Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 45


__ADS_3

"Kenapa? jangan takut Lisa ini gadis yang baik," ujar Nenek Karina.


Albern terdiam sesaat. Sebenarnya dia ingin memberi tahuku pada neneknya tapi tak mungkin ditempat ramai seperti ini. Apalagi nenek tidak bisa dikejutkan.


Albern hanya tersenyum pada neneknya.


"Albern ajak Lisa berkeliling, biar kalian akrab," ujar Nenek Karina.


Albern hanya mengangguk.


Untuk saat ini tak ada yang bisa dia lakukan. Dia harus menunggu waktu untuk menjelaskan pada neneknya.


Albern mengajak Lisa berkeliling sesuai permintaan neneknya. Dia hanya diam tak berkata apapun. Lisa penasaran dengan Albern dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Albern sudah lama tak bertemu ya," ujar Lisa.


Albern hanya diam.


"Dulu saat kita kecil pernah main bersama, kau ingat waktu nenekku mengajakku bertemu nenekmu," ungkap Lisa.


Albern hanya diam.


"Kau marah padaku? apa kau tak suka bertemu denganku?" tanya Lisa.


"Lisa kalah kau sudah puas berkeliling, aku ke sana dulu," ucap Albern.


"Iya," sahut Lisa.


Albern memutuskan untuk meninggalkan Lisa, namun Lisa menarik lengannya.


"Lisa," ucap Albern.


"Albern aku suka padamu dari dulu," ujar Lisa.


Albern terkejut. Keadaan ini semakin menyulitkannya. Kalau bukan karena neneknya yang sakit tak mungkin dia diam saja.


"Lisa dari dulu aku hanya menganggapmu sebatas teman, tidak lebih," ujar Albern.


Wajah Lisa yang berseri berubah suram. Dia tak menyangka akan ditolak Albern begitu saja. Tangannya lemas, terlepas dari lengan Albern, masih terdiam mematung.


Albern kembali berjalan meninggalkannya.


"Aku paling tak suka ditolak, kau akan bertekuk lutut padaku Albern," ujar Lisa.


Albern berdiri di tepi ruangan acara. Dia meminum jus sambil mendengar lagu yang dinyayikan penyanyi, dari arah samping Axel menghampirinya.


"Kau sudah datang?" ujar Axel.


"Aku pikir kau tak akan menyapaku lagi setelah kejadian itu," ucap Albern.


"Gimana gadis yang dikenalkan nenek? cantik?" tanya Axel.

__ADS_1


"Tidak ada yang cantik selain istriku, kau tak perlu bertanya lagi," jawab Albern.


"Aku ke sini hanya menegaskan, kalau kau ingin meninggalkan Aara, aku siap menjaganya untukmu," ujar Axel.


"Aku takkan meninggalkanmu demi apapun, ingat itu," tegas Albern.


"Lalu perjodohanmu?" tanya Axel.


Albern terdiam sesaat. Itulah yang sulit untuknya menjelaskan pada neneknya.


"Nenek tak mungkin menerima pengakuanmu yang sebenarnya, sama saja kau membunuhnya dengan cepat," ujar Axel.


"Apapun itu caranya aku pasti akan menjelaskan pada nenek," tegas Albern.


"Kita lihat, jangan sampai kau menyakiti Aara," ujar Axel kemudian berjalan meninggalkan Albern.


Usai acara Nenek Karina meminta Albern mengantarkan Lisa pulang, kali ini Albern lagi-lagi tak bisa menolak. Dia hanya bisa mengangguk. Albern terpaksa mengantar Lisa. Di perjalanan pulang menuju rumah Lisa, Albern terdiam. Padahal Lisa mengajaknya bicara.


"Benar-benar Albern, kau harus tahu siapa aku," batin Lisa.


"Albern berhenti dulu, ada yang ingin ku beli," ujar Lisa.


Albern menghentikan mobilnya di depan mini market. Lisa manfaatkan situasi ini untuk mencium Albern. Seketika Albern langsung mendorong tubuhnya.


"Lisa!" pekik Albern.


"Albern aku bisa memberimu yang tidak bisa wanita lain berikan," ujar Lisa.


