
Setelah sidang yang merugikan mentalku, aku harus sarapan pagi. Di rumah orang kaya pasti banyak makan-makanan enak. Apalagi aku nyonya besar, istri dari buaya darat di danau kesengsaraan. Ku langkahkan kaki sambil menggendong Bobo masuk ruang makan.
"Loh mana makanannya, kok ditutup tudung saji? pasti makanan ekslusif," ucapku.
Ku tidurkan Bobo di tepi meja, kebetulan mejanya panjang dan lebar. Dengan muka berseri dan imajinasi yang sudah membayangkan isi di dalam tudung saji, segera ku buka tudung sajinya. Berharap isinya makanan lezat ke sukaanku.
"As- ..., loh kok sandal isinya, kayu, batu, perasaan aku ini bukan robot kok dikasih makan beginian," ucapku. Pasti buaya darat itu sengaja mengerjaiku. Dia ingin aku menderita dan pergi dari hidupnya. Benar-benar kejam sekali buaya darat.
"Bocah kau sudah sarapan? kok masih utuh?" Albern menghampiriku dengan senyuman menjengkelkan. Sudah jelas ini rencana liciknya. Dia pikir aku takut. Aku tidak mudah ditindas makhluk sepertimu.
"Wah banyak juga makanannya, pasti enak," ucapku. Pura-pura membayangan semua barang itu jadi makanan lezat. Biar kali ini ku kerjai dia gantian.
"Cih, buaya darat ini mengerjaiku, sepertinya aku harus menjadi pawangnya," batinku.
Aku mengambil sandal, menggigitnya seakan makan beneran. Ku resapi setiap gigitannya. Terasa enak meskipun itu palsu belaka. Yang penting dia percaya. Ha ha ha.
"Rasanya enak, baru kali ini sandal seenak ini, mungkin karena sandal sosialita jadi rasanya beda," ucapku. Semoga dia percaya dan ikut mencoba.
"Hei bocah, kau makan sandal?" tanya Albern.
Aku tak peduli celotehan buaya darat, ku teruskan mengigit sandal. Seakan sandal adalah pizza yang penuh cheese yang meleleh. Padahal eneg banget mulutku.
"Sandalnya kok agak bau, jangan-jangan habis buat nginjek tai ayam atau kucing? ada asem-asemnya," batinku. Lupakan aktingku harus bagus. Biar makhluk yang satu ini percaya kalau sandal itu enak dimakan.
"Tapi enaklah dilidah, coba suruh mukbang sandal jepit sebaskom pasti setelah itu masuk alam barzah, gak perlu ke rumah sakit dulu langsung di Acc ke liang lahat tanpa antrian panjang," batinku.
Benar dugaanku, buaya darat kepo. Dia ikut memegang sandal, mencium baunya, tak lupa mencicipi rasanya. Kena prank juga. Siapa suruh menindasku. Sekarang siapa yang sesungguhnya tertindas. Pintar aku mengkadalinya.
"Rasanya sandal, gak ada enak-enaknya," ujar Albern.
"Ya jelas sandal mau diapain juga tetap sandal, siapa bilang pizza, bodoh," batinku.
Aku melepas gigitanku, eh ..., gigiku yang dari zaman SD belum copot, nancep di sandal, gak perlu ke Dokter gigi, sudah lepas sendiri. Berkah nih dibalik penindasan Albern.
"Enak, ehmmm en-nak, mau ku ajari cara makan sandal?" tanyaku. Rasain, siapa suruh ngasih aku sarapan sandal.
"Gak perlu, emangnya aku bego, mana ada sandal enak," ketusnya.
"Oke, tapi kalau Tuan mau tahu rasanya sandal itu enak, kau harus menggunakan imajinasi, tanpa imajinasi rasanya ya sandal," ucapku.
Dia masih memegangi sandal di tangannya sambil memperhatikan sandal itu bisa enak atau gak. Padahal sampai kiamat juga tuh sandal gak bakalan enak. Biarkan saja orang sok pintar, arogan dan menyebalkan itu termakan bualanku.
__ADS_1
"Ehmm enak, rasanya kaya makan steak di restoran mahal, ditaburi bubuk emas di atasnya, jelas makanan kelas atas," ucapku terus membodohi buaya darat itu.
Rasa penasarannya membuatnya ingin mencoba.
"Tunggu, saat mengigitnya harus menutup mata, hayati imajinasinya, seakan itu nyata," saranku.
Inilah jurus orang bodoh mengerjai orang pintar yang kepo. Buaya darat rasakan pembalasanku.
Aku terus memperhatikannya yang mulai menutup mata, rasanya tak afdol kalau aku tak meramaikan suasana. Segera ku ambil sambal, kecap dan cuka. Ku tuang sedikit demi sedikit ke sandal yang akan dimakan buaya darat.
"Satu ... dua ... tiga ...," ucapku.
Sandal itu mulai digigit Albern. Dia kepedesan, keaseman, dan kemanisan.
"Kok rasanya aneh," ucap Albern.
"Berarti imajinasi Tuan belum sempurna, atau Tuan harus mengigit lebih banyak lagi," saranku.
Albern mengigit lebih banyak lagi. Bagus biar dia tahu rasa. Siapa dulu Aara, kok dilawan.
