
Albern membopongku ke meja baca yang ada di kamar kami. Dia mendudukkanku di meja. Menatap mataku dengan tatapan penuh cinta.
"Sayang," panggil Albern.
"Iya suamiku," sahutku.
Albern mendekat ke wajahku. Menciumku dengan mesra. Kami hanyut dalam kemesraan yang tiada duanya. Rasa cinta dan nafsu bercampur jadi satu. Helai demi helai benang berjatuhan. Suara-suara merdu itu mulai menggema memenuhi ruangan kedap udara. Meski bukan malam pertama kami tapi malam itu begitu syahdu. Begitu indah dan penuh kehangatan. Bak pengantin baru kami enggan menyudahi cepat. Mengatur nafas kembali bergelut dengan cinta yang memabukkan.
Di tempat yang berbeda, Rangga dan Adelina baru sampai hotel. Mereka duduk di ranjang. Malu-malu. Satu sama lain tidak tahu harus bicara apa duluan. Sebelumnya mereka kakak adik dan sekarang menjadi pasangan.
Rangga termenung. Ingin rasanya menyentuh tangan Adelina, mencium bibir merah meronanya. Mengatakan cinta seperti sepasang kekasih pada umumnya.
Begitupun Adelina. Dia menunggu Rangga menyapanya duluan. Tangannya dingin. Dia grogi meskipun dari kecil sering bersama Rangga. Namun kali ini konteksnya berbeda. Rangga adalah suaminya.
Tangan keduanya mendekat ragu-ragu. Tak sengaja bersentuhan. Adelina hendak menjauhkan tangannya namun Rangga menggenggam tangan Adelina. Mereka menengok ke samping. Saling menatap. Matanya bertautan satu sama lainnya.
"Adel cantik banget," puji Rangga.
"Kak Rangga juga ganteng banget," sahut Adelina.
"Istriku bidadariku," ucap Rangga.
"Apa?" tanya Adelina. Dia ingin mendengarnya sekali lagi dari mulut Rangga.
"Istriku bidadariku," ucap Rangga.
Adelina langsung mencium Rangga. Seketika Rangga terkejut Adelina menciumnya duluan. Namun ciuman itu begitu manis membuat Rangga menginginkan lebih. Dia membalas ciuman yang hampir diakhiri Adelina dengan ciuman yang lebih mesra. Membuat keduanya hanyut dalam indahnya ciuman pertama.
Kali ini Rangga tak ingin membuang waktu. Adelina sudah memberik kode keras. Dia mulai melakukan semua yang diinginkannya. Mereka berlanjut dari tahapan demi tahapan. Dia benang-benang itu berserakan di lantai. Ranjang menjadi arena gulat cinta. Suara-suara menggema meski masih tarik ulur dan malu-malu. Namun berjalan seiring irama. Kedua pengantin itu memadu cinta meski sakit di awal namun indahnya malam pertama tak bisa dipungkiri. Bulan dan bintang jadi saksi penyatuan dua insan itu. Mereka terus mengulang seiring waktu yang terus berputar. Hingga pukul 3 malam mereka berbaring di ranjang. Satu selimut tebal bersama. Menutup tubuh mereka. Rangga memeluk Adelina. Tak ingin jauh dari adiknya yang kini menjadi istrinya.
"Makasih sayang, akulah yang jadi pemilik kehormatanmu," ujar Rangga.
"Iya Kak Rangga," sahut Adelina.
"Aku mencintaimu," ucap Rangga.
"Aku juga mencintaimu," sahut Adelina.
Rangga mencium pipi Adelina. Tak pernah terbayangkan olehnya akan bersama Adelina, dulu mereka selalu main bersama, sekolah bersama, dan tinggal di rumah yang sama. Sekarang mereka jadi pasangan suami istri yang akan selalu bersama dalam suka duka.
"Sayang nanti kita punya anak ya, kembar," ucap Rangga.
"Iya Kak Rangga, biar kembar cewek cowok," sahut Adelina.
__ADS_1
"Nanti rumah Papa dan Mama jadi ramai," ujar Rangga.
"Iya rumah Papa dan Mama ramai, selain anak kita, akan ada anak Kak Albern dan Kak Aara," ujar Adelina.
"Aku beruntung jadi anak Papa dan Mama, jadi bisa bertemu denganmu," ujar Rangga.
"Aku juga beruntung bisa jadi adik dan istri Kak Rangga," sahut Adelina.
Rangga memeluk erat Adelina. Mencium keningnya. Lama kelamaan mereka berdua tertidur karena kelelahan. Mereka bahagia bisa bersama menjadi suami istri.
