Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 78


__ADS_3

Setelah sholat subuh kami kembali memadu cinta. "Orangtuaku akan menjodohkanku," ujarku.


"Apa? Menjodohkanmu sayang?" tanya Albern.


"Iya," jawabku sambil menunduk.


Albern terdiam sesaat. Dia juga memikirkan hal ini sebelumnya.


"Dijodohkan dengan siapa?" tanya Albern.


"Rangga, anak angkat kedua orangtuaku. Mereka ingin aku mendapatkan orang yang baik," jawabku.


"Kita harus memberi tahu mereka tentang pernikahan kita, tapi ...?" ujar Albern.


"Tapi apa suamiku?" tanyaku.


"Saat ini aku harus menyembunyikan identitasku, aku sudah berjanji pada Bos Robberto," jawab Albern. Dia masih punya janji pada Robberto. Untuk sementara waktu sampai semuanya jelas dan menemui titik terang, Albern harus menjadi Martin.


"Kalau begitu kita harus gimana?" tanyaku.


"Untuk sementara waktu, gimana caranya alihkan pembicaraan mengenai perjodohan itu, bilang masih fokus kuliah atau lagi banyak tugas, secepatnya aku akan menyelesaikan semuanya," ujar Albern


Aku mengangguk. Memang hanya ini cara satu-satunya untuk kami berdua untuk saat ini. Aku tahu sulit di posisi Albern yang mengharuskannya jadi orang lain.


"Sayang percayalah, aku akan kembali dan menjelaskan semua ini pada orangtuamu," ujar Albern.


"Iya aku percaya suamiku," jawabku.


"Aku pulang dulu, sebelum semua orang bangun," ujar Albern.


"Iya hati-hati di jalan sayang," ucapku.


Albern memelukku sekali lagi. Mencium bibirku. Kemudian pergi meninggalkanku. Setidaknya kami sudah melepas rindu meski harus terpisah lagi.


Setelah Albern pergi, aku mandi dan merapikan perlengkapan sekolahku. Ke luar dari kamarku. Ku lihat Adelina dan Rangga juga sudah siap. Kami berjalan bersama naik lift dan turun ke lantai satu.


"Adel, kok cemberut?" tanya Rangga.


"Gak ada apa-apa kok Kak Rangga," jawab Adel.


Aku juga merasa ada yang aneh sama Adel. Terlihat dingin dan pendiam. Adel juga seperti jaga jarak sama Rangga.


"Ada yang ganggu, biar Kak Rangga hajar," ujar Rangga.


"Emang Kak Rangga berani? Paling kabur ketakutan," jawab Adelina.


"Iya sih, paling gak Kak Rangga samperin," ucap Rangga.


"Iya Adel, kalau ada apa-apa cerita sama kami, kami ini kan kakakmu," sahutku.

__ADS_1


"Makasih atas perhatiaannya. Adel baik-baik aja kok," kata Adelina.


Kami masuk ke dalam ruang makan. Duduk bersama dan sarapan. Seperti biasa keluarga kami cukup ramai. Namun hangat. Baik Papa, Mama, Kakek, Nenek, dan semuanya.


"Adel makannya kok dikit, lagi diet?" tanya Alina.


"Gak kok Ma, Adel lagi gak nafsu makan," jawab Adelina.


"Lagi sakit?" tanya Cinta.


"Gak Nek," jawab Adel.


"Nenek kaya gak pernah muda aja," ledek Rehan pada Cinta.


"Kakek tahu aja," jawab Cinta.


"Cewek kalau murung gitu pasti lagi ada masalah sama hatinya," sahut Rehan.


"Wah kakek, keren. Coba Rangga gimana sekarang?" tanya Rangga antusias. Ingin tahu prediksi kakeknya tentang dirinya siapa tahu mujur.


"Masih jomblo, gak laku-laku. Cewek pada kabur, gak sanggup jadi kuman yang dibasmi," ujar Rehan.


"Tuh kakek aja tahu, Kak Rangga emang jomblo gak laku, beda dong sama Adel," ujar Adel mulai tertawa lagi.


"Eh, seneng ya kakak jomblo, padahal tampan sekampus nih, cover boy," puji Rangga pada diri sendiri.


"Tuh Aara aja tahu," ujar Rangga makin tinggi hati.


"Cover boy permen gulali di depan SD," sahut ku.