"Aw ... pedes banget, asem lagi," ucap Albern. Dia membuka matanya. Melihat sandal yang sudah ku taburi macam-macam bumbu.
Aku hanya tertawa terbahak-bahak. Melihatnya menderita. Puas rasanya. Ingin mengerjaiku justru dia sendiri jatuh dikubangannya sendiri.
"Kau mau kemana bocah? kau mau menipuku?" tanya Albern. Dia benar-benar kesal. Ingin melakukan pembalasan padaku.
"Lepas! kau sendiri tadi yang mengerjaiku Tuan," jawabku.
Tiba-tiba suara handphone di saku Albern berdering. Dia melepasku kemudian mengangkat telpon sambil meninggalkan ruang makan. Syukulah buaya pergi, aku bisa mengamankan diri.
Mumpung Albern pergi, aku berjalan menuju kulkas besar yang berdiri di depanku tapi ternyata digembok.
"Benar-benar dia penjajah kejam yang tak punya perasaan, dia sengaja melakukan ini," ujarku.
Karena tak ada makanan yang bisa ku makan untuk sarapan dan ada memo yang tidak memperbolehkanku memakan apapun di rumah itu, aku memutuskan untuk berangkat sekolah. Perjalanan yang ku tempuh cukup jauh, naik bus dua kali lalu jalan kaki ke rumah Bu Teti untuk mengambil keripik dan setor uang keripik kemarin, setelah itu aku pergi ke sekolah. Untung saja ongkos naik bus setengah harga, subsidi anak sekolah.
Sampai di kelas keringatku bercucuran, bajuku basah penuh keringat.
"Aara kau habis dari mana? apa ada semburan lahar dingin?" tanya Ami. Melihatku basah kuyup karena keringat.
"Atau tsunami dadakan?" tanya Dodo.
__ADS_1
Aku tidak menjawab pertanyaan mereka, langsung meletakkan Bobo dan tasku. Tubuhku rasanya lelah sekali. Bau keringat lagi. Aku membaringkan kepalaku di meja.
"Ami jangan-jangan Aara kena sawan penghuni air terjun," ujar Dodo.
"Kalau gitu, coba kau sembuhkan, bau ketek mu siapa tahu berfungsi," sahut Ami.
Benar saja teman-temanku memang sahabat sejati. Di kala susah tetap ada dan mengsuport aku. Rasanya udah lemas dan lelah. Ini Dodo malah nebar bulu ketek di depan mukaku. Ritual seperti ini biasanya terjadi jikalau aku tidak normal atau mendadak dapat nilai sepuluh.
"Baunya, itu bulu ketekmu, masih bau ya dari pertama kita kenal," ucapku.
"Berarti sudah waras dia Ami, udah inget bau ketekku," ujar Dodo.
"Alhamdulillah, padahal gue mau nambahin bulu ketek gue kalau Aara belum normal," sahut Ami.
Kami tertawa terbahak-bahak. Walaupun lelah dan lemas, mereka membuat tenagaku pulih kembali. Rasanya semua beban di pundakku ringan. Mereka memang best friends. Aku bersyukur bersama terus dengan mereka berdua.
Akhirnya aku menceritakkan apa yang terjadi pada Ami dan Dodo.
"Jadi kau tidak tinggal di kosan lagi, pantas, kau terlihat berbeda," ucap Ami.
"Jauh banget dari sekolah, naik bus saja harus dua kali, belum jalan kakinya," ujar Dodo.
"Kenapa kau mau jadi pembantu lelaki monster seperti itu? apa kita santet dia, biar jadi hello kitty," saran Ami.
"Bener kata Ami, tapi lebih baik kita santet dia saja jadi anak ayam, lucukan?" imbuh Dodo.
"Ide bagus, besok kalian ku ajak ya ke Mbah dukun biar disembur duluan kali aja Mbah dukun butuh sampel duluan," jawabku.
"Ha ha ha." Kami tertawa kembali. Senang rasanya sudah bercerita pada mereka.
***
Sepulang dari sekolah Raina pergi ke rumah keluarganya. Rumah yang sederhana, di depan rumah masih ada sepeda butut miliknya. Raina ingat sebelum tinggal bersama dengan keluarga Axel, dia hanya gadis miskin yang kerja serabutan demi memenuhi semua keinginan ibu tiri dan adik tirinya. Ibunya sudah meninggal saat dia kecil, tinggal ayahnya tapi sayangnya ayah Raina sering keluar kota untuk berdagang baju.
Ayah Raina bernama Santoso Hakim, ibu tirinya bernama Ineke Saraswati dan saudara tirinya bernama Talita Saraswati. Sejak tinggal bersama ibu tirinya, hidupnya menderita. Dia harus banting tulang, uang dan uang yang diminta mereka pada Raina.
Siang itu Raina memberanikan diri mengetuk pintu rumah ayahnya.
Tok!tok!tok!
Pintu terbuka, Ibu Ineke langsung menarik tangan Raina, membawanya masuk ke dalam rumah. Dia memarahi Raina seperti biasa.
__ADS_1
"Raina, kau sudah nyaman tinggal di keluarga kaya itu, mana? mana uang untuk kami!" paksa Ibu Ineke pada Raina.