
"Nama ayahku Andra Mahesa dan Ibuku Zhafira" ucap Hanan.
"Oh, tante Fira" ucap Haura.
"Kau kenal ibuku?" tanya Hanan.
"Kenal dong, bilang gak ya" ucap Haura.
Hanan penasaran, Haura mengenal ibunya dari mana. Padahal dia baru pertama kali bertemu Haura.
"Apa ibuku teman ibumu?" tanya Hanan.
"Bukan, tapi lebih tepatnya temen Omku" ucap Haura.
"Siapa nama Ommu?" tanya Hanan.
"Om Raka" ucap Haura.
"Oh, kamu keponakan Om Raka?" tanya Hanan.
"Iya" ucap Haura.
Hanan tak menyangka bisa bertemu keponakan Raka. Kebetulan Hanan mengenal Raka dari ibunya Zhafira dan Hanan belajar bela diri di tempat latihan berpedang milik Azkia.
"Senang bisa bertemu denganmu Haura" ucap Hanan.
"Aku juga senang bertemu denganmu Hanan" ucap Haura.
"Dimana kau tinggal disini, Haura?" tanya Hanan.
"Didekat sini, kau sendiri kenapa ada di kota B?" tanya Haura.
"Aku mondok dipesantren dekat sini" ucap Hanan.
"Ooh..., kau anak pesantren" ucap Haura.
Hanan dan Haura terus mengobrol. Hingga Haura memutuskan pulang disore harinya. Dia senang bisa bertemu teman baru. Paling tidak ada yang membuat harinya jadi lebih menyenangkan.
**************
Rehan melihat kontrakkan yang ditempati Rafael dan Alina. Tak ada kasur atau barang berharga. Hanya ada karpet dan selimut. Rehan berpikir mungkin Alina dan Rafael hanya tidur beralaskan kedua barang itu. Dia tak menyangka hidup kedua anak itu memprihatinkan.
"Sejak kapan kalian berdua tinggal disini?" tanya Rehan.
"Baru beberapa bulan ini Om" ucap Rafael.
"Sebelumnya tinggal dimana?" tanya Rehan.
"Tinggal dirumah orantua angkat kami, tapi setelah rumah orantua angkat kami disita bank, kami tinggal disini Om" uvap Rafael.
"Om lapar? biar Alina membeli sesuatu" ucap Alina.
"Biar aku saja yang keluar membeli makanan, adik kecil" ucap Rafael.
Rafael keluar dari kontrakan. Tinggal Rehan dan Alina didalam kontrakkan itu.
__ADS_1
"Alina seperti apa Rafael dimatamu?" tanya Rehan.
"Kak Rafa orangnya sangat baik, selalu peduli pada orang lain, dia selalu mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingannya sendiri. Dia penyayang dan perhatian. Pokoknya dia the best" ucap Alina menjelaskan seorang Rafael dimatanya.
"Apa kau menyayanginya?" tanya Rehan.
"Sangat" ucap Alina menegaskan.
"Bagaimana jika suatu hari kau harus berpisah dengannya?" tanya Rehan.
Air mata Alina menetes tanpa sadar. Seolah hatinya bersedih jika hal itu akan terjadi. Dia tak pernah membayangkan akan berpisah dengan Rafael.
"Aku dan Kak Rafa tumbuh bersama, bermain bersama dan berbagi apapun bersama. Dimana ada Kak Rafa, disitu ada aku. Aku....aku tidak bisa bila harus berpisah dengannya hik hik hik" ucap Alina.
Tangisan Alina pecah saat mengingat perpisahaan yang mungkin saja terjadi. Dia tidak ingin terpisahkan dari Rafael. Alina tidak yakin bisa hidup tanpa kakaknya itu.
"Sepertinya akan menyakitkan apabila aku memisahkan Alina dari Rafael. Anak ini sudah begitu dekat dengan kakaknya. Apa aku akan membawa Alina. Bagaimana jika Alina justru tidak bahagia?" batin Rehan.
"Alina jangan bersedih, kalian takkan terpisahkan. Ini hanya berandai saja" ucap Rehan.
"Maaf Om, aku jadi sedih dengan ucapan Om yang itu. Aku tidak bisa membayangkan berpisah dengan kakakku" ucap Alina.
Tak lama Rafael datang membawa makanan. Mereka bertiga mulai makan malam bersama.
Setelah malam Rehan sholat berjamaah dengan Alina. Mereka berdua berdoa bersama.
"Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang jangan pisahkan aku dan Kak Rafa.
Aku sangat menyayanginya. Aku ingin hidup bersama dengannya selamanya, amin" ucap Alina dalam doanya.
"Mungkin Alina akan bahagia bersama keluarganya. Aku akan melepas Alina demi kebahagiaannya. Disana hidupnya jauh lebih baik dari pada bersamaku. Alina kakak sangat menyayangimu. Jika bisa meminta, aku ingin bersamamu selamanya" batin Rafael bergejolak.
