Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Malem Pertama Banyak Iklan Part 85


__ADS_3

"Hallo Alvan, ini Ibu." Jawab Ibu Lesti.


"Ibu, kirain siapa malam-malam gini nelpon." Alvan hampir saja marah besar kalau itu bukan ibunya. Bagaimana tidak, harusnya malam pertama lebih awal malah ada gangguan. Gak tahu apa kalau sudah beberapa hari menunda malam pertama nanti si cantik keburu kedatangan tamu dari garis merah.


"Maaf, habis dari kemarin ibu gak enak mikirin kamu. Seharusnya ibu datang ke acara pernikahanmu tapi gak bisa soalnya Alvin sedang sakit," ibu Alvan menjelaskan kenapa beliau tidak hadir.


"Tidak apa-apa Bu, justru aku yang gak enak. Alvin sakit tapi aku belum bisa menjenguk."


"Yang penting kau jadi menikah, kalau gak, nanti Haura keburu diambil orang," ibu Lesti sengaja menggoda anaknya.


"Ibu bisa aja."


"Yaudah, lanjutkan. Beri ibu cucu segera."


"Siap Bu." Alvan langsung semangat saat ibunya meminta cucu. Itulah yang diinginkannya dari tadi.


Selesai berbicara dengan ibunya, Alvan menutup telponnya. Dia segera menghampiri Haura yang masih berbaring diranjang menunggu Alvan mengeksekusinya. Alvan mengedipkan satu matanya menggoda si cantik yang seksi diatas ranjang. Baru mau melepas boxernya.


Tuk...tuk...tuk...


"Ampun, baru mau eksekusi kenapa ada yang patroli lagi," ucapnya.


"Sayang sana, mungkin Papa atau Mama mau ngasih aku susu." Haura tau betul hampir setiap malam Papa dan Mamanya selalu mengantarkan susu untuknya.


"Ya kali malam pertama dikasih susu juga, kenapa gak jamu kuat sampai pagi aja," gumam Alvan.


Haura tertawa mendengar suaminya kesal gara-gara gangguan lagi. Maklum iklan harus diramaikan supaya rating filmnya bagus.


Alvan berjalan menuju pintu kamarnya. Dia membuka pintu, Deena berdiri tepat didepannya.


"Sorry, mau ngambil selimut buluk milikku. Susah tidur tanpa selimut bulukku." Ujar Deena sambil tersenyum dan memperhatikan Alvan.


"Oke, silahkan ambil!" Muka Alvan sudah pasrah. Biarkan iklan yang satu ini lewat. Semoga saja gak lama. Jangan sampai si cantik ngantuk duluan sebelum perang selesai.


"Permisi." Ucap Deena sambil melangkah masuk ke dalam kamar melewati Alvan yang masih berdiri didepan pintu.


Deena menghampiri Haura yang masih berbaring diranjang.


"Widih pengantin baru, seksi amet tuh baju. Pantes ayang cemberut saat aku masuk." Ujar Deena meledek Haura.


"Iya dong, bukannya tadi aku sudah les privat darimu." Haura membalas ledekan Deena dengan santai.


"Jadi kau benar-benar menjalankan wejangan ngawurku ya." Deena sengaja mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak benar-benar memberi wejangan pada Haura. Semua yang dikatakan hanya berdasarkan pengalamannya nonton drama romantis.


"Udah ya, kamu mau ngapain kemari Deena? ganggu aja. Astronot mau ke bulan nih," seru Haura.


"Mau ngambil selimut bulukku." Deena tersenyum tak bersalah, takut Haura marah gara-gara selimut buluk malam pertama tertunda.


"Tau gitu ku buang tuh selimut buluk, ganggu aja. Keburu make up ku luntur tau." Ujar Haura.

__ADS_1


"Tenang, nih ku ambil. Sabar ya ngadepin bumil." sahut Deena sambil mengambil selimut buluk miliknya yang berada disofa dekat ranjang.


"Silahkan keluar! jangan balik lagi. Lock down ya." Seru Haura menegaskan.


"Oke." Deena langsung berjalan keluar kamar Haura membawa selimut buluk miliknya.


Alvan segera menutup pintu kamar. Dia tersenyum melihat si cantik semakin menggodanya dengan lambaian yang membuatnya ingin secepatnya bermesraan. Baru melangkah maju, seekor tikus kecil masuk kedalam kamar melalui jendela yang belum ditutup.


Cit...cit...cit...


"Sial, kenapa ada tikus berit segala? perasaan filmnya belum tayang kok iklannya banyak." Guman Alvan. Dia berlari kesana kemari berusaha mengejar tikus kecil. Haura juga ikut membantu Alvan menangkap tikus kecil.


"Sayang tikusnya masuk rokku." Kata Haura sambil mengibaskan roknya.


"Aku belum megang eh tikus udah megang duluan, awas ya tikus ku sate kau." Alvan marah besar. Dia langsung membuka rok Haura.


"Sayang malulah." Ucap Haura.


"Mending aku yang ngeliat dari pada tikus yang ngeliatkan." Sahut Alvan sambil melihat rok Haura yang dinaikkan.


"Tapi sayang kok kamu pakai kolor ijo sih." Ujar Alvan melihat kolor ijo yang dipakai Haura.


