkan tak ngabur bang jalinya"ucap Mba Tin-Tin.


"Sumpah nih pembantu dari planet mana"batin Dina.


"Jika pelakor didepan, kita cekokin tu pelakor pakai jamu tobat, udah mending ma aki-aki masih ngantri butuh kasih sayang buat gantiin pempes udah penuh"ucap Mba Tin-Tin.


"Bikin rencana gue gagal aja nih pembantu lebay, mending cabut dulu panas telinga gue"batin Dina.


"Nona Cinta saya beresin perlengkapan saya dulu"ucap Dina.


"Iya"ucap Cinta.


Dina akhirnya kembali ke kamarnya.


"Non setan pelakor biasa kepanasan denger Mba ceramah panjang kali lebar luas bangunan WC, pokoknya jampi-jampi dari mulut Mba manjur buat menghempaskan pelakor kembali ke habitat alaminya dikandang sapi"ucap Mba Tin-Tin.


"Makasih Mba"ucap Cinta.


"Mba ini pawang pelakor biasa numpas mereka dari barat timur mencari kitab suci buat membasmi pelakor yang merajalela kaya semut nimbrung digula"ucap Mba Tin-Tin.


"Mba Tin-Tin lucu"ucap Cinta.


"Non hati-hati pelakor berdasi ada diseliling kita kaya kecoak dimana-mana ada, kalau udah ngerayapin Tuan bisa repot, mending disemprot pake pembasmi hama biar mati dan kembali ke neraka jahanam tempat keabadiaannya"ucap Mba Tin-Tin.

__ADS_1


Cinta hanya tersenyum mendengar ucapan Mba Tin-Tin. Dia merasa terhibur dengan nasihat-nasihat dari Mba Tin-Tin ini.


__ADS_2