Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 36


__ADS_3

"Iya," jawabku.


"Aara!" pekik Axel.


"Aku mencintai Albern, Axel," ucapku.


Albern tercengang dengan pernyataan cintaku yang dadakan.


"Kau mencintainya? kau lupa siapa dia?" tanya Axel.


"Aku tahu, tapi aku tak bisa berbohong, aku rindu padanya," ucapku. Axel hanya menggeleng. Dia tak percaya aku mengatakan hal itu.


"Kau sudah termakan rayuan gombalnya, kau akan sakit hati Aara," ujar Axel.


Albern langsung menarikku dan memelukku.


"Aku juga rindu padamu sayang, percayalah aku tidak akan menyakitimu," ucap Albern.


Pelukan yang ku rindukan meskipun menyakitkan. Kenapa aku harus mencintai seorang Albern? kenapa tidak Axel yang baik hati?


Aku hanya diam dan menangis. Kenapa cinta begitu rumit. Apa seperti ini rasanya jatuh cinta dan menjalani cinta itu sendiri.


Albern melepas pelukannya, menyeka air mataku dan mencium keningku.


"Jangan menangis, aku ingin kau tersenyum bocah," ujar Albern.


Aku tersenyum meskipun sulit. Menatap Albern di depan mataku.


"Aku kecewa padamu Aara, semoga kau bahagia dengan keputusanmu," kata Axel lalu berjalan meninggalkan tempat di mana kami berada.


"Axel!" teriakku.


Axel terus berjalan tak menoleh ke belakang. Aku tahu dia kecewa padaku. Maafkan aku Axel tak bermaksud menyakitimu tapi hatiku tidak bisa terus berbohong. Aku memang sangat merindukan Albern. Seandainya kau hadir di hatiku terlebih dahulu mungkin aku akan memilihmu.


"Ayo masuk, kau lapar?" tanya Albern.


Aku mengangguk. Albern mengulurkan tangannya memegang tanganku, kami berjalan masuk ke kamar kosanku. Albern melihat ke sekeliling kamar kosanku.


"Kosanmu sempit sayang," ujar Albern.


"Aku hanya mampu menyewa kosan ini," jawabku.


Albern mengusap kepalaku. Dia tersenyum melihatku.


"Kau hebat! sejauh ini mandiri di usiamu yang masih remaja, bahkan kau merawat Bobo," ujar Albern.


Aku mengangguk, kemudian meletakkan Bobo di ranjang. Albern menarikku duduk di ranjang bersamanya. Dia merangkulku dan menyandarkanku di bahunya.


"Aara maafkan semua perbuatanku dan masa lalu kelamku," ucap Albern.


"Iya, tapi Tuan harus minta maaf pada Raina dan bertanggungjawab padanya," ujarku.


"Iya," jawab Albern.

__ADS_1


"Kenapa dulu Tuan memperkosa Raina?" tanyaku.


"Dulu aku mabuk di sore hari, saat itu aku memang sedang ada masalah. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu apartemenku, karena pengaruh alkohol aku memperkosa Raina, bahkan setelahnya aku tak ingat apapun. Raina juga sudah tak ada di ranjang jadi aku mengira tak terjadi apapun," ujar Albern.


"Saat Raina minta pertanggungjawaban kenapa Tuan tidak mau bertanggungjawab?" tanyaku.


"Karena aku tak merasa memperkosanya, aku pikir dia hanya mengada-ngada agar mendapatkan uang dariku," ujar Albern.


Sekarang aku tahu. Albern memperkosa Raina saat mabuk. Dia tidak ingat telah memperkosa Raina dan saat Raina minta pertanggunjawaban Albern justru mengira Raina sengaja memerasnya.


"Apa kau percaya?" tanya Albern.


"Iya, aku percaya," jawabku.


Albern meraih lenganku, menatapku sesaat lalu menciumku.


"Aara aku mencintaimu," ujar Albern usai menciumku.


"Aku juga mencintaimu Tuan," ucapku.


"Panggil suamiku," pinta Albern.


"Suamiku," sahutku.


Albern mencium pipiku sampai berkali-kali.