"Eh iya, ini kolor ijo punya Kak Aksa, salah ngambil nih." Sahut Haura malu mendapati dirinya terlanjur memakai kolor ijo milik Aksa.


"Seksi sih, tapi dalemnya kolor ijo. Mau muter ya neng, biar abang jaga lilin." Seru Alvan.


Mereka berdua lupa sama tikus kecil yang kini pindah ke baju Alvan. Tikus kecilnya berdiri dibahu Alvan.


"Udah sayang copot aja kolor ijonya, aku siap kok melihat yang disensor." Ujar Alvan.


"Sayang kau gak nyambung sih, itu tikusnya." Haura masih menunjuk ke arah bahu Alvan.


"Apa mau aku bukain biar romantis?" Tanya Alvan.


"Sayang tikusnya." Haura gemas melihat tikus dibahu Alvan.


"Tenang sayang kita dah mahrom jadi gak masalah aku ngeliatnya juga." Alvan terus bicara yang berlawanan dengan yang dimaksud Haura.


Puuuk...


Haura memukul bahu Alvan dengan kencang.


Cit...


Tikus langsung berlari saat terkena pukulan tangan Haura. Bukan hanya tikus tapi Alvan juga kesakitan.


"Aw...sakit sayang"


"Sorry, habis dari tadi sayang gak nyambung. Aku udah gemes ngelihat tikus joget dibahumu." Ujar Haura.

__ADS_1


"Mau malam pertamaan kok banyak gangguan, apa karena Mbah dukun kehujanan ya jadi gak bisa nyembur." Gumam Alvan sambil memegang bahu yang tadi dipukul Haura dengan kencang.


"Sakit ya sayang?" Tanya Haura kasihan pada Alvan yang terlihat kesakitan.


"Sayang buruan yuk, keburu iklan lagi. Repot kalau iklan deterjen, ramai, gak ada sepinya tar." Ujar Alvan.


Haura mengangguk. Alvan langsung membopong Haura ke ranjang. Membaringkan si cantik. Dia udah gak sabar lagi. Kebanyakan iklan udah bikin kesel, sekarang waktunya menanam singkong dikebun Pak Somat. Alvan mencium bibir Haura. Baru mau berlanjut ke tahap lain, mati listrik.


"Ampun deh, ada aja gangguannya." Alvan semakin kesal. Sepertinya malam pertamanya terus saja mengandung bawang yang bikin haru.


"Udah sayang teruskan saja, gelap juga gak papakan." Sahut Haura.


"Gak seru kalau gelap sayang. Wajah cantikmu gak kelihatan. Nunggu dulu listriknya nyala ya." Ujar Alvan.


"Oke sayang." Jawab Haura.


Mereka berdua menunggu listrik menyala sampai tertidur karena kelelahan. Pukul 4 pagi Haura membangunkan Alvan. Dia mencium pipi suaminya.


Cup


Alvan terbangun mendapat ciuman dari Haura.


Dia menikmati pemandangan indah didepan matanya. Si cantik sudah siap untuknya. Alvan langsung menerkam si cantik. Dia tak mau diganggu berbagai iklan lagi. Segala pemanasan dilakukan. Mereka siap ke tahap lebih dalam tapi suara adzan subuh berkumandang. Alvan langsung berhenti. Dia duduk ditepi ranjang membelakangi Haura.


"Sayang kita sholat dulu." Ajak Alvan.


"Kau tak marah?" Tanya Haura.


"Sholat itu kewajiban bukan beban." Jawab Alvan.


Haura memeluk Alvan dari belakang.


"Aku bangga memiliki imam yang sholeh sepertimu sayang." Haura bahagia jadi istri Alvan. Suaminya bisa mendahulukan Allah dari pada keinginan duniawinya.


"Aku juga bangga karena makmumku sholehah sepertimu."


Alvan menggendong Haura dipunggungnya menuju ke toilet. Mereka berwudhu lalu sholat subuh berjamaah. Seusai sholat barulah Alvan dan Haura merajut cinta. Alvan menghujani Haura dengan cinta demi cinta disetiap pemanasan yang dilakukannya. Haura begitu nyaman. Dia hanyut dalam indahnya cinta yang diberikan Alvan. Tanpa sadar perlahan sang pemilik merenggut kehormatannya.


"Aw...sakit Alvan."


"Nanti gak sakit lagi sayang."


Haura mengangguk. Mereka kembali merajut cinta mengikuti irama. Kini keduanya sudah saling memiliki. Penyatuan cinta itu menjadi ikatan suami istri yang takkan dilupakan keduanya. Alvan terus menerus menguras tenaganya. Ini kali pertama untuknya merasakan durian yang tiada duanya. Dia tak ingin menyudahinya dengan cepat apalagi semalam iklan begitu ramai. Jangan sampai iklan lebih tenar dari pemain utamanya.


"Alvan lelah"


"Sabar ya sayang"


Haura terkejut masih ada episode lainnya. Sepertinya dia salah memilih pemain utama. Kekuatannya seperti super hero yang masih kuat meski sudah terbang kesana kemari. Untung Alvan tak berjubah, repot kalau nyangkut atau belibet kaya lepet, bukannya malam pertamaan malah direbus dipanci.

__ADS_1


Diluar pintu terdengar suara minta tolong.


"Tolong...tolong...tolong..."


__ADS_2