"Albern!" pekik Lisa marah.


"Turun! mobilku tak pantas ditumpangi wanita murahan," ujar Albern.


"Kau!" pekik Lisa kesal menunjuk Albern.


"Ingin mengadu pada nenek? aku tinggal bilang kau murahan memaksaku untuk berciuman," ancam Albern.


"Albern, aku akan bikin perhitungan denganmu!" ancam Lisa.


"Silahkan!" ujar Albern.


Lisa turun dari mobil, membanting pintu mobil kemudian berjalan meninggalkan mobil Albern.


Sejenak Albern bisa bernafas lega. Paling tidak wanita itu sudah tidak mengekor padanya.


"Aku harus membawa Aara, nenek harus mengenalnya," ujar Albern. Dia kembali mengendarai mobilnya menuju arah pulang.


Sampai di rumah, Albern langsung mencari keberadaanku. Dia memelukku dari belakang.


"Suamiku sudah pulang," ujarku.


"Sayang kangen," ucap Albern.

__ADS_1


"Aku juga," jawabku.


"Besok ikut aku ya," ujar Albern.


"Ke mana?" tanya Albern.


Aku penasaran. Tiba-tiba mengajakku ikut dengannya. Sepertinya serius. Tidak mungkinkan mengajakku naik roket ke bulan? aku belum siap bertemu alien, bahasa Inggris saja belum hafal, ini harus belajar bahasa alien dan caranya membuang air besar, apakah sama dengan manusia atau justru mereka menimbunnya biar jadi piramida.


"Ada, nanti kau akan tahu," ujar Albern.


"Suamiku aku ngantuk," ujarku.


Albern melepas pelukannya, membopongku ke ranjang. Kami berbaring bersama. Albern terus memelukku erat.


***


Pagi itu hari libur, Albern mengasuh Bobo. Sementara itu aku ingin gerak jalan bersama Dodo dan Ami. Sudah lama kami tak mengeluarkan lemak-lemak yang mengontrak tanpa bayar ditubuh kami. Aku berlari di tepi jalan menuju alun-alun tempat kami janjian.


"Lumayan, sehat dan bugar, senangnya bisa lari pagi gini, untung si buaya mau jagain Bobo," ucapku.


Aku terus berlari sampai di alun-alun. Bertemu Dodo dan Ami.


"Aara kau lama sekali, aku sudah bolak-balik ngiler liat orang jualan, tapi jiwa miskinku tak mampu membelinya satupun," ujar Ami.


"Kata siapa, tadi kau makan nasi kemarin yang dikepel, itu bukannya jajanmu sebagai kaum gembelarisme," ucap Dodo.


"Iya, apa daya, jajan tak mampu hanya sisa nasi kemarin yang ku kepal dengan sesendok garam," ujar Ami.


"Asin dong," ujarku.


"Biarin asin, justru itu cara orang miskin sepertiku mengawetkan makanan, kalau nasinya asin, kita makannya sedikit demi sedikit, tak kan habis langsung, jadi hemat dong," ujar Ami.


Aku sedikit mengelus dada. Ami mampu tertawa dan ceria setiap saat meski hidupnya sulit. Itu yang membuatku semangat. Kalau Ami saja bisa kenapa aku tidak.


"Udah yuk kita jalan-jalan, nanti sarapan aku traktir," ujarku.


"Beneran Aara?" tanya Ami dan Dodo.


"Iya, Bos sudah memberiku uang, kita bisa makan sepuasnya pagi ini," ujarku.


"Alhamdulillah cacingku tak perlu makan nasi basi," ujar Ami.


"Gak perlu nyemil jagung tua lagi, ada oase di padang rumput," ucap Dodo.


"Oase ya di padang pasir," ujar Ami.


"Pinteran kamu, apa otakmu udah disteam jadi fresh," ujarku.


"Kemarin dicuci pakai sabun colek, jadi smart lagi, gak bulukan lagi," ujar Ami.


Kami tertawa. Kemudian lari bersama. Tak sengaja kami bertemu nenek-nenek duduk di tepi jalan, terlihat lemas dan pucat. Kami menghampiri nenek itu.

__ADS_1


__ADS_2