"Suamiku sudahlah, aku lapar," ujarku.


"Aku akan memesankanmu makanan ya?" tanya Albern.


Aku mengangguk. Segera Albern mengambil handphone-nya di saku. Menelpon restoran langganannya.


"Sudah sayang, bentar lagi juga sampai," ucap Albern.


"Makasih suamiku," ujarku.


"Iya istriku, cantik," sahut Albern.


Aku melepas hijabku. Rambutku tergerai panjang.


Albern menghampiruku berdiri di belakangku.


"Rambutmu indah, secantik orangnya," ucap Albern.


"Berbaliklah suamiku, aku mau ganti baju," ujarku.


"Untuk apa berbalik? aku suamimu, bergantilah di depanku," ucap Albern.


"Aku malu," kataku.


"Aku ingin melihatnya," bisik Albern. Segera ku tutup mulut genitnya. Yang benar saja, aku belum pernah berganti pakaian di depan lelaki.


"Eem ... Eem ...." Albern coba bicara.

__ADS_1


Aku segera melepas tanganku dari mulutnya.


"Oke tapi jangan aneh-aneh suamiku," ujarku.


"Siap!" jawab Albern.


Aku mulai menanggalkan pakaianku satu persatu. Malu tapi dia suamiku, aku harus terbiasa. Tiba-tiba Albern memelukku dari belakang.


"Aara nanti lulus, maukan melakukannya denganku?" tanya Albern.


Aku bingung harus menjawab apa. Sejujurnya aku malu. Ini hal baru untukku. Tidak untuk Albern yang sudah melalang buana bersama berbagai wanita.


"Aara?" tanya Albern.


"Iya, tapi berjanjilah untuk berubah, jadi imamku," pintaku pada Albern.


"Aku pasti jadi imammu, dunia akhirat," jawab Albern.


Aku mengangguk.


Albern melepas pelukannya, dia duduk di ranjang menungguku berganti pakaian sambil bermain dengan Bobo. Antara Albern dan Bobo sangat akrab. Bobo selalu senang setiap kali diajak bicara dan bermain bersama Albern. Dia terlihat tertawa sampai mengoceh.


Aku berjalan menghampiri Albern, kita berdua menemani Bobo bermain sambil menunggu makanan datang.


"Sayang nanti Bobo harus punya adik," ujar Albern.


"Gimana caranya? apa kita harus berkembang biak dengan cara kawin?" tanyaku.


Albern tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa suamiku tertawa?" tanyaku.


"Aku suka kau polos seperti ini sayang, nanti ku ajari semua cara berkembang biak biar bisa punya adik untuk Bobo," ujar Albern.


"Memang caranya gimana? apa sakit?" tanyaku kepo. Jujur aku pemasaran dari dulu. Kenapa bisa muncul bayi. Guru tak menjelaskan caranya dengan jelas.


"Caranya ...," ucap Albern lalu menciumku. Dia mendorongku hingga berbaring. Dia memulai memadu cinta padaku.


"Suamiku aku belum siap," ujarku.


"Iya, sekarang kau tahu caranya?" tanya Albern.


"Iya, aku takut," ucapku.


Albern menarikku bangun, memelukku.


"Kau takkan takut, aku akan membuatmu nyaman," ujar Albern.


Aku mengangguk. Albern memang buaya pasti lihay, tapi kini aku tahu cara manusia berkembangbiak. Pantes di sensor sama guru. Kalau gak, sekelas kelabakan, panas dan berapi-api. Paling cuma Dodo dan Ami yang akan bengong sampai semua cerita usai. Antara mudeng atau gak ngerti kalau gak di praktekkan antara kambing jantan dan betina.


Tak lama pesanan datang. Kami makan bersama. Nikmatnya makan disuapi suamiku. Meskipun ada rasa cemas nanti Raina akan mau tidak memaafkan Albern, lalu bagaimana cara Albern bertangtungjawab.


Setelah makan, kami sholat berjamaah kemudian tidur di ranjang bersama Bobo yang berada di tengah. Albern memegang tanganku hingga kami tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2