
"Anakku lah, anak siapa lagi," sahutku.
"Kau hamil di luar nikah?" tanya Axel. Dia malah menuduhku. Meskipun otakku kosong aku takkan merendahkan diriku. Zina itu dosa. Lagi pula masa depanku masih panjang.
"Mau tau ya, kepo?" tanyaku sambil tersenyum melihat wajah Axel penasaran. Dia tahu sebelumnya aku tak pernah terlihat hamil atau perutku buncit, agak aneh kalau tiba-tiba punya bayi, kecuali aku bertelur kaya ayam terus dipanasin, netes deh, baru teori yang masuk akal, tapi aku ini manusia berkembang biak dengan melahirkan atau vivipar.
"Gak, bukan urusanku." Axel langsung buang muka. Dia kesal aku tidak memberitahunya. Biarkan saja, toh siapa suruh tadi udah menghinaku terus.
Sepanjang perjalanan aku menunjuk ini itu, maklum belum pernah jalan-jalan. Melihat yang aneh dikit membuatku penasaran, namun Axel hanya diam menutup kedua telinganya dengan headset dan mendengarkan musik dari handphone-nya.
Sampai di rumah besar. Aku dan Axel turun dari mobil. Rumah itu bagus, luas dan megah. Baru kali ini aku melihat rumah sebesar itu, biasanya hanya melihat di televisi di warung atau di tetangga kosanku kalau nonton drakor rame-rame. Aku sampai bengong. Membayangkan aku pemilik rumah itu terus dilayanani banyak pelayan. Udah kaya putri di negeri dongeng.
"Lemot ingat, jangan banyak tanya atau norak," ujar Axel. Dia memperingatkanku. Mungkin aku akan ini akan membuat masalah yang memalukannya. Biasa orang tampan suka gitu kalau ditempelin makhluk lemot sepertiku.
"Gaklah, paling juga numpang makan, laper," ungkapku pada Axel dengan polosnya. Perutku memang dari tadi laper. Belum makan. Sepulang sekolah langsung ke rumah Axel.
"Ku kira cuma lemot, ternyata pengemis juga," ujar Axel. Dia meledekku. Untung aku tak mudah menyerah dan sakit hati. Hal seperti itu biasa didengar telingaku.
"Bukannya aku tamu? biasanya dikasih makankan?" tanyaku yang sudah membayangkan hidangan enak yang akan disuguhkan Axel untukku.
Axel tersenyum tipis, dia berpikir aku ini pede banget dan gak gampang sakit hati mau dihujat kaya apapun.
"Ayo masuk!" ajak Axel. Dia berjalan di depanku. Meninggalkanku yang masih terkesima melihat rumahnya.
"Tunggu dulu bawaanku banyak," jawabku sambil membawa barang-barangku di kedua tanganku. Di balik kesibukanku membawa barang bawaanku, Axel tak peduli atau membantuku, dia terus berjalan ke depan meninggalkanku, dia masuk ke dalam rumah duluan, sedangkan aku menyusulnya dari belakang. Mataku menyapu ke seluruh ruangan. Nyamannya kalau punya rumah sebersih, rapi dan indah seperti itu. Sangat berbeda dengan kosanku yang sempit dan sering bocor kalau hujan. Tapi walaupun begitu aku sudah bersyukur dari pada tinggal di kolong jembatan.
"Axel rumahmu besar gini, kira-kira aku boleh numpang jualan? pasti pembantumu banyakkan? siapa tahu mereka mau beli keripikku," celotehku yang terus bawel. Aku pikir tak ada salahnya aku menawarkan keripik pada pembantu di rumah Axel. Namanya juga usaha.
"Lemot kau bisa diam tidak?" tanya Axel.
"Aku hanya memikirkan peluang bisnis, maklum gara-gara harus belajar, aku belum sempat jualan lagi, keripikku masih sisa," ujarku mengeluh.
Axel hanya diam berjalan masuk ke ruang makan. Di meja banyak makanan berjejer, perutku meronta minta makan, apalagi tuh makanan udah godain dari tadi. Baunya harum dan terlihat enak. Aku bingung ingin makan yang mana dulu. Semuanya ingin ku makan. Aku meletakkan barangku di kursi. Duduk dan bersiap mengambil piring. Tanganku meraih piring di depanku.