Selesai sholat, mereka semua tidur dikontrakan yang sempit itu. Rehan tidur bersama Rafael disisi sebelah kiri gorden dan Alina tidur sebelah kanan gorden. Rehan begitu terkejut mereka tidur hanya dibatasi gorden. Bahkan beralaskan karpet dan selimut. Rafael belum bisa membeli kasur. Tapi karpet dan selimut juga cukup tebal untuk alas tidur mereka.
*************
Rehan, Rafael dan Alina pergi ke rumah sakit. Rehan dan Alina akan melakukan test DNA untuk membuktikan hubungan keluarga diantara mereka. Rehan dan Alina bergantian melakukan proses yang dilakukan untuk test DNA. Setelah itu mereka duduk diruang tunggu.
"Kemungkinan hasil test DNA-nya sekitar 3-7 hari" ucap Rehan.
"Semoga secepatnya kita bisa mengetahui kebenarannya" ucap Rafael.
"Kau benar nak Rafael" ucap Rehan.
"Alina berharap Om memang Papa Alina" ucap Alina.
"Iya nak, Om juga berharap Alina memang putri Om" ucap Rehan.
Setelah melakukan test DNA mereka pulang ke kontrakkan.
************
Tiga hari kemudian
Alina berangkat sekolah diantar Rafael sampai ke gerbang sekolah. Barulah Alina masuk ke dalam sekolah itu. Alina melewati kelas Alvan. Sudah beberapa hari ini Alvan tidak bersekolah. Alina teringat saat Alvan selalu mengerjainya.
__ADS_1
"Alvan kau kemana? ada yang hilang rasanya saat kau tidak ada" ucap Alina.
Alina terus berjalan hingga ke kelasnya. Saat masuk ke kelasnya. Maya, Zoya dan Keyla mengerjainya dengan melepas satu plastik kecoak dikepala Alina.
"Iiiiih....." ucap Alina mengebaskan kecoak itu dari tubuhnya.
"Ha ha ha" tawa teman-teman sekelas Alina.
"Aduh Bu Ustadzah datang bersama pasukannya" ucap Zoya.
"Memang pantes sih bertemannya ma kecoak" ucap Keyla.
"Udah biasa idup bareng kecoak sih" ucap Maya.
Tak lama Haura masuk ke kelas. Dia melihat tubuh Alina terdapat beberapa kecoak yang merayap.
"Wah lagi acara apaan nih, kok aku gak diajak" ucap Haura.
"Saatnya aku lebih usil" batin Haura.
Haura mengambili kecoak-kecoak itu ke dalam plastik. Dia juga membantu Alina membersihkan kecoak dari tubuhnya.
"Aduh lucunya kalian kecoak, aku punya tempat migrasi terbaru untuk kalian" ucap Haura.
Haura berjalan menghampiri mereka bertiga lalu menabur kecoak dalam plastik itu ke tubuh Maya, Zoya dan Keyla.
"Iiih....iiiih.....iiiih...." ucap Maya, Zoya dan Keyla.
Mereka bertiga ketakutan dan sibuk mengebaskan kecoak-kecoak dari tubuh mereka.
"Ha ha ha" tawa teman-teman sekelas Alina.
Haura menarik lengan Alina berjalan menuju ke meja mereka. Mereka berdua meletakkan ransel lalu duduk dibangku.
"Haura terimakasih" ucap Alina.
"Sama-sama, ini keusilanku yang benar-benar membuatku senang. Ternyata membantu orang lain lebih menyenangkan dari pada mengusilinya" ucap Haura.
Haura senang kali ini keusilannya berguna dari pada keusilannya sebelumnya. Dia begitu senang membantu orang lain. Ada rasa yang tak bisa diungkapkan saat membantu orang lain.
Saat jam istirahat Haura ke belakang sekolah. Dia mengambil semua ulat yang berada didaun-daun semak-semak. Dia punya hadiah untuk Maya, Zoya dan Keyla agar mereka kapok tidak mengganggu Alina lagi. Haura kembali ke kelas.
Kebetulan jam pelajaran terakhir pendidikan jasmani. Semua siswa keluar kelas untuk berolahraga. Haura meletakkan ulat-ulat itu didalam ransel mereka.
"Maya, Zoya, Keyla selamat menikmati hadiah dariku" ucap Haura.
Setelah itu Haura keluar dari kelasnya ikut bersama teman-teman sekelasnya berolah raga dilapangan sekolah. Dua jam berlalu jam pelajaran pendidikan jasmani sudah selesai. Maya, Zoya, dan Keyla membuka ransel mereka.
"Aaaaaaaa...." Maya, Zoya dan Keyla berteriak.
Mereka bertiga kaget melihat ulat-ulat itu bermain diantara buku-buku. Ulatnya begitu banyak. Mereka hanya ketakutan melihat ulat-ulat itu merayap.
************
Rehan dan Rafael pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil test DNA. Mereka naik bus menuju ke rumah sakit. Sampai dirumah sakit, Rehan dan Rafael mengambil hasil test DNA dilaboratorium. Rehan mendapatkan satu amplop berisi surat keterangan hasil test DNA. Mereka berdua duduk dikursi tunggu diluar laboratorium. Surat keterangan hasil test DNA itu mulai dibuka. Rehan membaca dengan seksama.
__ADS_1
"Gimana hasilnya Om?" tanya Rafael penasaran.