"Ha ha ha." Semua tertawa dengan candaan kami semua. Termasuk Rangga. Meskipun tadi Adelina sempat tak enak hati tetapi suasana hatinya sudah membaik.


Kami bertiga pergi ke kampus naik mobil pribadi. Sampai di kampus. Aku dan Adelina berjalan di depan. Rangga di belakang bersama Sweety dan Joko Raharjo yang tak terpisahkan jarak dan waktu. Nempel terus bagaikan lem sama kertas.


"Kak Aara, kita ke kantin dulu, aku mau beli sesuatu," ujar Adelina.


"Oke," sahutku.


"Kita ikut," ucap Rangga yang hari ini mengenakan baju pink fanta dengan motif bunga-bunga ditambah kaca mata Hello Kitty.


"Aku juga siapa tahu ada makanan sisa gak abis gitu," ujar Sweety.


"Kemana kamu pergi sang kumbang akan ikut bersamamu," kata Joko Raharjo pada Sweety.


"Eneg gue lama-lama dua makhluk beda alam ini bersama," ujar Rangga melihat Sweety dan Joko Raharjo sebagai sepasang yang terus bersama. Meskipun kalau Joko Raharjo ketindih Sweety kasihan nasibnya. Udah seking ke tindih Sweety jadi gepeng.


Adelina berbalik. Dia memberitahu agar trio sekawan aneh ini tak ikut. Hanya aku dan Adelina yang pergi.


"Yah, gue gabut dong," ujar Rangga.

__ADS_1


"Udah Rangga kita naik ayunan aja di taman kampus," usul Sweety.


"Tenang ayang, kalau ayunannya gak muat, Mas Joko akan mencari batu sandaran untukmu," ujar Joko Raharjo.


"Ogah, mending gue ke laboratorium nyari cewek pinter," ujar Rangga.


"Ngikut," ujar Sweety dan Joko Raharjo.


Akhirnya trio amburadul itu cabut juga. Sepertinya Adelina sengaja ingin berdua denganku. Dia membawa ku ke kantin kampus. Pagi itu cukup ramai. Banyak yang sarapan dan bersantai sambil melihat tugas mereka di laptop. Ada yang sedang ngobrol dan baca buku.


"Kak Aara kita duduk sini ya," ujar Raina memilih meja kosong untuk kami.


"Iya," sahutku.


Aku duduk di kursi satu meja dengan Raina. Ada yang berbeda dari Raina, matanya tertuju pada lelaki yang sedang membaca. Dia mengenakan koko dan peci. Terlihat kalem dan menjaga jarak dari wanita.


"Kak Aara kenal cowok itu gak?" tanya Adelina padaku sambil menunjuk lelaki itu.


"Oh, Muhammad Alif Putra, teman sekelasku," jawabku.


"Iya, dia memang sekelas sama kakak, orangnya pintar, rajin sholat dan ngaji, ramah dan santun, menyejukkan deh kalau melihatnya," ujar Adelina.


Oh ternyata Adelina suka sama Putra. Pantes sewot mulu saat Rangga dekitin dia. Ternyata dia sudah puber. Lagi suka sama seorang cowok.


"Tapi sayangnya?" ujar Adelina.


"Sayangnya apa?" tanyaku.


"Sepertinya ada yang disuka olehnya, teman sekelasku," jawab Adelina.


"Oh dia sudah punya pacar gitu?" tanyaku.


"Bukan, tapi yang dia suka, bukan pacar. Cowok seperti Putra gak pacar-pacaran Kak," ujar Adelina.


"Kok kamu tahu dia suka temanmu?" tanyaku.


"Kata teman dekatnya, katanya Putra akan segera mengkhitbah temanku setelah lulus," ujar Adelina terlihat sedih.


"Sabar Del, mungkin bukan jodohmu. Lagi pula juga belum menikah atau menkhitbah orang jadi masih bisa pede kate," ujarku.


"Tapi aku gak tega kalau pede kate sama dia, kasihan temenku yang suka juga sama dia. Mereka udah sama-sama suka," ujar Adelia.


"Berarti serahkan semuanya pada Allah. Jika dia jodohmu takkan ke mana," ujarku.


"Iya ya Kak," sahut Adelina.


"Rangga baik dan pintar, kenapa kau tak memberinya kesempatan?" tanyaku.


Adelina terkejut mendengar pertanyaan dariku. Dia terlihat bingung saat aku menanyakan hal itu padanya. Ada guratan malu dan canggung.

__ADS_1


__ADS_2