"Axel kira-kira ini semua boleh ku makan?" tanyaku.
"Siapa bilang untukmu? kau nasi sama bawang goreng aja tuh," jawab Axel menunjuk bawang goreng di depannya.
"Kaya tak menjamin dermawan, ternyata kayanya karena pelit," ledekku sambil meletakkan piring kembali. Padahal aku dah laper dan ngiler melihat makanan itu.
Axel tak memperdulikan ucapanku, dia duduk di kursi mengambil piring. Dia meletakkan lauk pauk di piring tanpa mengajakku makan.
"Axel laper, kok gak ditawarin?" tanyaku. Siapa tahu Axel berubah pikiran dan mau membagi makanannya untukku.
"Kau lapar lemot?" tanya Axel.
"Gak, aku robot jadi dicas aja juga kenyang," sahutku. Kesal. Axel sengaja mempermainkanku. P
__ADS_1
Tiba-tiba datang seorang gadis cantik berseragam yang sama denganku. Dari logo seragamnya dia bukan dari SMA Kejora.
"Hai selamat siang." Gadis cantik itu menyapaku. Dia berdiri di sampingku. Kemudian duduk persis di dekatku.
"Hai juga," jawabku.
"Itu bayimu?" tanyanya melihatku menggedong Bobo.
"Iya bayiku," ujarku.
"Namaku Raina Humaira," ujar Raina. Gadis cantik itu memperkenalkan diri. Suaranya lembut berbeda denganku.
"Aara Amelia, panggil saja Aara," balasku.
"Bolehkah aku menggendong bayimu?" tanya Raina. Dia tertarik pada Bobo. Padahal aku belum menawarkan padanya untuk menggendong Bobo.
"Ee ..., boleh," jawabku.
Aku memberikan Bobo pada Raina. Dia terlihat senang sekali menggendong Bobo. Cara dia menggendong dan memperlakukan Bobo sangat luwes, padahal baru bertemu tapi dia terlihat begitu menyukai Bobo. Wajahnya sumringah saat mengajak Bobo bicara. Seolah mereka begitu akrab padahal baru bertemu.
"Aara, Bobo pup, biar aku gantiin ya," ujar Raina.
"Iya, boleh," jawabku.
Raina membawa Bobo pergi ke kamarnya, sedangkan aku duduk di kursi makan bersama Axel. Jiwa kepoku meronta, ingin rasanya ku ulik dan selidik siapa gadis cantik tadi? Apakah saudaranya, sepupunya, atau? Lebih baik ku tanyakan dari pada berprasangka yang tidak-tidak.
"Tadi aku sudah bilang jangan banyak tanyakan?" jawab Axel.
"Iya sih, tapi gak mungkin itu saudaramu atau mungkin pacarmu ya?" tanyaku semakin ingin tahu.
Braaag ...
Axel memukul meja dengan tangannya. Dia terlihat marah padaku. Sepertinya aku menganggu daerah kekuasaannya. Seharusnya aku diam saja.
"Tadi sudah ku bilang, jangan banyak tanya," pekik Axel menegaskan padaku.
"Oke-oke," jawabku takut juga. Kira-kira kalau Axel marah kaya film psikopat gak yah? aku dipotong berkeping-keping terus dibikin boneka atau dia jombie yang siap memakanku. Astaga pikiranku liar.
"Makanlah tadi kau lapar bukan!" perintah Axel. Tumben dia mendadak baik padaku. Padahal tadi tega banget.
"Sip-sip tahu aja aku laper," jawabku.
Tak perlu memperpanjang kekepoanku, lebih baik makan, perutku udah miscall dari tadi, alhamdulilah untung banyak, lanjutkan. Ku ambil piring, mengambil semua lauk pauk, sayur, dan buah. Jadi satu diletakkan di piring kaya orang gak makan berhari-hari. Menggunung dan kepenuhan.
"Lemot, siapa menyuruhmu makan banyak?" tanya Axel.
"Aku laper, mumpung ada makanan enak ku hajar," jawabku.
