
Malam minggu Rangga dan Adelina pergi bersama Rangga dan Sweety ke sebuah pengkolan khusus untuk para banci. Rangga mengenakan baju hitam lengkap bak seorang detektif. Begitupun Adelina yang mengenakan baju pencak silat warna hitam.
"Rangga kau mau nyari banci atau usut sebuah kasus?" tanya Joko Raharjo.
"Ya nyari banci, ini tuh kaya di luar negeri, kerenkan," ucap Rangga.
"Kamu juga Del, emang mau olimpiade pencak silat?" tanya Sweety.
"Buat jaga-jaga aja kalau ada bahaya," jawab Adelina.
"Oh," ujar Sweety.
Mereka berempat pergi ke pengkolan para banci yang sedang duduk cantik sambil berdandan dan menawarkan jasa.
"Joko lo duluan, mana tahu sama lo lebih jinak," ujar Rangga.
"Memang mereka gigit ya kalau di deketin?" tanya Sweety.
"Gak tahu blm dicoba," jawab Rangga.
"Udah biar aku duluan yang nyamperin," ucap Adelina.
"Beneran?" tanya yang lainnya.
Adelina mengangguk. Dia menghampiri satu banci yang sedang berdandan di kursi. Dia mengenakan dress pink, rambutnya panjang dan kulitnya putih.
"Bang mau tanya," ucap Adelina.
"Apa? Abang? Eke ini bukan Abang kali, Sis, gak lihat dah tampil full colour."
"Sorry, tapi sebelumnya Abangkan?" tanya Adelina.
"Ye baru datang, udah bahas masa lalu Eke, memangnya Ye petugas sensus penduduk ape?"
"Begini Bang, saya mau menawarkan sesuatu," ujar Adelina. Dia ragu mengatakannya takutnya banci itu marah pada nya. Adelina belum tahu bagaimana reaksinya kalau ditawarin untuk mengikuti kemauan nya.
"Eke tahu, Ye pasti sales racun serangga atau obat jamur di kaki kuda, iyakan?"
"Bukan, tapi saya mau ...," ucap Adelina ragu.
"Oh Ye mau mangkal juga, ini zona teritorial Eke, Ye kalau mau nongkrong tuh di sana, Om-Om bau tanah suka sama cewek cakep."
"Bukan itu Bang, saya mau make over Abang, gimana?" tanya Adelina.
"Pasti Ye sales kosmetik ya, pasti pakai merkuri biar putihnya cepet, terus pakai borak biar muka antemkan?"
Adelina bingung kok malah jadi sales kosmetik begini. Padahal mau make over ini banci jadi cowok. Mana tahu bisa jadi cowok sejati setelah melihat dirinya saat di make over jadi pria.
"Bang mau gak, saya jadiin model baju pria, dibayar," ujar Adelina.
"Ye jualan baju juga? Semua aja borong. Biar cepet kaya, tahu sendiri mau puasa, ape-ape mahal."
"Ya udah gini aja, gimana kalau saya kasih satu juta, mau dak?" tanya Adelina.
Banci itu langsung terdiam memikirkan tawaran dari Adelina. Lumayan juga uang satu juta, pengkolan lagi sepi.
"Kurang, eke ini banci kelas kakap, primadona di sini, Ye harus bayar lebih banyak."
__ADS_1
"Ya udah, 2 juta gimana?" tanya Adelina.
Banci itu kembali berpikir. Uang dua juta bisa untuk beli apa saja.
"Dua juta itu sedikit ya, Eke aja sekali mangkal bisa tiga jeti, masa cuma dapet dua jeti."
Adelina menghembuskan nafas gusarnya. Banci yang ditemukannya ini ternyata matre.
"Oke tiga juta, gimana?" tanya Adelina.
"Boleh, tapi lebihin dikit, empat jeti gimane?"
"Oke," jawab Adelina.
Akhirnya banci itu mengikuti Adelina menghampiri Joko Raharjo, Sweety dan Rangga yang menunggu dekat mobil. Mereka terkejut Adelina bisa membawa seorang banci.
"Nah semuanya ini yang akan di make over," ujar Adelina.
"Perkenalkan semuanya, eke Lin-Lin, banci paling femes di sini."
"Oh banci ada yang femesnya juga, kirain cuma manusia aja yang femes," ucap Rangga.
"Eh, Ye, jangan asal ngomong, eke manusia juga, cuma masih di dua alam, bukan berarti eke ini makhluk jadi-jadian."
"Oke-oke, tugasmu di sini di make over jadi cowok, dan pulang ke rumah bersama kami bertemu Papaku," ucap Rangga.