***
Pagi itu Albern sudah bangun duluan. Usai sholat subuh ksmi bermain cinta kembali kemudian tidur bersama sampai jam 8 pagi aku masih berbaring di ranjang karena kelelahan. Albern sengaja tidak membangunkanku. Dia memasak sarapan untukku. Aroma roti bakar rasa coklat keju itu tercium dari perutku yang mulai bernyanyi meminta diisi. Susu hangat tersedia di meja bersama roti yang masih hangat.
"Sayang bangun," ucap Albern yang duduk di sampingku. Dia mengelus pipiku hingga ke rambutku.
Mataku terbuka perlahan. Melihat ke sekeliling. Ternyata aku berada di kamar bersama Albern. Kamar yang ada di rumah baru kami. Udaranya sejuk karena banyak pepohonan di samping kanan dan kiri rumah. Sinar matahari mulai merambah masuk melewati jendela yang sudah dibuka Albern sejak pagi. Angin sepoi-sepoi di pagi hari membuat tubuh ini merasakan kesegarannya.
"Suamiku sudah bangun duluan?" tanyaku.
"Iya sayang, kau lelah jadi aku bangun duluan untuk membuat sarapan untukmu," jawab Albern.
Aku bangun. Mengucek mataku yang masih belum terbuka sepenuhnya. Melihat ruangan yang sudah mulai terang. Tersenyum pada lelaki tampan di depanku.
"Pagi sayang," sahut Albern.
"Makasih suamiku, sudah buatin sarapan untukku" ucapku.
"Iya sayang, ayo sarapan," ujar Albern.
Aku mengangguk.
Albern menarik tanganku berjalan menuju sofa. Kami duduk bersama. Namun Albern menarik tubuhku, duduk di pangkuannya.
"Suamiku," ucapku.
"Kalau sarapannya begini lebih romantis sayang," ucap Albern.
Aku tersenyum. Senang dengan gombalan Albern.
"Suapin," ucapku manja.
"Oke, untuk cintaku apa sih yang enggak," sahut Albern. Dia memotong roti bakarnya. Menyuapkan ke mulutku. Aku mengunyah perlahan potongan demi potongan roti itu. Rasanya manis, gurih, dan asin. Enak. Empuk lagi sedikit krispi di luar. Albern pandai membakarnya.
__ADS_1
"Enak sayang?" tanya Albern.
"Iya enak," jawabku.
"Mau lagi?" tanya Albren.
"Mau," jawabku.
Albern kembali menyuapiku. Aku gantian menyuapi Albern. Pagi itu jadi pagi yang romantis untuk kami.
Di hotel Rangga dan Adelina juga sedang sarapan. Mereka sengaja memesan sarapannya ke kamar hotel. Mereka bermalas-malasan. Bukan tiduran tapi kembali bermain cinta. Sepertinya semalam masih kurang. Rangga tak ada matinya. Dia terus ketagihan dan ingin menghabiskan waktu seharian bermesraan dengan Adelina.
Hingga pukul 10 pagi mereka mandi bersama dan sarapan di tepi jendela kaca kamar hotel. Rangga sengaja memindahkan kursi dan meja mendekat dengan jendela kaca biar bisa melihat pemandangan kota.
"Enak ya sayang sarapannya sambil berjemur," ujar Rangga.
"Iya enak Kak Rangga, cuma badanku pegal semua," sahut Adelina.
"Maaf ya sayang kau capek ya?" tanya Rangga.
"Iya, tapi Adel suka," sahut Adel malu-malu.
"Habis sarapan mau lagi gak?" tanya Rangga menggoda.
"Gak, capek, pengen tidur dulu," sahut Adelina.
Rangga tersenyum. Dia mengusap ubun-ubun Adelina. Dia tahu istrinya pasti kelelahan setelah semalaman dan pagi tadi bermesraan dengannya.
"Kak Albern dan Aara ngajak jalan-jalan sore, mau?" tanya Rangga.
"Jalan-jalan sore?" tanya Adelina.
"Iya, ada Axel dan Raina juga, kau harus mengenal mereka dan anaknya Bobo," ujar Rangga.
"Bobo?" ujar Adelina.
"Iya anaknya Axel dan Raina," jawab Rangga.
"Aku baru denger soal Axel dan Raina, apalagi Bobo," ujar Adelina.
"Nanti sore kita bertemu mereka ya," ujar Rangga.
Adelina mengangguk. Kebetulan mereka tak ada jadwal. Sekalian ingin mengenal Axel, Raina dan Bobo. Aku belum pernah memberitahu soal mereka pada Adelina dan semua orang di rumah. Mungkinkah mereka harus tahu siapa Bobo? Rahasia ini tak bisa selamanya disembunyikan.
__ADS_1