__ADS_1
"Habiskan! awas sisa!" ancam Axel.
"Siap Bos," sahutku.
Aku mulai makan. Nikmat sekali. Begini ya nasib jadi orang miskin, makan selalu nikmat meski sama nasi dan sambal. Ku habiskan makanan di piring. Mengambil kembali lauk pauk, sayur dan buah, kalap selagi ada. Dan makanannya enak semua.
"Lemot kau makan atau vacum cleaner, baru sebentar lihat apa yang sudah kau bersihkan?" ujar Axel melihatku makan.
"Enak, baru kali ini aku makan banyak dan gratis," sahutku.
Mumpung gratis ya hajar, lupakan diet toh tiap hari ikat perut biar gak laper. Ngapain diet-dietan, tiap hari kelaparan.
"Alhamdulillah, nikmat," ujarku menyudahi makan. Perutku juga sudah buncit. Gak sia-sia ditindas Axel. Yang penting dapat makan gratis, enak, dan sepuasnya.
"Kau makan atau merampok?" tanya Axel.
"Iya ya, abis semua, tapi tenang aku bisa cuci piring, nyapu atau ngepel sebagai gantinya," jawabku yang merasa bersalah telah menghabiskan semua makanan di atas meja makan.
"Ayo naik!" ajak Axel. Aku gak jadi cuci piring. Lumayan. Gak perlu menangis kaya anak tiri.
"Mau ngapain? jangan aneh-aneh ya, umurku lebih tua darimu dua tahun," ujarku. Pikiranku liar ke mana pun. Bisa aja Axel macam-macam. Gini-gini aku cantik.
"Bukannya kau ingin belajar denganku?" tanya Axel.
"Eh iya lupa," jawabku. Benar juga. Tujuan ku ke rumah Axelkan untuk belajar. Aku aja udah mikir mesum.
Aku mengikuti Axel naik ke lantai atas baru mau naik tangga, seorang ibu paruh baya turun dari tangga menatapku sinis, dia menghampiri kami.
"Axel siapa lagi yang kau bawa? sudah cukup satu gadis miskin di rumah ini, jangan tambah lagi," ujarnya. Waduh. Pedas juga ucapannya. Mungkin dia ibunya Axel. Gak kalah sama mbah dukun sama-sama nyembur.
"Mi, ini urusanku, bukan urusan Mami," jawab Axel.
Axel menarik tanganku naik ke lantai atas melewati Maminya, aku hanya bisa tersenyum pada Maminya yang menakutkan itu, untung pas lagi makan gak nongol kalau tidak gak jadi makan gratis aku.
Axel membawaku ke balkon di lantai atas, kebetulan di balkon itu ada taman bunganya, tempatnya teduh dan anginnya berhembus kencang jadi menyegarkan, berasa di puncak gunung. Aku menikmati sesaat suasana yang jarang sekali ku temukan. Berasa piknik.
"Lemot, diem sini, jangan ngerayap kemana-mana, gue ambil buku dulu," ujar Axel. Dia harus mengingatkan aku lagi. Entah mungkin dia takut aku kepo lagi pada Raina.
"Siap Pak guru!" jawabku.
Axel meninggalkanku masuk ke dalam rumah. Aku berdiri melihat pemandangan dari atas balkon, berjalan ke sana ke mari melihat bunga dan pemandangan kota yang terlihat dari balkon rumah Axel. Namun tiba-tiba ku dengar suara Bobo menangis.
"Uuueeek ... uuuueeek ... uuuueeek ...." Suara Bobo terdengar di telingaku.
"Bobo," ucapku.
Mendengar suara tangisan Bobo, hatiku tak nyaman. Segera aku masuk ke dalam rumah. Mencari ke beradaan Bobo. Ternyata Bobo sedang berada di kamar Raina, untung kamarnya tak di tutup rapat aku bisa melihat dari luar walau sedikit tapi ada pemandangan yang mengejutkanku.
__ADS_1
"Raina men ...," ucapku yang masih berdiri di depan pintu melihat Raina yang menggendong Bobo. Aku terkejut melihat apa yang ada di depanku itu.