"Loh eke mau diapain Bang, perjanjiannya cuma di make over, kalau begindang eke nambah dong bonusnya."
"Oke berapa yang kau minta?" tanya Rangga.
"Eke mau 5 jeti gimana?"
"Aku rasa dia ini ijo matanya, pilih banci yang matanya ungu, mana tahu gak doyan duit," ujar Joko Raharjo.
"Ha ha ha." Mereka tertawa.
Setelah itu Rangga dan Adelina membawa Lin-Lin pergi ke sebuah toko baju. Membelikan Lin-Lin baju pria. Kemudian menyuruhnya mengenakan baju pria.
"Nah ganteng tuh," ucap Rangga.
"Eke gak biasa nih pakai baju begindang."
"Ganteng gini kok, Sweety juga mau sama Abang Lin," ucap Sweety.
"Eh Sweety sayangku, Mas Joko gimana?" tanya Joko Raharjo.
"Mas Joko tetep nomor satu, Abang Lin buat cuci mata doang," ucap Sweety.
"Nah, ganteng lo, Abang Lin," ucap Adelina.
"Eke gak suka, gak lamakan?"
"Gak kok, kita ketemu sama Papa dulu ya," ujar Adelina.
"Oke, cus."
Akhirnya Adelina dan Rangga membawa banci itu pergi ke rumah besar Keluarga Ariendra. Mereka duduk di ruang keluarga. Lin-Lin sudah diajari sejak di mobil agar mengikuti kemauan keduanya. Farel yang baru pulang dari kerja menghampiri mereka.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," sapa Farel.
"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.
Farel duduk di kursi. Melihat Lin-Lin yang dibawa Rangga dan Adelina. Dia duduk di samping Rangga sedangkan Adelina duduk di kursi yang berbeda.
"Namamu siapa?" tanya Farel.
"Lin ..., eh maksud Eke Jamal."
"Eke?" Farel tercengang lelaki di depannya masih menggunakan bahasa banci.
Rangga langsung menginjak kakinya. Lin-Lin lupa dengan apa yang tadi diajari Rangga dan Adelina saat di mobil.
"Dibayar berapa kamu sama Adelina dan Rangga?" tanya Farel.
"Eh, Om kok tahu?"
Deg
Rangga dan Adelina tak menyangka Papanya tahu kalau mereka membayar banci untuk di make over.
"Kamu ingin jadi cowok beneran?" tanya Farel.
"Gak Om, Eke masih mangkal, cuma ditawarin di make over aja tadi mau."
Farel langsung menatap Adelina dan Rangga dengan tatapan tajam. Dia kecewa dengan mereka yang tidak berusaha dulu malah ambil jalur pintas.
"Kau boleh pulang Jamal," ucap Farel.
"Iya Om, terimakasih eke minta maaf."
Jamal meninggalkan ruang keluarga. Tinggal mereka bertiga yang terlihat tegang. Adelina dan Rangga menunduk mereka merasa bersalah. Seharusnya tidak menyewa Lin-Lin tapi mengajaknya ke jalan yang benar.
"Kenapa kalian diam? Ada yang ingin dijelaskan?" tanya Farel.
"Maaf Pa, kami," ucap keduanya.
"Memang tak mudah membuat banci berubah, bukan berarti kalian mencari jalan pintas, meskipun tampaknya dia mau jadi pria tapi itu karena uang, bukan karena keinginannya sendiri, itu takkan lama mereka tetap akan kembali lagi," ucap Farel.
"Iya Pa," ucap keduanya.
"Sekali lagi kalian begini, jangan harap Papa memberi restu, cinta itu harus diperjuangkan, bukan sesuatu yang instant, buktikan kalau kalian memang cinta," ucap Farel.
Mereka berdua terdiam. Merasa bersalah.
"Rangga besok kau menyusul ke panti sosial bersama Albern, aku dengar di sana ada banci, kalau kau bisa membuatnya jadi laki, Papa akan secepatnya menikahkan kalian," ucap Farel.
"Iya Pa," sahut Rangga.
Farel langsung berdiri. Meninggalkan keduanya.
"Kak Rangga, kita akan terpisah, seperti Kak Aara," ujar Adelina.
"Sabar ya Del, kali ini kakak akan benar-benar berusaha," jawab Rangga.
"Aku akan selalu mendoakanmu Kak," ujar Adelina.
__ADS_1
Rangga mengangguk. Mau tak mau dia ikut bersama Albern ke panti sosial. Demi memperjuangkan cintanya.
"